
Ingin kubernyanyi sekerasnya pagi ini. Miss Yong belum juga datang kerja sebab masih tak berdaya dan sakit. Bayang dikuliti oleh mak lampir sebab kurangnya jumlah reminder packing buatanku serasa tumbang dan melayang. Indah sekali hari ini..
Namun, tidak perlu menyempatkan diri ikut bergosip pagi dalam ofice. Ingin lebih dini sampai di packing area dan melalukan segala hal yang berkaitan dengan kerjaku sebelum pukul tujuh.
Masih ada mbak Nuri lawan shift jaga malam yang belum pulang dan masih tahap siap-siap.
Kami berbincang sejenak saling menitip pesan dan amanat demi bergantian shift di antara kami. Mana kala ada tumpukan kerja yang perlu dilimpahkan dan diteruskan oleh QC jaga selanjutnya. Yaitu diriku. Tapi bersyukur sekali, mbak Nuri tidak meninggalkan beban apapun untukku.
Belum pukul tujuh, telah kumulai inspection di mesin line dan kuisikan di segala record data. Untuk inspection pagi yang pertama ini ingin kulakukan sangat cepat, setidaknya kelar setengah saja sudah aman.
Tidak ingin tertangkap basah oleh Rush jika kulakukan manipulasi banyak data. Meski kurasa Rush tidak sepenuhnya paham dengan apa saja yang kulakukan. Istilahnya sedia payung sebelum hujan.
Tapi, jika suatu saat Rush mengerti betapa palsunya sebagian data record yang kuisikan di setiap mesin line, aku tidak gentar. Kurasa saat itu Rush sudah paham dengan kurangnya waktu dan kurangnya tenaga masing-masing.
Atau jika tidak kupalsukan dan kutulis benar-benar real sesuai prodak yang jalan di lapangan, Rush akan kerepotan sendiri dengan kondisi nyata di production jagaannya.
Dan aku juga yakin jika Rush masih jauh lebih takut dengan ancaman dan wewenang QC daripada mengungkit beberapa kepalsuan record data yang tertulis olehku.
Jarum jam menunjuk di pukul tujuh lebih tiga puluh menit. Telah kusiapkan tiga lembar defect pemula di atas mejaku. Reminder pagi-pagi untuk menyambut kedatangan Rush sebentar lagi di production.
🕸
Sedang kudatangi Rush di ruang kerja supervisor. Dia sudah datang dua puluh menit yang lalu dan belum juga keluar dari sana. Entah apa saja yang dilakukan dengan duduk di dalam sedang kak Amina pun tidak ada di area. Supervisor wanita senior itu belum lagi datang kerja.
"Ada apa?" sambut Rush dengan kaku saat kubuka pintu ruangan.
__ADS_1
Rush hanya menolehku sebentar saat kuketuk pintunya. Lelaki itu benar-benat telah berubah sangat dingin padaku. Kini sah sudah jika tawaran persahabatannya waktu itu hanyalah isapan jempol belaka.
"Warning di line A. Defect double soup, found dua paket dalam satu bundle diisi dua bumbu di dalamnya masing-masing," ucapku sambil menyodor lembar warning di mejanya.
"Kenapa kamu resah sekali. Bukankah ini menyenangkan bagi customer? Bukankah ini tidak merugikan buyer?" tanya Rushqi dengan tidak menyentuh lembar warningku sedikit pun. Supervisor baru itu benar-benar tidak menghargai high lightku sama sekali. Selip sakit hati dan kecewa kembali meracuni hati ini.
"Kenapa kamu hanya memikirkan buyer, kenapa tidak memikirkan tempatmu mengais rupiah sedikit pun?" tanyaku tajam pada Rush.
"Maksudmu??" tanya Rush nampak terkejut dengan sinisku.
"Ada dua bungkus defect dalam satu bundle. Satu bundle ada lima bungkus di dalamnya. Bayangkan berapa persentase double bumbu ini. Jika jumlah order prodak dari planner belum terpenuhi sedang jatah bumbu sudah habis sebab operatormu begitu royal membagi sachet bumbu gratis. Kamu akan mencari kekurangan bumbu di mana? Mengemis pada soup room? Menuduh mereka salah menghitung?!"
Jelasku dengan jelas dan tegas. Sangat mudah membuat Rush menekuk kepalanya padaku. Rush telah berdiri dengan cepat dan menyambar beberapa lembar warningku di meja. Melewatiku dan keluar dari ruangan dengan wajah yang runsing. Kutertawakan kepanikan Rush itu dalam hati. Rasanya puas sekali jiwa ini.
🕸
Aku merasa ini sangat menyenangkan dan sama sekali tidak lelah. Rasanya sangat bersemangat memberikan lembar warning pada Rushqi.
Kesenangan bagiku saat mendapati wajah Rushqi yang nampak lelah dan pasrah. Tapi harga dirinya begitu tinggi dan tidak pernah mengeluh lagi sekali pun. Hanya kemudian berdiri tanpa banyak bicara untuk mendatangi posisi di mana defect itu kudapati. Ah, rasanya puas sekali hatiku ini, Rushqi!!!
🕸
Ada kabar sangat menggembirakan mendadak bagiku. Bang Nurlahi mengabarkan jika back end akan stop line dan berhenti produksi pukul lima petang ini. Ada pembersihan serentak semua fryer sekaligus penggantian minyak di seluruh mesin fryer back end.
Aku dan mbak Ita bersepakat untuk pulang juga pukul lima. Kami bergegas memberesi semua tanggungan kerja secepatnya. Menarik semua record data dari seluruh area line mesin yang kami jaga.
__ADS_1
Semua hasil kerja sudah kususun rapi dan berurut. Hanya satu yang belum kudapat dan kini sedang kudatangi untuk mengambil nya. Akan segera kubawa ke QC office untuk kutinggal pulang dengan rasa senang tanpa beban.
"Permisi, ingin mengambil seluruh lembar reminder," sapaku dengan seyum yang manis. Bukan senyum untuk pemilik ruangan ini. Tapi untuk pimpinan PPIC yang sedang terdampar di dalam.
"Hei, Ling.. Lama tidak melihatmu. Pulang pukul berapa?" sapa Denis hangat padaku.
"Hai, mas Denis. Mau pulang juga, pulang di pukul lima,," sahutku lembut dengan wajah ceria yang kusengaja. Menduga jika Rush tidak suka dengan obrolan gembira di ruangannya.
"Benar kamu pulang di pukul lima, Ling,,?!" seru Denis bertanya serius padaku. Tanyanya membuatku menahan tawa.
"Enggak, mas. Enggak... Nggak ada yang memukulku lima kali saat aku pulang,,," sahutku tersenyum.
Dan disambut tawa terbahak oleh Denis. Dia sangat tanggap dengan umpan candaku. Aku dan Denis saling melempar tawa tanpa segan canggung pada Rushqi sedikit pun.
"Jika tidak ada, pulang kerja nanti kupukul satu kali dengan tiket bioskop di dua satu, kamu mau nggak Ling?" tanya Denis penuh harap padaku. Otakku bekerja cepat mengiyakan.
"Iya, mas. Aku mau.. Tapi jangan sakit yaa,," jawabku begitu saja dengan antusias dan cepat. Hanya ingin percakapanku dengan Denis di ruangan ini terus saja berlanjut. Percakapan pribadi dan di luar spesifikasi yang bisa jadi membuat Rush merasa jengah dan risih.
"Oke, Ling. Kujemput sehabis kamu shalat maghrib ya," ucap Denis dengan jelasnya di balik masker biru yang menutup mulut dan hidung.
"Ini,,,! Bawalah semua reminder ini keluar denganmu,,!" seru Rush tiba -tiba sambil menyodor kasar setumpuk lembar reminder ke arahku. Mulutku bahkan tidak sempat menyahuti ajakan Denis barusan padaku.
"Kamu juga, Den. Bising sekali di ruangan orang. Nggak ada akhlak kamu ini, keluar jugalah! Aku akan siap-siap revisi cepat dan berkemas untuk pulang!" Rush berdiri. Bersikap seolah menungguku dan Denis untuk segera keluar dan pergi dari hadapannya.
Rasanya kian senang melihat sikap Rushqi yang nampak jengah dan tidak suka kepadaku. Wajah tampannya kian keras dan tegas melirik sangat sinis ke arahku.
__ADS_1