
Puas mengitari Kebun Raya Batam yang mega luas, kami menyisir turun dengan buru-buru. Sebab mendung tebal dan langit berwarna pekat menggantung tiba-tiba.
Cuaca yang sesaat lalu begitu terang dan cerah, terganti cepat dengan awan kelabu yang menyelimuti jagad raya pulau Batam. Mengharap hujan jangan turun, setidaknya hingga kami duduk tenang dalam mobil.
"Mas, kita nggak ke parkiran?!" seru Keke saat Rush berjalan ke arah lain dan bukan ke tempatnya menyandar mobil.
"Kita makan dulu, Ke. Sebentar lagi hujan, aku tidak ingin kalian masuk angin," sahut Rushqi dengan ayun kaki tanpa henti.
"Makan di rumahku saja, mas. Biar nanti kumasakin sama Lingga. Masakanku dan Lingga enak!" seru Keke berusaha menarik perhatian Rushqi.
"Aku sudah sangat lapar!" sahut Rushqi tak peduli. Aku pun mempercepat langkah kakiku, sebab tidak tahu di mana tempat yang akan dituju Rush, kupilih berjalan di bagian paling belakang.
Rumah makan kecil di samping mushola Kebun Raya Batam inilah tempat yang menjadi incaran Rush. Kursi dengan meja di dalam adalah pilihannya. Mungkin berjaga agar aman andai turun hujan kapan pun. Kami telah ikut duduk tenang juga sepertinya.
"Keke, kamu ingin makan apa?" tanya Rush pada Keke dengan tatapannya yang tajam. Dia nampak perhatian, namun juga baraura meresahkan.
"Ingin nasi goreng topping keju, bertabur cabai hijau dan dipayungi telur dadar super lebar. Dua ya, mas. Sama dengan Lingga," ucap Keke tanpa beban. Seperti abai pada aura Rushqi yang berkabut.
"Apa kamu yakin jika Lingga juga menginginkan menu yang sama denganmu?" tanya Rush sambil memicing matanya. Dia tidak sekalipun memandangku. Hanya Keke saja yang selalu nampak olehnya.
"Yakin dong, mas. Itu adalah resep Lingga kalo bikin nasi goreng kala di asrama dulu. Aku sering bikin juga jika kangen sama dia," ucap Keke menjelaskan apa adanya tanpa segan sedikit pun.
"Minumnya apa, Ke?" tanya Rushqi lagi pada Keke. Namun, kali ini diriku tidak merasa berkecil hati. Sebab Rush juga sempat memandangku sekilas dengan hangat.
"Minumnya, irisan lemon tanpa kupas agak panas," sahut Keke dengan cepat. Namun, kali ini memandang Rushqi dengan lama. Keke nampak tertegun dengan calon suami yang ternyata sangat baik dan sabar.
"Lingga?" tanya Rush tapi hanya memandang pada Keke.
"Itu juga, mas Rushqi. Samain aja, itu pun minuman kesukaan Lingga selain kopi dengan air yang campuran," terang Keke kembali ceria tanpa beban. Gadis cantik yang sebenarny tomboy di balik kerudung anggunnya itu, benar-benar tidak berniat bertopeng sedikit pun dari Rushqi
"Benarkah? Kalian sangat akrab sekali rupanya,," ucap Rush berkomentar dengan datar. Lelaki itu melambai pada pelayan, mungkin berharap cepat dilayani. Kemudian memandang Keke lagi dengan ekspresi yang susah dimengerti.
Keke lalu berpaling memandangku nampak canggung. Mungkin sadar jika dirinya sedang kelepasan bicara tanpa sadar. Ingat pada pesanku tadi namun selalu lupa dilakukan.
Aku pun memandangnya dengan bungkam. Sadar jika diriku seperti patung hidup yang sedang tak dianggap. Hanya duduk diam menyimak dan pasrah. Pasrah yang sebenarnya akulah bahan sampel dari bahasan bicara keduanya.
"Keke, apa makanan yang kamu suka?" ucap Rushqi dengan pelan pada Keke.
Keke nampak tertegun kembali dengan sikap Rushqi yang ternyata perhatian padanya.
__ADS_1
"Aku,, aku sangat suka nasi dagong dan gonggong,,," jawab Keke dengan ragu. Nampak kikuk untuk mengatakan sendiri apa yang disukai.
"Kamu sangat suka makanan khas Batam?" tanya Rushqi lembut dengan suaranya yang menenangkan.
Keke nampak mengangguk dengan calon suami. Rushqi pun mengangguk sambil tersenyum. Gadis cantik itu juga ikut tersenyum. Ah, romantis sekali Rushqi memperlakukannya. Aku sekadar penonton saja bagi mereka. Ah, rasa nelangsa jiwaku saat ini..
"Lingga, apa minuman kesukaan Keke? Apa kamu tahu?" Rush bertanya padaku tiba-tiba. Kepalaku seketika berputar.
"Keke suka pepsi," kujawab minuman favorite Keke yang sempat kuingat. Yang sebenarnya aku tidak yakin apa yang paling disukainya.
"Ke, benarkah minuman yang paling kamu suka adalah pepsi?" tanya Rush kembali memandang pada Keke.
Aku dan Keke berpandangan. Aku dengan perasaan ragu tidak yakin, Keke menatapku dengan ekspresi yang canggung.
"Sebenarnya bukan pepsi yang paling kusuka, Ling. Tapi soda susu lah yang sangat kusuka," ucap Keke pelan sambil beralih pandang pada Rushqi.
Pandangan mata indah itu nampak takjub pada Rushqi. Ah, sepertinya Keke sudah mulai terpesona pada perhatian sang calon suami. Lalu, apa yang kurasa ini, resah tidak suka atau harus merasa ikut lega. Aku juga yakin, jika Rushqi dengan mudah bisa saja mengambil hati Keke dengan cepat.
Rushqi telah membuat pesanan pada pegawai yang setia berdiri dan menunggu. Pegawai berlalu sambil membawa catatan pesanan menu yang ditulisnya dalam buku.
Tidak lama, menu yang dipesan telah datang. Ternyata, makanan kami hampir sama. Rush telah memilih menu dua nasi goreng, dua nasi dagong dan gonggong. Tidak lupa tiga gelas minuman irisan lemon beserta kulit yang hangat namun segar dan manis. Sedang soda susu kesukaan Keke, pegawai itu bilang sedang kehabisan soda hari ini.
Sedang Rushqi, lebih memilih makanan kesukaan Keke, nasi dagong dan gonggong. Lelaki itu nampak asyik menikmati makanan favoritenya calon istri. Rushqi menghabiskannya dengan cepat.
Aku pun akur saat Rushqi memintaku dan Keke untuk menghabiskan bersama gonggong ekstra satu lagi. Mungkin rasanya memang enak. Rush dan Keke sama-sama nampak nafsu memakannya.
Sedang aku, hanya ikut makan saja tanpa ada rasa apapun yang kukecap. Suasana hatiku terasa sedang tidak baik-baik saja tiba-tiba. Sambil makan, kupandangi mereka diam-diam dengan perasaanku yang hampa.
Kami bertiga benar- benar menuju lapangan parkir dan menghampiri mobil. Setelah sebelumnya sempat singgah di mushola untuk menunai shalat dzuhur. Rushqilah yang mengajak kami untuk singgah.
Meski Keke sudah duduk di depan dengan sendirinya, tapi kali ini Rushqi tidak lagi meminta Keke untuk memakai seat beltnya. Tapi Rush langsung melajukan kendaraan ini melesat masuk ke dalam badan jalan.
Hingga aku dan Keke agak menghentak punggung saat Rushqi menekan gas setelah membelok ke jalanan. Entah jin apa lagi yang merasuki lelaki tampan itu sehingga terasa kasar membawa kami berdua.
Perjalanan ini berlalu dengan sunyi, sebab tidak ada percakapan sepatah katapun di antara kami bertiga. Bahkan musik bluetooth yang saat berangkat dinyalakan Rush, kini bisu tak ada difungsikan lagi olehnya.
"Mas, turun dulu ya? Ajak Lingga mampir lagi. Pasti ayah dan ibu sudah pulang jam segini. Kalian tidak ingin menjumpai?" tanya Keke berharap agar kami turun dulu dan singgah ke rumahnya. Rushqi tengah menyandar di tepi trotoar depan toko.
"Salam buat orang tua kamu, Ke. Maaf, kali ini tidak bisa singgah. Sepertinya akan hujan deras. Aku ingin cepat sampai di Muka Kuning!" ucap Rushqi di samping Keke.
__ADS_1
"Baiklah, mas Rushqi hati-hati mengemudi. Nitip Velingga juga ya. Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam!" sambutku dan Rush hampir bersamaan.
Keke kemudian membuka pintu dan melompat turun. Berlari kecil menuju dalam toko. Hujan mulai turun menyambut kepulangan Keke di rumahnya.
"Ling, kamu pindahlah ke depan!" Rushqi berseru sebelum melaju kembali meninggalkan rumah Keke.
"Aku duduk di belakng sini saja, mas!" sambutku menolak.
"Kenapa? Kamu akan sepi sendiri di belakang, Ling!" seru Rushqi lagi padaku.
"Kenapa? Memang sepi begini aku dari tadi. Jadi aku tidak masalah jika sepi!" seruku pada Rushqi. Ada sedikit emosi yang meluah dari hati dan jiwa, tidak peduli andai Rushqi bisa membaca gelagat perasaanku.
Pria dibalik kemudi itu tidak lagi memaksa. Ah, sebenarnya ingin sekali dipaksa. Rushqi, kenapa kamu tidak mau memaksaku?!
Perjalanan ini serasa membosankan. Tapi tidak membuatku mengantuk dan lalu tertidur. Padahal ini lebih baik untukku. Aku merasa tidak bersemangat sebagaimana yang kurasa saat berangkat. Rasanya ingin cepat-cepat saja sampai di rumah Muka Kuning.
Bunyi ponselku membelah hening mobil. Segera kubuka dan dari Keke lah pesan masuk ini.
*Ling, terimakasih sudah menemani jalan-jalanku dengan calon suamiku. Maaf jika ternyata aku masih belum mampu move on sama kamu. Tapi, kurasa Rushqi akan menjadi imamku yang terbaik. Aku akan berusaha menerimanya sepenuh hati, Ling. Aku akan benar-benar berubah. Doakan aku ya, Ling. Rushqi sangat menarik dan baik.*
Pesan ini membuat perasaanku tidak nyaman. Kupandangi Rushqi yang sedang fokus mengemudi di depan. Lelaki yang telah kuhempas dan kulepaskan, kenapa sekarang seperti kian memberati kepala dan hatiku?
"Lingga?" panggul Rushqi tiba-tiba padaku. Kami saling bersua pandang di cermin dalam mobil. Hanya sebentar, lelaki itu kembali fokus di jalanan.
"Ada apa?" tanyaku dengan hampa.
"Nanti malam sebelum kamu tidur, naiklah ke loteng. Aku ingin berbicara denganmu. Kamu jangan lupa, Ling," pesan Rushqi yang kembali memandangku di kaca.
"Bicara apa, mas?" tanyaku ingin tahu.
"Kita bicara di loteng nanti malam, bukan sekarang," sahut Rushqi menegaskan.
"Iya," kujawab yang bermakna sudah kujanjikan. Tidak juga kutanya pukul berapa padanya. Mungkin Rushqi telah begitu tahu pukul berapa aku biasa tidur saat malam. Bahkan kebiasaanku tidur dengan gelap gulita pun, Rushqi juga tahu.
πΈπΈπΈ
Minta Vooooooote...π
__ADS_1