Noodle In Love

Noodle In Love
25. Kunikahi


__ADS_3

Meski rasanya segan dan mungkin dianggap tidak sopan. Kuberanikan untuk undur diri dahulu pada induk kos dengan tamunya yang masih utuh belum pulang. Mereka sedang larut dalam ceramah dan tausiah dari bapak kyai yang sangat lihai bertutur kata.


Induk kos cukup mengerti dan paham jika saja aku sedang lelah dan ingin istirahat. Makhlum, kerjaku dua belas jam juga hari ini. Sama lama dengan Rushqi.


Tapi, untuk penghitungan kerja aku tidak paham. Apa Rushqi juga menerima overtime atau sekadar bertugas sebagai seorang atasan. Yang biasanya memang tidak mendapat penghitungan sebagai pegawai kerja lembur. Sebab, gaji yang Rushqi terima sudah cukup tinggi dibanding QC lapangan sepertiku.


🕸


Kubawa menaiki loteng baju yang habis kucuci subuh tadi. Termasuk baju batik baru yang semalam bekas kupakai. Aku sedang rajin kali ini. Tidak memanggil jasa laundry untuk membawa baju kotorku seperti hari-hari biasanya. Meski kadang bu Yanti menawari mencucikan, tapi kutolak sebab tidak tega dan segan.


Pagi masih remang, belum ada tanda terbitnya surya di ufuk timur raya. Namun, nampak jelas dari tempatku berdiri jika halaman yang semalam ramai dan gempita, kini lengang dan kembali sangat bersih. Tak ada tanda sedikit pun bekas keramaian di sana malam tadi.


Sama hal dengan persiapan acara. Tak tahu bagaimana gentingnya persiapan, tahu-tahu acara sukses terselenggara di hari H. Bahkan bu Yanti pun tidak dilibatkan sedikit pun. Semua diurus oleh bu haji dan pak haji dengan rapi dan cepat. Asal ada uang, koneksi dan pengalaman, apapun bisa terlaksana dalam sekelip mata memandang.


"Ehem!!"


Tidak terkejut dan tidak kutolehkan kepala lagi. Sepertinya deheman Rushqi sudah sangat familiar di benakku. Sehingga otak ini tidak perlu merespon keras hingga terkejut. Tapi sudah menghafal dengan model dan sifat dehem Rushqi yang empuk itu kapan saja.


"Kenapa tidak di laundry?!"


Rushqi berseru dari samping. Kurasa kamar Rushqi tepat berada di sebelah loteng kamarku. Dia memang beberapakali sempat melihat orang laundry datang mengambil dan mengantar bajuku. Mungkin bagi Rushqi aku adalah gadis yang malas.


"Sedang rajin!" sahutku berseru tanpa menolehnya.


"Apa kamu suka dengan baju yang kupilihkan?! Jadi kamu semangat mencuci sendiri?!" tanya Rushqi kembali berseru. Sedang kubentang baju batikku semalam di gantungan. Ah, dia kekanakan sekali kurasa. Pantas juga, dia memang tidak pernah memelihara wanita.


Kuabaikan tanya konyolnya. Ini pagi-pagi, tidak bagus merusak moodku sendiri hanya sebab tidak mampu bersabar. Lagipula memang seperti itu sikap Rushqi padaku. Jika dipikir-pikir, dia tidak pernah melakukan hal jahat padaku. Hanya mulutnya saja yang tidak tahan mengusili hatiku.


"Hari ini, berapa reminder yang akan kamu buat untukku, Ling?!" serunya lagi. Aku sangat ingin tertawa karenanya.


"Apa hidupmu benar-benar terganggu oleh reminder?! Sampai sesubuh ini pun kamu membahasnya?! Masalah kerja tidak usah di bahas di rumah!" seruku dengan rasa sedikit kesal. Kuhirup nafasku dalam-dalam, tak ingin terpancing oleh ucapannya.

__ADS_1


"Lagipula jangan Salah sangka. Bukan kamu yang kuberi reminder, tapi line yang kamu jaga! Pintar-pintar kamu saja menjaganya!" seruku pada Rushqi.


"Berkilah, itu sama saja!"


Ya Tuhan! Kali ini aku terkejut, suaranya dekat sekali di belakangku. Rushqi memang telah di belakangku. Menyeberang ke teras di lotengku, seperti yang pernah dilakukannya saat dulu.


"Kenapa kamu di sini, nggak sopan! Ini kan area cewek!!" seruku merasa tidak terima. Rushqi telah mengganggu privacyku kembali.


"Kamu melanggar privacyku. Bukan kali ini saja. Tapi malam itu kamu sudah melakukan kesalahan. Kenapa kali ini kamu mengulanginya lagi?!" sengitku pada Rushqi setengah menjerit.


"Velingga, kenapa kamu takut sekali?! Aku hanya di teras lotengmu. Tidak berniat jahat denganmu!" Rushqi nampak kalut dan bingung. Aku pun sadar jika reaksiku mungkin berlebihan.


"Lain kali jangan mengejutkanku!" sungutku protes akan kelakuan konyolnya.


"Maaf, Lingga. Kenapa kamu seterkejut ini. Apa bedanya di lantai bawah dengan di lantai atas sini. Aku hanya bertandang," jelas Rushqi nampak agak canggung padaku.


"Aku hanya trauma dengan kelakuanmu malam itu. Sedang saat itu aku tidak berkerudung. Kamu tidak sopan. Seharusnya kamu pura-pura tidak melihatku, tidak usah muncul memergokiku. Aku sangat malu dan trauma saat itu. Kelakuanmu itu sangat tidak terpuji," rutukku pada Rush yang masih diam memandangku. Lelaki itu bergeser lebih mendekatiku.


"Aku memang sengaja, Ling. Sorry. Daripada aku selalu mengintipmu diam-diam, kurasa lebih puas mendekat dan melihatmu langsung. Hanya sekali, kan. Kamu pun pasti sudah mengumpatiku."


Salut sekali dengan lelaki yang kuanggap kekanakan ini. Ternyata pemikirannya cukup jauh. Memiliki pemahaman agama yang dalam. Ah, tidak diragukan lagi kadar agamanya. Bahkan pacaran pun tidak..


"Ternyata begitu? Iya, aku paham. Maaf, telah berburuk sangka tentangmu. Terimakasih juga pada niat baikmu padaku," ujarku pelan pada Rush, tapi bukan nada yang lembut. Kurasa hatiku jadi mendadak segan pada Rushqi.


"Lingga, bagaimana jika kamu tidak usah berpacaran?" tanya Rushqi tiba-tiba. Matanya memandangi bentangan baju yang kujemur.


"Apa maksudmu melarangku pacaran?" tanyaku heran dengan detak degub di dada. Kami berdiri dengan saling berhadapan.


"Putus saja calon suami kamu. Bagaimana jika kamu kunikahi?" Pertanyaan Rush ini seperti sambaran petir padaku.


"Apa maksudmu???" Kurasa kian bingung saja kudengar.

__ADS_1


"Aku berminat menikahimu. Daripada aku bingung mencari, daripada aku dikenal-kenalkan, kurasa lebih baik aku menikah saja denganmu," ujar Rushqi semakin menyebabkan rasa kagetku.


Aneh sekali. Laki-laki aneh. Apa ini lamaran? Gampang sekali dia bilang. Nggak ada romantis-romantisnya. Rushqi menggampangkan diriku sekali. Mana mikir aku dengan nikahan tiba-tiba.


Bukan aku banget jika menikah tanpa menjalin hubungan dulu barang sebentar. Memangnya coba-coba menikah.. Atau milih kucing dalam karung yang diikat. Ah, enggak banget dooong! Alasan utamaku ogah adalah, enggak ciintaaaa..


"Ling, aku serius. Apa kamu mau? Maafkan sikapku selama ini yang membuat hatimu sakit hati. Maafkan aku, Lingga," ucap Rushqi dengan wajah yang menggelap dan memerah. Aku yakin jika Rushqi memang serius. Tapi aku kan terkejut, aku tidak siap. Apalagi lelaki yang selalu menyakiti hatikulah yang ingin menikahiku. Seperti mimpi saja kurasa.


"Kamu ini jangan terlalu jika bercanda. Hal seperti itu jangan dibuat main-main," kilahku beralasan. Rasanya sangat tidak nyaman dengan pandangan Rushqi yang seolah mengulitiku. Meski aku sedang berkerudung lengkap sekali pun.


"Velingga, aku tidak main-main. Aku sangat serius. Sungguh, aku ingin menikah denganmu," ujar Rush meyakinkanku. Kugelengkan kepalaku.


"Anggap saja kita belum kenal. Kita pun selama ini tidak akur. Kamu selalu menyakiti perasaanku. Tidak mungkin kita bisa cocok jika menikah. Kamu sangat konyol, mas Rushqi," kilahku mencoba menolak dengan sopan.


"Aku minta maaf soal itu, Ling. Bukan maksudku menyakiti perasaanmu. Janji, aku tidak akan mengulanginya lagi," Rushqi berbicara sungguh-sungguh.


"Tapi, aku tidak bisa lupa dengan sikapmu yang sesukanya padaku. Hatiku sakit, aku tidak bisa memaksakan diri untuk menikah denganmu. Maafkan aku," ucapku sungguh-sungguh pada Rushqi.


"Ling, jika kamu tidak mau. Ortuku akan menikahkan aku dengan putri teman mereka. Kupikir daripada kunikahi gadis yang sama sekali tidak kukenal, lebih baik kamu saja yang kunikahi," ujar Rush dengan lirih.


Sepertinya lelaki kekanakan itu mulai pasrah dengan tolakanku. Dia memang penganut paham menikah ala ala ta'ruf, menikah sebab pasrah dikenalkan oleh orang tua atau orang pintar yang dituakan. Percaya pada kebaikan agama perempuan yang dipilihkan oleh orang yang pintar agama atau sang orang tua sendiri.


"Itu resiko kamu, mas. Resiko dari prinsip hidupmu. Ya terima saja konsekwensinya,," sahutku tanpa rasa simpati sedikit pun.


"Kamu serius tidak mau kunikahi, Ling?" tanya Rushqi lagi padaku. Aku menggeleng cepat, meyakinkan hatiku. Yakin bahwa kelak tidak akan kusesali menolaknya. Rushqi bukanlah jodohku, aku tidak menyukainya. Dia adalah lelaki yang hampir tidak pernah bersikap manis padaku.


Bagiku, semua ini adalah kesalahan Rushqi sendiri. Sebagai lelaki yang belum terbuka hati dan kepalanya. Terpenjara dengan etika, prinsip, keyakinan, serta kepatuhan pada orang tua. Itu memang bagus, dan memang mulia. Tapi, Rushqi belum bisa ikhlas sepenuhnya. Masih mencoba mencari celah mana yang terbaik untuknya.


Kenapa harus memaksakan diri jika memang belum ikhlas. Kenapa tidak mencoba bersosialisasi sebagai lelaki dengan perempuan pada umumnya.


"Baiklah, Ling. Kuharap tidak akan ada sesal di hatimu," ucap Rushqi dengan nada suara yang sama kaku dengan wajahnya. Sepertinya sedang merasa sangat kecewa padaku.

__ADS_1


Rushqi kembali berjalan menuju teras lantai dua rumah induk. Benar yang kuduga, kamarnya paling dekat dan berdampingan dengan teras di loteng kamarku. Lelaki tegap itu telah tenggelam di pintu kamarnya.


🕸🕸🕸🕸


__ADS_2