Nona Muda Karin

Nona Muda Karin
berdamai


__ADS_3

Ketika karin sedang asik menikmati matahari terbit dari atas balkonnya, ponselnya berdering.


"Halo ayah...ayah sudah bangun?" tanya karin


"Tentu saja sayangku, reno memberitahuku, kau menginap di hotelmu sewaktu berangkat kau juga nampak sedih. Ada apa dengan putri kesayangan ayah ini?" tanya ayahnya.


"Karin baik baik saja, ayah tak perlu khawatir" jawab karin.


"Baiklah kalau kau belum ingin cerita, tapi satu hal yang perlu kau ingat jangan lupakan sekolahmu. Sejujurnya ayah sedikit terkejut dengan permintaanmu ini, tapi sebagai hadiah ulang tahunmu ayah rela lakukan apapun karena ayah sudah berjanji padamu akan memenuhi segala permintaanmu. Namun ayah juga berharap kau jangan hanya fokus pada pekerjaanmu kau juga masih harus memikirkan sekolahmu. Ayah bisa mengirim orang untuk membantumu" ujar ayahnya


"Ayah percayalah, dulu sewaktu di perkebunan, aku juga bisa menjadi asisten cantik ayah tanpa mengganggu prestasi sekolahku. Ayah hanya perlu mengajariku saja, lagipula ini salah ayah kenapa ayah tak ijinkan aku untuk ikut gabung dalam perusahaan ayah" ucap karin yang tak mau kalah.


"Hei ayah bukan tak mau mengajakmu tapi kau masih terlalu kecil, apa kata orang nanti kalau ayah memperkerjakan anak di bawah umur? Bagaimanapun ayah masih menjabat pimpinan tertinggi di perusahaan ayah. Kalau orang lain tahu bisa menjatuhkan reputasi ayah dan itu akan berdampak bagi perusahaan juga" jawab ayahnya.


"Baiklah aku mengerti, aku tidak akan mengganggu ayah lagi" ucap karin setelah itu dia memutuskan telponnya.


"Dasar anak muda, selalu saja bertindak berdasarkan emosi" gerutu suwandi di sebuah hotel di luar kota.


Setelah menutup telponnya karin berjalan keluar hotelnya menuju pantai. Dia melangkahkan kakinya menuju bibir pantai. Rasa penat di kepalanya dan juga sakit hatinya kepada sang kekasih rasanya ingin dia lupakan sejenak dengan bermain air di pinggiran pantai. Karin memainkan air di sela sela ombak yang menerjang kakinya. Dari kejauhan tampak jio mendekat. Karin mulai berjalan agak masuk ke dalam laut.


"Nona...ombaknya sedang tinggi. Sebaiknya nona bermain dipinggir saja!" ujar jio dengan suara lantangnya.


"Dasar pengganggu. aku kan cuma mau bermain sedikit dengan ombak" gumam karin yang akhirnya hanya bisa berhenti disitu saja.


Jio yang merasa ada sesuatu di dalam air segera melepas sepatunya lalu secepatnya berlari ke arah karin. Tak lama kemudian dia melihat karin terjatuh ke air


"Karin!!"


jio langsung masuk ke dalam air dan mengetahui ada seorang laki laki berusaha menyerang karin. Dia segera bertindak di dalam air, sekuat tenaga jio berusaha melawan orang berpakaian menyelam lengkap itu. Karena tak mampu menahan nafas terlalu lama jio berusaha merebut selang nafas orang tersebut lalu mengarahkan pada dirinya sendiri sambil berusaha terus menyerang orang tersebut.


Penyelam itu lama kelamaan mulai lemas karena kekurangan oksigen di dalam air apalagi jio dengan sengaja membuat orang itu kehabisan nafas di dalam air. Hingga akhirnya orang itu mulai lemas tak berdaya di dalam air. Sedangkan karin yang sempat menghilang dari pandangannya akhirnya dia temukan mengambang di air dengan badan mulai lemas. Jio membawa karin menuju ke tepian. Di tepian pantai, Karin terbatuk batuk sambil mengeluarkan air lalu dia terduduk lemas di pinggir pantai.


"Nona...anda baik baik saja?" tanya jio dengan nafas ngos ngosan.


"Jio...sebenarnya mereka siapa? Kenapa mereka tak ada hentinya berusaha mencelakaiku?"tanya karin.


"Mereka adalah utusan dari rival ayahmu. Itulah kenapa ayahmu berusaha menyembunyikan dirimu serta melarangmu untuk keluar sendiri" jelas jio.


"Maafkan aku sudah membuatmu repot" ucap karin dengan sedih karena merasa privasinya mulai hilang dan dia juga mulai merindukan masa lalunya yang bebas.


"Tidak apa nona, itu sudah menjadi kewajiban saya. Lebih baik kita segera kembali ke kamar nona" ucap jio.


Setelah karin merasa tenaganya sudah mulai sedikit kembali dia berdiri lalu berjalan disamping jio. Setibanya di lobby hotel semua mata memandangi mereka yang tampak basah dengan baju lengkap yang masih melekat di tubuh mereka. Reno yang kebetulan baru datang dengan beberapa pengawal langsung berjalan mendekat kepada mereka berdua.


"Ada apa ini? Kalian habis berenang?" tanya reno.


"Ada seseorang yang kembali berusaha menyerang nona dan sepertinya ini berbeda dari biasanya. Mereka lebih ahli..." bisik jio kepada reno.


"John...." gumam reno lirih sambil menunjukkan sorot matanya yang tajam


"Reno bisa tolong siapkan bajuku dan juga baju jio" ucap karin dengan suara gemetar dan badan menggigil karena kedinginan.


"Baik nona...akan kuantarkan ke kamarmu" ujar reno lalu dia bergegas keluar hotel bersama seorang pengawal. Setelah kejadian itu Reno sengaja menempatkan beberapa pengawal tambahan selama karin masih ada disitu.


Setelah mandi berendam air hangat sejenak dan mengganti bajunya, karin duduk bersandar di ranjangnya sambil memikirkan kejadian tadi. Kejadian yang hampir saja merenggut nyawanya. Tak lama kemudian reno datang bersama seorang pelayan yang sedang membawa makanan. Setelah pelayan itu meletakkan makanan di meja nakasnya pelayan itu pun pergi.


"Aku tidak lapar" ujar karin


"Jio bilang padaku, sejak pagi kau belum makan dan kemarin malam kau tidak memakan dengan benar makananmu. Kalau begini caranya kau bisa sakit nona karin" ucap reno berusaha membujuk karin.


"Memangnya kenapa ? aku hidup atau tidak apa itu penting. Kalau memang banyak yang menginginkanku celaka biarkan saja aku mati. Ayahku saja tak peduli dengan keadaanku" ujar karin dengan sedikit air mata menetes dipipinya.


"Apa yang anda katakan nona? Kenapa anda bisa berpikir seperti itu. Seharipun tuan tak pernah lupa menanyakan keadaanmu padaku" jawab reno.


"Kalau memang ayahku perhatian padaku, untuk apa ayahku melarangku pulang! Aku rindu pada keluargaku. Aku rindu kehidupanku yang dulu reno..." balas karin dengan berlinang air mata.


"Bersabarlah sebentar lagi nona. Kami akan selalu ada menemani anda nona" ujar reno berusaha menenangkan karin.


Setelah berhasil membujuk karin untuk sedikit memakan sarapannya, reno meninggalkan karin yang masih ingin istirahat di dalam kamarnya. Karin berencana untuk menghabiskan akhir pekannya dihotel. Di sore hari karin kembali mengecek laporan laporan hotel. Dan keesokan paginya, pagi pagi sekali dia langsung berangkat menuju sekolahnya.

__ADS_1


Di sekolah pun karin lebih banyak diam. Waktu istirahat dia lebih memilih untuk ke perpustakaan dan berdiri bersandar di sela sela jajaran rak rak buku. Keadaan disitu yang sepi pengunjung membuat karin leluasa melamun tanpa ada gangguan dari siapapun.


Sedangkan raisya yang khawatir dengan keadaan karin, berusaha mencarinya ke seluruh bagian sekolah tapi tak bisa menemukan keberadaan karin.


"Raisya....lo ngapain sih kayak orang bingung?" tanya aldo dan ray yang kebetulan berpapasan dengan raisya.


"Aku tuh khawatir sama karin do, dari sejak kemarin dia belum pulang ke apartemen. Mana aku telpon ngga dijawab lagi, aku kirim pesan juga ngga dibalas. Baru kali ini gue lihat karin kayak gini...Apalagi tadi gue ketemu jio, karin tuh sepertinya lagi tertekan banyak masalah" ujar raisya


"Jio? Siapa lagi tuh sya?" tanya ray.


"Jio itu orang yang dikirim reno untuk gantiin dia menjaga karin kalau reno lagi ngga bisa menjaga karin. Udah ya....aku mau cari karin dulu" ujar raisya lau dia pergi meninggalkan mereka berdua.


"Tunggu sya...kalo karin ngga pulang trus dia kemana?" tanya aldo.


"Mana aku tahu...." jawab raisya lalu dia bergegas pergi.


Dalam hati ray sebenarnya merasa kasihan kepada kekasihnya itu tapi ray belum berani mendekati karin karena dia masih dikuasai oleh emosinya.


"Lo denger sendiri kan ray, karin itu ngga seburuk yang lo pikirin. Mungkin dia bener bener cinta sama lo dan dia merasa sakit hati karena sikap lo ke dia. Gue udah pernah bilang kan ray rasanya ngga adil kalo lo ikut nyalahin dia atas meninggalnya nyokap lo. Dia masih terlalu kecil untuk ikut campur dalam masalah kedua orang tua kalian dimasa lalu sama seperti lo. Jangan sampai lo nyesel ray dengan keputusan lo ini" ujar aldo setelah itu dia meninggalkan ray sendiri yang masih berdiri mematung memikirkan perasaannya. Ray berdiri melamun sambil bersandar di temboknya.


Keesokan harinya karin kembali duduk menyendiri di taman sambil mendengarkan musik. Pandangannya kosong ke depan. Bima yang kebetulan lewat lantas mendekat ke arah karin lalu duduk diam disebelahnya dan ikut melamun. Karin yang sadar ada bima disebelahnya lantas bertanya


"Sedang apa lo disini?" tanya karin kepada bima.


"Lo sendiri ngapain disini?" tanya bima balik.


"Ya jelas gue sendirilah...orang alexa belum balik" jawab karin yang mulai kesal dan membahas alexa sebelum bima menanyakannya.


"Kira kira kapan alexa balik ya....gini ya rasanya patah hati ditinggal orang terkasih" ucap bima dengan wajah sedih.


Karin yang malas bersama bima lantas berdiri hendak pergi tapi dengan sigap bima menarik tangannya sampai terduduk lagi di bangkunya.


"Mau apa lagi sih?" tanya karin yang kesal.


"Mau cari temen yang sama sama patah hati" ujar bima.


"Dari ray...." jawab bima enteng.


Kemudian karin teringat tentang cerita alexa bahwa bima adalah seorang pengusaha muda semenjak dia masih kecil.


"Bim aku boleh tanya sesuatu ngga sama lo?" ujar karin.


"Boleh...apa sih yang ngga buat lo" jawab bima dengan manis.


"Ngga usah manis gitu sama gue...jijik gue lihatnya" balas karin.


"Emangnya lo ngga pernah romantis romantisan sama ray" balas bima.


"Enggak...." sahut karin dengan wajah tak bersalahnya sedangkan bima langsung manyun mendengar pernyataan karin.


"Mau tanya apa!" ujar bima yang kesal dengan jawaban karin tadi.


"bim lo kan pengusaha muda, gimana caranya lo menghadapi pegawai lo yang sok merasa lebih berpengalaman dan lebih mateng usianya dari lo sehingga dia merasa lebih pantas dia daripada lo" tanya karin dengan antusias.


"Ya gue kasih pekerjaan lebih lah...lebih banyak dari biasanya, kan dia merasa lebih mampu dari kita.Ngomong ngomong dari mana lo tahu gue pengusaha?" ucap bima.


"Dari alexa..." jawab karin lagi lagi dengan wajah tak bersalahnya.


"Trus kenapa lo nanya kayak gitu?" tanya bima yang semakin penasaran.


"Ngga ada" jawab karin singkat


"Gue nanya balik ya...kalo lo punya klien yang sangat berharga buat lo trus lo pengen negosiasi lo berhasil. Kira kira dimana tempat yang pas buat ngajak klien lo ketemuan?" tanya bima.


Tiba tiba karin mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya lalu menyerahkannya kepada bima.


"Hotel...kok hotel emang gue cowok apaan" ucap bima.


"Hotel itu lokasinya di dekat pantai dan memiliki restoran. View restorannya menghadap langsung ke pantai. Pemandangannya tuh indah banget, romantis dan udaranya sejuk. Apalagi kalo klien lo tuh cewek, siapa tahu bisa ngobatin sakit hati lo karena udah berkali kali ditolak alexa. By the way makanannya juga enak lo" ujar karin berusaha meyakinkan bima. Sedangkan bima sendiri belum tahu kalau karin pemilik hotel itu.

__ADS_1


"Lo serius..." tanya bima yang tak yakin


Dan karin langsung menganggukkan kepalanya.


"Trus alexa..." tanya bima lagi.


"Jadi klien lo beneran cewek?" tanya karin balik dan bima langsung menjawab dengan anggukan.


Aduuuh....kenapa jadi rumit gini sih... karin


"Kok lo malah diam sih rin...gimana trus sama alexa..." tanya bima yang bingung


"Emang dia cantik..." tanya karin dan bima langsung mengangguk.


"Menggoda..." Bima kembali mengangguk


"Lo tertarik sama dia..." bima menggelengkan kepala.


"Trus apa masalahnya?" tanya karin yang bingung


"Bodynya bohai...menggiurkan...ntar kalo gue tergoda sama dia gimana?" tanya bima dengan polosnya.


"Lo tenang aja! semua fasilitas kamarnya oke dan gak bakal ngecewain!" ujar karin dengan suara lantang dan penuh penekanan setelah itu karin yang tiba tiba sangat kesal lalu pergi meninggalkan bima yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Karin tahu dari mana ya tentang hotel ini kok dia sampai tahu sedetail itu tentang hotel ini. Kayaknya idenya lumayan juga dan mungkin juga dia sering main kesini. Tapi ngapain juga dia main ke hotel ini" gumam bima sendiri sambil menatap kartu nama tersebut lalu segera berdiri mengejar karin karena dia teringat dengan pertanyaan dia tentang alexa yang ditujukan untuk karin.


"Dasar laki laki mata keranjang, langsung ngiler ngelihat cewek semok. Beriman dikit kenapa sih" gumam karin sendiri.


Pada saat ngomel ngomel sendiri tanpa sengaja karin menabrak ray yang sedang berjalan bercanda bersama aldo dan rayhan.


Secara otomatis ray menangkap tubuh karin serta menariknya kepelukannya. Pelukan yang sebenarnya selama ini dia rindukan. Sedangkan karin yang sangat terkejut sempat hilang sejenak kesadarannya. Sampai mereka berdua saling lempar tatap mata dengan wajah yang lumayan dekat.


Begitu dia tersadar dengan cepat Karin langsung mendorong tubuh ray agar menjauh darinya.


"Iih...dasar semua cowok....omes mulu pikirannya!" gerutu karin.


Dia hendak pergi tapi tangan ray segera menarik serta menggengam erat tangan karin menahan kepergian karin.


"Lo kenapa sih marah marah gini tadi juga ngomel ngomel sendiri"ucap ray dengan sabar.


Belum sempat karin menjawab tiba tiba bima berteriak memanggil nama karin hingga karin langsung mundur bersembunyi di belakang punggung ray sampai semuanya menatap aneh dengan sikap karin dan bima.


"Karin...gue belum tanya soal alexa sama lo" ujar bima.


"Ogah...lo tanya aja sendiri sama dia!" jawab karin ketus dari balik punggung ray.


"Kenapa sih lo menghindar dari gue terus? Trus kartu nama ini apaan? Kok lo bisa punya?" tanya bima yang semakin penasaran


Semua mata ray dan genknya yang bingung tertuju pada karin. Sedangkan karin yang tak merasa bersalah hanya diam tersenyum menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Mata kalian serem tahu ngga?" karena semuanya masih diam menatap kepada karin dengan penuh tanda tanya akhirnya karin berbicara," okey....okey...khusus untuk kalian semua weekend ini diskon 50%" ujar karin dengan wajah manyunnya. Ray dan teman temannya semua langsung paham dengan perkataan karin langsung kompakan berkata,"serius lo!!..."


Rayhan langsung mengambil kartu nama dari bima,"asik...gue bisa ngedate romantis ama yayang" setelah itu dia langsung mencium kartu nama itu. Melihat itu karin langsung menjitak kepala rayhan


"Dasar omes...gue cuma kasih diskon buat kalian semua dan gak berlaku buat pacar kalian. Hotel gue bukan tempat mesum" ucap karin dengan tegas lalu dia pergi.


Ray yang masih diam disitu mendapat tatapan tajam dari semua temannya.


"Apa..." ucap ray.


"Lo samperin deh" ucap aldo sambil mendorong ray.


"Udah baikan aja, capek tau bertengkar mulu" tambah bima


"Heem...Cewek lo baik" tambah rayhan sambil kembali mendorong tubuh ray.


"Pokoknya lo rayu aja dia...sukses ya" ujar aldo kembali.


"Haah....Gue lagi kan tumbalnya" celetuk ray lalu berjalan pergi meninggalkan teman temannya.

__ADS_1


__ADS_2