Noodle In Love

Noodle In Love
30. Baju Ganti


__ADS_3

Hampir pukul dua belas malam, tapi mata ini sama sekali tidak bisa memejam. Bukan sebab tidak mengantuk, tapi karena risih dengan baju yang terpaksa tidak kutukar. Sangat tidak nyaman rasanya tidur dengan baju yang sempat berkibar di jalanan.


Karena tidak ada rencana menginap, jadi tidak berfikir membawa baju ganti. Kini aku bingung sendiri, dengan apa baju ini kuganti. Tidak mungkin juga dengan sepasang mukena yang tersedia di almari dalam kamar


Kamar yang oleh pemiliknya di sebut rumah ini sangat nyaman. Pengaturannya sangat bagus, sehingga meski tidak luas terasa cukup lapang.


Ruang tidur yang terbuka, terhubung langsung dengan pintu kamar. Jadi ini kurasa bukanlah sebuah rumah. Namun hanyalah sebuah kamar yang luas.


Tok,,! Tok,,! Tok,,!


Resahku terganti rasa kejut sebab seseorang tengah mengetuk pintuku di luar. Siapa,, Rushqi kah? Untuk apa, sedang ini sangat malam. Kusambar kerudung pashminaku dan kulilit asal saja.


Sambil kutahan rasa debar sebab was-was, kudekati pintu kamar pelan-pelan. Tidak bernyali kubuka. Hanya berdiri bisu di balik pintu dengan rasa hati berdebar.


Tok,,! Tok,,! Tok,,!


"Siapa??" tanyaku ragu pada pengetuk pintu di luar. Dugaanku pastilah Rushqi yang entah apa tujuannya. Tapi sangat enggan kubuka pintunya.


"Aku, Ling," jawab suara lelaki di balik pintu. Meski sudah kuduga, tetap lega lapang kurasakan. Ya, dia adalah Errushqi.


"Ada apa?" tanyaku dengan suara yang lirih.


"Kenapa belum tidur? Lampu kamarmu terang benderang. Biasanya kamu tidur gelap-gelapan, Ling?" tanya Rushqi di balik pintu.


"Iya, nggak bisa tidur," sahutku terus lirih. Tapi yakin jika Rush bisa mendengar juga dari luar.


"Kenapa?" tanya Rushqi lebih lirih sepertiku.

__ADS_1


"Ini menginap mendadak. Jadi nggak bawa baju ganti. Baju jalanku ini rasanya kotor. Aku nggak bisa tidur dengan nyaman. Rasanya sangat risih dan panas," sahutku tanpa ingin beralibi apapun dari pria lurus di balik pintu. Jiwa manjaku tiba-tiba ingin terbit begitu saja malam-malam begini pada Rush. Seperti gadis tak punya malu sajalah bicaraku saat ini.


"Kamu ingin mengganti bajumu?" tanya Rush lagi di luar.


"Iya, tapi nggak ada serepan," sahutku memperjelas lagi pada Rush.


"Sebentar, Ling. Aku akan kembali tidak lama."


Terdengar langkah menjauh setelah Rushqi selesai berbicara. Entah ke mana Rush pergi. Bisa jadi akan mencarikan baju untukku. Tapi, pada siapa?


Tidak,, jangan-jangan Rushqi pergi ke kamar bu haji dan meminjamkan baju untuku. Aku akan sangat malu sekali. Sesaat kusesali akan sikap terbukaku pada Rush.


Tok..!Tok..!Tok!


Rushqi telah datang lagi, yang entah dari mana tadi perginya.


"Ada apa?" tanyaku penasaran, tanpa rasa kesal sedikitpun padanya.


"Milik siapa?" tanyaku ingin tahu.


"Bukalah sedikit saja pintumu. Percayalah, tidak akan terjadi apa-apa." Rushqi membujukku dengan suara tetap lirih.


Ceklerk!


Kubuka agak lebar dan tidak lagi kusembunyikan diri di balik pintu. Nampak Rushqi berdiri membelakangiku.


"Mana, mas? Sorry merepotkan," ucapku lirih. Berharap Rush berbalik dan memandangku.

__ADS_1


Rush mengulurkan baju dan memang berbalik kemudian.


"Tidak masalah kamu pakai ini, Ling. Yang penting bersih. Tidak ada baju wanita di sini. Kecuali baju mama, tapi kurasa dia sudah tidur. Pakai saja itu. Dah masuklah." Kuambil baju dari tangannya yang Rush hanya sekilas memandangku.


"Sudah, masuk sana," ucap Rush terdengar kaku padaku.


Rushqi telah mengambil kusen pintu dan menariknya hingga tertutup. Kudengar samar langkah tergesa menjauhi kamarku. Rushqi telah berlalu dan pergi dengan cepat. Tidak terlalu banyak memandangku seperti biasanya. Kugenggam erat dua potong baju dari Rushqi dengan rekah senyum yang tanpa kusadari.


🕸


Adzan subuh sudah beralun empat puluh lima menit yang lalu, bersama dengan dering alarm di ponselku. Bukan bangun saat kudengar alarm tone dan adzan, melainkan mengatur mundur lagi alarm di ponselku.


Semalam kutidur penuh senyum, kini bangun pun tersenyum. Merasa jika kaos hitam polos lengan panjang serta sarung kotak yang kupakai ini sangat lembut membalutku. lni adalah yang di berikan oleh Rushqi padaku semalam.


🕸


Makan pagi kali ini agak siang bagiku. Jika di rumah Muka Kuning, telah terbiasa duduk di meja makan jauh sebelum pukul tujuh. Kini kami bertiga makan pagi bersama pukul delapan lebih lebih dua puluh lima menit.


Tidak lagi di rumah yang ditempati bu haji, melainkan di meja rumah makan. Bu haji kata, dirinya malas memasak hari ini. Angan memasak ragam menu sendiri, terhalang oleh rasa raga tuanya yang lelah.


"Ling, kenapa bajumu tidak tukar? Apa tidak bawa baju pengganti?" tanya bu haji sambil menyapukan mata di bajuku.


"Iya, bu. Semalam nggak nyangka jika tidak pulang. Jadi tidak kepikiran bawa baju lagi," sahutku tersenyum.


"Ya Allah, Liing. Kenapa nggak bilang?? Jadi semalam kamu tidur dengan baju yang tidak bertukar?? Kenapa nggak bilang mama, haaa??" tanya bu haji Fatimah heboh sekali.


Memang bingung menjawab. Hanya kubalas memandang wajah lembutnya itu dengan senyuman. Tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada bu haji. Yang padahal, sedang ada kaos dan sarung anak lelakinya di dalam tas bahu yang sedang kupangku. Tentu jika ibunya tahu, akan kurasa sangat malu sekali pada sang ibu.

__ADS_1


Sedang Rush, hanya diam dengan sesekali memandangku sebentar. Seperti paham dan mendukung dalam diam. Pasrah dengan apapun alasanku.


🕸🕸🕸


__ADS_2