
Selesai makan malam, keluarga Keke berpamitan untuk pulang sebab malam telah larut. Bahkan rumah makan besar yang dikendalikan oleh kedua anak bu Yanti itu telah tutup belasan menit lalu sesuai jadwal operasional rumah makan.
"Ke, jangan ciumi aku lagi, nanti calon suami kamu ilfill," bisikku pada Keke saat kami sedang saling peluk perpisahan. Aku adalah orang terakhir yang didekati Keke untuk berpamitan.
"Nggak banyak," sahut Keke tak peduli. Lagi, dia menciumi pipiku beberapa kali dengan cepat dan kuat. Hidung mancungnya serasa menusuk di pipiku. Geli sekali rasanya.
Lega, kami sudah saling menjauh dan tidak lagi berangkulan. Sempat kulihat picingan tajam mata Rushqi, lelaki itu berdiri di belakang samping Keke. Sempat kurasa salah tingkah karena pandangannya.
"Sampai jumpa, Ling. Kita ketemuan di asrama saat ada audit. Entah kapan lagi auditnya. Gosip waktu itu ternyata hanya hoax. Takutnya mendadak dan kita lagi nggak standby di sana," ucap Keke sebelum menyusul orang tuanya menuju mobil yang diparkir.
"Nanti kucari juga informasinya, Ke..!" Aku berseru mengiringi kepergian Keke dariku.
Tiga orang keluarga yang sudah karam dalam mobil telah meluncur meninggalkan parkiran dan pagar. Hilang dalam belahan jalan raya saat malam. Menuju rumah destinasai sebagai tempat tujuan untuk pulang.
"Lingga," tegur suara wanita yang tak lain adalah bu haji.
"Iya, bu," sahutku sambil kugeser mendekati.
"Sudah malam, kamu menginaplah di sini. Besok saja pulang, ya. Anggaplah di sini juga sebagai rumah tempat kosmu. Sama saja kan, Ling?" tanya bu haji Fatimah menyarankan.
Reflek kupandang Rushqi, sebagai orang yang membawaku datang ke sini. Merasa lebih nyaman saja membicarakan hal ini padanya, meski dengan cara saling pandang dan diam.
Dia yang kupandang nampak bungkam sejenak, lalu menganggukkan kepala. Tanda jika Rush pun sependapat dengan ibunya. Tapi, aku tetap saja ingin kembali ke kamar sewaku di Muka Kuning.
"Kamu bisa milih tidur di mana saja yang kamu suka, Ling. Di rumah-rumah mungil itu, atau gabung di sini, di rumah ini?" tanya bu haji Fatimah memberiku pilihan. Aku memandangnya dengan bingung. Berfikir bagaimana jika pulang.
"Maaf, bu. Belum ada pukul sebelas, masih jauh lagi. Saya ingin kembali ke Muka Kuning. Taksi akan selalu ada meski malam," ujarju hati-hati, agar mereka memahami apa yang kuinginkan. Bu Fatimah nampak terkejut.
"Eee,,,, nggak boleh ya. Ini sudah malam. Rushqi saja anak lelaki selalu kularang kalau ingin pulang jam segini, Ling. Rawan, bahaya, ini Batam lho, Ling. Lagipula kamu kan belum mengatakan bagaimana pendapat kamu. Ngasih pendapat kamu soal Keke," bu haji berkata dengan sungguh-sungguh memandangku.
"Besok saja minta pandangan Lingga, ma. Sudah malam."
__ADS_1
Rushqi menegur sang mama untuk tidak mendesakku. Aku pun merasa malas andai dipaksa memberi pendapat pada bu haji tentang Keke. Apalagi untuk merekomendasikan kebaikan Keke demi Rushqi. Ah, bingung sekali rasanya.
"Baiklah, Ling. Pokoknya kamu nggak boleh kembali ke Muka Kuning ya. Menginap di sini malam ini. Ayo, mama antar ke rumahmu." Bu haji sambil mengulur tangan untuk memegang lenganku.
"Ma, masuk saja ke dalam rumahmu. Biar aku yang mengantar lingga ke rumahnya."
Rushqi melangkah mendekat padaku. Bu haji memasuki rumah kecilnya setelah mengucap salam pada kami.
"Ayo, Ling," ajak Rushqi dengan melangkah pergi.
Kuikuti pria gagah yang berjalan lambat membelah rumput hijau dengan santai. Kaki yang biasa panjang melangkah itu, mungkin dipendekkan jarak ayunnya.
"Mas, sebenarnya jam segini tuh dah biasa di Batam. Aku ingin kembali ke Muka Kuning," ucapku pada Rush di depanku.
"Sudahlah, Ling. Jangan bikin ibu kost kamu banyak pikiran. Pikiran orang seusia kamu dengan pikiran seusia ibuku itu jauh beda."
Nada yang tegas dan tidak ingin ada bantahan. Aku pun kembali diam. Mencoba berlapang dengan keinginan ibu kostku.
Meski kurang mengerti, kuturuti katanya. Kulewati Rush dan berjalan mendekati rumah sangat kecil di depanku. Rumah dari kayu berukir halus dengan tekstur mengkilap dan licin itu menggantung kunci di pintunya.
Rumah berukuran tiga kali empat meter ini ternyata sangat nyaman dimasuki. Terasa sejuk tapi hangat. Ada kamar mandi dan juga dapur mini. Almari es bahkan menyimpan bahan masak serta buah kelengkeng yang kusuka. Di kamar sewaku saja justru tidak ada dapur dan kulkas. Kurasa aku langsung berubah suka dengan ini.
Rushqi sedang menelepon dan diakhiri beberapa saat setelah melihatku keluar. Ponselnya dimasukkan ke dalam saku kemeja dan berjalan ke arahku di teras.
"Bagaimana? Kamu tidak keberatan menginap di sini?" tanya Rush mengamati wajahku.
"Sebenarnya masih ingin pulang saja. Tapi sebab kamu bilang aku akan membuat ibu kost resah hati, jadi kurasa lebih baik menginap." Kulihat bayang senyum ada di wajah Rushqi setelah kukatakan hal ini.
"Bagus, Ling. Jika kamu menginap, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat di Nagoya besok pagi. Sebelum kita kembali ke Muka Kuning sore hari," ujar Rush padaku.
"Apa, kita kembali sore hari?" tanyaku heran. "Kenapa tidak pagi-pagi?" sambung tanyaku.
__ADS_1
"Aku ingin bertemu darat dengan Keke besok. Tapi, best friend kamu itu meminta agar aku membawamu pergi bersama. Ikutlah,," ucap Rush tanpa beban. Seperti tidak keberatan sama sekali dengan permintaan Keke agar mengajakku.
"Kamu tidak keberatan? Aku tidak mengganggu kalian?" tanyaku dengan rasa dan nada segan. Rasanya berat hatiku menyanggupi. Tapi tidak ingin juga menolaknya. Ah, entah bagaimanalah aku ini..
"Kenapa mengganggu? Aku tidak membawa Keke ke hotel, Ling." Rushqi berkata dengan ekspresi mengejek tanyaku. Tidak kusangka, punya pikiran sableng juga lelaki lurus ini.
"Sebenarnya kalian akan ke mana?" tanyaku ingin tahu. Rushqi nampak tersenyum.
"Lihat saja besok," ujarnya dengan menengadah wajah ke angkasa.
Malam ini mungkin mendung yang membuat hamparan hitam di atas tanpa bintang satu pun. Angin semilir dingin menghembus kian sejuk menerpa tubuh kami.
Taman dengan rumput menghijau rapi ini sangat lapang tanpa banyak tanamannya. Membuat udara yang terus bergerak di taman kian dingin kurasakan.
"Masuklah, Ling," ucap Rushqi yang nampak bersiap dengan langkah perginya.
"Rumahmu di mana?" tanyaku tiba-tiba ingin tahu.
"Itu, Ling. Di pojok," tunjuk Rush pada bangunan kayu yang sama persis dengan yang akan kutempati, benar-benar berada di pojok taman.
Rumah atau juga kamar berfasilitas bagus yang menyebar di taman, semua sama bentuk dan dekorasinya. Hanya bangunan yang ditempati bu haji dan pak haji sajalah yang terlihat sebagai rumah, meski kecil dan simpel.
"Aku masuk," kataku sambil akan berputar badan melangkah
"Tidur nyenyak!"
Masih kudengar seruan Rush di belakangku. Tidak lagi kutoleh dan berusaha kuabaikan. Tidak kupahami apa sebenarnya yang sedang Rush inginkan dariku.
Sikapnya jauh berubah sejak melamarku subuh itu. Apa Rush sengaja membuat hatiku berubah rasa agar kusesali penolakanku. Apa sebenarnya Rush merasa tidak terima dan ingin menyakitiku dengan caranya? Tapi, tidak mungkin Rush akan setega itu padaku.
🕸🕸🕸
__ADS_1