Noodle In Love

Noodle In Love
28. Cut Kemalasari Hanah


__ADS_3

Perempuan cantik yang tengah tersenyum cerah padaku itu perlahan mendekat. Hatiku berdebar, apa dia akan melakukan hal yang selalu disukainya? Sedang saat ini ada banyak mata yang siap menyorot dia dan aku. Terutama lelaki yang sudah menyebutnya calon istri.


"Keke??!!" tak tahan juga kusapa namanya. Mungkin kami adalah sepasang teman istimewa.


"Lingga, kamu apa kabar?!" seru Keke sambil lebih mendekat dan memelukku.


"Alhamdulillah, Ke. Kamu??" tanyaku balik akan kabar Keke. Nama kompletnya, Cut Kemalasari Hanah, sahabatku di asrama.


"Sehat juga, Lingga," sahut Keke masih erat memeluk. Bukan hanya memeluk, Keke juga menciumi pipiku berulangkali. Tanyaku terjawab, gadis itu masih saja menciumiku. Hanya kali ini dahiku selamat dari sentuhan hidung mancungnya.


"Ehem!!" Seperti biasa, ini suara Errushqi.


Aku dan Keke sama-sama saling merenggang pelukan dan menjauhkan diri. Mendapati orang-orang di sofa yang tertegun mengikuti adegan drama kami.


"Lingga, Keke, kalian sudah kenal??" seru bu haji Fatimah bertanya. Bu haji tentu sangat terheran sekarang.


"Iya, bu. Kami sudah saling kenal. Keke dan saya satu rumah di asrama," jelasku pada bu haji yang mengangguk tersenyum.

__ADS_1


Kularikan wajah dan mataku pada sepasang orang tua yang duduk di sofa sambil mengamatiku. Mereka sedang membalas lemparan senyum manisku.


"Mereka ortumu?" tanyaku pada Keke. Segera kuhampiri kedua orang tua di sofa itu setelah keke mengangguk Ternyata bukan diriku saja yang memberi salam tangan, tapi Rushqi sudah di belakangku ikut mengulurkan salam tangan.


"Ayo-ayo semua duduk. Ayo Ling, Rush, Keke.." Bu haji Fatimah menunjuk sofa-sofa kosong di sebelahnya. Juga ada pak haji Harjo yang duduk di sofa. Agak jauh dari bu haji. Tapi duduk berdekatan dengan ayah Keke.


Keke duduk di samping ibunya. Berhadapan menyeberang dengan Errushqi yang duduk manis di tengah antara aku dan bu haji.


Perbincangan serius dua keluarga telah dimulai. Lebih tepatnya masih didominasi oleh dua pasang orang tua. Sedang pada Keke dan Rushqi masih berperan sebagai penyimak. Namun, mereka berdua sempat saling dikenalkan secara resmi oleh masing-masing keluarga mereka.


Entah kenapa, saat diam menyimak begini, hatiku terus saja berdebar tidak tenang. Tidak kusangka jika Keke lah gadis yang akan dijodohkan dengan Rushqi. Begitu juga sebaliknya.


"Rushqi, giliranmu! Sampaikan apapun harapan yang kamu ingin. Katakan pesanmu juga peraaaan yang kamu ingin ungkapkan pada Keke dan keluarganya. Jangan sampai ada sesal, juga rasa tidak ikhlas kepada pasangan kalian di kemudian hari. Utarakan saja apapun yang sedang kamu harap dan inginkan!"


Pak haji Harjo, ayah Rushqi bebicara tegas dan berwibawa pada anak lelakinya. Ternyata perjodohan ini masih melibatkan perasaan. Bukan perjodohan garis keras, di mana keduanya saling setuju dan menerima seketika saat keduanya diwacanakan jodoh dan lalu saling bertemu.


"Saya hanya ingin menyampaikan, bahwa saya sangat menghargai dan berterimakasih pada upaya orang tua saya, juga orang tua Keke untuk mengenalkan serta lebih mendekatkan saya dengan Keke. Saya hanya ingin meminta waktu kurang lebih satu bulan untuk lebih mengenal Keke."

__ADS_1


"Sementara ini saja yang bisa saya sampaikan. Untuk Keke, apa ada yang ingin kamu sampaikan padaku?"


Rushqi memandang Keke saat memberi pertanyaan. Keke pun mengangguk. Mereka berdua tengah saling melempar senyuman. Kurasa Keke menerima baik itikad perjodohannya dengan Rush.


Memang, wanita mana yang tidak merasa sayang jika menolak Errushqi. Lelaki yang dalam pandangan mata pertama kali akan nampak berkharisma dam mempesona. Kurasa tidak akan ada wanita yang menolak.


Hanya akulah wanita sombong itu. Yang tidak sayang menolak lamarannya dengan tanpa pikir panjang. Sebab bukan dari pandangan pertama yang kurasa. Tapi rasa sakit dan kesal dari memandang Rush cukup lama sebelumnya.


Keke telah selesai berbicara. Sangat setuju pada apa yang baru Rushqi ingin dan sampaikan. Keke pun juga memiliki permintaan yang hampir sama persis dengan keinginan Errushqi. Meminta jangka waktu satu bulan sebelum ke jenjang pernikahan.


Perbincangan akbar antar kedua orang tua itu berakhir dengan acara makan malam bersama. Seperti yang sudah Rush katakan, ada menu bakso sapi juga di atas meja sofa ini.


Tentu saja sambil kucuri pandang Errushqi sejenak tak sengaja. Hanya sebagai ekspresi terimakasihku. Yang dia juga tengah menatapku sekilas. Mungkin Rush pun sedang berusaha menjaga pandangannya dariku.


Aku tidak berani lagi jelalatan memandangnya, ada hati yang harus kujaga sejak malam ini. Hati Keke, hati Rush, hati orang tua mereka, juga hatiku sendiri.


Baagaimana pun, hati bisa berbolak balik dengan mudahnya. Tidak ingin ada penyesalanku sekecil pun di kemudian hari dengan penolakanku pada Rush. Meski hati tidak ingin dan merutuki hal sesat itu, tapi bisa jadi perasaanku akan berkhianat di luar kendaliku. Kumohon pada sang penggerak hati, janganlah diri ini dicoba dengan hal susah yang sedemikian.

__ADS_1


🕸🕸🕸


*POV 1: Tentang Keke, pernah kusebut tentangnya di bab 6: Ceroboh. Barangkali kakak readers lupa dengan adanya Keke di bab awal)*


__ADS_2