Nona Muda Karin

Nona Muda Karin
pernyataan cinta


__ADS_3

Karena ini hari bebas disekolah, banyak murid yang memutuskan pulang sekolah lebih awal. Pulang sekolah ray menunggu karin di depan mobilnya. Tak berapa lama kemudian karin datang dan ray segera membukakan pintu mobilnya. Setelah karin masuk, ray segera memacu mobilnya keluar area sekolah.


Dari jauh terlihat dua pasang mata memandang mereka berdua dengan tatapan kebencian yang mendalam.


"Gue heran deh sama ray, tiap kali gue nebeng ray selalu menolakku mentah mentah. Sekarang lo lihat sendiri kan jen? Apa ray itu buta sampai ngga bisa nyadari kalo karin tuh ngga pernah cinta sama dia...cuma gue yang mencintai dia sungguh sungguh" ucap angel dengan mata berkaca kaca.


"Lo tenang dulu ngel, suatu saat kita pasti punya cara yang tepat buat misahin mereka berdua" ucap jenifer berusaha menenangkan sahabatnya itu.


Tapi kebencian mereka kembali berkobar ketika melihat bima membonceng mesra alexa. Memang bukan sekali ini mereka terlihat berboncengan tapi kali ini pemandangan itu benar benar membuat hati jenifer menjadi sakit.


"Lo kirim pesan sama siapa rin?" tanya ray sambil asik nyetir mobilnya.


"Sama ricko"


"Apa dia marah kalo gue bawa lo pergi?" tanya ray lagi.


"Sedikit..."


"Emang lo anggap ricko seperti apa?" ray mulai penasaran.


"Ricko itu...kadang sopir, teman dan yang yang paling aku seneng, dia anggap aku seperti adiknya sendiri" jawab karin.


"Oo...kirain Lo berdua ada rasa" goda ray.


Karin langsung memukul lengan ray sambil tersenyum geleng geleng kepala.


"Auw...salah lagi" celetuk ray


Karin sebenarnya ingin menanggapi omongan ray, tapi perhatiannya tertuju pada suatu rumah mewah yang penghuninya baru keluar dari rumah itu. Karin memandangi setiap detail rumah itu dan beberapa mobil yang keluar dari rumah itu. Beruntung ray tidak memperhatikannya karena sibuk menyetir sambil menjawab telpon dari seorang temannya.


Karin merasa tidak asing dengan mobil mobil hitam itu. Karin juga sempat melihat sosok bayangan yang sepertinya sangat dia kenal.


Pandangan karin kembali tertuju pada rumah itu. Dia mencoba mengingat ingat masa kecilnya dulu. Dan akhirnya dia yakin bahwa rumah mewah yang baru dia lewati adalah rumahnya dulu ketika dia masih kecil. Sedangkan sosok yang baru dia lihat tadi pasti ayahnya.


Kalau itu tadi memang ayah, lalu untuk apa ayah menempatkanku di apartemen. Kenapa ayah kesannya menyembunyikanku? Kenapa sikap ayah begitu aneh? Dia dekat denganku tapi disini dia selalu menjaga jarak denganku seolah olah ayah tidak ingin orang lain tahu kalau aku adalah putrinya. Ada apa denganmu ayah? Aku harus telpon ayah. batin karin.


Karin segera mengambil ponsel miliknya dari dalam tasnya kemudian segera memencet panggilan telpon tersebut dengan wajah cemas seperti memikirkan sesuatu.


"Hallo ayah, bagaimana kabar ayah? Ayah ada dimana sekarang?" tanya karin


"Ayah baik baik saja sayang, apa kau sudah pulang sekolah?" ayah karin berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Iya Ayah dan aku sekarang sedang pergi main bersama temanku, ayah...aku rindu ayah dan bunda, apa bunda bersama ayah?" tanya karin berusaha mengorek informasi.


"Maaf karin ayah sedang bekerja diluar kota, jadi ayah tidak bersama bundamu sekarang. Oh ya ngomong ngomong kau pergi dengan siapa? apa kau pergi bersama ricko juga alexa dan ...."


"Maaf ayah...karin harus pergi, nanti karin hubungi ayah lagi, bye ayah...i miss u" karin langsung memutuskan sambungan telponnya.


Pandangan kosongnya mengarah ke jendela mobil


Ayah tidak mau bilang dimana dia berada. Ayah sebenarnya apa yang sedang ayah sembunyikan dariku. batin karin


Tak berapa lama kemudian karin dan ray tiba. Terlihat mereka berdua tengah berjalan bergandengan tangan diatas jembatan yang mengarah ke tengah danau. Air yang jernih dan tenang membuat suasana menjadi semakin romantis. Karin yang baru kali itu berjalan berdua dengan cowok sambil digenggam tangannya membuat jantungnya sejak tadi berdetak tak beraturan.


Diujung jembatan di tengah danau itu, ray dan karin duduk bersebelahan. Mereka melepas sepatu mereka serta mencelupkan kaki mereka di air danau tersebut.


"Ray, kau tahu tempat ini dari mana?" tanya karin.


"Ini dulu adalah tempat favoritku dengan tasya" karin mengerutkan dahinya karena dia tidak tahu siapa itu tasya. Ray yang paham sikap karin segera menjelaskan. "Tasya adalah teman bermainku waktu kecil. Mungkin sekarang dia sudah bertemu mama disana. Tasya mengidap kanker otak dan dia meninggal satu hari setelah hari ulangtahunku" jelas ray.


"Maaf ray, aku tidak tahu"

__ADS_1


"Ga papa kok, kejadian itu sudah lama. Kalau kau sendiri, apa kau punya teman masa kecil?" tanya ray.


"Tentu saja seperti yang kau tahu, alexa dan raisya sudah berteman denganku sejak kecil. Hanya saja kadang aku merasa bersalah kepada mereka. Kadang aku terlalu sibuk membantu ayahku diperkebunan sampai melupakan mereka yang selalu setia menemaniku. Karena itulah ketika ada waktu senggang, aku mengajak mereka bermain di telaga air terjun diperkebunan ayahku" jawab karin sambil menatap kosong ke depan.


"Apa kau merindukan tempat bermain masa kecilmu itu?" tanya ray


"Tentu saja...tempat itu masih alami dan airnya bening juga segar"


Mata ray tiba tiba tertuju pada sebuah pohon kamboja yang sedang berbunga banyak. Ray lantas berdiri dan meninggalkan karin sejenak menuju pohon tersebut. Tak berapa lama ray kembali dengan membawa banyak bunga. Ray langsung berkali kali menaburkan bunga itu kearah karin sampai membuat karin tersadar dari lamunannya. Senyum karin langsung mengembang melihat tingkah ray.


"Ray...kenapa kau lakukan ini padaku?" tanya karin


"Kau suka? Aku hanya ingin membuatmu bahagia" jawab ray.


"Ooo....Kirain lo pikir gue ini sundel bolong" celetuk karin.


"Kok sundel bolong?"


"Karena yang lo lempar itu kan bunga kamboja. Bunga yang sering ditanam di kuburan" jawab karin sambil menahan senyum.


Ray langsung tertawa cekikikan mendengar jawaban karin tadi.


"hahaha...kalo lo sundel bolong gue ngga bakal ngajak lo kesini. Bisa abis gue lo makan?"


"Kan gue ini anggotanya genk cewek horor..." setelah itu karin menghela nafas panjang,"haaah...ngga tau siapa lagi yang ngasih julukan serem kayak gitu" gumam karin


mereka berdua kemudian tertawa bersama.


Karena cuaca agak mendung, ray mengajak karin untuk kembali ke dalam mobil. Karin lantas mengangkat kakinya dan meraih sepatunya. Setelah memakai kaus kaki di kedua kakinya, karin meraih sebuah sepatu dan karin kembali dibuat terperangah dengan sikap ray yang membantunya memakaikan sepatu di kaki karin.


Jantung karin kembali berdetak tak beraturan ketika ray mulai menyentuh kakinya serta memakaikan sepatu di kakinya. Karin berusaha menutupi rasa canggungnya dihadapan ray dengan fokus mengikat tali sepatunya di kakinya yang lain.


Ray yang sudah berdiri lebih dulu mengulurkan kedua tangannya untuk membantu karin bangkit. Sebenarnya karin ragu tapi karena karin hanya bisa melihat ketulusan di mata ray, akhirnya dia meraih tangan ray. Dan ketika dia berhasil berdiri, dia malah terjatuh kepelukan ray karena tarikan tangan ray tadi terlalu kencang. Ray tanpa sadar telah melingkarkan tangannya di pinggang dan punggung karin.


Mata ray juga seakan menghipnotis diri karin untuk terus memandangi wajah tampan ray. Sampai dering ponsel karin membuat karin tersadar untuk segera menjawabnya.


"I...iya rick. Ada apa?"


"Kau ada dimana? cepatlah pulang, ini sudah sore jangan pulang terlalu malam" perintah ricko.


"Iya rick, sebentar lagi kami akan pulang" jawab karin setelah itu dia memutuskan sambungan teleponnya.


Ray yang sebenarnya sedikit kecewa tapi semua terobati dengan ajakan karin untuk mampir ke apartemennya.


Ditempat lain terlihat alexa yang baru datang ke panti asuhan tersebut merasa sangat bahagia. Mengingat dia adalah anak tunggal, maka dari itu dia sangat berharap mempunyai adik tapi rasanya itu tak mungkin lagi karena ibu kandungnya telah meninggal sedangkan ibu tirinya sudah sakit sakitan.


Begitu masuk kesana alexa langsung meminta ijin kepada bima supaya dia bisa menemani anak anak panti bermain. Bima ikut bahagia melihat kebahagian terpancar di wajah alexa. Sejenak bima meninggalkan alexa untuk bermain bersama anak anak panti. Bima menyelesaikan beberapa urusannya dengan panti asuhan tersebut.


Tak berapa lama kemudian bima kembali menghampiri alexa yang masih asik bermain menggambar dan mewarnai bersama beberapa anak kecil penghuni panti tersebut diiringi beberapa canda tawa mereka.


"Sore adik adik...lagi main apa nih"sapa bima dengan lembut.


"Kak bima..." seorang anak kecil yang tadinya berada di pangkuan alexa langsung turun dan pergi memeluk bima. Bima membalas pelukan anak kecil itu sejenak lalu anak kecil itu bergabung bersama lainnya untuk ikut mewarnai. Seseorang lagi menunjukkan hasil mewarnainya kepada bima.


"Nah adik adik lanjutin mewarnainya ya...kak bima mau ada perlu sama kak alexa jadi kami pamit dulu" ujar bima sambil melirik ke arah alexa.


"Tapi bim, sebentar lagi ya...lima menit..." sahut alexa.


Bima hanya menggelengkan kepalanya tanda tak setuju."Kalau kau mau setiap dua bulan sekali keluargaku selalu mengadakan acara disini. Kau bisa ikut denganku tapi sekarang ada urusan yang harus kita selesaikan" jawab bima sambil menarik tangan alexa.


Dengan langkah berat alexa mengikuti langkah bima walaupun hatinya berat dan pandangannya masih menoleh kearah anak anak panti itu. Namun karena tangan bima terus menarik tangan alexa serta kakinya juga terus melangkah menuju kearah keluar membuat alexa mau tidak mau mengikuti langkah bima.

__ADS_1


Di depan motor, bima memakaikan helm alexa sambil tersenyum karena melihat raut wajah cemberut dan kecewa tergambar jelas di wajah alexa. Setelah memakai helmnya sendiri bima menyuruh alexa naik lalu membawanya ke suatu tempat di atas bukit dengan motor sportnya.


Dari atas bukit alexa dan bima dapat melihat pemandangan indah tersaji di depan mata mereka. Alexa menghirup dalam dalam udara sejuk sambil menutup matanya merasakan udara sejuk itu menyentuh kulitnya. Disaat dia membuka matanya, dia melihat bima sudah berdiri dihadapannya dengan pandangan matanya yang tak pernah berpaling darinya.


Mendapat perlakuan seperti itu membuat wajah alexa seketika merah merona. Dia tidak bisa lagi menyembunyikan perasaan gugupnya dihadapan bima.


Melihat sikap alexa yang malu malu mau membuat senyuman bima semakin melebar serta semakin gemas kepada alexa. Akhirnya tangan bima pun sudah tidak bisa tinggal diam. Awalnya dia hanya mencubit kedua pipi alexa, lalu hidung. Sebenarnya alexa berusaha membalas tapi bima selalu berhasil mencegah tangan alexa. Hingga akhirnya pergulatan kecil mereka berujung dengan saling menggelitik satu sama lain.


Alexa berusaha menghentikan bima karena takut jatuh terpeleset ke dalam jurang yang ada di depan mereka. Tapi bima tetap tidak mau berhenti sampai akhirnya alexa hampir kehilangan keseimbangan. Untungnya dengan cepat bima menariknya.


Alexa jatuh kedalam pelukan bima. Salah satu tangan kekar bima sudah melingkar dipinggang alexa. Sorot mata bima kembali membuat alexa merasa terhipnotis. Tangan bima yang lainnya perlahan membelai lembut rambut alexa serta menyibakkan beberapa anak rambutnya yang menutupi wajah alexa membuat pikiran alexa menjadi berkecamuk di dalam kepalanya.


Ini salah kan...Harusnya aku bisa menahan diri tapi kenapa kali ini rasanya berat. Bahkan aku merasa tak punya tenaga sedikitpun untuk menyingkirkan tangannya. Sadarlah alexa...kau tidak boleh terjebak oleh perasaanmu sendiri. Kau tidak boleh menjadi lemah karena perasaanmu sendiri. Hei... Alexa bangkit!! batin alexa.


Perlahan alexa yang melepaskan tangan bima, membuat raut wajah kebahagiaan bima mulai berkurang.


"Ada apa lex, kenapa kau seolah menghindari perasaanmu sendiri. Aku tahu kau mencintaiku lex...Dan Aku juga selalu mencintaimu lex..."


Alexa tetap tak bergeming dengan sikap diamnya. Dia hanya bisa menundukkan wajahnya tanpa berani menatap bima. Dalam dirinya berusaha meredam perang batin agar dirinya kuat menghadapi bima.


Bima menangkup kedua pipi alexa hingga membuat alexa sedikit tersentak kaget tapi alexa hanya bisa memandangi wajah bima yang memperlihatkan sorot mata keingintahuan tentang sebuah alasan.


"Apa masalahmu lex....jangan menghindariku...jangan menjauh dariku...Kau sudah berbuat banyak untukku. Dan sekarang biarkan aku yang membantumu. Jangan pergi dariku lex....aku tidak akan sanggup tanpamu" ucap bima dengan sedikit memohon


"Kau pasti bisa bima, yakinlah pada dirimu... bima percayalah"


"Tidak lex, tidak.." ucap bima sambil terus menggelengkan kepalanya serta memegang erat bahu alexa.


"Bima kau tampan, kau kaya, banyak gadis yang memujamu...."


"Tapi hanya kau yang kuinginkan alexa!Hanya kau!!" bima segera menyela perkataan alexa.


"Bima aku mohon, aku tak pantas untukmu, aku hanya gadis desa dan ada satu masalah yang harus kuhadapi. Hargailah hidupmu bima, aku tak mau membahayakan nyawamu" jawab alexa.


"Apa masalahmu alexa!! Ayo kita hadapi bersama!!" tanya bima yang semakin mempererat cekeraman tangannya dibahu alexa dengan sorot mata membunuhnya.


Belum sempat alexa menjawab tiba tiba hujan turun dengan sangat deras. Bima segera mengeluarkan mantel dari dalam tasnya untuk segera dia pakaikan kepada alexa.


"Tunggu bima, kalau mantel ini kupakai kau pakai apa?"


"Jaket ini sudah cukup hangat alexa, lagipula masih ada di bawah jok" sahut bima berbohong sambil terus memakaikan mantel kepada alexa.


Setelah itu mereka berjalan setengah berlari kearah motor. Menyadari bima malah menyalakan mesin motornya alexa mulai berpikir bahwa bima berbohong supaya dia mau memakai mantel itu.


"Bima dimana mantelmu? harusnya kau yang pakai mantel ini bukan aku" alexa bergegas menarik resleting tapi bima malah dengan cepat turun dari motor lalu menghentikan serta menarik kembali resleting itu keatas.


"Jangan kau lepaskan alexa" ujar bima yang mulai basah kuyub.


"Tapi Bima...Hmm...mmm" ucapan alexa terhenti karena bima tiba tiba mencium alexa. Alexa berusaha meronta tapi karena kalah tenaga dia hanya bisa pasrah.


Tangan kiri bima memeluk erat pinggang alexa sedangkan tangan kanannya memegangi tengkuk alexa. Keadaan bibir alexa tadi yang sedikit terbuka membuat lidah bima leluasa masuk kedalam mulut alexa membuat tubuh alexa merinding seperti tersengat listrik.


Untuk beberapa saat bima terus ******* menikmati bibir manis alexa. Alexa yang tak memahami tubuhnya kembali terjadi perang batin. Disatu sisi dia ingin menghempaskan tubuh bima tapi disisi lain dia juga berkeinginan untuk membalas ciuman bima. Alhasil dia hanya bisa diam tak merespon, hanya membiarkan bima terus ******* bibirnya.


Setelah puas bima berkata dengan mata sayu dan suara beratnya, "jangan kau lepaskan mantel ini, atau aku akan mencium bibir manismu ini" ucap bima sambil merabai bibir alexa dengan ibu jarinya.


Bima lalu kembali menaiki motornya lalu mulai menyalakan mesin motornya. Setelah alexa naik bima lantas menarik kedua tangan alexa supaya melingkar di pinggangnya.


"Kalau kau tak ingin aku kedinginan, berikan pelukan hangatmu lex" ucap bima.


Blush....

__ADS_1


Pipi alexa langsung merona merah seperti kepiting rebus. Alexa menyembunyikan wajah merahnya dibalik punggung bima dan tak sanggup menjawab perkataan bima tadi. Dia hanya semakin mempererat pelukannya kepada bima dan bagi bima itu sudah cukup untuk menjawab permintaannya tadi. Senyum simpul langsung terpampang di wajah tampan bima. Tak menunggu waktu lama lagi bima langsung memacu motornya menuju apartemen karin.


Sedangkan alexa terus memberikan pelukan eratnya kepada bima. Bukannya dia mulai membuka hati untuk bima tapi karena alexa takut bima sakit karena kejadian ini. Baginya yang terpenting tubuh bima bisa sedikit hangat karena dekapan tubuhnya


__ADS_2