Noodle In Love

Noodle In Love
36. Dua Kali Tolak


__ADS_3

Punggungku telah lekat rapat di pagar loteng. Sudah habis terkikis jarak di belakangku. Sah bahwa satu atau dua mili saja jarak antara aku dan Rushqi. Pasrah bahwa lelaki ini tidak akan memajukan diri sedikit pun lagi padaku.


Tak kutahu apa yang kurasa andai Rushqi merapat padaku. Sedang begini saja, dada ini seperti penuk sesak oleh jerami padi rasanya. Gerah!


"Lingga, apa kamu mendengarku? Kamu paham? Kenapa diam?" tanya Rushqi nampak gusar dengan memandangku sangat dekat. Kami saling pandang sejenak dalam diam.


"Mas, terimakasih ya, kamu sangat percaya padaku. Kamu telah lebih dari sekali membuatku merasa sangat dihargai, mungkin juga merasa bahwa aku sangat berarti bagimu. Tapi maafkan aku, terpaksa tidak bisa menerima tawaranmu. Keke lebih berhak dan lebih membutuhkanmu. Menikahlah dengannya, bawalah Keke kembali ke jalan yang fitrah. Dia akan berubah jika denganmu."


Wajah teduh dan tampan itu telah berubah meredup. Memandangku tak berkedip dengan tatapan yang sangat kecewa. Bukan aku tak peduli, sangat kupahami perasaannya.


Tapi, perasaanku sendiri masih saja begini. Belum terlalu menggebu dan berhasrat. Mungkin hanya perlu hitungan hari saja untuk mengikhlaskan antara Rushqi dengan Keke. Sebentar saja, kuyakin jika nama dan bayang Rushqi tidak akan berasa apapun lagi di hatiku. Dia akan kembali sebagai anak lelaki induk kos saja bagiku.


"Lingga, kenapa kamu selalu seperti ini? Kamu selalu buru-buru menolakku. Kamu tak ingin memikirkannya dulu? Kenapa harus aku yang menanggung kesalahan Keke? Lingga, kenapa kamu begitu setia pada Putra?" tanya Rushqi dengan ekspresi lelah dan putus asa. Kurasa sedih sekali hatiku. Sebenarnya tidak tega melihat Rushqi nampak lemah seperti itu.

__ADS_1


"Maafkan aku, mas Rushqi," ucapku dengan terus mematung. Rushqi masih begitu kuat memegangi pagar loteng di belakangku dengan kedua telapak tangannya. Jarak antara kami pun juga belum bertambah lebarnya.


"Lingga, apa kamu tidak apa-apa jika melihatku sangat dekat dengan Keke. Membuat Keke menyukaiku itu sangatlah mudah kulakukan. Tapi, apa kamu tidak menyesal menolakku?" tanya Rushqi dengan nada Kaku dan wajah yang juga tak kalah tegangnya. Lelaki itu sedang sungguh-sungguh dengan ucapannya.


"Mas, coba kamu pikirkan. Misal aku adalah perempuanmu, bagaimana perasaanmu andai Putra berkata terang-terangan padaku bahwa Putra ingin menikahiku? Siapa yang paling berhak merasa marah dan kecewa? Kamu atau Putra? Mas Rushqi bayangkan."


Rushqi tidak bersuara. Hanya menjatuhkan diri perlahan ke lantai teras loteng kamarku. Rushqi duduk menyimpuh di depan kakiku dengan duduk bertekuk wajah ke bawah. Sedih sekali kurasa melihatnya.


Terpaksa kukata begini agar Rushqi tidak merasa ragu untuk tidak lagi membujukku. Agar merasa ikhlas untuk melanjutkan rencana nikahannya dengan Keke. Meski ada kesempatan satu bulan untuk Rushqi dan Keke memikirkannya ulang, tapi aku tidak tega membayangkan Keke akan kecewa berat dengan pengkhianatan yang kulakukan.


Sungguh, rasanya takut sekali. Tanpa punya keluarga satupun di rantau, membuatku tipis nyali. Lebih baik mencari selamat, meski dengan goresan hati yang kualami kedua kali.


"Maafkan aku, Ling. Sepertinya aku ini memang egois. Aku lupa, aku sering tidak menyadari jika ada Putra di sisimu. Hatimu pasti sudah penuh dengan lelaki bernama Putra itu. Aku memang lelaki tak tahu diri. Maafkan aku, Ling."

__ADS_1


Rushqi berbicara sambil terus menunduk dalam duduk simpuhnya. Rasanya juga iba, tapi bagaimanapun dia lelaki. Jika saja Putra memang masih calonku, sikap Rushqi yang ingin menikahiku memang egois. Meski janur kuningku belum dilengkung sekalipun.


"Mas, apa berbincangan ini sudah cukup? Bagaimana kalo kita kembali ke kamar masing-masing?" tanyaku hati-hati. Angin begitu kencang berhembus. Malam pasti sudah sangat larut saat ini. Entah sudah pukul berapa, sedang ponsel kutinggal di kamar.


Rushqi sedang mengangkat wajah dan mendongakku beberapa saat. Lalu berdiri dengan cepat , kami sudah berdiri saling berhadapan kembali. Wajah yang barusan nampak mengeras, kini telah cerah kembali dan ada senyum tipis di sana. Lelaki itu sedang menebar pesona tanpa disengajanya. Ah, aku tidak suka!


"Lingga, bagaimana kalo kita tidak kembali ke kamar masing-masing?" tanya Rush tersenyum mencurigakan.


"Maksudmu??" tanyaku dengan samar telah menebak maksud ucapannya.


"Apa ada kamar yang tidak masing-masing? Maksudku, kamar bersama,,," ucap Rushqi yang kemudian tersenyum lebar padaku.


"Mass! Kamu sableng ya.. Ngeress!" umpatku sambil kulewati Rushqi menuju pintu kamarku dengan cepat. Meski aku paham jika itu sekedar candaan dari Rushqi padaku. Lelaki itu nampaknya berusaha menghibur dirinya sendiri denganku.

__ADS_1


"Tidur yang nyeyak ya, Ling! Lupakan kejadian barusan!" Rushqi sempat berseru dengan suara yang ditahan. Aku pun juga resah jika ada orang yang mendengar keseruan kami saat malam.


🕸🕸🕸


__ADS_2