Noodle In Love

Noodle In Love
54. Subuh di Loteng


__ADS_3

Tidak ada apapun yang Rushqi sentuhkan padaku. Kami tidak saling bersentuhan. Namun, tetap saja kurasa sangat tegang. Rushqi masih mengungkung punggungku dari belakang.


Tangan Rushqi kurasa sangat panjang. Lelaki itu memang jangkung dan menjulang. Mungkin saat mengandungnya, bu haji sangat gemar memakan kacang panjang.


"Tanyakan padaku lagi, Ling. Apa yang aku inginkan,," ucap Rushqi dengan lirih di belakang kepalaku. Kekanakan lelaki ini kurasa kian akut. Yang anehnya justru terus saja kupenuhi.


"Apa sebenarnya yang sedang kamu inginkan?" tanyaku kemudian seperti yang dia ingin.


"Yang pertama, aku ingin bilang terimakasih sama kamu. Terimakasih, kamu memilih rumah ini jadi tempat kos kamu. Kamu tidak memilih pulang kampung saat sedang patah hati. Kamu tidak menyangka jika di rumah ini akan ada aku, yang menyambung patah hatimu di kemudian hari," ucap Rushqi yang kembali mengandung sajak roman. Rasanya cukup menghiburku meski sebenarnya menggelikan.


"Kamu bulshit. Hanya Keke yang peduli menyambung hatiku waktu itu. Nyatanya saat itu kamu sedang sangat sibuk menyambung batu bara hitam di pulau Kalimantan,," timpalku sambil tersenyum lebar-lebar. Rushqi kudengar tertawa kecil dengan selorohanku.


Ah, rasanya indah sekali berbicara dengan seperti ini bersama Rushqi. Kurasa aku sudah mulai tenggelam dan karam. Tapi janganlah lelaki di belakangku menjadi kalap sepertiku. Itu akan runyam dan sangat membahayakan.


"Keke adalah perantara untuk kita," ucap Rushqi membenarkan.

__ADS_1


"Sebenarnya, bagaimana hubunganmu dengan Keke. Jika kamu memperlakukanku begini, aku merasa seperti sedang mengkhianati calon istrimu, sahabatku," ucapku kembali merasa bersalah.


"Kenapa kamu tidak menolak?" tanya Rushqi seenaknya sendiri. Dia seperti sedang menertawakanku.


"Aku sangat kesal denganmu. Minggirlah, aku ingin kembali ke kamarku. Aku akan siap-siap pergi kerja. Singkirkan tanganmu,,!" hardikku kesal setengah mati pada Rushqi. Sikapnya tetap tidak berkurang, masih suka menyinggung perasaanku.


"Aku hanya bercanda, sekedar menggodamu. Kamu tidak suka kugoda??" tanya Rushqi terdengar hangat, seketika mampu mendinginkan kepalaku.


"Aku harus siap-siap untuk pergi kerja," ulangku pada Rushqi.


"Masih pukul lima lebih, Ling. Apa berdandan perlu waktu lama?" tanya Rushqi.


"Sebentar, aku belum selesai berbicara," ucap Rushqi terdengar serius.


"Bicara apa lagi. Lebih cepatlah sedikit, aku juga perlu makan pagi," desakku pada Rushqi untuk cepat menuntaskan bicaranya padaku.

__ADS_1


"Tentang Keke, kamu jangan merasa sangat bersalah. Keke adalah urusanku. Semuanya akan baik-baik saja. Kamu tenang saja, Lingga," ucap Rushqi yang memang berhasil membuatku lebih tenang. Meski Keke sudah menegaskan relanya dengan apapun keputusan Rushqi tempo hari padaku, rasa bersalah tetaplah ada dan menggebu.


"Untuk keinginanku berikutnya, kamu ingin tahu?" tanya Rushqi dengan dekat di telingaku.


"Apa lagi yang kamu inginkan?" tanyaku merespon ingin tahu.


"Satu lagi yang sedang kuingin, dan akan segera kurealisasikan. Aku sangat ingin menikah dengan kamu secepatnya, Ling," jelas Rushqi yang kembali mengguncangku.


Rushqi seperti hanya berbicara dengan dirinya. Tidak sekalipun menanyai perasaanku. Tidak juga bertanya pada sudikah diriku dinikahi. Rushqi begitu percaya diri dan seolah pasti akan kuterima. Sedang diriku merasa masih sangat muda dan masih ingin merasakan senang-senang.


"Apa aku sudah boleh turun ke kamarku?" tanyaku seolah tanpa beban. Seperti tidak berfikir dengan apapun masa depan.


"Sudah boleh, Lingga. Terimakasih sudah cukup lama mendengarku bebicara," ucap Rushqi sambil menarik tangannya ke belakang. Segera kugeser melewatinya dan berjalan menuju pintu dengan sempat kusambar ember kosongku.


"Nanti berangkat kerja, tunggu aku di gerbang. Kita berangkat ke tempat kerja bersama-sama, Lingga!" Rusqi berseru bicara sambil menyelip dua tangan di ketiak dan dadanya.

__ADS_1


Tidak lagi kulempar sahutan. Segera kuselip diriku di balik pintu loteng. Resah jika tiba-tiba Rushqi berubah haluan dan kembali menangkapku. Lalu menyeretku ke kamarnya dan melarangku pergi kerja. Berfikir hal konyol ini, jantungku kian kencang berdetaknya.


🕸🕸🕸


__ADS_2