
Tak terasa hari yang ditunggu telah tiba. setelah kemarin sempat ikut ujian tes masuk SMA x sekarang tiba hari pengumuman. Seketika raut wajah karin dan raisya begitu bahagia melihat hasil pengumuman itu. mereka diterima di sekolah itu. Apalagi mereka termasuk ke dalam 10 besar peringkat nilai terbaik dimana itu artinya mereka mendapatkan beasiswa selama bersekolah di SMA X. Sementara alexa hanya tersenyum kecut karena dia tidak diterima padahal hanya beda angka tipis dengan peringkat sebelumnya nomor urut terakhir. Ya Alexa memang tidak terlalu pandai soal pelajaran, apalagi saat belajar di rumah yang kadang terpaksa terganggu karena dia tidak tega melihat kondisi ibunya serta kerap membantu ibunya yang sudah mulai sakit sakitan.
Sebenarnya Karin dan raisya sudah berusaha menghibur tapi entah kenapa dia merasa sangat sedih mengingat dia tidak bisa lagi bersekolah ditempat yang sama dengan kedua sahabatnya yang sudah menemaninya sejak kecil.
Hingga tiba saat ketika pulang sekolah Karin dengan bahagia melangkahkan kakinya ke dalam rumah. sebenarnya ada satu ganjalan dalam hatinya. dia takut orang tuanya akan menolak keinginannya untuk bersekolah disana.
Langkahnya langsung menuju ruang tamu ketika melihat kedua orang tuanya sedang duduk ngobrol bersama.
"Karin pulang bunda...ayah" ujar karin sambil meraih kedua tangan orang tuanya dan menciumnya lalu duduk disofa sebelah ayahnya.
"Ada apa, sayang? sepertinya kau bahagia sekali?" tanya ayahnya.
"Tebak ayah, karin punya kabar gembira tapi sebelumnya ayah harus berjanji satu hal padaku",pinta karin kepada ayahnya
"Berjanji??? memangnya ayah harus janji apalagi sayang?"tanya ayahnya yang bingung
__ADS_1
"Berjanjilah kalau ayah gak akan menolak permintaan karin"pinta karin dengan wajah memohon.
"Tapi bukannya selama ini kamu yang selalu menolak pemberian ayah" jawab bundanya cepat.
"Itu karena ayah yang selalu berlebihan dan karin gak suka sesuatu hal yang berlebihan" balas karin.
"oke...oke...ayah janji...lagipula selama ini kau sudah menjadi asisten cantik ayah. Sekarang katakan saja...apa maumu" tanya ayah dengan selidik.
"Sebelumnya maaf ayah, karena tanpa sepengetahuan ayah, karin ikut tes masuk ke SMA X dan karin ketrima disana. Selain itu....karin juga dapat beasiswa sampai Karin lulus sekolah disana... jadi aku harap ayah sama bunda mengijinkan karin untuk bersekolah disana" jelas karin dengan bahagia berharap ini menjadi berita kejutan bahagia untuk orang tuanya.
"Enggak...ini buktinya..." jawab karin sambil menyodorkan ponselnya kepada ayahnya.
Seketika raut wajah orang tuanya langsung bahagia membaca hasil pengumuman itu melalui ponsel karin. Tapi tidak lama kemudian wajah ayahnya berubah serius ketika melihat alamat sekolah tersebut berada di Jakarta.
"Kalau maksudmu ayah akan mengijinkan kamu bersekolah di Jakarta, jawaban ayah tidak!" ujar ayahnya dengan tegas.
__ADS_1
"A..a...apa? T..tapi kenapa ayah?" tanya karin dengan terbata bata. karin sangat terkejut karena penolakan ayahnya dengan tegas padahal selama ini tidak pernah sekalipun ayahnya menolak permintaan putrinya.
"Karena kau masih kecil dan belum cukup umur untuk kembali ke kota itu" jawab ayahnya cepat.
"Apa maksud ayah...karin bukan anak kecil lagi ayah. jujur karin ngga ngerti..." tanya karin lagi
"Cukup Karin ! Sampai kau cukup umur, kau tidak akan kembali ke kota itu ! Dan jangan tanyakan tentang alasannya karena sampai kapanpun kau tidak akan mengerti anakku. Asal kau tau ayah melarangmu kembali kesana karena ayah sangat sayang padamu dan ayah tidak mau kau sampai kenapa kenapa disana. Apalagi kau sendirian disana!" ucap tegas ayahnya.
"Tapi ayah ...." perkataan karin langsung dipotong oleh ayahnya, " Ayah bilang cukup karin !!! Apa kau tidak mendengar penjelasan ayah tadi!!! bentak ayah karin. setelah itu ayahnya langsung berdiri dan meninggalkan karin yang masih shock dengan kemarahan ayahnya di ruang tamu bersama bundanya. bundanya yang tau anaknya sedang shock segera menghampiri putrinya dan mengelus pundak anaknya. Seketika itu air mata karin langsung turun deras membasahi pipinya.
"Ada apa bunda...sebelumnya ayah tidak pernah semarah ini kepada karin. Apa salah kalau karin ingin bisa menjadi seperti ayah" ujar karin lirih sambil terus menangis
"Bunda mengerti kesedihanmu sayang. Tapi bunda juga tidak bisa berbuat apa apa. Hanya satu hal yang bunda tahu bahwa ayahmu sangat menyayangimu. Sekarang pergilah ke kamarmu dan tenangkan dirimu" perintah bundanya dengan lembut.
Tanpa sepatah kata lagi, karin beranjak menuju kamarnya dan mengunci diri dikamarnya. Sungguh di luar dugaan, ayahnya bisa semarah itu mendengar kabar tersebut.
__ADS_1