
Setelah sampai di kamarnya, Cintya yang masih syok dengan kejadian tadi, kembali menitikkan air mata. Suwandi yang baru masuk kamar dan melihat istrinya kembali menitikkan air mata, lantas menghampirinya, duduk tepat disampingnya serta membelai rambut cintya.
"Kenapa kau menangis cintya...bukankah aku sudah datang tepat waktu?" tanya suwandi dengan tatapan lembut.
"Aku hanya takut..." jawab cintya dengan suara bergetar.
"Jangan takut....semua sudah berakhir...lalu apa lagi yang kau takutkan.." ujar suwandi berusaha menghibur istrinya.
"Aku takut...Bagaimana kalau kau tidak datang tepat waktu, bagaimana kalau preman itu berhasil memperkosaku, bagaimana kalau...hmmm"
Perkataan Cintya langsung terhenti ketika suwandi tiba tiba mencium bibirnya. Lalu dia menempelkan keningnya di kening cintya.
Jarinya meraba leher cintya lalu meraih kalung liontinnya dan mengusap usap batu permatanya.
"Kau memang istri yang patuh cintya...." ujar suwandi dan cintya paham maksud perkataan suaminya tadi.
Setelah melepas kalung liontin itu dari leher istrinya dan meletakkannya di atas nakas, Suwandi lantas menggendong tubuh ramping istrinya ala bridal style lalu membawanya ke dalam kamar mandi.
Di dalam bathup itu suwandi dan istrinya mandi bersama. Dia memeluk tubuh istrinya dari belakang dan membisikkan kata di telinga istrinya.
"Biarkan aku membersihkan tubuhmu dari bekas sentuhan preman kotor itu"
Seketika tubuh cintya langsung bergetar hebat mendapat sentuhan lembut dari suaminya itu di sekujur tubuhnya hingga tanpa sadar keluar desahan dari mulutnya.
Cintya lalu menoleh ke arah wajah suaminya yang sudah sangat dekat dengan wajahnya. Suwandi langsung mencium serta ******* bibir istrinya yang sedikit terbuka. makin lama ciuman itu makin dalam lalu turun ke dagu serta leher cintya hingga cintya kembali mengeluarkan desahan.
Mendengar desahan cintya membuat suwandi semakin bersemangat. kedua tangannya juga sudah bergerilya meremas dada serta meraba daerah sensitif istrinya hingga akhirnya terjadilah pertempuran mereka di dalam kamar mandi itu. Akhirnya mereka melepas rindu satu sama lain.
Satu jam setengah mereka ada di kamar mandi akhirnya mereka keluar sudah mengenakan baju handuk kimono mereka. Terlihat cintya mengarahkan rambutnya ke sebelah kiri pundaknya sehingga tampaklah leher putih jenjangnya. Cintya lantas menggosok gosok rambutnya yang basah tanpa dia sadari sejak tadi suaminya terus menatapnya.
Tiba tiba cintya menyadari ada sebuah lengan kuat sedang melingkar dipinggangnya.
"Kau mau menggodaku lagi?" bisik lembut suwandi di telinga cintya. Cintya kembali mendesah ketika suwandi mulai menciumi lehernya.
Cintya yang mengerti besarnya rasa rindu suaminya kepada dirinya hanya membiarkan saja suaminya melakukan apapun kepada dirinya termasuk ketika dia menyadari kalau perlahan suwandi mulai menarik tali pengikat handuknya lalu melepaskannya dari tubuhnya. Suwandi lalu menggendong cintya dan merebahkan tubuh polos cintya di atas ranjangnya. Akhirnya Suwandi kembali melakukan aksinya disepanjang malam yang panjang. Malam yang sunyi dan hening hanya ada desahan dua insan yang saling melepas rindu satu sama lain.
Sinar matahari pagi mulai mengintip dari balik tirai. Suwandi yang mulai sadar dari tidurnya lantas membuka matanya setelah tangannya meraba tempat tidur disebelahnya itu kosong. Dia lantas duduk bersandar diranjangnya lalu pandangannya menyapu ke seluruh ruangan kamarnya mencari sosok istrinya tapi dia tidak menemukannya. Kemudian dia tersenyum kecil mengingat pertempurannya semalam bersama istrinya. Istrinya sampai kelelahan karena dia mengulanginya terus di ranjangnya hingga tiga kali. Dan pagi harinya cintya memilih kabur ke dapur sebelum suaminya bangun dan mengulang peristiwa semalam.
Cintya sadar dia tidak akan bisa kemana mana kalau masih berada di dalam kamar. Cintya juga paham suaminya bersikap begitu kepadanya karena suaminya hanya beberapa hari saja disini setelah itu dia akan kembali ke Jakarta.
Setelah mandi, suwandi langsung turun kebawah. Saat turun dia langsung mencium aroma sedap masakan. Dia lantas berjalan menuju dapur dan perkiraannya benar istrinya sedang berdiri disitu sambil sibuk memasak makanan.
Perlahan lahan dia mendekati istrinya lalu memeluknya dari belakang. Setelah mencuri satu kecupan di pipi cintya, suwandi lalu menyandarkan kepalanya di bahu istrinya yang masih asik memasak. Cintya lalu mematikan kompor gasnya lantas membalikkan tubuhnya menghadap ke suaminya yang masih memeluk erat pinggangnya.
"Aku sudah selesai kau mau sarapan sekarang?" tanya cintya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita sarapan di kamar" goda suwandi.
Mendengar jawaban seperti itu dari suaminya entah kenapa rasa kesalnya langsung muncul tiba tiba. Dan kali ini cintya tidak bisa menyembunyikan wajah kesalnya itu dihadapan suaminya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu"tanya Suwandi sambil menyipitkan matanya.
Cintya yang semakin kesal lantas memasang wajah garangnya sambil mengarahkan jari telunjuk kanannya ke bahu suaminya itu lalu mendorong bahu suaminya itu dengan telunjuknya hingga suaminya mundur beberapa langkah kebelakang serta terus mengomel ngomel kepada suaminya tiada henti.
"Setelah apa yang terjadi kemarin kau masih menanyakan kenapa aku kesal hah!...baik...Kau ingin tahu kekesalanku kan...pertama kau sudah membiarkan preman bodoh itu menyentuh diriku...kedua kau sudah menjahiliku semalaman dan yang ketiga kau sudah hampir membuatku gila karena wajahmu terus muncul dan terus mengganggu pikiranku!!"
Deg....
Jantung Suwandi langsung berdetak kencang setelah mendengar kata kata terakhir istrinya itu. Dia baru sadar bahwa rasa cinta istrinya ternyata sangatlah besar kepadanya. Perasaan bahagia langsung meliputi dirinya dan tak dapat dia bendung lagi hingga tanpa sadar kedua tangannya sudah memeluk erat tubuh istrinya.
Cintya yang awalnya memasang wajah garang akhirnya langsung diam terkejut melihat dia sudah tidak bisa lepas dari pelukan suaminya meski dia berkali kali meronta.
Suwandi yang melihat bibir cintya sedikit terbuka karena rasa terkejutnya langsung mengambil kesempatan itu.
Cup...
Suwandi ******* bibir istrinya sejenak. Dan ketika dia melepasnya dia langsung berkata
"Itu permintaan maafku untuk yang pertama "
Cup...
"Itu permintaan maafku untuk yang kedua"
Dan ketika akan mengecup bibir istrinya yang ketiga kalinya wajahnya langsung berubah masam karena cintya langsung membungkam bibirnya sendiri dengan tangannya walaupun cintya masih terus dalam pelukan erat suaminya.
"Lepaskan tanganmu...aku belum memberikan kecupan yang ketiga" ujar suwandi tapi cintya hanya menggelengkan kepalanya saja sambil terus menutup mulutnya.
"Cintya!" ujar Suwandi dengan suara meninggi dan masih terus memeluk erat istrinya.
"Aku tidak mau karena kau pasti akan menciumku lagi sampai kau puas" jawab cintya dari balik tangannya.
"Kau sudah tahu mauku...jadi lepaskan tanganmu atau kita akan berakhir diranjang saat ini juga" ancam suwandi kepada istrinya.
Cintya yang tidak punya pilihan lain akhirnya perlahan melepaskan tangannya dan tidak butuh waktu lama suwandi langsung ******* habis bibir istrinya. Kali ini dia melakukannya lebih lama sampai dia puas karena takut istrinya akan menghalangi niatnya lagi.
Suwandi terus menciumi bibir istrinya sampai mereka tak sadar bahwa sebastian yang tadi datang dengan dua orang barunya lantas pergi lagi karena tak mau mengganggu kemesraan tuannya dengan istrinya.
Mereka berdua juga tak menyadari kedatangan putranya yang hanya geleng geleng kepala melihat tingkah konyol orang tuanya itu.
Sampai suara lian menarik kursi meja makan barulah mereka berdua sadar dan langsung menghentikan aksi mereka.
__ADS_1
Tampak pipi cintya yang merah merona menahan malu karena perbuatannya diketahui anaknya. Sedangkan Suwandi hanya diam tak berdosa seolah tidak terjadi apa apa sebelumnya.
"Bunda aku lapar..." ucap lian dengan sedikit merajuk.
"Bunda siapkan makanan sekarang...." ujar bundanya dengan sedikit sikap salah tingkah.
Setelah selesai menyiapkan makanan dimeja, cintya lalu mengambilkan makanan untuk suaminya. Terlihat suwandi tak henti hentinya menjahili istrinya yang berdiri tepat disampingnya sedang menyiapkan makanan di piringnya. Suwandi melingkarkan tangannya di pinggang istrinya berkali kali dan berkali kali juga istrinya menepis tangannya dengan sabar. Sampai akhirnya cintya membisikkan kata ditelinganya.
"Kau bisa lanjutkan lagi nanti, tapi habiskan dulu sarapanmu" bisik cintya di telinga suwandi.
Kemudian cintya mengambil tempat duduk tepat disamping suaminya.
"Lian...bagaimana lukamu nak?" tanya cintya
"Sakitnya udah mulai berkurang bunda" jawab lian.
"Bunda harus bawa kamu ke dokter" ujar cintya.
"Males ah bunda...rumah sakit disini tuh jauh..trus kalo klinik antrinya panjang...lian istirahat di rumah aja ya...." jawab lian.
"Lian..."
"Cintya sudah jangan mengomel terus...ayo kita makan dulu" perintah suwandi kepada anak dan istrinya.
Setelah makan mereka duduk duduk di sofa. Cintya duduk tepat disamping suaminya di sofa panjang mereka. Sedangkan lian duduk disofa lain di dekat bundanya. kemudian sebastian datang dengan seorang wanita yang membawa beberapa peralatan kedokteran.
Tuh perempuan siapa...kok kayak bawa peralatan dokter. tapi dokter kan pakaiannya putih kenapa dia pakai pakaian hitam. aneh banget dandanannya...batin lian
"Kau bawa orang yang kuminta sebastian?" tanya suwandi.
"Iya tuan. Yang satu tadi sudah saya berikan tugas dan yang satu lagi kenalkan ini nona gisel. nona gisel yang akan menjadi pengawal pribadi nyonya. Dia juga seorang dokter tuan" jelas sebastian
"Jadi benar kau juga seorang dokter?" tanya cintya lagi.
"Benar nyonya" jawab gisel
"Kalo begitu kau bisa periksa putraku? Seluruh badannya lebam karena kemarin terkena banyak pukulan" ujar cintya.
"Baik nyonya" jawab gisel kemudian dia mendekat kepada lian.
Lian mendekatkan wajahnya ke arah bundanya yang sambil berkata lirih
"Bunda...apa nona gisel sedang berkabung karena dokter kan harusnya pakai pakaian putih bukan pakaian hitam"
Seketika itu cintya langsung menjitak kepala anaknya sambil berkata,"sembarangan ngomong..."
__ADS_1
Sementara gisel hanya tersenyum saja melihat kelakuan lucu bosnya itu.