Noodle In Love

Noodle In Love
15. Sakit Hati


__ADS_3

Beberapa jam kemudian...


Lelaki itu memandangku tajam sambil membawa selembar kertas yang berisi high light terbitanku. Wajahnya nampak tenang meski nada suara saat bicara denganku terdengar sangat kaku.


"Kak Amina bilang, aku kena diskusi denganmu. Menurutmu, solusinya bagaimana?" tanya Rush dengan meletak kertas warning di mejaku.


"Ke mana dia?" tanyaku pada Rush. Biasanya kak Amina tidak perlu lagi terlalu berdiskusi denganku. Hanya akhirnya perlu tanda tanganku untuk persetujuan tindakan penanganan defect.


"Dia pergi ke klinik, sakit gigi. Mungkin tidak kembali," jawab Rush sambil mengeluarkan pena.


"Sebenarnya ini hanya perlu logika darimu, mas. Bayangkan jika bundle itu ditata di rak market. Saat calon buyer masih ingin melihat-lihat, tapi bundle itu terbuka dan packet mi dalam bundle terjatuh. Bagaimana?" tanyaku agar Rush mengerti dan segera mencari solusi. Meski aku sudah hafal apa yang seharusnya dilakukan.


"Jadi harus membuka semua karton dan mengseal ulang seluruhnya?" tanya Rush tidak yakin.


"Iya, mas. Biasanya seperti itu. Hanya kamu harus mengeluarkan operatormu yang gesit agar bisa melakukannya dengan cepat. Kamu akan keteteran jika prodak berikutnya mulai jalan. Sedang semua prodak lama harus clear dari area saat mulai tukar prodak," ucapku pada Rush sambil terus menulis hasil rilis prodakku pagi ini.


"Terimakasih, Ling," ujar Rush sambil akan pergi dari mejaku.


"Mas!" seruku agar Rush menunggu.


"Ada apa?" tanya Rush padaku dengan berbalik badan.


"Tolong lakukan dengan cepat. Aku tidak membuat on hold. Jika Mr. Sung melihatnya dan tidak kubuat on hold, dia akan keras menegurku," jelasku pada Rush.


Lelaki itu tertegun sejenak. Kemudian mengangguk nampak paham. Lalu kembali berjalan pergi.


Salut dengan Rush. Ini adalah hari kerja pertamanya yang seorang diri. Dia sangat cepat memahami dan mulai mengerti dengan area yang dijaganya.


Supervisor pun sama halnya dengan QC. Kekurangan personil dengan status pegawai baru yang datang dan pergi. Hanya membuat lelah senior setelah puas mentrainning namun ditinggal pergi.


Kuharap Rush tahan banting dan betah untuk bekerja lama di sini. Menjadi atasan yang tebal muka, tebal telinga, juga tebal mental. Tidak seperti mereka yang manja, hanya keluar dan masuk silih berganti.


🕸


Saat pukul lima, Rush yang akan pulang mendatangi mejaku. Meletak enam lembar surat warning yang terpaksa kuterbitkan untuknya di mejaku. Meski cukup iba, tapi ini adalah dunia kerja. Demi kebaikan tugas dengan hasil gemilang dan tidak akan menimbulkan masalah di kemudian hari.

__ADS_1


"Seharian ini aku seperti bekerja untukmu," ucap Rush datar sambil berdiri santai di depanku. Lelaki itu mulai lihai dan abai pada kamera pengintai di atas erea mejaku.


"Justru sebab ini, kamu akan cepat menguasai areamu," tegasku yakin dengan kebenaran ucapanku.


"Bisakah kamu kurangi saja suratmu yang merepotkan semacam ini?" ujar Rush dengan serius.


"Tidak. Bahkan besok akan lebih dari ini. Hari ini awal mula bagimu. Ini hanya enam high light. Sedang biasanya, selalu di atas dua belas lembar yang diterbitkan QC jaga dalam satu shift saja di packing."


Aku mengatakan hal sebenarnya itu pada Rush sambil berdiri dari kursi. Area packing yang melimpah defect memang jauh berbeda dengan back end area.


"Kenapa kamu membuat reminder banyak sekali, Ling? Apa diam-diam kamu ini penjilat?" tanya Rush yang isinya terdengar sangat menyinggungku. Aku tak menyangka jika Rush tega berbicara seperti itu padaku. Rasanya sakit dan sangat kecewa.


"Penjilat? Kamu menyangka jika aku adalah QC penjilat? Defect di area packing memang begitu banyak. Bisa saja puluhan. Ini aku hanya membuat maksimal dua belas reminder. Apa masih kurang?" tanyaku pada Rush dengan rasa amat geram.


"Kamu tidak akan sanggup membuat sebanyak itu. Apa kamu tidak kehabisan waktu?" tanya Rush menyindirku. Kuanggap ini adalah tantangan darinya.


"Maafkan aku, mas Rush. Kita lihat saja besok." ucapku dengan serius. Kuharap lelaki itu mengerti dengan fungsi tugasku di areanya. Dan tidak semakin menuduhku sebab menjilat.


"Apa kamu sempat???" tanya Rush seperti kian mengejekku.


🕸


Saat makan malam, Rush yang biasanya sangat lambat, kini telah duduk di kursi yang biasa ditempati olehnya. Dia memandangku dengan biasa namun tidak tersenyum. Wajahnya kaku yang kurasa tak jauh beda sepertiku.


Mungkin sebagai atasan baru, Rush merasa kesal mendapat serangan bertubi dariku. Tapi itu bukan salahku. Justru itu sangat bermanfaat untuk kebaikan bersama dan aku memang dibayar dengan beban tugas yang seperti itu. Tapi Rush justru berburuk sangka dengan kata 'penjilat' yang kubenci dan itu sangat menyakitiku.


Rush tidak paham, telah kupertaruhkan ketenanganku demi toleransiku untuknya. Kupahami jika dirinya sendirian dan masih sebagai atasan baru. Rela kutahan hanya menerbitkan enam reminder saja hari ini.


Yang mungkin besok miss Yong akan mengupasiku dengan jumlah reminder yang tidak sebanyak biasanya. Menanyakan alasanku dengan hanya sedikit warning letter yang kupersembahkan untuknya dari berjaga di packing.


Bahkan mbak Ita jauh lebih tega dariku. Bisa menerbitkan hingga dua puluh reminder setiap harinya jika sedang berjaga di packing. Dan miss Yong sangat menyukai hal itu.


Kuharap saat mbak Ita jaga di packing, Rush akan mengerti hal itu dengan sendirinya. Hanya yang tidak kuharap, Rush dan aku akan menjadi sama shift hingga nanti. Tanpa mengerti bagaimana teganya mbak Ita pada production di packing.


Sempat kulirik piring lelaki itu yang malam ini tidak berisi sebanyak biasanya. Sama juga dengan isi piringku. Rasanya tidak berselera untuk mengambil menu apapun di meja. Hanya ingat akan tekadku untuk memberinya banyak reminder esok hari sajalah yang membuatku terus menjejal makanan ke dalam mulutku.

__ADS_1


"Mas Rush,,," panggil wanita pengasuh nama itu saat kecil, bu Yanti.


"Ada apa, mbok?" sahut Rush dengan suara yang serasa lama tak lagi kudengar.


"Siang tadi nyonya nelpon." Bu Yanti telah menggeser satu kursi dan duduk di samping Rush.


"Apa kata mama? Kapan mereka pulang?" tanya Rush. Kulirik cepat ke wajahnya sekilas. Rush masih makan dengan gerakan mulutnya yang malas.


"Nyonya tanya, apa mas Rush nampak bawa perempuan calon istri? Kata nyonya, mas Rush janji akan membawa calon istri setelah mereka pulang haji. Benarkah begitu, mas Rush?" tanya bu Yanti hati-hati pada Rush.


Rasanya terkejut sekali dengan pertanyaan bu Yanti. Jiwa kepoku akan urusan pribadi Rush bergejolak. Kembali kucuri pandang wajah tampan yang kaku di depanku. Bibir itu merapat seperti enggan berbicara.


"Mas, maaf lho ya. Ini hanya menyampaikan pesan nyonya saja. Untuk mengingatkan jangan sampai lupa. Mas Rush tidak boleh ingkar janji katanya," terang bu Yanti hati-hati.


"Iya, mbok. Terimakasih, sudah menyampaikan pesan mama," ujar Rush menolehkan wajah pada bu Yanti.


"Iya, mas Rus. Lha terus, apa jawabannya itu..?" Bu Yanti terus mendesak pada Rushqi.


"Pas belum pulang, aku memang ingin ikut klub perjodohan di masjid, mbok. Tapi habis pulang, aku berubah pikiran," ujar Rushqi dengan lirih.


"Bilang saja pada mereka masih proses, mbok," kata Rushqi berpesan.


"Tapi ya jangan ikut perjodohan, mas. Kayak milih kucing dalam karung saja. Wong mas Rush ini juga nggak ada kurangnya. Makanya, mas Rush tu belajar pacaran gitu lho. Kayak Velingga itu. Cantik,,, tapi ya punya pacar.."


Bu Yanti berbicara sambil terus memandangku. Aku sangat yakin jika prinsip bu Yanti jauh berseberangan dengan paham yang Rushqi bawa. Sepertinya Rushqi paten tidak ingin berpacaran. Tapi langsung memilih calon untuk dibawa menuju ke KUA.


"Terimakasih saranmu, mbok. Bilang pada orang tuaku seperti yang kubilang tadi."


Rushqi telah selesai dengan makannya. Dia berdiri sambil berbicara pada bu Yanti. Lelaki itu sempat menyapukan mata padaku sebelum mundur dan pergi.


"Ling, kalo kamu punya teman yang kayak kamu, mbok ya dikenalin sama mas Rus. Lihat, dia disuruh nikah tapi nggak punya calon."


Bu Yanti memandangku lekat dan berharap. Rasanya sungguh aneh dan lucu sekali.


"Sudah, jangan dipikir benget, bu. Lelaki kayak Mas Rushqi itu mudah saja nyari calon. Asal dianya nggak terlalu idealis. Kalo ternyata dia punya syarat dan kriteria yang tinggi, ya sabar dulu, mbok,," sahutku tanpa sadar berkomentar.

__ADS_1


Tapi Rushqi sudah jauh dan tidak mungkin mendengarnya. Meski begitu, otakku ikut jalan memikirkan barangkali ada perempuan yang layak untuk kukenalkan pada Rush. Meski hati tengah gondok setengah mati, tapi tidak munafik jika diriku juga ikut bersimpati.


__ADS_2