
Dua lelaki yang masih sejalan dan duduk di depanku itu sedang berlomba paling banyak menghabiskan pizza dengan irisan sama lebarnya. Tak bisa kutahan tawa bagaimana bentuk wajah mereka saat berjuang untuk mengunyah dan menelan cepat-cepat agar menjadi pemenang.
"Ha,,,ha,,ha,, aku menang!" Rushqi tertawa berseru setelah baru saja menelan kunyahan terakhirnya.
"Ha,,,ha...!!" Aku pun tertawa seperti Rush.
Ini sungguh di luar ekspektasi. Denis yang kukira akan lebih cepat menghabiskan irisan pizza daripada Rush, ternyata tidak sanggup lagi dan berhenti untuk minum.
"Ha,,ha...! Bang Denis, perutmu sudah penuh dengan anggur dan jeruk!"
"Haah.. Iya, Ling. Perutku memang terlalu rata dan six pack, tak muat makan banyak. Beda sama Rushqi, perutnya menggelambir!" Denis menimpaliku dan mengabaikan reaksi Rush yang menjeling tajam menolehnya.
"Kamu berani menantang lagi?" tanya Rush nampak keki pada Denis.
"Lomba six pack perut, berani?! Ling juri kami,," tantang Denis pada lelaki di sampingnya. Denis memandangku penuh maksud. Rush terdiam, mata pekatnya melirik sebentar padaku.
Kuambil lagi seiris pizza dan segelas air putih. Merasa kikuk jika mereka benar-benar adu tanding perut rata. Siapa juga yang rela jadi juri... Aku tidak sudi.. Mengada-ngada si Denis..
"Sudah, tak usah tanding lagi. Anggap saja perutku besar dan perutmu pun buncit," ucap Rush tersenyum berseloroh.
Rupanya lelaki itu sedang lapar. Tangannya kembali menjepit irisan pizza dari kotak dan memakannya langsung dengan cepat. Seperti meledek Denis yang sudah tidak sanggup lagi dengan sisa irisan pizza yang sudah diletaknya.
"Jadi kamu tetap memanggilku bang, ya Ling?" tanya Denis dengan raut kecewa. Denis ingin kupanggil mas seperti Rush jika dia menang makan pizza.
"Ya, iyalah. Kau kan kalah, Den..!" Rush bicara sengit pada Denis.
"Ya kadang-kadang kalo lupa, juga kupanggil mas,, kayak tadi-tadi,," jawabku menengahi. Sadar sering lupa menyebut Denis dengan mas.
"Tapi kamu kalah ya kalah saja, Den. Jangan lupa, antar jemput aku tiap hari selama seminggu," celutuk Rush pada Denis yang sedang mencibirnya.
Rush yang nampak terus lapar itu mengambil makanan serius di piring. Dengan menu yang sudah disiapkan oleh bu Yanti dzuhur tadi.
Denis benar-benar menolak untuk mengambil makanan berat di meja makan seperti Rush. Namun, mulutnya terus saja menyisil kelengkeng yang dari teras dibawanya ke sini. Denis benar-benar semut buah.
__ADS_1
🕸
Kegembiraan yang hakiki, tapi mungkin kami jahat sekali. Tidak ada QC satu pun yang bibirnya tidak tersenyum pagi ini. Kabar bahwa miss Yong tidak masuk sebab sakit, adalah penyemangat kerja kami hari ini.
Terlebih buat QC yang stay dalam ofice lab. Mereka yang ibarat dipenjara tiap harinya, serasa bebas sejenak dari belenggu yang merantai. Tempat kerja yang ibarat dalam aquarium, sejenak berubah jadi tanah lapangan pagi ini. Suasana yang biasa sunyi lengang, berubah menjadi pasar raya kali ini.
Sebab,,, tak ada kamera pengintai di dalam sini..
"Dah,,dah,,dah,,, pestanya bubar dulu. Nanti kerja kita tak siap tepat waktu. Nyesel kita setengah mati," tegur kak Anita pada kami dan juga dirinya sendiri.
"Ya,,ya,, kita eksen dulu. Ghibah di sambung nanti," sambut mbak Ita memandangku.
Seperti biasa, aku dan mbak Ita adalah QC lapangan. Pekerja keras yang juga dituntut tegas, bahkan harus tanpa hati jika terpaksa di suatu saat yang diharuskan.
Aku dan mbak Ita telah keluar dari ofice lab dengan arah jalan berlainan. Mbak Ita melangkah ke kiri menuju back end, sedang kakiku ke kanan menuju packing area. Kami siap berperang menciptakan warning letter.
Eh, maksud yang baik, menjaga kualitas prodak dengan menyelipkan beberapa lembar warning letter. Meski hari ini miss Yong tidak datang, setidaknya masih berprosedur kerja seperti yang selalu diinginkannya.
Pantauan utama di Senin pagi adalah memeriksa kebersihan area dan mengisikan di record data clean room area.
Pengisian data clean room area di tiap mesin packing baru saja selesai saat mie instant mulai bermunculan dari conveyor back end di tiap mesin dan line.
Tujuh mesin back end yang bercabang menjadi empat belas mesin packing, hanya seorang QC saja yang berjaga. Yaitu diriku satu orang.
Kubiarkan seperti air mengalir den berusaha tenang tidak was-was. Dari line satu ke line berikutnya yang memakan waktu cukup lama.
Jika ada kesalahan apapun yang di luar spesifikasi dan QC menghendaki, tinggal membuat high light beserta warning letter kepada line leader sekaligus supervisor.
Jika defect luar biasa dan tak mungkin ditutupi, QC akan menerbitkan lagi surat on hold. Contohnya seperti kasus salah bumbu supervisor Andrew malam itu. Yang berujung dengan pengunduran dirinya.
Dan on hold inilah momok dari QC yang sangat tidak disukai para supervisor di packing. Meski on hold sangat jarang terjadi, tapi ini adalah ancaman yang merongrong kenyamanan kerja para supervisor di production.
Bukan salahku yang lambat menginspection ataupun rilis prodak. Tapi tentu saja tanggung jawab bersama. Antara supervisor, leader, seluruh operator dan juga diriku. Tugas utama QC adalah memastikan. Konfirmasi kepastian segalanya.
__ADS_1
Hanya satu saja kesalahan di QC, kekurangan tim personil di lapangan.
"Masuk pagi??" suara lelaki yang tiba-tiba sangat mengejutkanku.
Kuluruskan punggung dari sedikit membungkuk. Aku tengah menulis hasil inspection prodak saat lelaki itu menegurku. Yang ternyata adalah Rush, lebih tepatnya supervisor Errushqi. Seperti yang tertulis di tag name yang dipasangnya di dada.
"Iya," jawabku singkat dan lirih.
Rush pun tidak lagi memandang, lelaki itu pergi menjauh dari mejaku. Aku begitu paham, tidak boleh ada percakapan tak berguna di area production. Kamera pengintai di packing area selalu on penuh siaga.
Berbeda dengan di back end yang tidak ada cctv. Namun kedua supervisor di back end sangat garang tak tertanding. Sedang di packing, hampir tidak pernah ada adegan mengumpat dan memaki. Supervisor di area ini cukup bersikap mengayomi. Dan siap back up jika ada kesalahan atau pun masalah pada operator dan productnya.
"Indriiii,,,!!!" teriakku melengking pada leader line yang berjaga di mesin packing yang sedang kusidak. Dia lebih tua dariku, tapi kupanggil nama saja.
"Kenapa??!" tanyanya berseru tidak suka. Operator dan leader line di packing memang angkuh, merasa diback up sang atasan.
"Apa sealer bundlemu tidak panas?! Kamu tidak cek??!! Lihatlah! Tidak layak!!" seruku keras pada gadis Indramayu itu.
Sebab Indri tidak terlalu merespon dan juga tidak mendekat, kuaba ayun sebentar kemudian kulempar bundle mie ke arah mukanya dengan cepat. Dan Indri pun menangkapnya dengan sigap.
"Sudah hampir satu pallet, kamu tidurkah?! Jalan sana jalan sini, mesin problem pun tak tahu!! On Hold,,,?!!" tanyaku berseru pada Indri yang kini nampak pucat wajahnya. Meski mengenakan masker, tapi kuhapal ekspresi wajah Indri.
"Oooii,,!!! Stop mesin..!!!" seru Indri membahana pada operator mesin yang berjaga.
Mesin packing yang menyatu dengan sealer bundle pun berhenti dan mati total seketika. Noodle cake alias mie telanjang yang keluar langsung dari back end, terpaksa di tampung dalam tong-tong sementara. Indri telah melesat ke back end untuk berkabar cepat pada bang Farug, leader back end.
Yang otomatis mesin pencetak mie akan dimatikan olehnya. Hanya steamer mie dan fryer mie saja yang terus berjalan untuk menghabiskan product mi yang terlanjur dibuat.
"Mesin ini tidak rusak.. Tapi belum panas kalian sudah mengoperasikannya. Bagian mesin harusnya datang sangat pagi,,!!" umpat seorang teknisi yang diundang kak Aminah, supervisor senior, untuk memperbaiki mesin yang dianggap bermasalah.
Tentu saja aku tidak peduli dengan ini. Kembali kulanjut memantau hal-hal lain yang belum kulihat dan kupastikan di mesin.
Hanya satu yang pasti, telah kuambil satu kardus mi di atas palet sebagai bukti defect dan high lightku pagi ini. Tapi tak ada niatku untuk menahan palet dengan banyak kardus yang berisi bundle mie yang tidak terlalu lekat dan sangat rentan terbuka.
__ADS_1
Kurang lebih satu palet dengan defect yang kumaafkan ini kulepaskan. Namun dengan catatan, kuterbitkan high light bersama warning letter yang kubuat untuk defect ini tanpa kusertakan surat on hold.
Sedang penanganan defect yang sudah banyak dalam kardus di pallet, supervisor akan mengajakku berbincang untuk tindakan preventif yang aman, tepat dan terbaik untuk diterapkan.