Noodle In Love

Noodle In Love
47. Putra..


__ADS_3

Putra terlihat agak canggung setelah duduk di antara kami bertiga. Rasa hatiku cukup puas melihatnya tidak nyaman. Itu tidak seberapa dibanding rasa merana yang dihadiahkan Putra padaku kala itu.


"Kamu benar-benar tidak ingin keluar denganku, Ling?" Putra menoleh melihat wajahku.


"Tidak. Jika memang ingin berbicara, di sini saja," jawabku datar pada Putra. Lelaki yang dulu bagiku jauh lebih tampan dari Jefri Nicol, kini parasnya bahkan tak berbentuk di mataku.


Kulirik dua orang di depanku. Keke dan Rushqi sama-sama bermain ponsel dengan kompak. Mereka mungkin sedang berpura-pura tidak ikut campur dengan urusanku.


"Ling, aku benar-benar minta maaf padamu. Sangat menyesal telah kuperlakukan kamu dengan sesukaku waktu itu. Maafkan aku, Lingga," ucap Putra dalam dan serius.


"Orang yang sudah mati tidak akan bisa minta maaf. Kamu telah memintaku untuk melupakanmu dan menganggapmu sudah mati. Aku sudah berhasil melakukannya," sahutku pedas dengan tenang, menutupi rasa di dadaku yang kembali membara.


"Aku khilaf waktu itu Lingga. Aku sangat egois. Aku memang lelaki yang ingin menang sendiri. Padahal kamu tidak memiliki salah apapun. Aku hanya kecewa yang sangat, sebab kamu masih tidak percaya padaku. Aku merasa kesal karena kamu tidak bersedia menemani di rumahku saat malam sebelum aku berangkat ke Canberra." Putra sedang membenarkan posisi duduknya.

__ADS_1


"Sekarang aku ingin menebus kesalahan dan penyesalanku, Lingga. Seperti yang pernah kubilang, aku sangat ingin menikahimu jika sudah benar-benar menjadi pegawai negara. Alhamdulillah, aku sudah jadi pegawai tetap pemerintah, Lingga. Kumohon maafkan aku," ucap Putra dengan mengulur tangan ingin memegang tanganku di atas meja. Percaya diri sekali..


Cepat kutarik tanganku dan kuhindari pegangannya. Tangan lebar yang dulu memang sering menggenggamku, hanya sempat menyentuh ujung jari tengah tanganku. Putra menarik kembali tangannya.


"Bagaimana, Lingga?" tanya Putra yang tidak sabar dengan diam dan penolakanku.


"Umurku masih dua-dua, aku merasa masih sangat muda. Aku tidak sedang kebelet menikah. Jadi, jangan punya harapan untuk menikah denganku," sahutku sinis dengan tanya Putra padaku. Kuharap hatinya benar-benar kecewa dengan ucapanku.


"Kesalahanmu tidak fatal? Kamu hanya khilaf? Justru itu yang menyakitkan. Sebenarnya aku malas mengatakan ini padamu. Tapi kamu harus tahu dengan akibat khilafmu waktu itu padaku," sambil kuhirup dalam nafasku sejenak.


"Aku datang ke Batam sebab keinginanmu. Aku berjuang untuk sampai ke Batam juga demi kamu. Waktu itu aku sudah sangat memujamu. Hatiku selalu utuh untuk kamu."


"Hanya satu kesalahanku yang sebenarnya itu bukan salah, tanpa angin tanpa hujan kamu mencampakkanku. Kamu bilang agar aku melupakanmu. Menganggap kamu mati saja. Jika begitu, bukankah kamu juga sempat menganggapku sudah mati? Kamu juga bilang, jangan pernah mencarimu lagi. Nomorku pun kemudian kamu blokir. Sakit apa lagi yang belum kamu beri padaku?" jelasku panjang agar rasa hatiku yang terpendam dia paham.

__ADS_1


"Maafkan aku, Lingga," sahut Putra dengan ekspresi bersalah dan menyesal. Wajah itu nampak sedang sangat resah dan galau.


"Aku sudah memafkanmu," sahutku cepat pada Putra.


Wajah Putra nampak cerah memandangku. Sepertinya dia merasa puas dan lega dengan jawabanku. Merasa berhasil dengan rayuan dan ungkapan sesalnya padaku. Mungkin ini juga kejutan baginya.


Namun, tidak dengan Keke. Gadis itu sedang terkejut tak percaya menatapku. Ponsel yang tadi dipegang hampir terjatuh di meja. Aku sangat tahu bagaimana perasaan kecewa Keke jika kuterima Putra lagi di hatiku.


Rushqi,, sedang bertaut alis dengan menatap tajam padaku. Bahkan, ponselnya diletak setengah terlempar di atas meja. Lelaki itu sedang manarik mundur punggungnya dan menyandar gelisah di kursinya. Mata itu kian tajam memandangku.


"Lingga, terimakasih sekali sudah memaafkan aku. Aku merasa sangat lega. Sekali lagi terimakasih, Lingga," ucap Putra sambil meraup lega wajahnya dengan kedua telapak tangan. Demikian juga dengan rasa hatiku, rasanya sungguh luar biasa puas melihat Putra gembira seperti itu.


🕸🕸🕸

__ADS_1


__ADS_2