
Bersemangat sekali aku pagi ini menuju ke dapur. Ingin duduk manis di meja makan guna menyambut kedatangan putra bungsu induk kostku. Menanyakan tentang bajuku yang hilang tanpa kuingat di mana rimbanya semalam.
T-shirt perusahaan alias seragam kerja yang dipakai sangat cocok melekat di badan Rushqi yang tegap. Kulitnya telah jauh lebih cerah daripada saat baru kembali dari pulau Kalimantan malam itu.
Rushqi yang biasanya lambat datang di meja makan saat pagi, bahkan aku tidak sempat bertemu saat pergi kerja, kini telah duduk manis dengan kursi yang tepat di depanku seperti biasanya.
Keinginanan untuk segera bertanya tentang baju baruku yang hilang semalam, jadi menguap habis tak tersisa. Rush sangat tampan namun sangat dingin kurasakan. Rasanya gentar sendiri jika justru semprotan pedas yang kudapat. Merasa sayang dengan keelokan parasnya yang akan ternoda dengan tajam lidah yang selalu diasahkannya padaku.
Tapi, berprasangka tanpa fakta adalah tindakan suudzon alias berburuk sangka. Lebih baik kutanyakan dan bersiap dada, andai bibir meronanya itu menodai perasaanku lagi pagi ini.
"Mas Errushqi,,," panggilku ragu.
Dia sedang menyeruput kopi pagi dengan ekspresi nikmat dan tentu saja dia tidak tahu jika itu kopi buatan tanganku. Tadi kubuatkan sekalian meracik punyaku sendiri. Bermurah hati demi meringankan sedikit tugas bu Yanti pagi ini.
"Ada apa, Velingga?" sahut Rushqi menatapku sambil meletak cangkir kopi di meja. Nadanya terdengar hangat dan lembut. Tapi itu bukan jaminan untuk kelanjutan sikap baiknya padaku.
"Emm.. Apakah baju batik baruku yang semalam kamu belikan, ada di tanganmu?" tanyaku canggung pada Rushqi.
"Apakah hilang?" tanya lelaki itu dengan memicing mata padaku.
"Iya, lupa tidak terus kupegang. Hilang di mana aku tak sadar," sahutku jujur pada Rushqi.
"Kenapa kamu mencarinya?" tanya Rush terdengar kaku.
"Itu dibelikan orang, pemberianmu. Aku tak ingin dianggap tidak menghargainya." Aku menerangkan dengan berusaha sopan dan lembut. Sangat tidak ingin mengeruhkan air bening di pagi yang cerah indah ini.
"Kamu hanya ingin menghargainya, tapi tidak memerlukannya?" tanya Rushqi dengan nada yang kian kaku didengar. Kurasa mulut pedasnya mulai berulah kembali.
"Kenapa bertanya seperti itu? Apa baju itu memang ada padamu?" tanyaku. Kuabaikan tanya Rush yang sudah mulai menekanku.
"Iya. Ada padaku. Kamu meninggalkannya begitu saja di bangku bioskop seperti sampah tak berguna," terang Rush yang memang kemungkinan seperti itu. Aku benar-benar lupa kronologinya.
"Kamu sudah lalai. Andai aku QC, kamu sudah kutempel tag card ON HOLD. Agar diam di kamarmu dan tidak usah pergi ke mana-mana," kata Rush kembali mengungkit.
Meski terdengar konyol, tapi wajah tampan itu tetap datar dan kaku. Rush benar-benar merasa kesal denganku sebab masalah pekerjaan di perusahaan.
__ADS_1
"Maafkan aku, ya mas. Aku tidak sengaja, aku semalam benar-benar lupa." Nada bicaraku lembut merayu. Kupahami kekesalan hatinya kali ini. Masih berharap agar Rush jangan lagi bicara pedas padaku.
"Apa hanya pemberian dari pacarmu yang akan kamu ingat dan kamu simpan di almari hingga lapuk?" tanya Rush dengan nada sinisnya kembali.
Dia tetap saja begitu. Rasanya sangat kecewa dan kembali sakit hati. Lelaki itu benar-benar telah berubah. Tidak ada lagi sikap hangatnya sedikit pun untukku. Lama-lama aku akan lelah dan bisa jadi akan ikut sangat membencinya.
"Eeehh... Mas Rush, pagi sekali pergi kerja? Apa akan berangkat dengan Ling?" tanya bu Yanti yang tiba-tiba datang dari ujung belakang rumah. Tadi sempat pamit untuk mengupas kelapa di belakang.
"Iya, mbok. Berangkat pukul tujuh," sambut Rush dengan memandangku. Tangannya meraih cangkir kopi dan kembali meneguknya dengan cepat. Rush nampak begitu menikmati tiap tegukan kopi di cangkirnya.
"Eits,, Ling, itu kopinya mas Rush nggak kamu campur air dingin kan?" tanya bu Yanti buru-buru.
"Enggak, bu," jawabku sambil memakan pisang yang baru saja kukupas.
"Siapa yang bikinin kopiku, mbok?!" seru Rush bertanya. Lelaki itu juga sambil mengupas buah pisang.
"Pagi ini Velingga yang bikinin kopimu, mas. Aku minta tolong, sekalian Lingga sedang bikin," terang bu Yanti sambil memblender kelapanya. Mendadak suasana dapur sangatlah bising dan memekakkan telinga.
Seketika kupandang Errushqi yang juga baru memandang lurus padaku. Kurasa dia pun terkejut. Hatiku merasa begitu puas yang sangat. Kuharap Rush merasa malu telah meminum kopi buatanku.
"Pantas sekali, mbok," gumam Rushqi sambil berdiri. Sepertinya akan berangkat kerja pagi ini.
"Rasanya aneh," pungkas Rush cepat dan pendek. Kemudian mengundurkan kursi dan pergi.
Aku tidak paham dengan maksud kata aneh yang dikatakannya. Sedang cangkir kopi itu kulihat sudah kosong tanpa setetes isi pun di dalamnya. Dia sengaja menyakiti perasaanku.
🕸
Hari ini sangat lelah kurasakan. Sebab semalam tidur lambat melewati tengah malam. Lelah mengingat tanpa hasil di mana baju batik baruku.
Seharian kutahan rasa mengantuk sambil kerja dan jalan di perusahaan. Kuhindari untuk duduk, sebab mata ini akan tertidur kemudian jika duduk.
Kusisir berulang kali hingga halus rambut panjangku di cermin. Sebelum kukenakan kerudung kembali di kepalaku. Bu Yanti telah memanggilku sepuluh nenit yang lalu. Memintaku segera keluar ke meja makan saat aku baru selesai mandi yang malam. Iya, malam. Sebab pulangku kerja di atas pukul tujuh. Hari ini kembali over time hingga pulang pukul tujuh.
Miss Yong belum juga datang kerja. Kali ini sakitnya pasti bukanlah main-main. Wanita itu juga tidak mungkin izin cuti sakit jika sakitnya hanyalah panas dingin. Kami seluruh anggota QC grup sangatlah penasaran, sakit apa yang telah mempan menimpa raga tipis atasan kami yang super duper cerewet itu.
__ADS_1
Begitu pun dengan Errushqi, supervisor packing yang kekanakan itu telah berubah jadwal kerja paginya. Harus start masuk pukul tujuh dan pulang pukul lima. Bisa jadi juga pulang pukul tujuh jika kebetulan ada masalah production yang belum terselesaikan olehnya di packing.
Kak Amina, rekan supervisor Rush yang sakit gigi itu belum juga datang kerja. Kabarnya, giginya mengalami radang dan infeksi hingga menembus syaraf di telinga dan otak. Waktu itu, kak Amina acapkali mengeluh padaku jika gigi dan kepalanya sering terasa sakit yang luar biasa ngilu bersamaan. Tidak menyangka jika sakit gigi yang dirasa, membawa dampak serius di saraf kepala dan telinganya.
🕸
"Kok lama sekali keluarnya, Ling? Apa mas Denis akan datang?" tanya bu Yanti menyelidik saat ku baru masuk ke dapur. Memperhatikan wajahku yang memang sengaja kudandani sedikit.
"Enggak, bu. Hanya berendam sepuasnya saja," jawabku pada alasan lambat datang ke meja makan. Kuseret kursi di depan Rush dan duduk pelan seperti biasanya. Rush nampak membuang muka setelah terpergok memandangku.
"Tapi kamu cantik dan rapi, Ling. Tak pikir mau keluar sama mas Denis lagi. Lha pacar aslimu kok nggak pernah datang ke sini, Ling? Sudah hampir dua bulan kan kamu di sini?" tanya bu Yanti mengusikku.
Rushqi yang sudah hampir selesai dengan urusan isi piring, menatapku sekilas. Ekspresi wajahnya jauh lebih sinis lagi dari biasanya.
"Dia lagi di luar negeri, bu. Jadi, kami sudah lama tidak saling bertemu," sahutku pada bu Yanti.
"Ooh,, pantaas.. Kamu nggak pernah diapelin ke sini, Ling.." sambut bu Yanti sambil menatapku dengan iba.
Entah bohong atau tidak, tapi Putra sempat bilang padaku jika dia ditugaskan ikut pelatihan calon pegawai negara professional di kota Canberra, Australia, selama dua hingga tiga bulan. Sesaat sebelum Putra memutuskan ikatan perpacaran kami berdua. Jika ingat, sakit sekali rasanya.
"Yo sabarlah kamu, Ling. Pacarmu nanti kalo wes pulang akan jadi lelaki hebat. Ke luar negeri segala.. hemm,," bu Yanti nampak takjub berkomentar. Sepertinya sengaja menghiburku yang nampak berubah suram dan mendung tiba-tiba.
Aku hanya diam sambil mengambil nasi dan lauk pelan-pelan. Kuhindari memandang Rushqi yang pasti akan memberi pandangan sinis dingin menyakitkan.
"Eh, mas Rush. Baju batik sepasang yang subuh tadi kucucikan, sudah kusetrika. Lupa belum kuantar ke kamar. Sebentar lagi, yo mas Rush,," ucap bu Yanti pada Rushqi.
"Yang baju wanita itu, tolong kasih ke kamarnya, mbok. Punyanya," ujar Rush sambil memandangku. Aku jelas terkejut dengan ini. Couple...?
"Lho, punya kamu, Ling? Kok bisa baju kalian samaan batiknya.. Kayak pasangan saja nanti kalian pas nerima tamu haji.. Hi,,hi.. Pasti serasi dan apik sekali kamu sama mas Rush nanti, Ling," ucap bu Yanti bertubi memuji.
Kupandangi Rush dengan maksud bertanya. Barangkali sedang bermurah hati mau menjelaskan. Kenapa bisa baju batik baru itu sama corak seperti yang dikatakan bu Yanti barusan.
"Aku pun tidak tahu kenapa pegawai itu memilihkanmu corak batik yang sama denganku. Jika kamu malu, tidak perlu kamu pakai," ujar Rush menyahut cepat bingung wajahku.
"Kamu tidak akan memakainya?" tanyaku ingin tahu perasaannya.
__ADS_1
"Tergantung. Jika kurasa malu, tentu saja aku tidak akan sudi memakainya," ujar Rush acuh sambil berdiri dan mundur.
Lelaki itu pergi meninggalkan meja makan dengan langkah panjangnya. Menuju ruang induk sendirian yang beberapa hari lagi akan datang kedua orang tuanya. Mereka akan berkumpul kembali dengan rasa yang jauh lebih bahagia.