Noodle In Love

Noodle In Love
21. Saling Tidak Suka


__ADS_3

Tin..!! Tin..!!


Kurasa heran saat melihat supervisor kekanakan itu belum meluncur pergi. Namun, menyandar di depan gerbang perusahaan dan kini sedang memekaki telingaku di balik kerudung ini. Apa dia ingin tebar kebaikan saat pulang padaku? Tumben sekali jika seperti itu..


"Cepat, Ling. Keburu hujan!" teriak Rush dengan menyembulkan wajah di jendela.


"Terimakasih, mas! Bis bentar lagi datang. Duluan saja!" Kusambut kebaikannya dengan penolakan sopanku.


Tin!! Tin!!!


Rush tidak terus pergi seperti yang sudah biasanya. Justru kembali membisingi gerbang perusahaan yang juga banyak berlalu lalang orang dan kendaraan. Aku jadi sibuk melempar senyuman kepada beberapa pegawai yang saling kenal dan sedang heran memandangiku.


Tin!! Tin!!


Bunyi ini semakin merongrong kukuhku. Kian banyak pegawai yang bermunculan dari arah dalam perusahaan. Lelaki itu benar-benar bar-bar tak peduli perasaanku. Kenapa bis mini penjemput tidak kunjung muncul datang?


Blak!!!


Kututup keras pintu mobil setelah kumasuk dan duduk di depan, sebelahnya. Bukan disambut senyuman hangat padaku. Namun, Rush sedang memandangiku dengan sorot mata kesal dan tegang.


"Lama sekali," gerutu Rush tiba-tiba. Kurasa himpitan panas di dadaku.


"Jika tidak ikhlas, kenapa memaksaku??!" tanyaku sengit dengan perasaan tak kalah kesal darinya.


"Apa kamu tidak membaca notif dari nomor bismu?" tanya Rushqi dengan tidak ramah sedikit pun.


Segera kusambar ponselku dari dalam tas dan kunyalakan powernya. Beberapa pesan masuk beruntun di aplikasi pesan wa. Salah satunya dari nomor bis mini penjemput yang mengabarkan mogok rusaknya di daerah Tanjung Piayu. Oh, jadi begitu...


"Terimakasih ya, mas. Kamu ada baik-baiknya padaku," sambutku jujur pada Rush.


Lelaki itu tengah fokus meluncur dengan kecepatan sedang membelah lajur kiri jalan raya. Wajah tampannya lurus ke depan dan tidak sedikit pun menolehku. Apalagi menyahut ucapan tulusku barusan.

__ADS_1


Geram sekali rasanya. Sebentar kusesali ucapan dari apresiasi terimakasihku padanya. Berubah rutukan dan rasa kecewa akan sikap acuhnya yang terus saja tanpa obat.


"Akan banyak tamu sebagai rekan ayah dan ibu kosmu yang datang ke rumah. Jaga baik-baik sikapmu, jangan berfikir untuk mencari tambahan pacar lagi malam ini." Kutoleh Rush yang sedang berbicara racun padaku, wajahnya memandang lurus ke depan seperti tidak habis bersuara sebelumnya.


Ya Allah sabarkan diriku.. Tajam mulutnya telah kembali menyayatku tak terduga. Balasan apa lagi yang bisa kucerca untuk lelaki setega Rushqi? Otakku kembali bekerja cepat demi melempar maki rutuk untuknya.


"Kenapa? Apa masalahnya sampai kamu keberatan? Apa diam-diam kamu menyukaiku?"


Kutoleh lelaki itu sambil kutunggu saat dia juga menoleh untuk melihat jelas wajahku yang marah. Berharap perasaannya pun tertampar dengan ucapanku yang tentu saja tidak mungkin. Kusengaja agar dia merasa sangat kesal dan tidak terima seperti yang sedang kurasakan.


"Anggap saja seperti itu. Jadi sedikit seganlah padaku,,!"


Kucibirkan bibir ini untuk menutup rasa terkejutku di dada. Dia berbicara memang sambil sebentar menolehku. Tapi ekspresinya tidak murka. Wajahnya justru kian tampan dengan senyum yang cukup lebar padaku.


"Untuk apa harus segan denganmu. Kamu pun tidak pernah menjaga perasaanku. Bicaramu selalu sinis dan kurang sopan padaku," sahutku jujur pada perangainya selama ini.


Dengan terus berusaha kuredam degub di dada. Entah, dadaku akan resah dan berdegub lebih laju jika semakin lama berbicara dengannya. Rasanya kikuk tidak tenang. Tentu saja dia tak kan tahu perasaan resahku ini.


"Apa salahku, hingga kamu selalu berkata sinis dan sering menyindirku?" tanyaku membalikkan persoalannya yang membuatku segan menjawab.


"Asal kamu tahu Lingga, aku tidak pernah bermaksud menyindir. Sebab aku suka berkata fakta dan sesuai yang ada di depan mata dan kepalaku,"


"Sebenarnya, aku sangat kesal dengan warning lettermu. Tapi itu dulu, sekarang sudah biasa meski rasanya bosan sekali dengan remindermu," terang Rushqi sambil sesekali menolehku.


Benar yang kurasa, dia mencampuradukkan antara urusan kerja dengan kehidupan nyata di luar kerja. Apa mungkin kelakuan QC memang sangatlah menyebalkan. Tapi, harusnya dipahami dan juga dimakhlumi jika itu hanyalah tuntutan. Bukan kemudian dendam dan memusuhiku di manapun dengan tidak peduli di segala situasi.


"Kamu bosan dengan reminderku atau bosan denganku?" tanyaku sambil menahan nafas di dada.


"Kedua-duanya," ucap Rush sangat cepat dan kembali mengejutkan hatiku.


"Apa salahku???" tanyaku cepat seperti tidak terima.

__ADS_1


"Aku tidak ada alasan,," jawab Rushqi juga cepat tanpa menolehku.


Ah, Rushqi, apa sebenarnya salahku. Kupandangi wajah Rushqi dari samping dengan perasaan sakit dan sedih. Dia tidak ada alasan, tapi tidak menyukai kehadiranku.


Rasa kecewaku kian bertambah. Sakit hati ini semakin menebal. Mataku terasa muak melihat wajahnya. Aku merasa benci mendadak padanya. Seperti ingin melompat keluar saja kurasa. Tapi tentu akan merugikanku dan Rushqi justru akan tertawa senang jika diriku terluka.


"Lalu, kenapa kamu peduli dengan membawaku pulang bersama? Bahkan, tiap pagi kamu juga berniat memberiku tumpangan pergi kerja. Kenapaa??!" tanyaku dengan tidak bisa lagi menahan marah dan kecewa. Meski sadar jika suka atau tidak adalah hak Rushqi yang tidak bisa dipaksa.


"Ingin berbuat baik saja denganmu," jawab Rush dengan menolehku sekilas.


"Mulai besok jangan pernah melakukan itu lagi padaku. Jangan pernah bersikap sok baik lagi kapanpun dan di manapun. Sejak saat ini, aku pun telah merasa membencimu, aku juga bosan padamu, Rushqi. Aku sangat membencimu," ujarku dengan nada ketus dan dingin pada Rushqi.


Wajah ini memandang lurus ke jalanan dan tidak sudi lagi melihatnya. Merasa sangat sakit jika menatap wajah Rush yang tanpa alasan berkata telah bosan denganku.


"Velingga,," panggilnya kemudian setelah hening menyergap.


Aku diam membisu, memalingkan wajah ke jendela di samping. Bersamaan dengan mobil yang tengah membelok dan memasuki gerbang pagar rumah kostku. Rushqi terdiam tidak lagi memanggilku.


Suasana masih sepi sebab acara itu dimulai cukup lambat setelah waktu isya. Yaitu malam pukul delapan hingga selesai pada waktunya. Masih ada waktuku untuk bersiap diri dan berdandan.


Bermasalah dengan anak lelakinya, namun tetap berhubungan baik dengan orang tuanya. Kurasa ini adalah sikap terbaik yang masih bisa kupertahankan saat ini.


🕸


Wujudku sedikit berubah dengan balutan gamis batik yang membuatku merasa kian percaya diri bak seorang dewi malam. Sengaja kudandan maksimal dengan segala daya ketrampilan berhiasku. Membuat cermin di kamarku berkata benar bahwa aku sedang sangat cantik saat ini.


Sempat kuragu untuk memakai baju batik baru yang konon sama corak dengan Rushqi. Namun berfikir jika lelaki itu bisa jadi mengenakan baju barunya, baju yang sama denganku, mendadak semangat menghampiri. Berharap lelaki itu akan malu dan semakin kesal kepadaku.


Juga ingat pada pesan sang induk kost saat kutemui sebentar di teras tadi bersama putra bungsu mereka. Memintaku berdandan sempurna demi menerima tamu di depan bersama mereka. Juga telah ada Denis yang ikut menyambut pulangku dengan senyum hangat yang senantiasa terbit di bibirnya.


🕸🕸

__ADS_1


Vote here, please...


__ADS_2