
Aku tidak tahu apa lagi yang akan kurasa jika tidak ada kekocakan Will Smith menemani di TV. Meski tidak ada lima belas menit berada dalam kamar Errushqi, hanya berdua saja dalam ruang tertutup dengannya, sudah cukup membuatku senam jantung.
Yang kurasa sama hal dengan perasaan Errushqi saat ini. Sikapnya nampak kaku dan canggung padaku. Serta nampak enggan untuk lama-lama memandangku. Jauh beda dengan sikap jahilnya saat berada di ruang setrikaan. Rasanya sangat percaya bahwa akulah pengalaman wanita pertamanya. Sungguh, kurasa teruja dan bahagia yang sangat.
πΈπΈ
πΈπΈ
Malam ini, Rushqi tidak membawaku ke pantai, mall, masjid atau spot-spot menarik lainnya di Batam. Tapi membawaku ke Nagoya, di rumah makan sekaligus tempat tinggal orang tuanya, alias tempat pak haji Harjo dan bu haji Fatimah.
Kini, sedang galau kurasakan. Rushqi dan kedua induk kos meninggalkanku sendiri di rumah tanpa penjelasan berarti. Aku kembali menempati rumah kamar yang dulu itu sudah pernah kutiduri. Rasanya sedikit takut sebab sepi sekali dan belum terbiasa.
Mereka pergi bersilaturahim, sekaligus akan membicarakan hal penting di rumah calon besan, orang tua Keke, serta dengan Keke sendiri.
Yang kebetulan pihak keluarga Keke juga ingin membicarakan hal penting kepada keluarga induk kosku. Entah urusan tentang apa itu, aku tidak tahu menahu.
Yang jelas, keluarga induk kos hanya memintaku menunggu dengan tenang hingga mereka kembali datang di sini. Terutama Errushqi, calonku itu bahkan terlihat iba dan berat saat menutup pintu kamar sebelum meninggalkanku untuk pergi ke rumah calon istri bersama keluarganya. Hatiku terasa panas dingin dan merana. .
Setelah isya, sejenak rebah diam pun rasanya bosan sekali. Merasa diri adalah orang luar tanpa arti. Rushqi dan keluarga belum ada tanda-tandanya kembali. Rasanya kesepian. Tiba-tiba ingin pergi ke luar di sekitaran rumah makan.
Melihat barangkali ada menu yang kusuka, bisa juga kubeli. Para pegawai di rumah makan induk kos, kurasa tidak satu pun yang kukenal. Juga anak-anak bu Yanti, aku pun tidak tahu.
πΈ
Bakso yang kupesan dan telah kulunasi, rasanya sangat nikmat. Berpadu dengan segelas kecil teh manis yang hangat. Ini akan menjadi makanan kesukaanku hingga kapanpun di segala tempat.
Selain bagiku tidak membuat bosan, tapi juga sangat mudah didapati, di mana-mana akan ada dijumpai. Menu wajib jual di setiap wilayah Indonesia raya yang tercinta.
"Selamat malam, Lingga,,??!" sapa suara lelaki yang kuhapal siapa dia. Setengah tidak percaya kutoleh padanya. Benar, lelaki yang sebenarnya sangat gagah, rupawan dan tampan, namun dimataku tidak lagi berkesan, adalah Putra, mantan pacarku yang tega.
__ADS_1
"Kenapa kamu di sini?" tanyaku dingin dengan cepat. Aku sangat ingin segera menghindarinya.
"Justru kamu bagaimana di sini, Lingga? Nagoya adalah kota tugasku yang baru, dekat dengan appartment orang tuaku," jelas Putra bersemangat. Harapan Putra akanku masih nampak jelas akan terus berlanjut.
"Tempat ini adalah milik ibu kosku. Maaf, aku harus segera pergi," pamitku pada Putra. Bersiap pergi meninggalkan mejaku dengan bergegas.
"Lingga, beberapa kali aku datang ke perumahan sewamu. Tapi security terus menolakku. Aku tidak memiliki nomor ponselmu. Sekarang tidak sengaja kita bertemu. Aku ingin berbicara, Lingga," ucap Putra dengan erat menggenggam pergelangan tangan kananku.
"Lepaskan, aku sudah tidak ingin bicara apapun lagi tentang kita. Aku juga tidak ingin bicara sidikit saja dengan kamu. Lepaskan," pintaku dengan suara yang lirih.
Aku tidak berdaya sebab kenyang, aku merasa kekenyangan. Mangkuk bakso lezat itu cukup besar, teh hangat satu gelas juga telah kuhabiskan. Beginilah jika merasa galau. Semua makanan yang terasa nikmat tidak bisa aku mubadzirkan sedikit pun. Namun, setelahnya rasanya sungguh sesak..
Aku juga tidak ingin membuang tenaga sia-sia untuk mengibas tanganku. Tidak akan berhasil, Putra sangat jago beladiri, tenaganya kuat sekali. Lelaki ini bahkan pernah menjuarai berbagai perlombaan bela diri di masa muda remajanya.
"Ikutlah aku sebentar saja, Lingga. Orang tuaku sangat ingin melihat kamu. Bisakah kamu ikut aku menemui mereka? Papa dan mamaku tidak tahu jika kita sudah berpisah. Mereka sangat ingin melihatmu," bujukan Putra ini membuatku semakin marah padanya.
"Lepaskan tangankuu!" hardikku dengan keras, namun Putra tidak mau. Tanganku tetap digenggamnya.
"Heh!! Putra!! Lepaskan tangan Lingga!! Kamu berani ulang lagi perbuatan kamu?!!" suara Keke yang sangat kukenal, berseru tiba-tiba dari belakangku.
"Keke,,??!" seruku dengan rasa tak menentu. Antara lega, haru dan rindu. Aku memang rindu, rindu sebab merasa bersalah yang sangat. Aku telah menikam punggung Keke dari belakang. Ingin kupeluk dan meminta maaf banyak-banyak padanya.
"Lepaskan!" hardik Keke lagi pada Putra. Mata indah Keke berkilat-kilat memandang tajam Putra dengan penuh kebencian.
"Ini bukan urusan kamu, nona!" seru Putra dengan nada kasar dan suara yang keras. Lelaki ini juga seperti sangat tidak suka pada Keke. Mereka sedang beradu mata dengan tatapan bermusuhan.
"Mas Putra! Apa yang kamu lakukan pada calon istri anak lelakiku??!!"
Tiba-tiba seruan pak haji Harjo terdengar dari arah samping kami. Nampak pak haji berjalan mendekat dengan cepat bersama Errushqi dan bu haji.
__ADS_1
"Apa maksud Anda, pak Harjo?!" tanya Putra kebingungan.
"Kamu terkejut?! Makanya, jangan sembarangan memutus kekasihmu! Sekarang sudah mau menikah, kamu menyesal??!!" seru Keke dengan lantang. Aku pun terkejut, apa yang terjadi dengan pertemuan mereka barusan. Apa Errushqi telah menjelaskan segalanya dan Keke bisa begitu ikhlas? Ah, Keke...
"Saudara Putra, lepaskan tangan Velingga. Kalian sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Apa tidak malu?"
Kali ini Rushqi menegur Putra dengan suaranya yang berat dan tegas. Ternyata sangat berefek. Putra nampak memandang Rushqi dan aku sejenak. Tanganku terasa longgar dan kembali sangat lapang. Putra telah benar-benar melepaskannya.
"Lingga, apa benar dia calon suami kamu?!" tanya Putra tiba-tiba dengan lekat memandangku.
Tentu saja aku merasa gelagapan. Bagaimana kujawab? Rushqi belum juga menanyaku, induk kos juga belum bicara denganku dan lebih lagi ada Keke yang berdiri di sampingku. Benar-benar simalakama.
"Benar." "Benar." "Benar!"
Mendadak tiga kali jawaban kompak keluar dari suara tiga orang yang berbeda. Mereka adalah Errushqi, pak Harjo dan yang terakhir Keke menyahut dengan keras. Ah, Keke...
Putra sedang meraup wajahnya dua kali.
"Jadi begitu? Baiklah, jika seperti itu, sayapun menyerah. Menganggap jika Lingga bukan lagi tanggung jawab saya, meski rasanya sangat berat untuk saya. Lingga datang ke sini sebab saya. Sejak sekarang, saya pasrahkan Velingga padamu, mas Rushqi. Juga pada keluarga anda, pak haji. Saya minta maaf. Permisi," ucap Putra dengan buru-buru.
Lelaki itu berjalan pergi dengan tidak lagi memandangku. Aku tahu jika Putra sedang merasa sangat kecewa. Mata tajamnya menyiratkan luka dan penyesalan yang dalam.
Ini sama dengan beberapa bulan lalu. Saat Putra pergi tanpa memandangku dan tidak peduli dengan lolongan tangisku. Kini dia pergi tanpa kupeduli rasa malu dan sesal yang ditanggungnya. Bisa jadi akan dipendam dalam-dalam di jiwanya dengan waktu sangat lama.
Hanya kuucap banyak kali dalam hatiku untuknya, bye Putra,,, bye Putra,, bye Putra.. Don't ever to meet you...
πΈπΈ
Terimakasih untuk kakak2 reader yang masih datang hingga di bab ini. aku padamu..ππ
__ADS_1