
Setelah memakai sepatu, ponsel karin berbunyi tanda pesan masuk. Pesan itu berisi bahwa dia terpilih untuk ikut bertanding dalam tim basket clubnya minggu depan. Karena waktu ini sudah memasuki bulan pertandingan, pak pelatih meminta waktu latihan lebih intens pada minggu minggu ini.
Dan dilatihan pertama siang nanti, timnya sedang di uji coba dengan tim basket dari club lainnya.
Duuuh...satu satunya sepatuku buat latihan kan basah, mana sepatuku yang lainnya dipake alexa lagi padahal ntar siang ada pertandingan. Gimana nih...aku minta saran ayah aja deh. batin karin
Setelah meneguk habis tehnya lalu karin menepuk pundak ray yang sedang asik ngobrol dengan rayhan dan bima.
"Makasih yah minumannya, aku pergi dulu" ujar karin sambil beranjak pergi agak menjauh.
"Kau mau kemana karin?" tanya ray.
Tapi karin tidak menjawab malah fokus dengan ponsel yang sudah menempel di telinganya diiringi ricko dibelakangnya.
"Halo ayah...ayah apa karin bisa minta sesuatu?
"Ada apa karin? kau tahu ayah selalu memenuhi keinginanmu" jawab ayahnya.
"Begini ayah, akibat ulah temanku tadi sepatuku jadi basah sementara sepatuku yang satunya masih dipinjam alexa. Apa boleh aku beli sepatu baru ayah masalahnya satu jam setelah aku pulang sekolah ada pertandingan. Aku ngga mungkin sempat beli ayah, bahkan pulang pun gak sempat jadi..."
"Karin...maaf seandainya kau tahu ayah sangat sibuk hari ini lagipula bukankah sudah ada ricko di dekatmu. Kau bisa menyuruhnya apa saja" ucap ayahnya.
"Apa ayah yakin?" tanya karin.
"Belajarlah untuk memberikan sedikit kepercayaan kepada anak buahmu. Dengan begitu kita akan tahu seberapa besar kemampuan dia. Karin...sekarang kau adalah bosnya ricko dan ricko adalah anak buahmu. Ayah percayakan ricko padamu. Maaf ya sayang...ayah tutup dulu ya telponnya, ayah harus segera menyelesaikan laporan ayah. Bye sayang" ucap ayahnya lalu dia menutup telponnya sebelum karin menjawabnya.
Sepertinya ayah benar benar sibuk. batin karin
"Ricko...Apa kau bisa membantuku?" tanya karin.
"Aku siap menerima perintahmu karin" jawab ricko dengan sabar.
"Aku butuh sebuah sepatu olahraga, tapi aku lupa semua kartuku tertinggal di laci meja nakasku. Apa kau bisa mengambilkannya untukku? lalu belikan aku sebuah sepatu olahraga dengan model seperti yang kau pegang. Aku harap kau sudah ada disini pada saat aku pulang sekolah karena satu jam setelah pulang sekolah, aku harus bertanding" jelas karin kepada ricko.
"Baik karin...Tapi apa kau yakin kau akan baik baik saja setelah aku tinggal?" sambil melirik ke arah ray dan teman temannya yang mendekat.
Haah...mulai lagi . batin karin
"Memangnya kau pikir aku ini sedang berada di hutan dengan berbagai macam binatang buas!" balas karin dengan cepat dan suara lantang.
"Sepertinya begitu..." sahut ricko dengan santai.
Spontan karin langsung memandangi sekelilingnya hanya mendapati ray dan dua orang temannya berada di belakangnya.
"Ntar kalo ada ular yang tiba tiba gigit kamu gimana? Atau banteng yang udah siap nyeruduk kamu? Atau cicak yang akan merayap di tubuhnu?" tanya ricko.
"Ricko! mereka semua tuh teman temanku! Lagian mana ada cicak di hutan!" balas karin dengan lantang.
"Hey non...semua orang juga tahu kalau hutan tuh tempat kumpulnya berbagai binatang buas"balas ricko.
"Sejak kapan cicak termasuk binatang buas? Dan ini sekolahku ricko..bukan hutan belantara...Aiish rickooo...buruan sono pergi..." ucap karin sambil mendorong tubuh kekar ricko yang sulit sekali bergeming.
__ADS_1
"awas kalo terlambat...dan inget...jangan..."
"Terlalu berlebihan! ngga perlu dibilang juga aku dah paham" ucap ricko menyela perkataan karin tadi lalu berjalan pergi tanpa basa basi lagi.
"Syukurlah kalo udah paham..." gumam karin sendiri.
Reyhan yang beniat menjahili karin membisikkan kata kata ditelinga kirinya karin ketika ada bima disamping kanannya karin.
"Apa binatang buasnya sudah pergi?" tanya rayhan tapi setelah itu dia lebih memilih berjalan pergi melihat tatapan tajam karin.
"Karin...alexa kapan balik sih?" tanya bima.
"Mana aku tahu lah...emang aku baby sitternya dia" balas karin.
Mendengar itu ray langsung tertawa lebar sedangkan bima langsung sewot.
"Coba aja lo telpon dia" ujar karin.
"Udah...tapi kagak pernah dijawab" jawab bima dengan yakin
"Masa sih..." ujar karin tak percaya.
Bima langsung mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada karin.
"Coba aja sendiri kalo ngga percaya" ujar bima sambil menyodorkan ponselnya.
Setelah karin mencoba menghubungi alexa lewat ponsel bima dan ternyata sama nihilnya, akhirnya karin terpaksa mempercayai perkataan bima tadi.
"Gue butuh teman buat latihan, kan lo tahu sendiri kalau bentar lagi tuh musim pertandingan" jawab bima
"Trus kenapa musti alexa?" tanya karin.
"Emangnya lo mau gantiin alexa?" sahut bima dengan cepat.
"Ogah!" jawab karin dengan tegas.
"Trus gue latihan sama siapa dong?" tanya bima.
"Lha...anggota fans lo kan banyak ngapain lo bingung...atau lo mau gue panggilin fans lo sekarang..." ujar karin yang hendak berteriak tapi tidak jadi karena bima dengan sigap langsung menutup mulut karin. Sedangkan karin yang tidak suka bima sok dekat langsung menggigit tangan bima yang menempel di mulutnya dengan keras hingga mengaduh bima kesakitan.
Spontan bima menarik tangannya lalu mengibas ngibaskannya serta mengambil sapu tangan di saku belakangnya. Sedangkan Ray hanya bisa tertawa lebar melihat kelakuan dua temannya itu.
"Aduuh..duh..duh!! issh...Lo rabies ya!" ujar bima yang jijik sambil terus membersihkan tangannya.
"Kenapa...mau lagi?" goda karin.
"Udah...udah karin...lebih baik kita balik ke kelas yuk, waktu istirahat udah mau habis" ucap ray berusaha menengahi mereka berdua.
Tanpa basa basi lagi karin pergi meninggalkan ray dan bima sendiri.
"Tuh anak ya, beneran cewek atau jelmaan kunti sih. Susah amat diajak ngomong baik baik" ujar bima.
__ADS_1
"Emangnya kenapa? lo gak suka ama dia? keliatannya dia lumayan lucu kok" goda ray.
" Issh...amit amit deh ray. Masih mending alexa daripada tuh cewek. Alexa masih ada baik baiknya nah dia....baru kali ini gue digigit beneran ama cewek, kayak perang ama binatang buas aja" gerutu bima.
Mendengar itu ray kembali tertawa lebar. Setelah itu dia langsung mengalungkan tangannya di pundak bima dan mengajak bima berjalan kembali ke kelasnya.
"Tuh dia uniknya karin, beda kan ama cewek lain" ujar ray
"Eits tumben lo merhatiin cewek. Jangan jangan...lo beneran suka ya ama tuh cewek ganas?" tanya bima yang tak percaya.
"Iya sih...tapi dia malah nganggap gue playboy yang cuma mau main main ama dia" jawab ray dengan senyum kecut.
"What!!Lo dibilang playboy? Playboy darimananya? kan dilihat dari julukan lo aja udah jelas" ucap bima lagi tak percaya.
"Harusnya...tapi kenyataannya enggak" sahut ray
"Hmm....Dasar sama sama gunung es...padahal tinggal dikasih sirup aja udah manis tuh hidup" celetuk bima.
Sedangkan ray hanya tersenyum kecut sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
Pulang sekolah tampak karin sedang ngobrol bersama raisya di depan gerbang sekolah. Mereka menunggu ricko yang sudah dalam perjalanan menuju sekolah dan sebentar lagi akan sampai.
Setelah ricko datang karin dan raisya langsung masuk kedalam mobil mereka. Di dalam mobil, karin yang memilih duduk di bangku depan di sebelah ricko tengah asik mengotak atik ponselnya sambil memegang secarik kertas dan penanya. Kebetulan karin terpilih sebagai kapten timnya. Jadi dia ingin memastikan kalau timnya harus menang meski ini hanya pertandingan ujicoba, menggunakan beberapa taktik dalam pertandingan.
Sedangkan raisya juga sibuk dengan beberapa artikel mading yang dia bawa pulang beserta laptopnya. Sehingga mereka berdua tidak memperhatikan kantung belanjaan yang berderet di bagian belakang kursi tempat duduk paling belakang dari mobil karin yang sudah dilipat terlebih dahulu untuk menaruh beberapa kantunng belanjaan tersebut.
Mobil yang dikendarai ricko mulai masuk pelataran parkiran club dan setelah ricko memarkirkan mobilnya, mereka bertiga turun lalu menuju ke bagian belakang mobil.
Mata karin dan raisya langsung membulat dan mulut mereka melongo ketika melihat deretan kantung belanjaan sudah tertata rapi di bagian belakang mobil. Dan karin semakin terkejut ketika membuka sebuah kotak berisi sepatu highheels berwarna merah. Spontan karin langsung memukul lengan ricko dengan sebuah buku yang sejak tadi dia pegang, karena sangat kesal kepada ricko.
"Rickoo! Aku tuh mau tanding basket bukan mau fesyen show!!" ucap karin dengan suara nyaring karena sangat kesal.
"Maaf karin, ini tuh perintah khusus ayahmu! Mana mungkin aku berani membantah perintah tuan besar" ujar ricko sambil mengelus sendiri lengannya.
Karin yang masih sangat kesal kembali memukul lengan ricko menggunakan bukunya dengan sangat keras.
"Memangnya Kau pikir aku ini laba laba yang punya delapan kaki! Bagaimana aku bisa memakai semua sepatu ini ricko! Heelsku di rumah aja belum pernah aku pakai!" ujar karin sambil mendengus kesal.
"Mau bagaimana lagi, perintah ayahmu itu sudah jelas karin. Setiap kali kau membeli sebuah sepatu olahraga, kau juga harus membeli dua pasang sepatu heels. Karena ayahmu menyuruhku membeli dua pasang sepatu olahraga jadi kupikir aku juga harus membelikanmu empat pasang sepatu ini. Bukankah aku tidak salah nona karin?" jawab ricko sambil menyodorkan kembali dompet kartu milik karin.
"Sekarang katakan padaku ricko...bosmu yang sekarang itu aku atau ayahku?" tanya karin dengan geram.
"Kau adalah bosku tapi ayahmu adalah tuan dari bosku" ujar ricko dengan santai tapi memberi pukulan telak bagi karin.
Karin yang kesal akhirnya hanya bisa diam dan menggeram saja sambil secepatnya maraih sepatu olahraganya yang baru lalu dengan cepat memakainya.
Raisya yang sejak tadi takjub melihati beberapa sepatu highheels baru milik karin lantas mendekati karin.
"Karin...kalau kau tidak terlalu suka dengan heelsnya apa aku boleh meminta satu untukku?" tanya raisya dengan penuh harap.
"Kau ambil semua juga boleh" jawab karin ketus sambil memandang benci kepada ricko.
__ADS_1
Setelah itu dia berlari masuk ke dalam arena clubnya untuk bergabung bersama timnya dia.