
🕸🕸🕸🕸
Hari minggu ini adalah off day kerjaku. Sebab pertukaran shift untuk minggu ini, dari masuk malam menjadi masuk pagi.
Seperti biasa, sepulang kerja setelah mandi dan makan pagi, aku akan tidur sebentar demi menghilangkan rasa berat dan pening di kepalaku. Tidak ingin tidur seharian saat pergantian shift dari malam ke pagi. Risau tak bisa tidur kala malam dan akan mengantuk saat kerja di pagi hari yang pertama.
Setelah shalat dzuhur, bu Yanti memanggilku untuk makan siang bersamanya. Dia kata tidak enak jika makan sendirian di dapur.
"Banyak banget masaknya, bu,,?" tanyaku heran pada bu Yanti.
"Iya, Ling,," sahut bu Yanti asal. Wanita itu tengah sibuk membalik ayam goreng di panci.
Ini adalah masak terbanyak semenjak tak ada Rush semingguan ini. Suami bu Yanti tengah cuti dan menginap lama di Nagoya. Di rumah anak lelakinya yang bekerja di sana. Sebagai pengawas di restoran milik keluarga sang tuan rumah, alias orang tua Errushqi.
"Apa suami ibu akan datang?" tanyaku lagi tidak puas. Ingin penjelasan yang lebih gamblang dan tuntas.
"Bukan, Ling. Bukan suamiku yang kusambut dengan baik,, tapi tuan muda,," jawab bu Yanti dengan sebutan tak biasa. Dahiku sempat berkerut sebelum yakin siapa yang dimaksud tuan muda olehnya.
"Mas Rushqi, bu?" tanyaku memastikan.
"Iya, siapa lagi tuan mudaku kalo bukan mas Rus, Ling,," jawab bu Yanti mengangguk.
"Pukul berapa katanya pulang, bu?" tanyaku lagi ingin tahu. Entah kenapa, hatiku merasa suka jika Rush cepat pulang ke rumah ini dan ada kembali di meja makan.
"Katanya dzuhur. Tapi kok nggak muncul-muncul. Ya kamu makan duluan saja, Ling," ucap bu Yanti mengulur piring, sendok, dan garpu untukku.
"Bu Yanti nggak makan denganku,,," protesku sambil memandang lebar wajahnya.
Dia selalu bilang kenyang meski tak ada Rush sekalipun. Padahal dulu sebelum tuan rumah pergi haji, meski kadang,, bu Yanti masih mau makan bareng semeja denganku. Tidak seperti saat ini, hanya hilir mudik menemani.
__ADS_1
🕸
Baju lembut rumahan telah kutukar dengan salah satu baju jalan terbaik koleksiku. Ingin shopping ke panbill siang ini. Tidak ingin mengantuk dan kemudian tertidur.
Tok,,! Tok,,! Tok,,!
Bu Yanti adalah pelaku ketuk pintu di kamar barusan. Berdiri di depan kamar dan tertegun memandang wajahku, lalu turun menelusur baju dan kaki. Menggelengkan kepala berulangkali padaku.
"Benar-benar luar biasa kamu ini, Ling... Apa kamu lagi janjian sama cowokmu??" tanya bu Yanti berkerut dahi.
"Iya. Janjian sama laki-laki. Kenapa, bu?" aku tersenyum. Ingin bercanda dengannya. Padahal lelaki yang kusebut adalah sopir taksi...
"Cowokmu ganteng? Kamu sangat anggun, ayu,, cuantik,, sopan... Jangan sampai pacarmu nggak ganteng sama nggak sholeh lho yoo," ucap bu Yanti berpesan. Aku pun hanya bisa mengangguk untuk saran bijaknya padaku.
Dia taunya aku punya pacar. Tidak pernah kuceritakan statusku atau masalah putusku dengan Putra. Tidak tahu juga jika aku datang urban ke sini hanya demi mengejar seorang lelaki. Tidak mengerti dengan jaman jahiliyah yang pernah kujalani. Bu Yanti pun tidak pernah bertanya mendesak padaku.
"Hee,,, Ling... Kok malah ngelamun?" tegur bu Yanti mengejutkan. Ternyata tanganku masih memegangi kusen pintu dan meyandarkan kepala di daun pintu sambil menatapnya.
"Eh, iya bu. Tadi ke sini mau apa?" tanyaku ingat dengan awal mula lamunanku.
"Itu, Ling. Ada mas Denis, teman mas Rus di depan. Dia bilang kenal sama kamu. Suruh dipanggilin kamu katanya," jawab bu Yanti menerangkan.
"Mas Denis,,, dia pakai kaca mata, bu?" tanyaku meyakinkan. Kurasa yang dimaksud bu Yanti adalah bang Denis.
"Iya, Ling. Biasanya memang pakai kacamata. Tapi kali ini nggak dipakai kacamatanya. Eh, dia ganteng lho. Tapi kamu jangan suka ya, Ling,," kata bu Yanti. Kali ini dia cukup banyak bicara dibanding biasanya. Aku tak paham dengan sebab perubahannya.
"Kok gitu, bu. Kenapa aku nggak boleh suka?" tanyaku dengan iseng. Ingin tahu alasan bu Yanti kenapa melarangku suka dengan Denis. Yang kurasa dia sudah sangat paham siapa Denis.
"Mas Denis itu orang Cina, agamanya beda sama kamu. Tapi dia itu memang anak baik, sama kayak mas Rush. Mereka sudah berteman dari dulu,,," terang bu Yanti dengan serius. Aku pun mengangguk meski sudah tahu tentang ini.
__ADS_1
"Iya, bu. Terimakasih sudah dikasih tahu," ucapku tersenyum pada bu Yanti. Bagaimana pun. Dia sangat perhatian dan peduli padaku.
Bu Yanti kembali memintaku untuk ke teras depan di rumah induk. Menemui Denis yang sedang menunggu kedatangan Rush, namun sambil ingin menemuiku untuk mengisi waktu tunggu.
"Bang Denis,,,!" sapaku mengiringi senyum pada lelaki berkulit kuning dan bersih.
"Lingga,,, apa aku mengganggu?" tanya Denis sopan dengan tersenyum hangat padaku. Kugelengkan kepalaku dengan senyum.
"Enggak, bang,,," jawabku.
Benar yang dibilang bu Yanti, Denis nampak cute tanpa kacamata yang menutup pesona mata coklatnya. Rambutnya disisir tegak dan tidak merebah tidur seperti di area kerja biasanya. Denis terlihat keren dan gaul sebagaimana lelaki muda yang bergaya.
"Mas Rushqi pulang jam berapa, mas?" tanyaku dengan duduk di sofa teras depan Denis.
"Tidak tahu, Ling. Kuhubungi nggak nyambung. Kemarin dia bilang pukul satu. Ini hampir pukul dua,,," keluh Denis sambil meletak ponselnya.
"Bang Denis kangen sama mas Rush??" tanyaku bercanda.
Denis paham dan tersenyum dengan lebar. Lalu memegangi dahinya sambil memandangku dengan bingung. Denis nampak bersikap apa adanya di depanku.
"Sebetulnya bukan melulu Rushqi yang kudatangi, Ling. Tapi kamu juga. Ingin berteman baik denganmu, apa kamu tidak masalah?" tanya Denis sopan padaku. Kelakuan Denis benar-benar berlainan jauh dengan miss Yong.
"Enggak masalah sama sekali, bang Denis. Justru aku merasa haru. Bang Denis adalah pimpinan PPIC departement. Bagaimana bisa ingin berteman baik denganku??" tanyaku jujur pada Denis. Lelaki oriental itu terus saja tersenyum.
"Aku tidak punya teman baik gadis jawa. Banyak teman, tapi sekedar kenal saja. Tiba-tiba ingin berteman baik sama kamu, Ling," jawab Denis dengan ekspresi sungguh-sungguh. Langsung kumengerti maksud baiknya.
"Sama kita, bang Denis. Aku pun kenal dengan beberapa pemuda Cina, hanya sekadar kenal saja. Belum ada yang jadi teman baikku. Jika bang Denis memang berniat baik untuk berteman, ayolah kita berteman!" sambutku gembira pada Denis.
"Aku sangat suka, Ling...!" Bang Denis juga nampak tak kalah gembiranya. Kami berdua sama-sama tersenyum dengan lebar. Serasa bernostalgia di jaman sekolah dasar. Kala anak perempuan dan anak lelaki yang masih polos, bersepakat untuk saling berteman baik di manapun dan sampai kapan pun.
__ADS_1