
Setelah sampai di apartemen, alexa turun dari motor sportnya lalu berjalan menuju lift. Sesampainya di pintu alexa sengaja membunyikan bel pintu depan. Begitu pintu dibuka oleh raisya, raisya yang awalnya terkejut langsung menubruk tubuh alexa.
"Alexa!! Bruk....lo kemana aja sih lex...gue kangen sama li" ucap raisya yang masih berada di pelukan alexa.
Alexa yang tersenyum bahagia hanya bisa mengelus punggung sahabatnya itu. Setelah melepaskan pelukannya raisya langsung menarik alexa menuju ke dalam. Aldo yang masih sibuk membantu raisya di sofa depan tv pun ikut terkejut melihat kedatangan alexa.
"Alexa...lo udah balik?" tanya aldo.
"Iya...sedang apa lo disini?" tanya alexa.
"Gue lagi bantu raisya nyelesaiin tugasnya. Oh ya dimana koper baju lo, sini biar gue bantu" tanya aldo.
"Ehm...gue...ngga bawa koper. Semua baju gue tinggal disini. Oh ya...karin mana?" ucap alexa berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Karin udah dibawa balik sama ayahnya ke rumahnya. Setelah karin, ray dan ayahnya bertengkar hebat disini. Maaf gue ngga berani turun tapi dari perkataan yang gue dengar, sepertinya mereka punya hubungan ngga baik di masa lalu" ucap raisya.
"Kamu benar sya...mamanya ray meninggal karena sebuah kecelakaan dan orang yang ray anggap bertanggung jawab atas kecelakaan itu adalah ayahnya karin" ujar aldo.
"Apa! Kamu ngga salah ngomong kan?" ujar raisya yang terkejut dengan perkataan aldo.
"Apa yang dikatakan aldo itu benar sya. Karin udah menceritakan semuanya sama aku. Keluarga mereka memang mempunyai hubungan ngga baik di masa lalu. Entah seperti apa yang jelas ntar malam gue harus menemui karin" ujar alexa lalu dia berjalan santai menuju kamarnya untuk beristirahat sejenak.
Menjelang petang, karin yang sudah ada di kamarnya memilih untuk berdiri di balkon kamarnya sementara semua orang masih sibuk menata kamarnya. Terlihat reno datang dengan membawa nampan berisi sepotong sandwich dan segelas susu hangat serta segelas air putih. Mata reno menyapu seluruh ruangan dan pendangannya tertuju pada balkon dimana karin tengah duduk bersandar pada dinding dengan tatapan kosongnya sambil menekuk kedua kakinya.
"Sampai kapan nona akan duduk disini? Masuklah nona bisa sakit" ucap reno sambil menyodorkan segelas susu kehadapan karin.
"Aku masih kenyang" ucap karin yang kembali mengacuhkan reno.
"Setidaknya habiskan sandwich dan susu ini karena aku tidak yakin nona sudah makan siang atau belum" ucap reno.
"Singkirkan itu aku sudah makan bersama ray" jawab karin dengan suara sedikit meninggi.
"Aku tahu nona pasti tak ingin makan malam bersama ayah anda kan....Nona karin...anda bukan anak kecil lagi anda adalah seorang pengelola hotel ada banyak orang bergantung hidupnya kepada nona. Jadilah pemimpin yang baik dan bertanggungjawab nona. Bukankah anda sendiri yang mengambil keputusan ini nona?" ucap reno berusaha menasehatinya serta kembali menyodorkan susu dan sandwichnya.
Dengan malas karin menerima lalu meneguk habis susu tersebut serta mengembalikan gelas kosong itu kembali kepada reno.
"Tinggalkan aku sendiri reno...aku masih ingin sendiri disini..."pinta karin. Akhirnya reno pun pergi meninggalkan karin menuju ruang kerja ayahnya.
Di ruang kerjanya suwandi yang tengah fokus menyelesaikan beberapa skema proyeknya merasa heran dengan sikap reno yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
"Ada apa reno...apa ada yang sedang mengganggu pikiranmu?" tanya suwandi.
"Maaf tuan bukannya saya ingin ikut campur masalah karin, tapi apakah tidak lebih baik kalau kita membiarkan karin berhubungan dengan ray" ucap reno dengan perasaan ragu.
"Jadi maksudmu aku akan biarkan putriku berhubungan dengan anak ******** itu?" tanya suwandi dengan sorot matanya yang tajam.
"Sekali lagi Maaf tuan...mereka satu sekolah, aku pikir percuma kita memisahkan mereka. Toh disekolah mereka juga masih bertemu. Lagipula bukankah ini baik tuan? Mungkin ini bisa sedikit merubah sikap karin terhadap laki laki. Lagipula hubungan ray dengan papanya selama ini tidak pernah baik. Akan sangat menguntungkan karin kalau ray mau membela karin dari papanya. Ray akan berusaha sekuat tenaga untuk mencegah papanya mencelakai karin. Lagipula mata mataku berkata sebentar lagi ray akan berangkat amerika untuk meneruskan pendidikan disana dan juga melebarkan usaha papanya disana. Seperti yang kita ketahui menjaga hubungan jarak jauh itu lebih sulit tuan. Maka dari itu lebih baik kita bertindak setelah mereka terpisah jarak" jelas reno kepada suwandi.
"Idemu memang bagus reno, tapi apakah ini tidak terlalu jahat pada putriku? Aku tidak mau putriku mengalami sakit hati. Aku tak tega melihatnya seperti itu reno" ujar suwandi.
"Tuan...aku mengenal karin bukanlah gadis selemah itu. Kalau dia mengalami sakit hati itu adalah proses yang bisa membuatnya menjadi lebih dewasa. Percayalah padaku tuan, nona karin pasti akan baik baik saja" ujar reno berusaha meyakinkan tuannya.
"Berikan aku proyek yang banyak sampai aku tak sempat mengurusi hubungan dia dengan anak penjahat itu. Aku tak sanggup melihat putriku berhubungan dengannya. Siapkan juga penjagaan yang ketat untuknya. Jangan sampai dia terluka oleh rival bisnisku. Aku tak akan mengampuni siapapun kalau sampai terjadi sesuatu dengannya" ucap suwandi yang kembali fokus mengerjakan pekerjaannya.
Tak berapa lama para pelayan sudah selesai merapikan semua barang barang karin dan satu persatu meninggalkan kamar karin. Seorang pelayan mendekati karin.
"Nona...apa ada yang anda butuhkan lagi nona?" tanya pelayan itu.
"Tidak....tinggalkan aku sendiri" perintah karin
"Baik nona"
Kemudian pelayan itu pergi dan menutup rapat pintu kamar karin. Karin lantas berdiri masuk kembali ke dalam kamarnya. Dia kemudian mendekati roti sandwich yang tadi dibawa reno dan ketika karin baru mengunyahnya, dia melihat ponselnya berdering.
"Halo ray" jawab karin dengan lemas.
"Sayang kau baik baik saja? Kenapa suaramu terlihat lemah" tanya ray.
__ADS_1
"Mana mungkin ayahku menganiaya putri kesayangannya hanya saja....aku belum terbiasa dengan semua ini. Ini jauh dari kehidupanku yang sebelumnya. Dan sekarang jangankan pergi keluar, membersihkan kamarku sendiri saja aku tak diberi kesempatan. Aku merindukan kehidupan yang seperti dulu" jawab karin.
"Aku tau kau gadis yang mandiri karin. Aku juga akan berusaha untuk memantaskan diriku untukmu. Percayalah aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membuat hati ayahmu luluh. Aku sangat mencintaimu karin. Kau adalah cinta pertamaku. Jadi aku mohon bersabarlah dalam hubungan kita. Aku akan terus berada disisimu. Jangan pernah pergi meninggalkanku karin. Kau mau berjanji padaku kan? "ujar ray dari balik telpon.
"Baiklah...aku akan berusaha. Aku juga sangat mencintaimu" ucap karin dengan sedih.
"Kalau begitu, sampai ketemu besok di sekolah...I love u karin..." ucap ray.
"I love u too...bye..."
"bye sayang...mimpikan aku..." ucap ray
Kemudian ray mendengar suara panggilan telponnya terputus.
Aku benar benar serius karin. Aku akan berusaha memantaskan diriku untukmu. Aku tak akan pernah menyerah sampai aku berhasil mendapatkanmu. Kau adalah cinta pertamaku, aku tak akan biarkan cinta pertamaku kandas hanya karena beberapa masalah kecil. batin ray
Kemudian ray, meneruskan pekerjaannya hingga larut malam di dalam kamarnya. Ray benar benar bertekad dia harus lebih baik dari papanya atau siapapun. Sebelum tidur ray juga terlihat menelpon kakaknya steven untuk mengajarinya ilmu beladiri. Ray benar benar ingin menjadi orang yang benar benar pantas untuk menjaga karin. Kehilangan beberapa orang terkasihnya membuat ray benar benar terpuruk dan ray tak mau hal itu terjadi lagi dalam hidupnya. Karena itu ray berpikir, dia rela melakukan apapun asalkan orang terkasihnya tidak pergi meninggalkannya.
Pagi hari, karin yang sudah terbangun karena semalam dia tidur agak awal membuat dia bangun lebih awal. Dia yang sudah bersiap dengan seragam sekolahnya dari pagi memutuskan untuk keluar kamar. Dia ingin pergi ke taman sejenak sebelum sarapan pagi. Kebiasaan sejak kecil dia disana suka melihat bunga bunga bermekaran di taman. Namun kali ini Dia hanya terduduk diam menatap sedih bunga bunga itu sambil melamun.
"Nona...apakah anda mau sarapan disini?" tanya seorang pelayan wanita yang tak lain adalah bi darmi.
"Bi darmi? ujar karin yang terkejut lalu dia berdiri serta langsung memeluknya membuat darmi jadi tak enak hati dengan pelayan lainnya.
"Nona...saya tidak akan kemana mana. Saya akan terus bersama nona" ucap bi darmi yang ikut bahagia melihat karin yang tersenyum kembali.
"Nona...saya sudah memasak sarapan untuk nona" ucap bi darmi sambil mengerlingkan satu matanya.
Karin yang paham maksud bi darmi hanya mengangguk saja.
"Seperti biasa dua kotak bekal dan langsung ditaruh di dalam tas ya, supaya orang lain tak curiga" bisik karin di telinga bi darmi.
"Siap nona...." ucap bi darmi dengan tersenyum manis.
Kemudian mereka berdua berjalan menuju meja makan dimana ayahnya sudah menunggu.
"Syukurlah semua baik baik saja ayah. Beberapa bulan ini omsetnya naik" jawab karin dengan wajah tertunduk.
"Bagus...hari minggu ayah akan berangkat keliling meninjau banyak proyek perusahaan. Kalau ada apa apa dengan perusahaan, apa kau bisa membantu ayah?" tanya suwandi kepada putrinya.
"Tapi bukankah ayah belum ingin aku bergabung dengan perusahaan ayah? Lalu bagaimana aku bisa menggantikan ayah, kalau aku saja tak pernah masuk ke kantor ayah" jawab karin.
"Reno akan membantumu. Ayah sudah mengajarkan segalanya padamu. Kau bisa mengelola hotelmu dengan baik jadi Ayah yakin kau pasti bisa menggantikan ayah. Kau hanya perlu sedikit belajar serta mengembangkan insting bisnismu" ucap ayahnya.
"Baik ayah...." ucap karin.
"Baiklah ayah harus berangkat sekarang. Maafkan ayah kalau sikap ayah terlalu berlebihan padamu. Ayah hanya ingin memastikan keselamatanmu" ucap suwandi
kemudian dia berdiri hendak pergi tapi dengan cepat karin memeluk tubuh ayahnya.
"Ayah...apa ayah akan meninggalkanku sendiri? Aku rindu kehidupan kita di masa lalu. Kenapa ayah tidak membawa bunda dan adek kesini. Aku tidak mau sendiri disini" ucap karin sambil menangis dan terus memeluk tubuh ayahnya hingga semua pelayan sedih melihatnya.
Hati suwandi sebenarnya teriris melihat kesedihan putri kesayangannya. Pasalnya selama ini dia selalu melimpahi kasih sayang kepada putrinya. Dia selalu berusaha yang terbaik untuk putrinya.
"Sayang...dengarkan ayah...percayalah ayah juga ingin membawa bundamu kesini. Tapi tidak sekarang. Kau pasti sudah paham mengenai keadaanmu dengan beberapa peristiwa penyeranganmu kan" karin hanya menganggukkan kepalanya."Ayah hanya tak ingin mereka semakin menggila mengetahui kalian semua berkumpul disini. Ayah hanya berusaha untuk memecah fokus mereka sampai kita benar benar sudah kuat dan kembali bersatu. Ayah sangat menyayangimu nak" ucap ayahnya lalu mengecup dahi anaknya.
"Ayah percaya putri ayah gadis yang sangat kuat. Ayah percaya kau tak akan pernah mengecewakan ayah nak..." ucap suwandi yang kembali memeluk erat putrinya.
"Ayah jangan lama lama, karin masih kangen sama ayah. Cepatlah pulang ayah, jangan tinggalkan karin sendiri disini..." ujar karin masih dengan isak tangisnya.
"Berhentilah menangis sayang, kau bisa membuat teman temanmu curiga kepada ayah. Mereka pikir ayah adalah ayah yang sangat jahat pada putrinya. Apa kau tidak takut make up mu luntur?" ucap suwandi sambil mengusap air mata di kedua pipi putrinya.
Karin yang sedang menangis menjadi sedikit tersenyum mendengar perkataan ayahnya.
"Ayah...apa wajahku mirip baskom? wajahku bukan tempat untuk menaruh berbagai jenis tepung menjijikkan seperti itu" balas karin.
Walaupun semuanya berusaha menahan tawa tapi tidak dengan Suwandi yang langsung meradang mendengarnya.
__ADS_1
"Kau ini wanita atau bukan!! Kenapa make up saja kau tidak mengerti karin!!" ujar ayahnya dengan suara sedikit meninggi
Suwandi mengeluarkan sebuah kartu kredit unlimited dari dompetnya lalu menyerahkan kepada karin dan seperti biasa karin selalu menolak pemberian ayahnya.
"Kalau begitu belilah make up untuk acara sore nanti dengan kartu ini" ujar ayahnya.
"Ayah...uangku sudah banyak, aku bahkan bisa sekalian membeli tokonya. Aku tidak mau kartu ayah, aku hanya mau ayah menemaniku" ucap karin yang kembali memeluk ayahnya.
"Baik baik...Ayah akan menemanimu nanti setelah reno mengantarkanmu ke salon!!" ujar Suwandi dengan lantang.
"Ayah...." ucap karin dengan sikap sangat manjanya berharap ayahnya menerima penolakannya.
"Jangan coba merayu ayah karin! Kali ini ayah tidak akan terpengaruh dengan kata katamu!" ujar Suwandi dengan tegas.
"Yah...." keluh karin.
Setelah mencium kembali kening putrinya suwandi kembali melangkahkan kakinya menuju mobilnya. Reno yang sudah berdiri segera membukakan pintu begitu tuannya mendekat. Lalu mereka berdua segera berangkat ke kantor.
Ketika karin melangkah keluar karin terkejut dengan keberadaan jio yang juga ikut berdiri di dekat mobilnya bersama alexa.
"Jio...alexa...apa yang kalian lakukan disini?" tanya karin
"Maaf sebelumnya nona...saya diperintahkan tuan untuk mengawal anda ke sekolah. Dan alexa...."
"Aku sebenarnya sama seperti jio dan ricko. Maaf sebelumnya aku berbohong padamu bahwa sebenarnya ayahmu lah yang sudah mengirimku untuk menemanimu. Dan ayahmu memerintahkanku untuk merahasiakan ini semua darimu karena tidak ingin mengganggu kenyamananmu. Aku memahamimu kalau kau pasti akan marah padaku" jelas alexa kepada karin.
Karin yang semakin pusing dengan keadaan kehidupannya hanya bisa memijit pangkal hidung dan pelipis kepalanya sambil menggelengkan kepalanya. Tanpa banyak bicara karin pun langsung masuk ke dalam mobilnya. Ketika akan berangkat karin segera menghentikan ricko yang hendak memacu mobilnya.
"Tunggu...dimana alexa? Bukankah dia harus sekolah juga?" tanya karin.
"Alexa sudah berangkat dengan motornya. Kita bisa bertemu nanti di sekolah" jawab ricko. kemudian dia kembali memacu mobil karin menuju ke sekolah.
Karin sudah bisa membayangkan kehebohan teman temannya kalau dia datang ala princess seperti ini. Pasalnya selama ini karin selalu bisa mengajak kerjasama ricko untuk bersikap selayaknya sopir saja sehingga tak terlalu mencolok keberadaannya. Tapi untuk jio dia sudah bisa membayangkan kekakuannya pasti akan mengundang perhatian teman temannya. Padahal itulah hal yang selama ini dia benci.
Di sekolah, tampak bima dan kevin baru turun dari motornya bahkan mereka masih bersandar di motor sport mereka sambil bercanda. Tak berapa lama kemudian perhatian mereka tertuju pada pengendara motor sport yang baru parkir di sebelah mereka. Kevin dan bima yang melihat tubuh pengendara itu yakin bahwa dia adalah seorang wanita. Dan ketika pengendara itu membuka helmnya serta rambut sebahunya terurai indah, mereka semakin dibuat terkejut.
"Alexa!!" ucap mereka berdua kompak
Alexa yang malas menggubris hanya memandang sejenak lalu beranjak pergi tapi bima dan kevin segera berlari lalu berdiri di depannya.
"Kalian mau apa sih? Pagi pagi jangan ngajak ribut.." ucap alexa.
"Siapa bilang mau ngajak ribut, gue mau lihat bidadari turun dari motor" jawab kevin.
"Haah bidadari turun dari motor? sejak kapan?" tanya alexa yang bingung.
"Sejak hari ini..." jawab kevin sambil berlutut di depan alexa bak kekasih yang sedang melamar pujaan hatinya.
Melihat kevin seperti itu membuat bima jadi kesal kepada kevin dan membuat mereka ribut sendiri. Sedangkan alexa memilih berjalan pergi meninggalkan dua pemuda yang sedang sibuk bertengkar sendiri. Bima yang menyadari kepergian alexa bergegas mengejarnya diikuti kevin.
"Lex!!" panggil bima yang membuat alexa kembali berhenti.
"Apa lagi?" tanya alexa.
"Enggak...cuma mau ngucapin, aku turut berduka cita atas meninggalnya bundamu" ucap bima dengan wajah sejuta pesonanya.
"Terima kasih" jawab alexa dengan wajah datarnya kemudian dia bergegas pergi untuk segera melaksanakan tugasnya.
Kevin yang melihat itu langsung merangkul pundak bima.
"tuh cewek horor kerasukan kunti beneran apa kagak ya...Dingin banget ekspresinya..." ucap kevin membuat bima menatap tajam kepada kevin hingga kevin begidik ngeri melihat tatapan bima.
"Ngga usah nakut nakutin gitu deh bim...masih pagi...ntar kunti lewat beneran loh" ucap kevin sambil meringis ketakutan.
"Siapa suruh pagi pagi bawa nama kunti" balas bima lalu dia bergegas pergi mengejar alexa lagi.
di depan gerbang tampak mobil sport putih berjalan masuk dan benar dugaan karin. Perbuatan jio yang membukakan pintu mobilnya membuat karin tampak bak cinderella versi modern. Belum lagi teriakan histeris siswi siswi sekolah itu melihat tampang gagah serta tampannya jio dan ricko yang baru turun dari mobilnya sudah membuat telinga karin sakit serta kepalanya kembali sakit memikirkan kisah hidupnya yang sebenarnya membuat iri semua cewek yang ada disitu.
__ADS_1