
Diam canggung yang sedang kutanggung, berakhir saat dari pagar gerbang nampak bermunculan para pekerja yang keluar dan pulang. Kuperjelas mataku untuk bisa menangkap sosok Keke dengan cepat.
Perempuan berkerudung dengan tinggi semampai nampak keluar dengan gelagat wajah mencari-cari. Dialah yang sedang kami tunggu, Keke. Kemudian berjalan cepat ke arah kami saat sadar adanya mobil Rushqi di sini.
Rushqi telah membuka auto lock pintu belakang dan juga pintuku. Bersiap menyambut Keke yang telah semakin dekat menghampiri.
"Ke,,!" seruku dari kaca jendela yang sudah kuturunkan.
"Liiing! Kenapa baru sekarang ikut mas Rushqi menjemputku?? Aku selalu minta agar kamu ikut menjemput,,!" seru Keke dari sampingku sebentar. Keke lalu mundur dan membuka pintu belakang. Keke masih seperti yang dulu, mengutamakan diriku. Haih, Rushqi, kamu tak pernah mengajakku. Kamu takut kuganggu???
"Ke, kenapa pulang jam segini? Masuk jam berapa tadi?" tanyaku pada Keke dengan memutar tubuh sedikit. Rasanya jadi tidak enak hati dan segan. Ah, kenapa tadi juga iya saja dengan perintah Rushqi. Harusnya ngotot saja untuk duduk di belakang.
"Iya, Ling. Biasa, akhir tahun, pendataan," sahut Keke tersenyum.
"Inventory?" tanyaku lagi.
"Iya, Ling. Sangat tidak kusuka kalo lagi inventory," sahut Keke nampak lelah.
"Iya, Ke. Memang bikin pusing. Apalagi kalo nggak sesuai antara data dan aktual. Belum lagi barangnya beda," timpalku memahami.
"Itulah, Ling. Terpaksa jalan ninja juga akhirnya," keluh Keke nampak pusing.
"Sama, Ke. Menipu data adalah ahliku," jawabku menimpali. Aku dan Keke saling memandang dan kemudian tertawa.
"Ehemm!" Dehem ini mengejutkanku.
Mulutku mengatup bersama pudar tawaku. Perlahan kutarik diriku dengan posisi duduk manis semula tanpa kupandang lagi waj9ah Keke. Kurutuki ucapanku barusan yang tanpa pikir jika di sebelahku adalah petinggi perusahaan tempatku bekerja.
"Kalian bertemu hanya untuk saling mengumbar aib kalian di tempat kerja?" tanya Rushqi datar tanpa menolehku.
__ADS_1
Oh, kupikir dia akan menyudutkanku, ternyata tidak. Rushqi terkesan tidak peduli dengan kecurangan kerjaku meski dia pun sambil mengejek. Manager kekanakan itu seperti makhlum dengan cara ninja yang sering kulakukan di perusahaan, dan juga yang Keke lakukan.
"Ke, kamu ingin bertemu denganku? Apa ada kabar penting?" tanyaku sambil membengkok badan lagi ke belakang. Berusaha menghempas canggung pada sang manager.
"Iya, Ling. Ada kabar duka. Akan ada audit asrama minggu ini." Keke berbicara serius dengan muka tak semangat.
"Kita harus kembali ke asrama?" tanyaku termangu. Ah, rasanya malas sekali. Sudah sangat nyaman tinggal di rumah induk kos. Dengan bapak kos tampan seperti Rushqi di sampingku ini.
"Berapa lama kamu harus tinggal lagi di Asrama, Ke?" tanya Rusqi tiba-tiba. Uh, dia hanya menanyakan pada Keke, aku tak ditanyanya. Memanglah,, apa juga pentingku..
"Nggak tau, mas. Nunggu sampai benar-benar pendataan dan sidak." Keke menjawab dengan jelas dari belakang.
"Apa tidak khawatir akan ada yang melaporkan kalian?" tanya Rushqi yang kembali menyadarkanku siapa dia bagiku.
"Apa kamu akan melaporkan aku?" tanyaku menyela dan menyelidik pada Rushqi. Meski kurasa tidak mungkin dia akan setega itu padaku.
"Untuk apa? Tidak ada manfaat bagiku. Itu urusanmu dengan HRD. Apa tidak aneh aku melaporkanmu?" sahut Rushqi dengn menolehku sekilas. Ada senyum mengejek padaku. Tapi memang sudah biasa dia bersikap seperti itu
"Kalian ini, terutama kamu, Lingga. Perusahaan itu sudah sanggup dan berjanji pada disnaker daerahmu untuk menjaga dan melindungi keberadaanmu di Batam. Agar resiko bahaya yang kemungkinan menimpamu di rantauan itu kecil. Tapi kamu justru mengambil kos di tempat lain.."
Rushqi berbicara dengan tenang. Yang dikatakannya memang benar. Tapi aku sudah sangat terdesak untuk keluar dari asrama waktu itu.
"Apa sanksi yang akan kamu dapat jika kamu ketahuan tidak tinggal di asrama?" tanya Rushqi dengan landai kali ini. Wajah tampan berhidung mancung itu lurus memandang jauh ke depan.
"HRD akan memberikan warning letter hingga tiga kali. Untuk warning satu dan dua, mungkin segala tunjanganku akan digulung. Untuk warning ke tiga, aku akan dipulangkan ke Jawa," sahutku menjelaskan padanya.
πΈ
Rushqi mendekati Keke untuk diajaknya jalan bersama. Kami akan makan malam di sebuah restoran yang tidak jauh dari perumahan cluster induk kosku.
__ADS_1
Rusqi telah berjalan di depanku bersama Keke. Mereka tidak berdekatan apalagi bergandengan. Tapi hal itu kembali membuat rasa sesak di dadaku dengan perasaan tidak nyaman.
Pemandangan kian mengganjal hati dan mataku saat Rushqi menarikkan kursi untuk Keke. Mereka nampak bahagia sebagai pasangan serasi dan sesuai.
"Kamu ingin makan apa malam ini, Ke?" tanya Rushqi dengan sangat lembutnya pada Keke. Ini seperti menusuk telinga dan hatiku.
"Seperti yang kemarin saja, mas. Sama denganmu saja," sahut Keke sambil tersenyum memandangku.
"Lingga, kamu ingin makan apa? Nasi goreng?" tanya Keke dengan ekspresi menunggu jawabku.
"Tidak, Ke. Aku ingin menu yang sama dengan punya kalian saja. Tidak apa-apa, kan?" tanyaku agak canggung. Aku tidak ingin merasa kian tersisih dari mereka jika memilih menu yang berbeda. Nelangsa sangat diri ini kurasa..
"Ih, Lingga! Ya tidak masalah jika kita samaan..!" balas Keke sambil menjeling geram padaku. Aku tersenyum, namun hambar rasanya.
Wajah Keke yang lelah itu terlihat cantik saat meluah geram padaku. Dia memang cantik, pantas juga jika Rush pun dengan mudah berpaling niat dariku. Sama juga dengan Keke, gadis itu terlihat jelas bahwa sang calon suami telah sukses mengambil hatinya. Rushqi tidak main-main berbicara.
Menu seragam yang dipesan Rushqi adalah tumis cacah buncis dan empal panggang berlumur sambal merah menyala, serta acar timun dan irisan bawang bombay. Ini memang nampak lezat, tapi mengingat jika ini menu kesukaan mereka, rasanya jadi kurang berselera.
Geram sekali rasanya dengan lelaki di sebelah Keke itu. Sebab dia, hati ini suka sekali tiba-tiba merasa dengki. Sadar jika ini sangatlah tidak terpuji, tapi rasa hatiku sangat egois tidak terkendali.
"Susah tidak, Ke?" Terdengar Rushqi bertanya perhatian. Keke nampak susah mengiris empal lebarnya yang tebal.
"Mas Rushqi mau motongin? Nih,,nih,, potongin..."
Keke menyahut manja sambil agak menggeser piring ke Rushqi. Ah, lebay sekali, padahal ini sangat empuk. Pisaunya pun bahkan sangat tajam dan pintar.
Duh, mulai mendengki lagi hati ini. Padahal wajar juga jika Keke bermanja pada Rushqi. Sedang Rushqi juga sangat perhatian pada Keke. Mereka adalah calon pasutri yang direstui oleh masing-masing keluarga. Tidak aneh jika mereka bersikap saling manja.
πΈπΈπΈ
__ADS_1
Selamat Hari Raya dan selamat berlebaran, untuk yang bersyawal hari ini...
Untuk yang besok,,, selamat juga... Author pun besok...π