Noodle In Love

Noodle In Love
48. Putra..


__ADS_3

Kubenarkan dudukku sedikit menyerong pada Putra. Lelaki itu nampak suka dengan gaya dudukku yang dekat ke arahnya. Wajahnya sedang tersenyum dengan cerah. Sebetulnya hanya kuingin agar Putra semakin kecewa setelah kubicarakan yang sesungguhnya.


"Kamu minta maaf padaku?" tanyaku pada Putra. Lelaki itu cepat mengangguk.


"Tentu saja, Lingga. Bukankah kamu sudah memaafkan?" sahut Putra dengan tersenyum cerahnya. Kubalas tanya itu dengan senyumku yang sinis.


"Iya, sudah kumaafkan. Jadi, tolong jangan meminta maaf lagi padaku. Jangan pernah datang lagi. Jangan pernah muncul di depan mataku lagi. Kuanggap kamu sudah tidak ada di dunia ini. Kuharap kamu mengerti apa yang paling kuinginkan," terangku dengan ketus.


Wajah yang tadinya nampak gembira dan cerah, kini mendung berkabut sangat tebal. Sekaligus nampak terkejut dengan ucapanku yang ternyata justru sebaliknya. Ah, senang sekali melihat ekspresi Putra seperti itu.


"Lingga,,, apa kamu tidak salah? Kamu sengaja mempermainkanku?" tanya Putra dengan wajah sangat kecewa.


"Tidak. Aku tidak salah berbicara. Maaf jika mas Putra merasa sengaja kupermainkan. Padahal aku tidak sengaja mempermainkan," ujarku dengan tanpa merasa bersalah.


Putra tidak lagi bisa tersenyum. Lelaki itu menjauhiku dengan menyandar punggung di kursi dan nampak sekali tidak nyaman. Wajah itu juga terlihat menahan malu pada dua orang yang duduk di depannya. Memang kasihan juga, tapi hatiku sudah membatu untuknya.


"Kurasa kamu terlalu buru-buru mengambil keputusan. Bagaimana jika kamu pikirkan dulu, Lingga? Aku yakin jika orang tua kamu pasti akan kecewa andai kita benar-benar berpisah. Mereka sangat senang jika kita tetap bersama," ucap Putra lembut kembali membujuk.

__ADS_1


"Benarkah seperti itu? Kurasa orang tuaku sangat tidak terima jika tahu kelakuanmu padaku waktu itu. Bersyukurlah, aku bukan anak gadis yang suka mengadu pada keluarga. Jadi masih ada nama baikmu di mata mereka. Tapi, jangan lagi kamu mendekati aku," tegasku dengan rasa sangat kesal pada Putra.


"Jangan seperti itu, Lingga. Tolong kamu pikirkan dulu keputusanmu. Masih banyak waktu. Kapan pun, hatiku masih seluruhnya untuk kamu, Lingga. Tidak akan ada pihak ke tiga di antara kita," ucap Putra kembali membujuk dengan lembut.


"Sudah. Jangan bicara apa apa lagi denganku. Lebih baik kamu pergi saja. Atau terserah jika kamu masih ingin di sini."


Rasanya cukup membuatku senam jantung. Hanya berbicara meski tanpa bersuara keras, telah membuatku terengah dengan dada yang berdetak sangat kencang. Rasanya tidak bisa lagi terus duduk di sini.


"Ke, aku masuk dulu." Telah kuseret kursiku mundur ke belakang. Keke mengangguk dengan tatapan yang tertegun.


"Pak Rush,,," sapaku pada lelaki yang entah apa isi dalam kepalanya saat ini, setelah tahu jika aku dan Putra bukan lagi spesial seperti yang dia paham selama ini. Yang jelas, Rushqi terus ikut menyimak terang-terangan tanpa bermain ponsel sama sekali.


"Lepaskan, kenapa kamu berani menyentuhku?!" hardikku meski tahu jika Putra tidak akan melepas cekalannya.


"Aku ingin nomor ponselmu, Ling," ucap Putra dengan terus kuat memegang lenganku. Jika dulu kusuka sebab rasa yang nyaman. Kini justru sesak jiwa raga yang kurasakan.


"Bukankah kamu juga sudah membuang sendiri nomor hapeku?!" sahutku dengan keras. Tanganku gagal mengibas dari pegangannya.

__ADS_1


"Hanya sebentar kublokir nomormu, Ling. Tapi setelah itu, kamu sudah tukar nomor dengan cepat," keluh Putra sambil sedikit melonggarkan cekalannya. Tapi tetap dengan cara yang sama, kuat.


"Sudah, lepaskan. Tidak perlu mengungkit waktu itu. Yang jelas kamu sudah sukses dengan apa yang kamu mau."


Kembali kutarik tanganku dari pegangan Putra. Tapi kuat sekali tenaga Putra meski pegangannya sudah melonggar.


"Maaf, mas Putra. Sepertinya Lingga kesakitan dengan cengkeraman tanganmu. Tolong dilepaskan saja," ucap Rushqi yang menegur tiba-tiba. Meski dengan duduk di kursi, tapi suaranya keras dan tegas.


Putra memandang Rushqi sekilas, kemudian menatap dalam padaku. Mata itu menyiratkan rasa sesal, kesal dan bingung yang sangat.


"Maafkan aku, Lingga. Seharusnya aku menjagamu. Aku telah menyia-nyiakan kamu. Biarkan kucoba menebusnya, Ling. Kumohon padamu."


Putra berbicara dengan suara dalam dan kecil. Tanganku perlahan dia lepaskan, rasanya sangat lega dan lapang.


Kupandang Rushqi yang masih duduk menyandar santai namun dengan tatap tajam matanya padaku. Kuakui jika sebenarnya manager kekanakan itu selalu peduli padaku.


"Baiklah, Lingga. Aku pamit dulu. Akan terus kutunggu sambutanmu padaku. Pikirkanlah dengan kepala jernihmu. Sekarang kamu sedang emosi. Pikirkan dengan sungguh-sungguh," ucap Putra sambil melangkah mundur dariku.

__ADS_1


Sempat memandang Rushqi dan Keke sekilas sebelum berbalik pergi dan meninggalkan teras asrama. Punggung Putra yang dulu sangat tegap dan nyaman kulihat, kini hanya bayang sedih dan sakitku di sana.


🕸🕸🕸


__ADS_2