Noodle In Love

Noodle In Love
34. Bergincu


__ADS_3

Kami tiba di rumah Muka Kuning kembali tepat menjelang waktu ashar. Rushqi masuk ke dalam rumah dengan tidak lagi menoleh atau juga memandangku. Segera kubawa diri menuju kamar sewa tercinta yang serasa sangat lama tak kujamah.


Raga panasku segera kuluncurkan menuju kamar mandi di bath up. Berendam air dingin sepuasnya dengan busa melimpah dan wangi. Segar sekali rasanya. Kuberencana akan istirahat tidur setelah habis mandi. Jika begini, adalah nikmat dunia yang tak mungkin lagi kudustakan!


Tok..! Tok..!


Bu Yanti mencariku di kamar saat sore menjelang maghrib. Risau dengan kamarku yang masih gelap padahal sore sudah hampir berlalu. Merasa lega sebab ternyata aku sedang tidur dan belum terbangun saat hampir waktu maghrib.


"Ya, sudah kalo gitu, Ling. Nanti habis maghrib cepat ke meja makan. Sudah kubuatin makanan kesukaan kamu dan mas Rush," ujar bu Yanti sambil memberi senyum kepadaku.


"Wah, apa, bu?" tanyaku sambil tersenyum. Ingin menyenangkan hatinya.


"Soto ayam kampung tanpa santan," ucap bu Yanti kian lebar tersenyum.


"Wah, nggak sabar nunggu maghrib. Apa ada bihun dan keripik kentangnya, bu?" tanyaku ingin tahu. Bu Yanti pun mengangguk.


"Sambal?" tanyaku lagi.


"Ada,, sambal kecap. Juga ada taoge sama bawang goreng. Sudah sana, nyalain lampu. Sebentar lagi maghrib." Bu Yanti berlalu setelah selesai berbicara dan mendorong tubuhku ke dalam.


Ah, tak sabar menunggu waktu makan. Mengingat soto bening ayam kampung buatan bu Yanti sangat lezat tak terbantah. Hampir sama nikmat dengan yang dibuat ibuku di Jawa. Lumayan, buatan bu Yanti bisa mengobati rasa rindu pada ibuku. Meski rasanya justru kian rindu yang menggebu.


πŸ•Έ


Perasaan yang selalu aman dan biasa selama ini, kini terasa debar degubnya. Mengingat akan bersua dengan lelaki lurus di meja makan sebentar lagi membuat hati ini merasa resah dan gelisah. Belakangan ini, nama Errushqi seringkali mengganjal di benakku.

__ADS_1


Perasaan ini jauh beda saat kumulai menjalin hubungan dengan Putra. Dulu kupilih Putra sebab kurasa dialah yang terbaik. Hingga kian lama terbiasa dengannya, bahkan dunia serasa hampa saat Putra meninggalkanku untuk pergi bertugas ke Batam.


Putra terus menyemangatiku untuk datang menyusulnya ke Batam. Lelaki itu juga yang mencarikanku informasi adanya berbagai lowongan kerja di Batam.


Perasaan ini kembali baik-baik saja setelah akhirnya sukses kususul Putra datang ke Batam. Kami merasa jika dunia sangatlah indah saat kami berdua berdekatan kembali di sini.


Dunia begitu berguncang dan terbalik lagi kurasakan, saat Putra memutusku dan kembali meninggalkanku memenuhi panggilan tugasnya ke Canberra di Australia.


Saat itu Putra memutusku sebab sangat kecewa dan sangat marah padaku. Meski ingin, meski berat, telah kutolak tegas permintaannya yang kesekian kali untuk membawaku bermalam di rumah tugasnya. Putra ingin bersamaku semalaman sebelum pergi meninggalkanku esok hari ke Canberra.


Meski bersumpah janji tidak akan terjadi hal yang melanggar, kurasa tetap saja tak percaya. Apalagi kami hanyalah insan biasa yang mudah dibujuk rayu oleh pihak ketiga saat muncul kesempatan dan peluang. Yang hasilnya, Putra kecewa besar sebab merasa bahwa aku tak bisa percaya padanya. Itulah alasan Putra memutusku kala itu.


Kini, Errushqi, lelaki yang bukan apa-apaku, lelaki yang tidak punya masalah denganku, telah membuat dadaku berdebar gundah tak menentu. Ah, kurasa menyedihkan sekali diriku..


"Hee, Liing, muncul juga kamu. Lama sekali sholat maghribnya. Kamu pakai gincu? Manis sekali bibirmu, Ling.." Duh, sambutan bu Yanti saat kudatang ke dapur, membuat serasa disobek saja kulit wajahku.


Rush bahkan ikut memandang bibirku saat kududuk melayang di depannya. Komentar bu Yanti dan pandangan Errushqi, membuatku serasa salah tingkah mati gaya. Seperti tak sedang berpijak di bumi, rasanya malu sekali setengah mati.


"Mana soto bening untukku, bu? Apa sudah diracik?" tanyaku buru-buru. Tidak ingin jika bu Yanti kembali meluncurkan busur panah padaku.


"Sudah, Liing. Makanya kutunggu-tunggu, kamu ini lama sekali. Itu ditutup tudung kecil di depanmu," sahut bu Yanti menunjuk meja di depanku.


"Enak nggak, Ling? Mas Rush, bilangnya enak sekali. Seger," bu Yanti bertanya saat soto itu sudah kusendok dengan nasi dan kusodor ke mulutku. Emmmh, memang enak sekali.


"Enak, enak banget, bu. Iya, seger, pengen makan terus," komentarku cepat di sela nikmat makanku. Demi menghempas penasaran bu Yanti yang tengah menunggu penilaian dari lidah di mulutku. Tapi rasa soto buatannya, kali ini memang sedap luar biasa.

__ADS_1


"Yo wes, makan yang kenyang. Nanti kalo mau nambah, pengen diracikin lagi, bilango. Aku mau nyuci panci besar itu di belakang," ujar bu Yanti sambil berbalik dan berlalu. Menyambar beberapa panci kotor dan dibawanya serta ke belakang.


"Apa Putra akan mendatangimu?" tanya Rushqi tiba-tiba dengan mamandangku.


"Tidak," jawabku menggeleng.


Rushqi diam dan tidak lagi menanyaiku. Dia telah selesai makan dan sedang meneguk air putih dari gelas kaca yang disiapkan bu Yanti.


Aku tahu kenapa dia menanyaiku begitu. Tentu saja sama hal dengan yang dipikir bu Yanti tentangku.


Salahkah aku bila mengoleskan lipstik samar saja di bibirku? Ah, sesuatu yang biasa jika tidak pernah dilakukan, akan menjadi luar biasa saat mencoba diterapkan. Ya, aku ingin nampak lebih cantik dan cerah dari hari-hari sebelumnya. Meski hanya untuk duduk di meja makan sekalipun.


"Berapa nomor telepon kamu, Ling?" tanya Rush sambil memegang ponsel, bersiap menuliskan.


Aku mengerti betapa harusnya untuk saling menyimpan nomor telepon milik orang seatap dalam rumah. Maka, kusebutlah nomor ponselku dengan lancar sebab telah kuhapal nomor kartu cantikku yang baru kutukar semenjak move on dari Putra. Yang Putra belum mendapatkan bocoran nomor cantikku dari siapa pun hingga detik ini.


"Ling, aku akan keluar dan menemui Denis dulu di Panbill. Kamu ikut?" tanya Rushqi dengan ramah padaku.


"Tidak ikut. Aku ingin santai saja di rumah " jawabku sambil mendongak pada Rush. Lelaki gagah itu telah berdiri menjulang di depanku.


"Oke, kamu istirahatlah. Jika aku sudah pulang, nanti kuhubungi di ponselmu," ucap Rushqi sambil mundur ke belakang meninggalkan kursinya. Aku terdiam, mengingat janji kami untuk saling bertemu malam ini di loteng.


"Jangan lupa, Ling. Segera bangun dan naiklah ke loteng saat kuhubungi ponselmu," ucap Rush mengulangi pesannya padaku.


Aku hanya mengangguk mendongaknya. Rushqi pun berlalu meninggalkan hembus wangi segar tubuhnya di area meja makan. Dengan kupandangi punggung tegapnya yang menghilang di pintu induk meninggalkan bayang tubuhnya sedikit buatku.

__ADS_1


Entah, sepenting apa perkara yang Rush ingin bincang bersama di loteng kamarku malam nanti. Coba berpasrah dan berbaik sangka sajalah dengan anak lelaki induk kost yang kupikir lambat laun akan menjadi bapak kostku. Sebab, kedua induk kostku akan jarang pulang ke Muka Kuning jika telah ada Rush yang mendiami rumah ini.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ•Έ Vote, please...πŸ˜˜πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ•Έ


__ADS_2