Noodle In Love

Noodle In Love
10. Tidak Menyapa


__ADS_3

Juga seperti kemarin, berpamitan duluan pada Denis yang sekarang ada Rush di sebelahnya. Tidak ada basa basi lagi di antara kami. Banyak mata yang diam-diam sedang memperhatikan meja kami.


Cukup dengan mengangguk dan melempar senyum kecil, mereka berdua menyambut undur diriku dari kantin.


🕸


Meskipun berkerudung, prosedur mengenakan head cover masih harus tetap dijunjung. Berkollaborasi dengan face mask kain warna putih dari perusahaan. Hanya dengan penutup kepala dan penutup hidung serta mulut berwarna sama itulah pelindung wajibku. Tanpa mengenakan apron sebagaimana operator.


Sebenarnya juga dibagi dan disarankan, tapi tidak diwajibkan. Miss Yong cukup berbelas kasih jika di lapangan back end itu sangatlah panas luar biasa. Jadi terserah kami, memakainya atau tidak. Bukan tidak memakai sama sekali. Terkadang juga kupakai jika ada visitor atau juga auditor.


Sangat tidak suka jika ada auditor atau juga visitor di lapangan. Mereka suka menghambat langkah dan kerjaku. Alias juga mengaudit QC yang melintas di depannya. Jika sedang sangat buru-buru, kupilih bermain kucing-kucingan. Menghindar dari tangkapan auditor.


🕸


Segala record data di lapangan serta warning letter dari supervisor, telah kutarik dan sedang kususun dengan rapi. Kemudian kuteliti cepat sekali lagi, mana tahu ada sedikit saja salah tulis di luar spesifikasi. Itu akan membawa prahara sendiri untukku dari miss Yong.


"Ling, cepat banget kamu?" tanya mbak Ita. Kami berpapasan di pintu ofice QC. Dia maju masuk, aku menunggu maju untuk keluar.


"Iya mbak, aku ingin cepat berendam. Rasanya panas dan gatal-gatal," sahutku menjelaskan. Ini sudah pukul tujuh petang dan telah lewat lima menit.


"Alasan ya.. Besok hari minggu kan?" tanya mbak Ita tersenyum. Dia paham sekali pikiranku.


"Makanya, mbak. Cepat pulang saja. Besok pagi kita nggak ketemu miss Yong." Kuraih pintu yang hampir menutup.


"Kamu duluan saja, Ling. Recordku belum kulihat ulang." Mbak Ita melirik tumpukan kertas record yang terjepit di papan dada.


"Ya sudah. Aku duluan ya, kak. See yu besok...!" Aku berseru sambil kulepaskan pintu ofice. Kami telah saling memunggungi dengan terpisah dinding kaca. Ita adalah gadis Melayu campuran Jawa. Itulah, kadang kupanggil kak, kadang kupanggil mbak. Tapi wajah itu akan berbinar jika kusebut dengan mbak.


Kugegas jalan menuju mesin absensi. Tidak ingin membuang waktuku sia-sia. Ini adalah sabtu malam alias malan ahad. Ingin pergi ke Masjid mengikuti pengajian. Hal baik yang sempat Keke kenalkan padaku. Sebelum kami berpisah dari asrama dan tinggal di luar masing-masing.


🕸


Aku makan sendirian kali ini. Seperti biasa, bu Yanti selalu sudah kenyang sebab mencicipi hasil masakan buatannya. Sedang Rush, bu Yanti bilang, telah pergi semenjak lepas maghrib dengan berbaju wangi dan rapi.


Dijemput seorang teman yang membawa kendaraan dan Rush dibawa bersamanya. Pantas, sebab mobil pak Harjo masih bertengger aman di garasi. Rush tidak terlihat memiliki kendaraan sendiri.


Piring bekas makan malamku telah kucuci dan kuletak di rak perkakas yang masih basah. Dan akan dipindah oleh bu Yanti ke almari saat perkakas sudah kering.


"Kamu akan pulang malam, Ling?" tanya bu Yanti padaku Sambil menutupi makanan di meja.


"Nggak malam banget, bu. Jika acaranya selesai, pasti segera pulang," sahutku sambil kuelap tanganku dengan kain bersih.


"Ya sudah, hati-hati. Semoga kamu dapat jodoh pria yang Sholeh," ucap bu Yanti mendoakanku

__ADS_1


"Aamiin. Terimakasih, bu..." Sambil akan berlalu kusambut baik doa bu Yanti untukku. Meski kata menikah belum terlalu meraja di hatiku.


Kusambar tas jalanku di kursi dan kupegang erat untuk kubawa pergi ke masjid. Jadwal kegiatan rutinku semenjak putus dengan Putra, mantan pacarku yang tega.


"Assalamu'alaikum," pamitku sebelum lewat di pintu. Lamat terdengar bu Yanti menyambut salam doaku.


Aku tergesa pergi menuju pagar depan. Sopir taksi yang sudah kupesan online, telah standby menunggu di sana.


🕸


Acara Pengajian Umum Malam Ahad (PUMA), baru saja dimulai. Kuselipkan diri di antara para muslimah yang kebagian duduk di serambi. Jamaah sungguh melimpah dan kebanyakan adalah anak pabrik.


Penceramah kali ini adalah seorang Kyai yang datang langsung dari kota Rembang. Kyai Haji Sulaiman Al Hafidz namanya. Dengan moderator pribadi yang dibawanya sendiri dan berasal dari kota yang sama dengan beliau.


Pengajian dengan durasi ceramah selama kurang lebih dua jam itu terasa menarik dan menyenangkan. Sarat dengan ilmu dan pelajaran mulia kehidupan. Kyai itu sangat luwes dan pandai membawakan materi tausiah dengan lugas dan lucu. Para hadirin dan hadirot seringkali terhibur hingga tertawa gembira berjamaah.


Tidak terasa, pengajian umum selama dua jam itu selesai dengan ditutup doa bersama yang dipimpin oleh Kyai Haji Sulaiman sendiri. Para jamaah mengaminkannya dengan sikap khidmat yang sangat.


Begitu juga denganku. Mengaminkan selurah doa mulia dari bapak kyai dengan penuh harap keberkahan dan syafaat. Yakin jika kerajinanku mengikuti pengajian ini akan selalu penuh ibrah dan manfaat yang berkah. Aamiin.


🕸


Jarak Masjid Nurul Islam di Muka Kuning, Batam, tidak terlalu jauh dari perumahan tempat kostku. Jauhnya sama antara jarak kostku dengan perusahaan. Keduanya sama-sama berjarak nanggung. Dengan posisi rumah kostku yang di tengah. Kanan ke arah masjid, arah kiri menuju ke pabrik.


Taksi yang mengantarku telah berlalu saat penumpang mobil belakang sedang keluar. Sebab penasaran, sejenak kutunggu agar nampak seluruh sosoknya.


Eh, Rushqi... Pria yang baru keluar dari taksi, memakai peci dan berkoko itu adalah Errushqi.. Darimana lelaki itu?? Rush nampak berkharisma dan gagah luar biasa tak terbantah.


Sebab Rush masih mengobrol dengan temannya di pintu mobil, kutinggal tanpa memberi sapa apapun. Meski dia juga sempat melihatku, tapi Rush juga tidak memberi sapa kenalnya padaku.


Kumasuki halaman melewati pagar tanpa merasa segan padanya. Kurasa benar apa yang diucapkan Denis di kantin pagi tadi padaku. Tawaran manis untuk berteman dan bersahabat, hanya sekedar janji Rush yang palsu untukku.


🕸


Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, rasanya sangat nikmat saat merebah. Merasa jika ini adalah puncak kemenangan aktivitasku hari ini. Yang kini sedang kurayakan dengan rasa lapang dan nyaman.


Ragaku hampir karam bersama mataku saat tiba-tiba ingat benda yang sempat ku beli di masjid. Kusempatkan membelinya sebelum taksi datang menjemputku. Seketika, rasa lelah dan mengantuk melayang berganti semangat untuk bangun.


Disinilah aku berada sekarang, di meja makan. Menuang sebungkus bakso beranak dan sangat jumbo. Dan ada sebungkus jumbo lagi di sampingku. Tapi bu Yanti sudah tidur.


Sedang aku sendiri tidak yakin, sanggup menghabiskannya atau tidak.


"Ehem,,!" suara dehem tiba-tiba ini hampir meloncatkan sendokku. Hatiku terlanjur kaget saat sadar jika pendehem ini adalah Rush. Keki sekali rasanya.

__ADS_1


"Aku makan bakso," kataku begitu saja meski Rush tidak menanyaiku.


"Apakah enak?" tanya Rush sambil mencondongkan wajah dan dadanya ke mangkuk baksoku.


"Sepertinya enak," jawabku cepat. Menahan liurku yang hampir saja menetes. Aroma pedas dan sedap ini sungguh menggugah nafsu lidahku.


Rush telah duduk dengan membawa satu mangkuk kosong lengkap dengan sendok dan garpu. Dia menyodorkannya padaku.


"Tadi dari mana?" tanya Rush sambil mengamatiku yang sedang mentransfer sebagian bakso ke mangkuknya. Dia menolak sebungkus bakso yang coba kusodorkan di depannya.


"Masjid," jawabku. Rush kurasa paham sendiri, masjid mana yang kudatangi.


"Mas Rush sendiri dari mana?" tak berusaha kututup rasa ingin tahuku.


"Sama," jawab Rus pendek. Kuredam rasa kagetku. Tidak kusangka jika Rush pun ikut pengajian di Masjid.


Lelaki itu masih mengamati bakso-bakso bulat ini. Mungkin saja air liurnya pun sedang menggenang banjir di mulut. Kutahan tawaku di hati.


Kusodor mangkok bakso miliknya dengan isi yang lebih banyak dariku. Yakin jika Rush pun sangat suka dengan bakso. Dia tidak segan-segan meminta padaku.


"Kamu beli di kafe masjid?" tanya Rush sambil menggiling bakso di mulutnya.


"Iya." jawabku.


"Kenapa dibawa pulang?" tanya Rush kembali menyendok baksonya.


"Tadi banyak ikhwan di sana. Aku sendirian," jawabku apa adanya. Rush sejenak memandangku dan samar tersenyum.


"Kamu malu?" tanyanya lagi sambil mengunyah. Aku membuang muka darinya.


"Jika di tempat lain aku tidak malu. Tapi di sana, aku segan jika duduk sendirian," jawabku pada Rush yang kemudian nampak mengangguk.


"Betul itu, Ling. Aku paham maksudmu," ujar Rush memandangku.


"Sebenarnya aku tadi juga di sana, bersama teman-temanku. Sempat tak menyangka melihatmu di sana, memesan bakso. Sorry, kamu tidak kusapa," ujar Rush yang cukup kembali mengejutkanku.


Tapi seketika paham, kenapa Rush tidak menyapaku. Tempat dan teman lah yang mengharuskannya menjaga sikap. Aku pun mengangguk mengerti.


"Iya, aku paham. Jika aku dengan teman-temanku, aku juga akan bersikap seolah tidak melihat dan mengenalmu," ucapku mengapresiasikan kejujuran Rush padaku.


Kami saling memandang sesaat. Dan kemudian sama-sama tersenyum. Mulai kupahami, Rush tidak seburuk yang kusangka.


🕸🕸🕸

__ADS_1


__ADS_2