Noodle In Love

Noodle In Love
50. Selingkuh


__ADS_3

Keke sudah meletak sisir kembali di tanganku sekaligus meletak dirinya di atas ranjang merebah tubuhnya yang lelah. Kuikuti sepertinya merebah di ranjangku sebelahnya. Lalu kubenarkan posisi kepalaku di atas bantal dengan tepat. Nikmat dan nyaman sekali kurasa demikian.


"Ke, ingat. Aku tidak mau kamu memberikan calon suami kamu untukku. Nikahilah sendiri calon suami kamu itu. Jangan maksa lagi, Ke. Aku lelah."


Aku sangat risau jika Keke benar-benar bilang pada Rushqi agar menikah saja denganku. Selain tidak tega pada Keke, itu juga sangat memalukan. Rushqi bisa menudingku, jika akulah yang memaksa Keke agar mengatakan itu padanya. Sedang keinginan lelaki itu sekarang bagaimana, aku tidak tahu lagi.


"Jika Rushqi memang sudah tidak sudi padaku, apa boleh buat Lingga,,?" keluh Keke dari sebelah.


"Andai seperti itu, Rushqi pergi darimu. Kamu bagaimana, dengan siapa kamu? Dengan sesama lagi?!" tanyaku geram pada Keke.


"Tidak, aku akan mencari duda keren, Ling. Tak terhitung jumlahnya duren di pulau Batam ini.." Keke tersenyum sambil tidur miring memandangku.


"Dih, pesimis banget jadi orang, belum nyoba dah kalah berperang!" sahutku dengan perkataan Keke yang konyol.


"Artinya bukan putus asa, tapi ini adalah solusi, Ling," ucap Keke namun dengan memejam mata menghadapku.


"Semoga calon suami kamu bisa nerima kamu apa adanya, Ke," ucapku lirih namun sungguh-sungguh. Entah kenapa hanya kusebut calon suami untuk Keke begitu saja, bukan kusebut nama Errushqi. Bagaimana aku ini, munafikkah diriku? Rushqi..


"Ke,,,?" kupanggil Keke dengan pelan. Jika gadis itu telah tidur, biarlah. Dia sama denganku, lelah. Yang mungkin saja, Keke jauh lebih lelah dariku.


"Ke,," tegurku sekali lagi. Kelopak mata indah itu tidak lagi bergerak sedikit pun. Aku yakin jika Keke sudah tidur.

__ADS_1


Meski malas, tidak tega juga membiarkan selimut Keke yang hampir jatuh ke lantai. Kuturun dari ranjang dengan berat, kubentang lebar selimut yang baru kuambilkan. Kuselimuti tubuh panjangnya sebatas pinggang. Keke terus nampak pulas dan tidak terusik sama sekali. Dia sedang lelah yang sangat.


Tubuh ini baru akan merebah lagi saat kudengar sayup bunyi ponselku berdering sebentar. Ada pesan masuk untukku.


Kubawa ponselku merebah lagi setelah sempat bangun dengan malas untuk mengambilnya dalam tas di almari. Kulihat di sana ada nama Rushqi sebagai pengirim pesan.


Kupandang lekat Keke dengan dada berdebar kencang. Ingin kuabaikan dan kumatikan saja ponselku, tapi rasa hatiku penasaran yang kuat. Dadaku berdebar.


Pesan yang dikirim Rushqi di aplikasi hijau itu sudah agak kuduga isinya. Manager kekanakan itu menulis jika aku adalah gadis pembohong. Yang nyatanya Putra bukanlah sesiapaku. Kuabaikan pesan protesnya, ini bukan waktu tepat membahasnya. Aku sangat lelah.


"Sudah malam, aku tidur dengan Keke. Jangan kirim pesan lagi padaku," ini adalah bunyi balasanku untuk pesannya. Yang dibalas secepat kilat ke kotak pesanku. Tanpa sempat kusimpan kembali ponsel ini.


"Seranjang?" Ini adalah isi balasannya. Tapi hatiku berdebar. Kuurung menyimpan ponselku. Segera kutulis balasan pesannya.


Segera kukirim setelah berhasil kutulis dengan cepat. Rushqi sudah membacanya dan kini sedang mengetik. Apa daya, hatiku terseret pada inginku. Kutunggu balasan Rushqi dengan debar dadaku. Segera kubuka setelah balasan yang kutunggu itu datang.


"Lingga, tidurlah sendiri. Keke sudah sembuh, jangan membuatnya kambuh lagi. Kamu ada ranjang sendiri?"


Tidak kubalas, aku malas membahas yang tidak seperti kenyataan. Kupandang terus ponselku meski hati berniat menyimpannya kembali.


"Audit sudah habis. Kenapa kamu tidak pulang?" ini adalah isi tulisan yang kembali Rush kirimkan.

__ADS_1


"Aku tidak punya rumah. Disinilah tempat asalku." Segera kukirim tulisan balasanku ini. Aku tidak tahu, kenapa berbalas pesan dengan Rushqi ternyata terasa menyenangkan. Tidak ingin diakhiri. Meski kurasa sangat gengsi untuk langsung membalas setiap pesannya.


Kulirik wajah Keke yang sedang tidur tanpa senyum. Merasa bersalah, apa ini kembali kukhianati Keke? Apa kami selingkuh? Tapi Rushqi bandel sekali. Tapi juga,, ini tergantung diriku. Sedang kali ini kembali tak tahan untuk membaca pesan balasan Rushqi dengan dada yang terus saja kencang berdebar.


"Jangan terlalu lama menahan Keke denganmu. Kamu tahu apa resiko beratnya. Jika dia seperti dulu lagi, kamulah yang salah, Ling," kubaca isi balasan ini dengan termangu. Apa yang dibilang lelaki itu memang benar. Tapi aku tidak menahan Keke. Dia selalu bicara sinis padaku.


Segera kutulis balasan, sambil bibirku tersenyum tanpa sadar. Kutepikan rasa kesalku.


"Apa kamu ingin aku kembali ke rumahmu?" entah jin nakal apa yang membuatku seperti menyulut api pada Rushqi dengan tanya konyolku.


Kembali kupandang wajah Keke, masih sangat pulas dengan ekspresi yang sama. Kenapa kurasa ini aman? Jahatnya hati.. Maafkan aku Keke,,, sebentar lagi saja ya..


"Iya, sangat ingin. Cepatlah pulang, Ling." Balasan isi pesan Rushqi ini kian mendebarkan hatiku. Entah apapun maksud lelaki kekanakan itu, yang jelas ini membuatku tersenyum. Kembali kupandang Keke, dia masih seperti yang tadi,, pulas.


"Kumohon jangan kirim pesan lagi. Aku akan tidur," tulisan balas ini dengan cepat kukirimkan. Kembali urung kusimpan, Rushqi dengan cepat membalasnya.


"Tidurlah di ranjangmu sendiri, Ling."


Kembali senyum terbit di bibirku. Rushqi khawatir sekali. Entah apa yang sebenarnya dia pikir. Keke kembali seperti dulu, atau aku yang justru jadi seperti Keke yang dulu.


"Sudah," balasku kemudian. Secepat kilat kublokir nomor Rushqi sementara. Tak ingin mendapat pesan balasan lagi. Merasa lega setelah kuhapus seluruh percakapan pesan kami.

__ADS_1


Harus segera kuakhiri, meski ada rasa terpaksa di hati ini. Sangat ingin terus berbalas pesan dengan Rushqi. Tapi aku tahu diri, dan tentu saja harus kembali sadar diri. Kulirik lagi Keke, masih dengan posisi yang sama. Maafkan aku, Keke..


🕸🕸🕸


__ADS_2