Noodle In Love

Noodle In Love
17. Bertiga


__ADS_3

Meski terbukti Denis bukan pria yang pelit, tapi berjaga juga andai dia khilaf tidak membelanjaku makan apapun. Sedang ini sudah hampir mendekati waktu makan malam. Risau jika lapar mendadak menyerang datang di perutku. Denis belum juga datang menjemput.


"Kamu tidak menunggu masakan ini siap, Ling? Hanya tinggal nunggu empuk wortel dan kentang saja lho, Ling,," ucap bu Yanti memandangku.


"Enggak, bu. Minum susu sama makan dua pisang ini perutku sudah kenyang," jelasku demi menolak niat baik bu Yanti untukku.


"Ehem,,!!" deheman lelaki yang pasti adalah Rush, tiba-tiba terdengar. Telah duduk di depanku dengan ekspresi tetap kaku dan tanpa memandangku.


"Eh, mas Rush juga mau nonton bioskop sama Ling, ya??!" tanya bu Yanti agak keras pada Rush. Telingaku tegak meradar saat menunggu jawabannya.


"Iya, mbok," sahut Rush. Dan itu sungguh mengejutkanku


Rush juga sedang memandangku saat kucuri pandang wajahnya. Kami saling pandang sesaat dengan sorot mata yang canggung. Apa makna tatapan matanya itu aku tidak tahu. Apa bermaksud meledek, ataukah menertawakan ekspresi kaget di wajahku.


"Nah, betul itu, mas Rush. Jalan-jalan sana,, siapa tahu nanti yang duduk di sampingmu adalah gadis cantik, mas,," ujar bu Yanti yang tidak lelah menyemangati.


"Cantik dan harus berakhlaq baik, mbok. Buat apa juga cantik, kalo suka pacaran, habis itu gampangan. Gampang diajak jalan sama cowok yang bukan pacarnya," sengit Rushqi sambil memandang tajam padaku.


Oh, apakah yang dimaksud itu adalah aku? Dia sengaja ingin menyindirku? Ingin menyerang mental baikku? Rush...Tajam sekali mulutmu padaku..


"Ya itu kan bisa dibimbing tho, mas Rush. Kewajiban suami membimbing istri. Namanya juga cantik. Ya wajar kalo pacaran, pasti banyak yang suka. Asal kalo pacaran nggak senggal senggol di kamar atau di kasur."


"Terus,, masih cuma pacaran saja. Janur kuning juga belum dilengkung. Ya cari serepan, biar nggak mikir mati terus kalo pas lagi diputus pacar. Lak gitu kan, mas? Iya opo ora, Ling??" Bu Yanti meluah opininya sambil bertanya dan tiba-tiba memandangku. Seperti mendapat serangan yang bertubi diriku.


"Eh, iya bu.. Betul sekali yang bu Yanti bilang. Daripada masa lajang kurang bahagia, terus selingkuh dan mendua setelah menikah. Kan lebih baik pacaran puas-puas saja dulu ya, buuu..."


Entah bagaimana bisa kubicara begini dengan bu Yanti. Yang aku tidak yakin, apakah bu Yanti juga ikut menyindirku, atau bicara akan fakta, atau ternyata hanya ingin membelaku.


Yang jelas, wajah Rushqi nampak tegang dan kaku. Pandangan matanya kian sinis dan tajam menatapku. Sepertinya Rushqi sudah sangat rendah menilaiku. Atau telah timbul rasa jijik kepadaku..? Mungkin wajahku terasa sangat menyemak di matanya..


Ha,,,ha, nikmatilah siksa rasa tidak nyamanmu itu Rushqi.. Dan kupastikan akan kamu lihat semak ini setiap saat di matamu!


Meski sedang perang dingin, Rush berhasil membuatku mengikuti mengambil piring dan makan malam di meja. Tidak tahan dengan keluhan bu Yanti yang merasa sia-sia telah menyiapkan makanan jika ternyata kami tidak menyentuh sajiannya. Rush tidak tega melihat wajah bu Yanti nampak muram. Tentu saja perasaanku pun begitu.


Denis datang disaat kami masih baru setengah saja makan malam. Lelaki itu nampak kecewa saat tahu jika perut kami akan kenyang di dapur rumah. Sedang dirinya sengaja tidak makan hanya demi ingin mengajakku makan malam di luaran. Dan Denis pun ikut join makan di rumah bersama kami juga akhirnya.


"Salah sendiri kamu lambat," timpal Rush akan gerutuan Denis yang terus saja nampak kesal.

__ADS_1


Namun, Rush mempercepat juga gerakan kunyah di mulutnya. Aku pun juga ikut buru-buru mempercepat habisnya isi piringku. Tidak ingin membuat Denis lebih lama lagi menunggu.


Sebab, Rush meminta Denis untuk menunggunya menunai salat isya hingga selesai sambil makan. Yang tentu saja aku pun akan kembali ke kamar untuk menunai juga shalat akhir hari ini.


Denis datang menjemput sangat lambat. Namun, tidak kurasa gundah sedikit pun saat menunggu tibanya.


Apa sebab aku terlalu sibuk berperang dingin dengan Rushqi, hingga lupa waktu dan tak terasa telah lewat isya... Entahlah.. Yang jelas, aku selalu tidak sabar untuk menunggu sesuatu, apapun sesuatu yang kutunggu.


🕸


Kudahului Rush dengan lancangku untuk duduk di depan bersama Denis. Lelaki pongah yang gagah itu telah duduk sendirian saja di belakang. Mungkin dia sedang menjeling sambil merutuk rutuk penuh benci dari belakang padaku.


Selalu kusambut pertanyaan Denis menjadi obrolan panjang yang seru. Diselingi dengan tawa gembira antara aku dan Denis. Tak ada harap minatku agar Rush menyambung nimbrung obrolan dengan kami. Lelaki itu sedang dalam mode senyap sendirian di belakang.


🕸


Sepertinya, dua sobat itu setujuan dan sejalan malam ini. Tidak mempermasalahkan tiga nomor tiket yang sudah terlanjur online dibeli. Yang baru kupahami jika ternyata Errushqi lah yang membelikan tiket online nonton malam ini. Sebagai rayuan agar Denis membawanya juga untuk pergi.


Mereka berdua abai dengan jam tayang bioskop yang telah lewat belasan menit yang lalu. Tidak berjalan menuju ke pintu bioskop, tapi memilih singgah di butik batik lelaki dan wanita di sebelah. Mereka risau butik akan keburu tutup jika harus belanja sehabis menonton.


"Buat apa beli baju batik, bang Denis?" tanyaku pada Denis. Tidak tahan lagi untuk kembali menyebutnya bang.


Denis terheran menolehku di belakang. Aku memang lebih suka membuntuti di belakangnya. Daripada cuci mata sendiri yang sesekali berpapasan dengan Rush tanpa kusengaja.


"Iya, bang Denis. Bu Yanti juga menyampaikan pesan beliau padaku. Tapi di almariku sudah ada beberapa dress baju batik," terangku bermaksud menolak.


"Pilihlah batik baru," ucap seorang lelaki di belakangku tiba-tiba. Yang dia adalah Errushqi. Tentu saja ucapannya sekadar angin lalu yang berhembus bagiku.


"Nah,, kamu pun kena pilih juga tuh, Ling. Mau kupilihkan?" tanya Denis dengan lagak perhatian padaku.


"Eh, tidak bang. Biar kupilih-pilih sendiri saja," sahutku cepat sambil bergeser menepi. Menjauhi posisi dua lelaki yang sedang kompak berpendapat.


Selain ini tanggal tua yang harus berfikir ulang untuk membeli sesuatau, tapi aku tidak ingin jika almariku akan penuh sesak dengan menambah baju baru. Sungguh ini akan jadi beban tersendiri bagiku. Hanya berjalan dan pura-pura memilih saja yang kulakukan.


"Mana batik yang kamu pilih, Ling,,??" Denis datang menegurku tiba-tiba. Ada juga Rush berdiri di sampingnya.


"Nanti saja kucari saat cuti. Aku nggak bisa cepat-cepat milih baju," kilahku beralasan.

__ADS_1


"Mbak,,,!!" seru Rushqi tiba-tiba.


Seorang pegawai butik melenggang cepat menuju tempat kami.


"Ada apa, mas?" tanya pegawai manis itu dengan nada yang lembut.


"Pilihkan gamis batik yang bagus untuk dia,," ucap Rush pada pegawai butik dengan cepat sambil menunjuk padaku. Dan itu cukup membuat resah perasaanku.


" Tidak usah... Kamu tidak bisa memaksaku," ucapku sengit pasa Rush yang memandang acuh padaku.


"Ambilkan, mbak. Nanti bawakan langsung di kasir. Sekalian baju kami." Rush berbalik menuju kasir sambil menyambar batik milik Denis untuk dibawakannya. Rasa dadaku geram sekali pada anak lelaki induk kosku.


"Nggak papa lah, Ling. Sahabat harus kompak. Jangan segan, kita bertiga adalah teman," kata Denis mencoba menyemangatiku. Aku hanya bungkam memandang mendongak padanya.


Kata-kata itu memang benar, tapi Denis tidak tahu ketajaman mulut Rushqi di belakangnya. Dan aku tidak mungkin mengadukan sikap Rush yang sadis padaku ke Denis.


🕸


Dengan membawa kantung belanja berisi baju batik masing-masing, kami memasuki bioskop juga akhirnya.


Film yang akan ditayangkan, mulanya aku tidak tahu menahu apa judulnya. Setelah duduk, baru kupaham film apa yang sedang diputar ini. Yaitu film roman sekaligus komedi dengan judul asli seperti buku novelnya, Bukan Kacung Kaleng-Kaleng.


Kami bertiga dengan cepat segera hanyut pada tontonan film di layar lebar super canggih di depan. Tidak terasa, kian lama mengikuti jalan cerita, diriku terikut baper dengan jalan cerita yang bagiku sangatlah menghibur. Namun...


Senyum nyamanku terusik dengan rasa himpit dan tekanan dari seseorang di samping kiriku. Ternyata, lelaki di sampingku menggeser duduk begitu dekat denganku. Yang seolah sedang buta tuli tidak peduli dengan pandang dan gerakku.


"Mas,,mas,, geser kembali ke kursimu. Tolong duduklah yang benar," ucapku dengan nada yang normal. Mungkin beberapa orang di sekitar mendengarku.


Tidak sia-sia, lelaki itu menggeser ke posisi tepat di kursi semula dengan tanpa memandangku. Sangat tidak merasa bersalah apalagi mencurigakan. Padahal tangan yang bersilang di dadanya itu sempat mengena di bahu pundakku. Tidak mungkin dia tidak sengaja. Huh..


Baru kusadari jika yang duduk sederet denganku hampir semua adalah lelaki. Hanya ada satu wanita di ujung yang jauh dariku.


Sedang di kananku adalah Denis dengan sikap duduk yang tenang dan manis. Dan ada Rush di sebelah Denis.


Rushqi sedang memandangku saat kusisir para penonton di samping kanan dan kiriku. Dudukku sangat berubah tidak tenang setelah kejadian aneh barusan. Jujur, takut sekali jika lelaki itu nekat menyentuhku dengan alasan yang pura-pura tak sengaja.


"Den, kamu tukarlah posisi. Suruh gadis di sampingmu duduk di tempatmu." Telingaku mendengarnya saat suara Rush berbicara sangat lirih pada Denis.

__ADS_1


"Ling, tuker bangku??" tanya Denis direct padaku.


Meski rasa simalakama, dengan cepat kuangguk wajahku. Duduk diantara Rush dan Denis kurasa pilihan paling aman saat ini. Meski rasanya kikuk dan canggung, tapi tidak kurasa ketakutan sedikit pun kala duduk diantara mereka berdua. Juga tidak peduli meski Rush sangatlah tidak suka padaku.


__ADS_2