
"Mas, aku memang pengen, tapi nggak ingin makan sekarang!" seruku pada Rushqi. Tapi lelaki itu abai dan terus saja nampak tenang saat memasuki sebuah rumah makan cukup besar.
"Aku masih sangat kenyang, mas Rush!" seruku lagi pada Rushqi. Protes akan rasa beratku untuk mengisi perut dengan bakso seperti yang tadi kuinginkan. Bahkan kini telah menyandar tepat di parkiran dengan mengabaikan protesku.
"Ayo, Ling. Turunlah," ucap Rushqi sambil dirinya pun keluar dari pintu.
Diriku tidak juga beranjak mengikuti. Entah iseng dari mana, tiba-tiba kuingin menggodanya. Seberapa luas sabarnya kali ini. Sebab Rushqi nampak berubah. Tidak lagi bicara sengit atau berkata-kata menyindirku. Jiwa usil untuk memancing kesalnya tiba-tiba muncul di kepala. Ingin tahu sejauh mana ketahanan Rush untuk tidak menghardikku.
"Kamu tidak mau turun?" tanya Rushqi tidak marah.
"Tidak," sahutku tanpa memandang wajahnya.
Rushqi duduk lagi di kursi mengemudi. Membawa keluar mobil dari latar parkir menuju ke arah dalam di area rumah makan. Berhenti di sebuah latar dengan diatapi galvalum.
"Ayo keluar," ucap Rush kembali.
"Aku nggak ingin makan, mas," ucapku memprotes sikap Rush yang memaksa.
"Baiklah, kamu seberapa betah di sini," ucap Rush dengan ringan tanpa terasa emosinya.
__ADS_1
Rush kembali keluar dan memanggil seorang lelaki yang nampak sedang duduk bersantai. Lelaki itu mendekat dengan wajah yang ramah. Sepertinya dari Jawa, sama dengan asalku.
"Mandi ta mas?" sapa lelaki itu yang kudengar agak aneh bagiku.
"Ya, pak. Mandikan saja," sahut Rushqi santai.
Mandi? Siapa yang dimandikan. Lelaki itu mengambil selang dengan ujung bershower. Bersiap mengarahkan ke mobil ini. Tanpa berpikir apapun, kuloncat cepat keluar. Sempat kulihat tulisan car wash di sebuah papan yang digantung. Ah, Rush!
"Kenapa keluar, Ling? Kamu nggak ikut mandi sekali?" tanya Rush tanpa rasa bersalah. Justru tersenyum dan berpaling sambil berjalan meninggalkanku.
Langkahnya yang santai kukejar dengan langkah cepatku. Sambil ikut tersenyum tidak jadi kesal pada Rush. Bukankah rasa marahnya tengah kuharap? Dia tidak kesal dan marah, tapi telah mengenaiku dengan caranya yang telak.
Pada rumah yang paling besarlah kini Rushqi menujunya. Hanya terus mengikuti tanpa kupahami tempat macam apa yang tengah dituju. Sedang itu jelas-jelas bukanlah rumah untuk makan pengunjung.
"Sebenarnya kita ke mana, mas? Nggak makan bakso kan?" tanyaku tak bisa lagi tahan untuk bungkam.
"Tujuan kita ke Nagoya ngapain?" Rush justru juga bertanya padaku.
"Kamu dikenalkan dengan anak rekan pak haji," sahutku cepat menjawab tanyanya.
__ADS_1
"Ya itu, di dalam rumah inilah calon istriku menunggu," sahut Rushqi dengan gamblang dan tenang.
Eh, aku terkejut. Tidak menyangka akan mendengar kalimat seperti itu dari mulut Rush secepat ini. Sebenarnya bukan apa-apa, hanya kurasa tidak nyaman saja di telingaku. Ah, calon istrinya dia kata...
Segampang itukah bibirnya menyebut. Yang pasti juga semudah itu hatinya menganggap. Sama dengan semua yang dibincangkan padaku pagi tadi. Semudah itukah, tanpa ada makna mendalam perasaannya. Seperti manusia robot tanpa hati.
Seringan itukah perasaannya sebab keyakinan padaNya yang mendalam. Mudah sekali hidupnya..
"Eh, kalian sudah datang??! Ayo duduk sini..!"
Renungku buyar kala suara bu haji terdengar. Telah kuikuti Rush hingga masuk ke dalam rumah. Ternyata langsung disambut sofa menghampar dengan beberapa orang yang telah duduk dan menunggu datangnya Rush di sini.
"Velingga??!"
Terkejutnya, namaku dipanggil oleh seseorang yang bukan bu Fatimah. Lebih kaget lagi saat seorang perempuan telah berdiri dan memandangku penuh senyum yang cerah. Dialah, dialah pemilik suara perempuan yang baru memanggilku.
Jantungku serasa benar-benar terhentak dari dadaku. Tidak menyangka.. Diakah yang akan dijodohkan dengan Rush? Diakah yang telah disebut Rush sebagai calon istri?
🕸🕸🕸
__ADS_1
** Tolong klik minta update yaa. Terimakasih untuk kak readers yang senantiasa mengkliknya yaaa..**