Noodle In Love

Noodle In Love
31. Jalan Bertiga


__ADS_3

"Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumsalam! Hati-hati ya, kalian!"


Aku dan Rush berbarengan mengucap salam pamit pada bu haji yang di balas seru sambil melambai tangan. Kami akan menjemput Keke di rumahnya untuk dibawa jalan bertiga oleh Rush.


Sebab kami tidak lagi singgah di sini, bu haji Fatimah membawakan beberapa kotak menu makanan guna kubawa pulang ke Muka Kuning dan juga untuk keluarga Keke di rumah.


Rushqi membawaku membelah jalan raya Nagoya pagi ini. Menuju rumah orang tua Keke di pusat kota Nagoya yang memiliki usaha jual beli elektronik cukup besar.


Keke berumur dua puluh empat tahun, dua tahun di atasku. Gadis Aceh cantik itu adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Semua kakaknya sudah menikah, satu tinggal di Aceh, dan yang satu lagi menetap di Jawa.


Sebab merasa bosan dengan kemonotonan usaha orang tua yang dirinya pun juga terlibat, keke pergi ke kota industri di Muka Kuning. Dengan di tolong kenalan baik sang ayah, sebuah perusahaan kontak lensa menerimanya bekerja sebagai seorang staff.


Keke yang sudah malang melintang di perusahaan hampir tiga tahun, kurang lebih selama itu juga tercatat sebagai penghuni di asrama. Kemudian aku datang dan sempat tinggal bersama hampir lima bulan. Yang kami berdua sepakat pergi dari asrama demi jalan keluar dari masalah pribadi kami yang serius.


"Tidurmu semalam bagaimana?" tanya Rushqi sambil mengemudi.


"Rasanya aku malas bangun," kujawab jujur perasaanku. Kurasa pria itu akan paham keseluruhan maksudku.


"Apa baju itu kamu tinggal di rumahmu?" tanya Rush lagi dengan menolehku sebentar.


"Tidak kutinggal, tapi kubawa dalam tas sekarang," kujawab sambil kutepuk tasku satu kali.


"Kenapa?" tanya Rush heran.


"Akan kucuci, lalu kukembalikan pada yang punya," sahutku akan yang sudah kurencana.


"Jika kamu suka, untukmu saja. Tidak usah kamu kembalikan, Ling," ucap Rush lirih dengan pandangan sungguh-sungguh. Jujur, aku tidak menyangka dengan tawarannya.


"Akan kukembalikan. Aku tidak mau, itu baju bekas, bekasmu," sahutku berkilah. Yang padahal, ingat jika itu baju yang masih digunanya, justru membuat perasaanku serasa tak menentu.


"Ya sudah, kembalikan. Akan kuanggap juga bahwa baju itu bekasmu," ujar Rushqi dengan tersenyum kecil. Heih, lelaki ini..


"Itu kan baju kamu sendiri. Jadi jangan bepikir itu bekas bajuku," protesku dengan ucapan Rush yang kurasa kurang nyaman bagiku.

__ADS_1


"Memang bajuku sendiri, tapi kan bekas kamu pakai." Rushqi berbicara santai sambil tersenyum. Aku merasa resah sendiri dengan pikiran di kepalanya


"Kan nanti saat kupulangkan ke kamu, sudah kucuci," protesku pada lelaki yang dengan santai menolehku.


"Kan kronologinya tidak bisa dicuci, Ling," sahut Rush dengan menaikkan sebelah alisnya meledekku. Heih, tidak kusangka jika lelaki tampan yang kuanggap sangat lurus itu kian ke sini kian sableng.


Mulut ini merapat dan kudiamkan saja ucapannya. Rushqi seperti orang lain dan bukan lelaki bermulut setajam parang. Tapi lebih sering berbicara yang terkadang usil dan konyol.


Rushqi berhenti di sebuah toko elektronik cukup besar dan ramai. Sesuai yang dishare lokasikan oleh Keke di ponselnya.


Baru saja kami berdua turun, gadis cantik dengan berkerudung merah nampak keluar dari toko dan datang menyambut kami.


"Kalian sudah datang?!" seru Keke sambil mendekati tempat kami.


"Apa kamu sudah siap, Ke?" tanya Rushqi menyambut sang calon istri. Keke tersenyum sekilas pada Rushqi sambil mengangguk. Tidak ada ekspresi canggung atau malu di wajah cantiknya.


Keke lalu memandangku dan kembali tersenyum. Kakinya bergerak mendekat.


"Kamu tidak pulang ke Muka Kuning, Ling?" tanya Keke dengan hangat dan lembut padaku.


"Yuk masuk dulu," ajak Keke sambil merengkuh bahuku dengan lembut.


"Ayo, Ling. Masuk dulu. Sekalian izin pada orang tua Keke," sahut Rush berinisiatif sendiri. Sebab, Keke justru serasa acuh pada Rush dan lebih perhatian padaku. Rasanya agak segan pada Rushqi. Apa dia juga merasa?


"Sepi, Ke. Di mana orang tuamu?" tanya Rush mewakili heranku.


Kami memasuki sebuah rumah besar setelah masuk melewati lorong kecil di samping toko. Rumah Keke tidak memiliki halaman dan teras.


"Ayah dan ibu mengambil stok baru di distributor pabrik, mas," jawab Keke sambil menyilakan kami duduk dengan tangan yang membentang.


Keke pergi ke dapur, dia kata ingin membuatkan kami kopi. Rush tidak melarangnya. Tapi juga tidak mengangguk. Hanya memperhatikan Keke yang nampak cerah bersemangat.


Keke kembali beberapa menit kemudian dengan nampan kecil berisi tiga cangkir kopi. Meletaknya di depan Rush dan menurunkannya satu cangkir di alas tatakan.


"Silahkan diminum, mas," ucap Keke tanpa memandang pada Rushqi. Lalu bergeser ke meja di depanku. Keke mengeluarkan lagi satu cangkir.

__ADS_1


"Ling, kopi idola kamu. Masih suka, kan? Hangat, nggak panas," ucap Keke sambil tersenyum lebar padaku.


Tapi, Keke tidak meletak begitu saja cangkir kopi hangatku. Tapi membawanya duduk di sampingku.


"Cobain buatanku ini dong, Ling. Sudah lama nggak lihat kamu minum kopi hangat dengan nikmat. Aku ingin lihat," ucap Keke yang mungkin terdengar aneh dan manja. Sikap Keke memang seperti itu padaku.


Tapi,, kulihat Rush yang terus mengamati kami dengan alis terkadang bertaut. Aku rasa amat resah, tidak ingin lelaki lurus itu mengendus hal aneh dari sikap Keke padaku.


Keke memiliki masa lalu cukup kelam, yang bisa juga berkaitan denganku. Yang kusesalkan, Keke seperti tidak peduli untuk menjaga sikapnya di depan calon suami. Justru aku yang waswas dan merasa resah tidak nyaman.


"Enak kok, Ke. Bagaimanapun kalo udah suka ya enak saja," jawabku sambil meletak sendiri cangkir yang tadi diulur oleh Keke.


Tangan cantik itu mengulur pada kotak tisu, lalu mencabutnya selembar. Aku tahu apa yang akan Keke lakukan di bibirku.


Dengan cepat kusambar tisu sendiri dan kuelap bibirku. Aku tidak ingin jika Keke akan keduluan melakukan hal receh ini di bibirku. Keke hanya meremas selembar tisu yang tadi diambil tanpa sempat digunakannya untuk mengemas apapun. Rush nampak semakin berkerut merut saat kulirikkan mataku ke wajah tampannya.


"Apa sebaiknya kita berangkat sekarang saja?" tanyaku penuh harap pada Rush. Tidak ingin Keke menunjukkan gelagat lain lagi padaku.


"Ayolah. Ke, kita berangkat sekarang?" tanya Rushqi terdengar lembut pada Keke.


"Iya, yuk," sahut Keke setelah menyambar tasnya dari atas sofa.


Kakiku melangkah cepat mendahului Rush dan Keke. Kutinggalkan calon pasutri itu dengan berjalan di depan. Selain tahu diri, tapi juga waswas jika Keke kembali memberi sikap manis padaku.


"Keke, bagaimana jika kamu duduk di depan denganku?!" tanya Rushqi berseru saat Keke bergelagat akan naik di kursi belakang bersamaku.


Kurasa sangatlah lega dada ini. Keke dengan patuh membalik tubuh dan mendekati pintu depan. Membukanya dan duduk menghenyak di kursi depan dengan Rushqi.


"Pasang sabuk pengaman kamu, Ke," ucap Rush terdengar di telingaku.


Kutunggu sesaat, Rush tidak juga menyuruhku. Hanya gadis cantik berdarah Aceh itulah yang diperhatikan oleh Rush.


Tak kupahami, desir kecewa jiwa tiba-iba datang kurasakan. Merasa diri diabaikan dan tidak lagi berarti bagi Rushqi. Rasanya tidak bersemangat lagi kutumpangi mobil ini. Ingin keluar saja dan sama sekali tidak jadi penengah bagi mereka. Rush, apa kamu mulai membalas perlahan penolakanku??


🕸🕸🕸

__ADS_1


__ADS_2