
Ini adalah tiga hari setelah kejadian di Nagoya malam itu. Di mana bertemunya keluarga induk kos, Keke, Putra, Rushqi dan diriku. Yang berakhir dengan kepergian Putra dari hadapanku selamanya.
Malam itu, Keke menginap di rumah makan sekamar denganku. Keke bercerita segalanya dengan sesekali menangis tanpa segan di depanku. Kami saling peluk menguatkan dan juga saling menyemangati. Keke begitu baik dan tulus kepadaku.
Malam pertemuan mereka di rumah keke di awali dengan ketegaran keke yang mengakui kebohongannya pada Errushqi. Keke telah memutus dengan sepihak perjodohannya dengan Rushqi. Merasa yakin jika Rushqi tidak mungkin menerima gadis kelam dan tidak bersegel sepertinya.
Ini juga disemangati oleh orang tua Keke yang juga merasa tahu diri dengan keadaan sang putri. Keke sudah membincangkan hal dirinya dengan sang orang tua di hari sebelum pertemuan.
Meski masih sama sekali tidak tahu jika anak perempuannya pernah menyimpang, orang tua Keke cukup bijak untuk tidak mendesak dengan siapa Keke telah melakukan hubungan sesatnya. Ini cukup membuat Keke sangatlah bersyukur dan tenang. Merasa jika sang orang tua begitu bijak bersikap padanya.
Begitu juga dengan Rushqi, calon suamiku yang gagah itu bercerita jika segalanya sangat dimudahkan olehNya. Tidak disangka jika niat pergi ke rumah Keke untuk membatalkan perjodohan, justru dipermudah oleh pengakuan dan pembatalan dari mulut Keke sendiri.
Meski ada rasa iba, tentu saja Errushqi sangat lega yang dahsyat. Menyambut baik keputusan Keke dengan penuh rasa syukur dalam hatinya.
Begitu juga yang dirasakan pak haji dan bu haji. Mereka berdua juga telah merasa sangat lega yang luar biasa. Bayangan tidak enak hati dan akan mengecewakan calon besan, seketika menguap hilang tak tersisa. Meski kerjasama perbesanan telah berakhir, namun hubungan baik tetaplah mereka jalin.
🕸
__ADS_1
Malam ini aku makan sendiri dengan cepat. Rushqi sudah dua hari ini pulang lambat sebab banyak pekerjaan yang ingin diselesaikan lebih cepat. Meski merasa sedih, tapi selalu kuberikan dukungan yang tepat untuknya.
Sedih,, sebab telah kuputuskan jika besok pagi, aku akan terbang pulang sendiri ke Jawa. Rushqi tidak bisa menemaniku pulang bersama. Dia kata, pekerjaannya tidak boleh diselesaikan tertunda. Meski kecewa, kuterima saja keputusan terbaiknya.
Rushqi akan menyusulku setelah segala urusan kerjanya terselesaikan seluruhnya. Yang entah itu kapan, kira-kira pun Rushqi tidak tahu. Ah, rasanya agak rak jelas masa depanku ini. Kuharap Errushqi cepat menyusul dan jangan sampai mempermainkanku. Aku harus terus bersabar.
Pintu di lotengku mendapat ketukan pelan saat selesai segala barang bawaan kutata ke dalam koperku yang sedang. Rushqi melarangku membawa banyak barang. Sebab dia kata, aku harus ikut kembali ke sini setelah kami menikah di Jawa. Tengu saja aku pasrah saja apa yang dia inginkan. Tugasku hanyalah merayu pada kedua orang tuaku.
"Ada apa?" tanyaku pada Rushqi yang berdiri di balik pintu loteng. Kami baru saja berjawab salam saat pintu baru saja kubuka.
"Aku ingin bicara sebentar Lingga," kupahami maksud Rushqi. Kami sedang sama-sama mengurusi tanggungan serius dengan tujuan yang sama, yaitu pernikahan. Kami sangat dekat dan rapat sebab dalam beberapa hari ini terus membahas masalah pernikahan bersama.
"Kamu tidak marah, aku tidak bisa pulang bersama denganmu?" tanya Rushqi lembut dengan menatap hangat padaku. Kurasa dia sebenarnya sangat mengerti perasaanku yang galau.
"Kamu tidak berniat bohong?" tanyaku memastikan. Kecewa dan patah hati adalah traumaku. Tidak ingin terjadi lagi dalam tempo yang sangat berdekatan.
"Aku bukan lelaki yang akan ingkar janji padamu, Lingga. Kamu harus tenang dan percaya padaku," ucap Rushqi sambil sedikit maju lebih mendekat lagi padaku.
__ADS_1
"Iya," jawabku pasrah dan tak ingin mundur lagi. Jiwa dan ragaku merasa sangat suka mendekati Errushqi. Tapi, tentu harus kutahan diriku. Harus ada harga diriku sebagai wanita bermartarbat. Kutahan agar jangan sampai tubuh ini menubruk Errushqi.
"Apa sudah ada persiapan di kampung halamanmu?" tanya Rushqi dengan sangat dekat di wajahku. Kurasa mulai terengah jiwaku. Masih saja tidak ingin kujauhkan wajah, ini seperti dua medan magnet berlain kutub rasanya.
"Tidak ada persiapan besar apapun. Mamaku sedang hamil muda. Hanya papa yang sudah mulai mengurusi keperluan nikah kita," ucapku dengan hati yang berdebar tak karuan. Errushqi tersenyum kecil penuh arti.
"Kita sangat dimudahkan olehNya, Lingga, terutama diriku. Mungkin jika ibumu tidak hamil, kamu belum ada tanda punya adik, papamu tidak akan memberi restu padaku untuk mbawa kamu kembali ke sini," ucap Rushqi tersenyum. Ah, tampan sekali calon suamiku ini.
"Iya.. Selain itu, papaku memang bukan ayah yang kolot, dia juga cukup memiliki bekal agama yang baik," sahutku dengan membayangkan wajah papa dan mamaku. Rindu sekali dengan keduanya, tidak menyangka jika tiba-tiba besok kami akan bertemu.
"Aku percaya, Ling. Bahkan orang tuamu sudah haji di usia yang terbilang masih muda." Rushqi terus saja memandangku.
"Semoga kita juga bisa seperti mereka," ucapku sekaligus berharap.
"Aamiin, Lingga. Semoga segala urusan semakin dimudahkan," sahut Rushqi sambil menarik diri menjauh dariku. Kuhela nafasku sangat panjang. Entah kecewa, entah lega. Ah, konyol sekali aku ini..
"Tidurlah. Besok kuantar ke bandara Hang Nadim pukul tujuh?" tanya Rushqi. Akupun mengangguk dengan hampa dadaku. Rushqi memang berjanji akan mengantarku pulang, namun hanya sebatas bandara. Kurasa tidak masalah daripada tidak diantarnya sama sekali. Andai tidak,, itu sangatlah mengecewakan hatiku.
__ADS_1
🕸🕸