
"Ling!!" Langkahku terhenti oleh seruan dari orang yang sangat kuhapal. Sedang berjalan pelan menghampiriku.
"Wah, kamu ternyata punya bakat make up juga, Ling? Makin kinclong wes kamu kayak gini," ujar bu Yanti memujiku. Seperti biasa, suka sekali menelusur diriku dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Bu, dandananku nggak berlebihan kan?" tanyaku sama bu Yanti dengan kupandang menunduk diriku.
"Ora, ora kelebihan wes. Ora nyangka kamu yang biasanya wes luwes, tambah pantes kayak gini, Ling," bu Yanti kembali melempar pujian yang lebay untukku. Tapi, jujurly suka sekali. Membuat kian merasa bersemangat.
"Terimakasih ya, bu. Masih sesuai dengan acara lawat haji ya, bu," ujarku sekali lagi memastikan.
"Sesuai kok, Ling. Sukur-sukur bajumu kembaran sama mas Rus. Makin berkesan acaranya nyonya dan pak haji ini, Ling," ujar bu Yanti.
Kami sedang berjalan melalui rumah induk yang sangat luas dan rapi. Tidak terlalu banyak perabot dan hiasan. Justru jika sepi hiasan begini, rumah bercat dinding warna putih bersih ini nampak menarik dan elegant.
Ruang rumah induk telah sukses kami lewati. Kini sedang melewati pintu dan akan keluar di teras.
"Itu mereka di sana. Ayo kita gabung sama nyonya, Ling," ujar bu Yanti sambil menunjuk ke arah depan sana.
Kulihat di halaman berumput hijau, bu haji sedang melambai tangan pada kami. Mengajakku dan bu Yanti agar gegas bergabung di sana. Tamu sudah datang beberapa, namun masih saja nampak sepi.
Mereka semua memperhatikan langkah kami. Bersyukur ada bu Yanti bersamaku. Jika saja tadi aku sendiri, bisa jadi jalanku akan terasa melayang tak berpijak di bumi.
Kami telah sampai di depan mereka. Ada bu Fatimah dan pak Harjo, yang mereka berdua sudah bergelar haji. Juga Denis dengan baju batik baru warna dasar merah tua, terlihat match sekali dengan warna kulitnya yang cerah. Denis yang kian tampan itu memandangku sambil terus tersenyum tak berkedip. Pandangannya selalu hangat menenangkan.
Aku tahu, di samping Denis agak jauh, berdiri lelaki yang sedang bosan denganku. Maka itu sengaja kuhindari menggeser mataku padanya. Sama sekali tidak ingin terjadi saling pandang penuh benci antara aku dan putra bungsu tuan rumah. Apa dia memakai baju batik barunya? Ah, tapi penasaran...
"Lingga, kamu cantik sekali dengan gamis barumu. Tapi, bagaiman bisa bajumu sama dengan punyanya?" tanya Denis terheran sambil menoleh pada orang di sebelahnya.
Kuyakin yang dimaksud adalah si Rush. Jadi, lelaki itu juga mengenakan batik baru yang sama denganku sekarang. Apa dia sedang menahan malu? Jika malu, kenapa juga memakainya? Salah sendiri..
__ADS_1
"Lingga, kamu luar biasa sekali. Siapa yang ngajarin kamu dandan?" tanya wanita yang tak lain bu haji Fatimah, ibunya si Rush. Kulempar senyum paling manis untuknya. Dia telah menarik tanganku mendekat.
"Terimakasih, buu. Saya hanyalah belajar sendiri, masih coba-coba," ujarku pada wanita setengah baya yang beraura anggun dengan kerudung warna putih super panjang dan lebar.
"Ling, sepertinya kamu dan anak lelakiku sangat kompak. Apa Rush yang memilihkan bajumu?" tanya bu haji Fatimah dengan lirih menatapku.
Aku pun menggeleng sebagai jawaban dengan posisi yang sulit.Tanganku telah ditarik kuat untuk berdiri di sampinya. Ada bu Yanti yang juga sedang berdiri di sampingku.
"Emm, anu. Eh, iya buu," jawabku pasrah padanya. Bu haji nampak tersenyum memandangiku.
"Lingga, kamu belum makan malam kan? Makanlah dulu di mana-mana meja yang kamu pilih. Ambil makanannya di sana," terang bu Fatimah, ibu kostaku, menunjuk pada meja memanjang di samping panggung ceramah. Nampak piring-piring makanan dan menunya, berjajar dan melimpah yang disusun sangat rapi di sana.
"Rush, kamu pun juga belum makan sejak pulang kerja bareng lingga tadi kan?" tanya bu Fatimah membujuk anak lelakinya dengan lembut.
"Denis, kamu ingin makan lagi? Pergilah makan lagi dengan Rush dan Lingga,,!" seru bu haji Fatimah pada Denis.
"Ya sudah, Denis. Kamu nemenin di sini saja. Tamunya akan banyak sebentar lagi,"
"Kamu saja Rushqi dan Lingga, makan sana! Nanti masuk angin kan susah. Jika malu, tidak mau makan di sini, ke dapur saja sana. Tapi ya makan seadanya di meja makan. Atau kalian ngambil di sini, tapi dibawa ke dapur,"
Bu haji Fatimah mendorong lembut punggungku. Memberiku semangat untuk segera pergi makan malam. Yang katanya terserah di mana yang kusuka. Di tempat ramai ini, atau menepi aman di dapur.
Kini kakiku sedang melenggang dan masuk kembali ke rumah induk. Menuju dapur untuk mengambil makan malam di sana. Merasa akan kebih nyaman jika makan tenang aendirian di sana. Sedang lelaki anak bungsu sang tuan rumah, entah dia akan memilih mengambil nakan di mana.
"Ehemm!!"
Ah, seperti akan meloncat keluar jantung dari dada. Meski dehem itu seperti mengggodam telingaku, pura-pura tak mendengar dan melihat adalah pilihan yang tepat.
Dia duduk di depanku tanpa mengambil piring dan sendok terlebih dahulu sepertiku. Tak kulirik sedikit pun saat kuambil nasi dan lauk apa adanya di meja. Kemudian mulai kunikmati isi piringku dengan berusaha nampak tenang.
__ADS_1
"Ling, kamu tidak mau mengambilkan untukku sekalian?" tanyanya dengan tenang seolah tidak ada apapun masalah di antara kami sebelumnya.
Aku membungkam diam dan tak sudi memandangnya. Lidah tajamnya benar-benar tidak bisa kulupakan. Apalagi dia tidak merasa bersalah dan tidak pernah meminta maaf padaku.
"Ling, kamu tidak mau mengambilkan?" tanyanya dengan nada yang pelan dan lembut.
Ah, aku kecewa dengan hatiku yang mudah sekali merasakan iba. Tak tahan lagi untuk berusaha terus bungkam.
"Aku ini Velingga, aku membayar kos di sini. Aku bukan mbokmu, bukan bu Yanti. Jangan pernah minta tolong padaku sekalipun," kujawab juga akhirnya. Meski nada dan wajahku sama-sama terdengar sangat ketus.
Pria di depanku membungkam. Tidak lagi berusaha menyelaku. Perlahan berdiri, mengambil piring, sendok, garpu dari almari. Dia duduk lagi dan mengambil makanan sendiri di piringnya. Lalu mulai makan dengan pelan dan hening. Kami tenggelam dalam arus rumit di kepala masing-masing.
"Ling, bajumu bagus," ujar lelaki itu tiba-tiba. Dia berbicara di sela makan dan kunyahnya.
Aku berlagak tak mendengar, juga tidak ingin merespon. Hanya bajuku yang dipujinya, sedang penampilanku tidak. Lebih baik diam saja.
"Ling... Apa kamu tidak sadar, jika penampilanmu sangat indah dan cantik?" Ruski kembali bersuara dengan tanyanya, yang diam-diam membuat jiwaku setengah terbang merendah sebab sanjungan lebaynya padaku.
"Kamu laki-laki pembohong. Bilang saja jika aku adalah gadis yang sedang membosankanmu," ujarku sengit dengan cepat. Meski dalam hati sedang merasa teruja oleh pujian yang entah sedalam apa jujurnya.
"Kenapa kamu begitu? Apa kamu masih sangat marah padaku?" tanya Rush lagi sambil menyendok cepat isi piringnya. Geram sekali rasanya dengan lelaki ini. Sangat menggampangkan perasaanku.
"Tidak, aku tidak marah. Kamu tidak bersalah. Tapi aku hanya sedang sangat membencimu. Aku bosan melihatmu," sengitku sekali lagi dengan kasar.
Kulirik ke arah wajahnya. Nampak diam dan tidak ada ekspresi yang berarti lagi di sana. Wajah tampan itu nampak santai dengan apapun yang sedang didengarnya dariku.
Errushqi yang menyebalkan itu justru seperti abai pada semua keluh kesah sadisku. Ucapanku bagai masuk dari telinga kanan yang keluar lagi ke kiri. Kurasa kesal sekali dengannya!
🕸🕸🕸
__ADS_1