
Setelah kupikir-pikir demi meredam gemuruh tidak tenang di jiwa, kurasa bagaimanpun Rush tidak salah padaku. Dia tidak bermaksud untuk menekan hatiku perlahan dengan sengaja.
Sebab yang lelaki itu tahu, aku sudah ada Putra, lelaki yang mengaku sebagai calon suamiku. Rush mungkin benar-benar ingin kenal lebih dekat dengan Keke. Tidak bermaksud mengabaikanku. Tapi,,, tetap saja yang kurasa. Perasaanku tetap saja tidak lapang..
Sekali lagi tidak ada yang salah. Yang salah,,, Rush menyetujui keinginan Keke untuk membawa sertaku bersama mereka kali ini. Mereka tidak sadar jika aku merasa sangat tidak nyaman dengan kepergian bersama ini.
"Boleh aku bertanya, Ke?"
Mendengar pertanyaan Rushqi yang tiba-tiba ini, telingaku meradar dengan jiwa kepoku yang menggebu. Apa yang akan ditanyakan Rush pada calon istrinya yang cantik itu?
"Nanya apa, mas Rushqi? Tanyakan sajalah," sahut Keke yang menyimak raut Rushqi.
"Kamu sudah berapa kali pacaran, Ke?" tanya Rushqi to the point.
Keke nampak kikuk sesaat. Lalu menolehku dengan bingung. Aku tahu bagaimana perasaannya.
"Kenapa nanyanya berapa kali pacaran sih, mas??" tanya Keke memprotes. Rush menoleh Keke sebentar.
"Kamu pernah pacaran apa tidak, Ke?" Rush mengulangi pertanyaànnya dengan lebih baik.
Keke kembali nampak bingung. Menoleh lagi ke belakang memandangku. Apalagi jawaban yang akan dikatakan si cantik itu?
"Aku nggak pernah dekat sama lelaki, mas." Keke menjawab sambil membenarkan posisi duduk, sebab beberapa kali membengkok ke belakang padaku.
__ADS_1
"Kamu nggak pernah pacaran?" tanya Rushqi seperti mendesak.
"Enggak, mas Rushqi. Aku nggak pernah pacaran sama cowok manapun," sahut Keke berusaha agar Rushqi percaya.
Ah, drama ini adalah tontonan yang kuharap tak terlihat. Tapi terjadi juga di depan mataku dengan cepat.
Keke,, kamu memang tidak pernah dekat apalagi pacaran dengan cowok. Tapi..
Ah, Rushqi, rasanya kasihan sekali padamu. Kuharap, dirimu adalah pria cerdas yang selalu bijak berfikir dan berbuat. Hingga yang di atas senantiasa melimpahimu dengan lindungan, taufik dan rahmatNya. Yang kuharapkan demikian juga untukmu, Ke..
🕸
Destinasi yang Rush kejar ternyata adalah taman raya kebanggan Pulau Batam, yakni Kebun Raya Batam. Sangat luas dengan tanaman berjuta ragam yang melimpah. Terlihat sangat indah dan menghampar di perbukitan yang landai. Sangat menjanjikan lukisan alam menkjubkan sejauh mana mata memandang.
"Ingin sangat foto-foto di sini. Ling, yuk kita fotoan," kata Keke di sebelahku. Tangannya telah siap dengan ponsel hitamnya.
"Sini, kalian kufotokan. Nanti kita gantian!" Rushqi berseru pada kami dari belakang.
"Iya. Yuk, Ling!" seru Keke dengan senyum riang padaku.
Aku belum lagi mengiyakan atau mengangguk. Tapi Keke sudak menyambar tanganku, menarikku untuk sedikit naik dengan posisi yang jelas dan bagus.
"Ke, jaga sikapmu. Jangan over banget padaku. Kasihan calon suami kamu," bisikku sambil berjalan mengikuti Keke di sampingnya.
__ADS_1
"Dia nggak akan ngerti, Ling. Tenang aja. Dia lelaki baik-baik yang tidak kenal buruk sangka." Keke menggandengku kian rapat. Pegangan tangannya telah naik ke lengan bahuku. Kurasa sudah kian risih sekarang.
"Buruk sangka bagaimana? Dia itu tidak bodoh, Ke. Lagian, kamu bilang jika dirimu sudah sembuh total kan??" bisikku lagi pada Keke.
"Kupikir iya, sembuh total. Tapi lihat kamu lagi,, ah, susah sangat, Ling. Aku kangen berat sama kamu," ucap Keke sambil meremaskan tangan di lenganku.
"Tobat sungguh-sungguh katamu, jangan main-main dengan tobat, Ke," bisikku lagi tanpa kulihat wajah Keke. Takut jika Rush membaca hubungan ini.
"Hanya jika ketemu sama kamu, Ling. Lagian sebentar lagi aku nikahan. Habis nikah, pasti seratus persen hanya pada Rushqi,," ucap Keke berbisik. Kami sama-sama tidak saling memandang. Tapi kurasa mengganjal dengan ucapan Keke soal Rushqi.
"Kamu sendiri yang tidak ingin aku jadi sepertimu. Kalo tiba-tiba aku punya rasa sepertimu, bagaimana?" tanyaku mencoba reaksinya.
"Jangan,,, jangan sampai kamu sepertiku. Kamu pun sudah janji. Aku akan merasa sangat bersalah jika kamu sampai tertular, Ling." Keke nampak gusar dengan ancamanku.
"Makanya jangan berbuat lagi padaku. Jika Rush tahu dengan fantasimu, nikahan kalian bisa jadi akan batal," kembali kuucap ultimatum pada Keke. Meski hatiku terrasa tidak nyaman saat kuucap kata nikahan itu dari mulutku.
"Ehem!" Kudengar Errushqi berdehem dari belakang.
"Kalian lama sekali cari posisi!" Rushqi menegur setelah sekian lama mendiamkan. Lumayan memberi kesempatan pada kami untuk saling bicara diam-diam.
Keke bandel dan nekat sekali. Beberapa pose yang dipotret oleh sang calon suami, kurasa sungguh terlalu. Dari merangkul pundak, memeluk pinggang, hingga mencium pipi dan pelipisku.
Terpaksa kubiarkan saja dengan rasa yang risih luar biasa. Sebab jika kutolak terang-terangan, itu akan nampak lebih mencurigakan.
__ADS_1
Meski kuragu jika Rusgqi masih tidak juga mengendusnya. Sebab wajah itu berubah menegang. Dengan raut muka yang datar tanpa senyum. Sangat kuhapal perasaannya dengan ekspresi yang mendung seperti itu.
🕸🕸🕸