
Bang Faruq terus saja menertawakanku, tapi tak kupedulikan. Ngantuk yang kurasa benar-benar tak bisa lagi ditahan. Aku benar-benar tidur menyandar perut di pembatas conveyor mie dari cooling. Pura-pura menulis, tapi kedua mata ini tertidur.
"Kau jangan banyak-banyak ngedate, Ling. Jadi macam vampir Cina, kau!" seru bang Faruq dari conveyor di sebelah.
"Aku nggak,, ngedeeett,,," sahutku dengan nada tidur bergelombang. Tanpa daya untuk menanggapi ucapan Faruq berlebihan. Mata dan kepalaku ini terasa sama berat peningnya sekarang.
"Lalu, apa yang kau buat semalam?!" sayup kudengar tanya Faruq. Tak ada daya lagi kusahut. Tetap kutunduk kepalaku menikmati moment tidurku.
"Ling!! Bangun! Minum lah ini, Ling!!" sayup kudengar Faruq berseru sambil melempar sebuah sachet permen di papan dada yang kurebahkan.
"Terimakasih,,, bang Faruuuqq,," sambutku pelan dengan masih memejam.
Lemah kubuka mataku. Kupegangi permen ini sambil kupencet-pencet dengan jariku. Pelan kusadari jika ini bukan sekadar permen biasa.
Kucari di sekeliling, Faruq sudah tidak lagi di conveyor sebelah. Oh, pemuda dari kota Medan bersuku Batak Mandailing dengan marga Nasution dan seorang muslim itu sedang mengadjust ketebalan thickness di ujung mesin.
Daya lari leader back end, bang Faruq, melebihi lari seekor cheetah saja cepatnya. Yang dalam sekelip mata sudah berpindah ke tempat yang cukup lumayan jauh jaraknya.
Setengah cangkir kopi yang berasal dari larutan permen pemberian Faruq baru saja kusedu. Bau sedap ini akan lebih terasa nikmat lagi saat diseruput. Permen serbuk kopi yang konon berasal dari negara Vietnam.
Yang Faruq kata itu halal meski tanpa adanya tanda halal. Selama datang bekerja, Faruq sudah memberikanku bulatan serbuk kopi ini sebanyak tiga kali padaku. Hanya modal percaya dan khasiat saja yang membuatku terus menerima kopi sakti ini dari Faruq. Menepis bayang pesan ayahku agar kuutamakan adanya logo halal pada setiap kemasan makanan yang kubawa.
Kepalaku yang berat sebab semalam susah tidur, kini terasa ambyar kepyar dan sejuk. Serasa segar bugar dan tanpa keluhan apapun di mata dan kepalaku. Entah bagaimana bang Faruq bisa mendapatkan permen kopi yang bagiku sungguh ajaib menghempas rasa kantuk.
Semalam aku hampir tak bisa tidur sebentar pun. Selingkuh dengan saling berbalas pesan itu berlanjut ke angan dan lamunanku tanpa mampu kuhempaskan. Bayang Rushqi yang tampan, bicaranya yang sinis namun ternyata kusuka, terbayang di pelupuk mataku.
Tiba-tiba saja aku ingin bertemu lelaki itu di malam yang buta tanpa peduli waktu. Merasa ucapan Keke sangat berpengaruh dalam kebebasan hatiku berperasaan. Merasa ada lampu hijau yang samar dan menjadi penerangku. Ah, Keke, maafkan aku yang munafik ini...
🕸🕸
__ADS_1
Bis penjemput yang mengantarku pulang ke asrama telah berlalu dari gerbang. Bergegas kuberjalan menuju posisi rumah asramaku.
Teras yang akhir-akhir ini sering nampak Rushqi duduk di sana, malam ini tidak ada. Entah apa yang terjadi dengan hatiku. Rasanya jadi gontai tak bersemangat. Serasa hampa tanpa melihat adanya Rushqi yang menyambut pulangku dengan sikap abainya di teras.
Apa Keke juga tak ada? Apa mereka sedang jalan-jalan berdua di luar? Mereka sebenarnya nampak bahagia dan saling menerima serasa pasangan baru yang telah berjodoh.
"Lingga,,!" teguran Keke dari pintu kamar mengejutkan lamunku.
"Ke, mau ke mana?" sahutku. Keke nampak rapi berkerudung dengan bedak tipis di kulit wajah cantiknya.
"Pulang. Diantar mas Rushqi. Sorry nggak bilang dulu sama kamu, Ling. Tapi kamu pun juga harus kembali ke rumah kosmu. Kamu nggak boleh sendirian di sini. Ada generasi baruku di rumah ini. Nanti kamu dimangsa!" ucap Keke dengan tersenyum jenaka di wajahnya.
"Ish, nggak ada yang kayak kamu di rumah ini. Bangga pula kamu ada teman,," sanggahku kesal pada Keke. Ngeri juga jika ternyata ada Keke keke lain di rumah ini. Hi,,hi..
"Kamu nggak percaya?? Lamaan siapa yang tinggal di sini?!" tanya Keke nampak serius padaku.
"Ih, Ke! Kamu bikin aku panik," rungutku masih dengan setengah kesal. Kududukkan diri ini di tepian ranjangku.
"Kenapa mendadak?" selaku cepat setelah Keke terdiam sebentar.
"Iya. Rushqi tidak ingin dikenali jika terlalu sering-sering datang ke sini," jelas Keke sambil membenarkan kerudungnya.
"Kenapa kalian nggak kencan di tempat lain, Ke? Kan nggak harus datang ke teras asrama. Lagian kalian sama-sama pulang pukul lima," ucapku heran dengan kerisauan Errushqi.
"Kan ingin ngajakin makan bareng bareng sama kamu. Dih, Lingga!" terang Keke saat kusambar handukku.
"Iyalaaah.. Tapi kan aku nggak mau, kalian sih repot banget ngurusi aku," sahutku sambil berjalan ke pintu. Kamar mandi kami berjajar dengan dapur. Tidak ada kamar mandi dalam kamar.
"Ling, jika habis mandi aku nggak ada, maknanya aku dah go on!" seru Keke di belakang punggungku.
__ADS_1
"Iya, Ke. Hati-hati dijalan, ya!" sambutku sambil kutoleh dan kupandang Keke sejenak. Masih sempat kulihat saat wajah itu sedang mengangguk padaku.
🕸
Sudah kubalas pada Rushqi lima belas menit yang lalu. Mungkin saat Rushqi akan kembali ke Muka Kuning setelah mengantar Keke ke rumahnya di Nagoya.
Kutegaskan bahwa Rushqi tidak perlu menjemputku di asrama. Tidak juga kubalas saat lelaki itu mendesak alasanku menolak dijemputnya.
Yang jelas, kini aku telah kembali ke dalam kamar sewaku yang tercinta. Merebah nyaman dengan kepala bertatakan bantal empuk dan lembut. Tidak tidur di kamar ini selama satu minggu, serasa jadi satu windu saja lamanya.
Tidak perlu waktu lama, kepalaku telah berat dengan iringan redup mataku. Dalam beberapa detik ke depan, kupastikan jika aku sudah tidak ingat apapun lagi meski pun tidak sedang dalam minpi yang indah. Parah sekali rasa mengantukku.
Tok..! Tok..! Tok..!
Tok..! Tok..! Tok..!
Sayup kudengar dalam setengah sadarku. Ketukan beruntun yang lamat-lamat kuingat, bahwa itu adalah perempuan tua yang sudah lama tak kulihat. Ya, itu pasti bu Yanti yang sedang berdiri di luar untuk membangunkanku.
"Weeeeh, Liiing.. Kamu ini ya, pulang kok nggak bilang-bilang tho.. Langsung ndekem dalam kamar," protes bu Yanti dengan wajah penuh senyum. Jujur, aku pun rasa rindu pada orang tua yang penuh kasih ini.
"Maaf, bu. Aku cuapek, tadi datang-datang pengen bobok saja bawaanku," sahutku sambil terus tersenyum.
"Ya sudah, ayo keluar dulu. Makan, Liiing.. Kamu sepulang kerja belum makan, kan?" tanya bu Yanti padaku sambil menyambar lenganku.
"Eh, sebentar, bu. Ada siapa saja di meja makan sana?" tanyaku sambil melepas cekalan tangannya. Aku ingin sedikit menyapu bedak pada muka bantalku ini. Oh, lipscream juga dengan tipis.
"Siapa tho Ling? Wong cuma mas Rushqi saja yang sedang nunggu kamu di sana. Dia yang malah bilang ke aku tentang datangmu. Minta aku membawa kamu ke dapur untuk makan." Terang bu Yanti nampak tidak sabar padaku.
Sedang aku, berusaha meredam gugupku. Telah ada Rush di meja makan menungguku. Dadaku terus berdetak sangat kencang. Mengingat Rushqi, yang bisa jadi juga sedang tidak sabar untuk makan sebab terlalu lama menungguku. Apa lelaki itu akan kembali mengataiku dengan sinis?? Ah, dingin sekali kurasakan malam ini.....
__ADS_1
🕸🕸🕸