
Aku sedang duduk di depan cermin rias kamar untuk menyisir rambutku. Pintu kamar terbuka dan muncullah Keke dari luar. Keke mendekatiku di belakang setelah menutup pintu kamar dengan rapat.
"Calon suami kamu sudah pulang, Ke?" tanyaku pada Keke yang sudah berdiri di belakangku.
"Sudah, hampir bareng dengan mantan kamu, Ling," sahut Keke sambil merebut sisir dari tanganku.
Kubiarkan sikap Keke, dia sangat suka menyisir rambutku. Dari sebelum kutahu perasaannya padaku, atau setelah kutahu rasa hati sesungguhnya padaku.
Meski tahu Keke kelainan dan bisa jadi sudah menjadikanku sebagai bahan fantasinya diam-diam, namun aku juga terlanjur sayang pada Keke.
Tetap kubiarkan dia memelukku atau menciumku sesekali. Juga kesukaannya menyisir rambutku. Asal dia tidak berusaha melecehkan bagian tubuhku yang lainnya. Aku tidak ingin Keke terluka kembali sepertiku. Bagaimana pun, aku tidak lupa bagaimana rasa sakitnya patah hati.
"Ling, apa ada pikiranmu untuk kasihan pada Putra?" tanya Keke sambil menyisirku dengan pelan. Kupandang wajah cantik yang masih berkerudung itu di cermin. Keke juga memandangku di cermin sekilas, lalu kembali ke rambutku.
"Kamu tahu sendiri, Ke. Sebenarnya aku ini suka nggak tega. Tentu saja rasa kasihan itu ada. Tapi kalo untuk balikan, aku sangat tidak ingin, Ke," jelasku sambil kupandang wajah Keke di cermin. Keke juga meluruskan lagi matanya memandangku.
"Kamu janji, jangan balikan sama Putra, Ling. Hatiku masih sangat ingat dengan retakmu saat itu," tandas Keke serius dengan terus menyisirku. Aku mengangguk.
"Iya, Ke. Enggak,, tapi kalo jodohku Putra bagaimana?" tanyaku iseng ingin tahu tanggapannya.
"Idih, ngarep??" respon Keke dengan cepat memelototiku dan menjentik kepalaku. Aku pun rasa keki dengan responnya.
__ADS_1
"Ih, enggak,,, aku nggak ngarep. Hanya saja jodoh kan nggak disangka," ucapku pura-pura berdalih. Keke nampak memandang kesal padaku.
"Kamu kularang jodoh sama mantan kamu yang tega itu, Ling. Bahkan jika mungkin, akan kuberi lelaki paling baik untukmu," ujar Keke menggebu.
"Kamu mana punya lelaki,,ha,,ha.. Teman lelaki saja kamu tidak pernah ada, Ke!" seruku dengan tertawa pada ucapannya.
Keke berhenti menyisir rambutku. Tangannya menumpang di kedua pundakku masing- masing. Kedua bola mata indah di wajah cantik itu memandang dalam padaku.
"Kamu pikir aku tidak punya lelaki? Itu memang betul. Tapi jangan lupa, aku punya calon suami. Aku rela memberikan Rushqi untukmu, Lingga. Andai kalian saling berjodoh," ucap Keke yang tanpa ragu ini sangatlah mengejutkan telinga dan dadaku.
"Keke!! Bicara apa kamu ini?!" kutoleh dan kudongak langsung Keke di atasku. Keke tidak menunduk memandangku, tapi mengambil kepalaku agar kembali lurus ke cermin, wajah cantik itu memandangku di sana.
"Aku bicara sungguh-sungguh, Lingga," sahut Keke kembali tangannya bergerak menyisir rambutku sebentar.
"Iya, Ke. Tapi hal seperti ini, kenapa kamu bicara sembarangan begitu??!" tanyaku dengan sisa rasa kejutku.
"Padahal kamu sangat menyukai Rushqi kan?!" desakku pada Keke. Tiba-tiba hatiku merasa jika Keke sedang putus asa.
"Aku rasa,,, aku pikir,, Rushqi tidak akan bisa menerima kekurangan dan ketidakjujuranku. Dia adalah lelaki yang memiliki idealis kuat, Ling. Dia tidak akan bisa menerimaku apa adanya, aku memang sudah sangat kotor. Tidak akan ada toleransi untukku jika tahu aku bohong. Lebih baik kukatakan saja terus terang."
"Aku akan berlapang dada andai Rushqi benar-benar menolakku dan membatalkan perjodohan ini. Asalkan, kamu yang menggantikanku, Lingga. Aku hanya rela jika Rushqi menikah denganmu saja. Aku ikhlas, asal kamu tidak sampai kembali pada Putra. Jika kamu sampai menerima Putra kembali, itu sungguh memalukan," ucap Keke dengan terus memegang pundakku kian kuat. Hatiku serasa sedih dan seperti disentil oleh niat baik Keke padaku.
__ADS_1
"Tidak, Ke! Kamu harus menikah dengan Rushqi. Hanya Rushqi yang bisa menyadarkan hatimu. Aku janji tidak akan bersama Putra lagi. Jadi, kamu harus tetap menikah dengan Rushqi, Ke?!" ucapku keras pada Keke.
"Dengar, Lingga. Ini belum terlanjur untukku. Ditinggal suami pasti lebih menyakitkan dan memalukan daripada ditinggal calon suami. Rushqi terlalu bersih bagiku, aku tidak layak untuknya. Hanya kamu yang pantas dengan Rushqi, Ling," ujar Keke dengan tegas sambil memandang sayu wajahku di cermin.
"Keke,, aku lebih tidak pantas lagi untuk Rushqi. Aku hanya seorang perantau, asal-usulku sangat tidak jelas. Aku hanya pendatang di Batam!" tegasku keras pada Keke. Kepala gadis itu sedeng menggeleng di cermin.
"Lingga, kamu punya kartu keluarga, katepe, ijasah, juga buku rekening. Tidak jelas bagaimana? Aku juga tahu, orang tuamu pun bahkan sudah haji cukup lama, Ling. Jangan pura-pura jadi urban yang susah kamu. Kamu datang ke sini hanya sebab mantan pacarmu saja," Keke berkata agak keras padaku. Aku hanya diam, yang dikatakannya itu memang benar. Keke sudah sangat tahu tentangku.
"Lagipula, kamu sudah terlalu sempurna. Bahkan hanya dengan melihat rambutmu seperti ini, lelaki manapun pasti berlutut di kakimu. Itu adalah suami kamu nanti, Ling. Yang boleh melihatmu tanpa kerudung. Jujur, saat itu aku tertarik denganmu sebab diam-diam sering memandang rambutmu," ujar Keke sambil mulai menyisir rambutku kembali.
Ah, Keke pasti tidak menyangka jika Rushqi sudah pernah memergokiku tanpa kerudung sehelai pun di kepalaku. Jika benar yang diucap Keke tentangku, apakah Rushqi sebenarnya juga sudah berlutut padaku? Malam itu Rushqi memang sempat bersimpuh di depan lututku. Huuh.. Bukan seperti itu yang dimaksud Keke padaku, tapi....
Kupandang Keke di cermin, mata itu masih sayu memandangku di sana. Rasa bersalah menyergap hatiku. Kurasa tanpa sengaja telah kukhianati Keke. Gadis yang begitu tulus dan sangat baik setengah mati padaku.
Perasaan Keke padaku tidak berubah. Hanya dengan kadar yang berbeda. Mungkin dulu sayang padaku dengan adanya nafsu, sekarang sayang padaku lebih dari sekedar sahabat.
Namun, tiba-tiba ada ragu di hatiku. Benarkah Keke sudah total berubah? Lahir batinkah Keke bertaubat? Apa sebenarnya sedang merasa tersiksa dengan perubahan yang sudah terlanjur dijanjikannya padaku?
Tapi, Rushqi pernah sesumbar akan meluruskan hati Keke dengan mudah. Yang kurasa Rushqi pun sudah berhasil melakukannya.
Keke, kasihan sekali dirimu. Kebaikan apa yang harusnya kulakukan demimu?
__ADS_1
🕸🕸🕸