Noodle In Love

Noodle In Love
53. Subuh di Loteng


__ADS_3

Kami berpisah di ruang makan setelah Rush benar-benar menemani hingga kuhabiskan makananku. Tidak ada lagi obrolan yang berusaha kami tumpahkan saat itu di meja.


Kebersamaan kami berakhir saat kuberdiri menuju pintu dapur, sedang Rushqi menuju pintu di rumah induk. Ternyata kami sama-sama sempat berhenti sejenak di masing-masing pintu dan sedikit menolehkan badan dan kepala.


Segera kupaling wajah lagi setelah kami kepergok saling menoleh. Rasanya konyol sekali hal ini. Bibirku terbit senyum berterusan hingga kulenyapkan diri ke dalam kamarku. Sambil kutenangkan diri, kurapatkan garis bibir ini agar tersimpan rapat senyumku. Tidak ingin jin baik dalam kamarku terheran-heran memandang senyum sipuku.


Setelah gosok gigi kedua kali dalam beberapa jam ini, kembali kurebah di ranjang untuk tidur. Benar-benar kupilih untuk tidak menemui Rushqi malam ini di loteng. Aku takut seperti waktu malam itu. Kurasa pasti akan terjadi sesuatu jika kami nekat bertemu. Mungkin saja akan khilaf, Rushqi akan kalap dan aku pun ikut tenggelam.


🕸


Alarm ponsel yang kuatur sepuluh menit sebelum waktu subuh telah berdering. Segera kubangun dengan cepat. Entah, kenapa rasanya bersemangat sekali pagi ini. Ingin kusambut subuh dengan hati yang senang.


Ingat akan petuah ayahku. Jangan tetap berbaring saat terdengar alun adzan. Ayah kata jika kita terbiasa begitu, saat mati nanti jenasah kita akan menjadi lebih berat berlipat-lipat.


Itu sangat menyeramkan kurasa. Meski takut setengah mati, membayangkan saat jasadku diusung dengan susah payah sebab kelewat berat, rasanya ngeri sekali. Apalagi jika pengusungku sampai mengeluhkan tentang beratnya jasadku. Ah, tak sanggup...


Hampir pukul setengah lima saat selesai mandi dan shalat. Segera kusambar ember cucian yang berisi baju beberapa helai yang baru saja kucuci. Jika masih sedikit begini, terasa tidak malas mencucinya. Berniat ingin mencuci sendiri saja tiap saat. Tapi nyatanya menumpuk dan malas rasanya. Yang kemudian berakhir juga di tangan kang laundry.


Keadaan di luar memang masih cukup gelap jam segini. Kulirik kamar Rushqi yang nampak bayang remang di jendela kaca bergordennya. Kuharap lelaki itu tidak menyadari naiknya aku di loteng. Tidak ingin ibarat lepas saat malam, namun tertangkap saat pagi.

__ADS_1


Baju ini masih meneteskan air dengan jarang meski sudah kuperas kuat-kuat. Tidak pernah kumasukkan mesin pengering meski induk kos menyediakan mesin cuci dekat dapur, untuk sesiapa yang ingin mengunakan dengan bebas, terutama untuk bu Yanti. Bagiku, hilir mudik ke sana kurasa cukuplah merepotkan.


"Lingga,,," sebut suara yang sangat mengejutkanku. Meski telah kuhafal, rasanya tetap saja senam jantung. Kurasa tak bisa kuhindari kali ini. Cepat-cepat kuhabiskan bentangan bajuku yang terakhir. Rushqi tidak mungkin membiarkanku cepat turun.


"Bangun pukul berapa?" tanya lelaki yang terasa sudah ada tepat di belakangku.


"Subuh tadi," sahutku tanpa kubalik badanku.


"Rajin sekali, pagi-pagi mencuci," ucap Rushqi yang memberiku pujian remeh temeh.


"Aku bukan kamu, punya mbok Yanti yang harus mengurusimu," sahutku datar tanpa maksud.


"Aku tidak menyuruh, mbok Yanti sendiri yang melakukannya," kilah Rushqi padaku.


"Sebentar lagi pun dia akan merasa juga harus mengurusimu, Lingga," ucap Rushqi lirih dan sangat mengherankan.


"Maksudmu?!" Kuputar badan sambil bertanya seru pada Rushqi. Ah, dekat sekali lelaki ini denganku.


"Lingga, tanyakan lagi padaku, apa yang sedang kuinginkan sekarang,," ucap Rushqi dangan memandang lekat padaku.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang sangat kamu ingin sekarang?" tanyaku seperti yang diinginkan olehnya.


"Memelukmu, aku rindu denganmu. Janganlah lama-lama lagi meninggalkan rumah ini," ucap Rushqi yang membuatku serasa terserang jantung bengkak. Susah sekali bernafas. Hanya mataku yang mungkin terlihat membola dan membesar.


"Tapi itu tidak mungkin kulampiaskan saat ini, jadi ada satu lagi yang sangat kuinginkan darimu, Lingga." Lelaki itu berkata sambil mendesak maju padaku. Terus maju seperti akan menabrakku.


"Aku akan jatuh," ucapku tercekat saat pantatku telah membentur pagar loteng. Rushqi berhenti cepat di tempatnya.


"Berbaliklah, Lingga. Lihatlah di depanmu," ucap Rushqi sambil menunjuk belakangku dengan gerakan dagu dan bola matanya.


Fajar yang mulai pecah dan menyingsing di timur nampak indah sekali. Dengan bintang Venus yang masih terlihat putih cerah di atasnya. Ini benar-benar menakjubkan.


Sudah sering kulihat fajar datang dari timur di lotengku, namun ini adalah yang paling indah terlihat bagiku. Mungkin sama halnya dengan yang sedang Rushqi rasakan. Paduan antara fajar dan venus ini sungguh terkolaborasi dengan sempurna bagusnya.


"Indah sekali,,," gumamku tanpa sadar pada diriku sendiri.


"Tentu saja, Ling. Itu adalah pertanda, aku adalah fajar terang dan kamu adalah venus bersinar yang cantik," ucap Rushqi hiperbolis di belakang kepalaku.


"Lebay,," sahutku merespon perumpamaannya. Tak kusangka jika lelaki ini ternyata puitis dan melow juga.

__ADS_1


Belum reda degup dadaku, menyusul tangan Rushqi yang menjulur melewati kanan kiriku dan menyandar di pagar. Rushqi berdiri di belakang dengan mengunciku. Aku kembali tak berkutik tanpa daya. Serasa gemetar seluruh badan. Diam berdiri di tempat saja kesusahan, apalagi untuk bergerak meluncurkan penolakan. Ah, kurasa tak sanggup...


🕸🕸🕸


__ADS_2