
Kerjaku seharian ini sangatlah tidak fokus. Terus berjalan dengan mengisi data tanpa kulihat lagi aktual di lapangan. Hanya berpatok pada produk yang jalan serta spesifikasinya saja yang harus kutahu. Bahkan menimbang satu biji noodle cake pun tidak kulakukan.
Kuharap orang-orang yang berperan penting dalam peluncuran segala jenis prodak hari ini bekerja sangat baik dan tidak melakukakan kesalahan apapun. Lembaran warning letter yang masih terselip di papan dada yang kubawa ke mana-mana tidak juga kugunakan.
Tidak peduli dengan panggilan dan segala hardik miss Yong jika tanpa selembar reminder pun yang kubuat. Rasanya sangat tanpa semangat tiba-tiba dan hanya ingin pulang ke Jawa saja secepatnya.
Sebab apa yang utama, aku pun tidak pasti. Entah sebab perkataan Rushqi yang menyarankan resign, atau rasa kesalku pada miss Yong yang sempat menipuku saat kuminta resign beberapa bulan lalu. Yang jelas, keinginan pulang dan tidak lagi mengabdi di perusahaan sangatlah bergejolak.
Makan siangku terlambat. Sebab tidak fokus, meski sekedar tembak prodak di tempat, lama juga selesainya.
Kantin mulai sepi saat aku datang dan kini benar-benar lengang. Hanya nampak beberapa staff saja di ujung pojok yang duduk sangat jauh dariku.
Nasi berlauk tongseng kambing ini terasa kian susah kutelan melewati tenggorokan. Meski lama tetap saja kumakan dan berusaha kuhabiskan. Hanya satu dua kali kuteguk air tanpa bantuan banyak minum yang berterusan.
"Velinggaaa,,," sapaan lelaki dari belakangku cukup mengejutkan. Ternyata Denis telah menyeret kursi dan duduk manis di sampingku.
"Bang Deniiiss.. Apa kabar?!" pekik sukaku tak bisa kututupi. Sudah hampir dua minggu tidak kulihat lelaki baik ini.
"Sendiri?" tanya Denis dengan sedikit berkerut dahi padaku. Aku mengangguk.
"Aku yang lambat keluar, bang Denis."
"Kenapa lama tidak nampak, kemana bang?" tanyaku terus terang. Denis tersenyum senang di wajahnya.
__ADS_1
"Aku suka kamu tanyain, Ling. Biasa, Ling, nurutin kemauan atasan. Ngikut Mr. Sung ke Singapore, sekalian study banding. Harusnya si Rushqi tuh yang follow, eh justru aku yang disuruh gantiin," gerutu Denis. Namun wajahnya nampak saja cerah dan tidak sedang marah. Adem saja rasanya melihat wajah Denis, meski keyakinan dia tidak sama dengan agamaku.
"Kok bisa, bang?" tanyaku ingin tahu. Masih kusimak wajah putihnya.
"Apapun kehendak atasan, Ling. Makhlum, si Rushqi atasan baru yang suka semena-mena. Tapi Mr. Sung juga oke oke saja. Ya sudah, pergiii,," jelas Denis sambil mulai makan miliknya. Kupaham jika ucapannya tentang Rush sekedar jenaka, mereka berdua sangat akrab.
"Ada oleh-oleh dari negeri Singa untuk aku, nggak?" tanyaku tanpa malu pada Denis. Dia adalah jenis lelaki baik, namun tidak membuatku jadi segan.
"Ada, coklat Singapore. Nanti kuantar ke rumah kos kamu, Ling," sahut Denis menjelaskan.
"Bener? Pukul berapa?" tanyaku senang yang disambut anggukan oleh Denis.
"Pukul delapan," sahut Denis meyakinkan.
"Iya, Velinggaaaaa," sahut Denis panjang.
Kami berpandangan dan sama-sama saling melempar senyuman. Kulit Denis kurasa jadi lebih kemerah-merahan, mungkin efek cuaca di Singapura. Sangat berdampak untuk kulit cerah seperti kulit putih punya Denis.
🕸
Makan malam ini terasa dingin kurasakan. Bukan dingin hawanya, namun suasananya. Rushqi nampak diam dan hampir tidak pernah memandangku. Jadi merasa bingung dan bertanya-tanya kemungkinan salahku. Juga berharap teguran andai ada silap yang tidak kusengaja kulakukan.
"Pak Rush, bang Denis akan datang," kataku sekaligus upaya menghangatkan suhu di meja makan. Rushqi memandangku sejenak.
__ADS_1
"Untuk apa?" tanyanya kemudian. Wajah tampannya kembali dibawa ke piring.
"Mengantar coklat. Oleh-oleh dari Singapore untuk aku." Kujelaskan sambil kupandang lekat wajahnya. Tidak ada sambutan. Rushqi nampak abai dan kembali makan dengan diam.
"Lingga," Rushqi menyebut namaku tiba-tiba.
Kutoleh dan kupandang wajahnya. Kutunggu apa yang akan dikatakan Rushqi padaku. Kenapa bibir seksi itu tiba-tiba memanggilku.
"Usiaku dan Denis hampir sama, jalan ke dua puluh delapan. Tapi, apa aku nampak sangat tua?" tanya Rushqi dengan pandangan yang sangat lekat padaku.
"Tidak, tidak nampak tua. Kalian berdua sama-sama nampak tampan dan muda. Sesuai dengan umur kalian yang nanggung. Usia muda tidak lagi, tapi usia tua juga belum lagi."
Kuungkap pendapatku pada Rushqi dengan jujur. Rushqi yang masih lekat memandangku tiba-tiba tersenyum.
"Tapi kamu panggil Denis, bang. Kenapa kamu panggil aku, pak?" tanya Rushqi seolah sedang menyalahkanku. Oh, rupanya lelaki kekanakan ini sedang tidak puas hati dengan sebutan pak dariku.
"Apa kamu juga memprotes setiap bawahanmu? Bang Nurlahi, tiga puluh tahun, memanggilmu, pak. Apa juga keberatan dan kamu larang? Aku ini menyebut kamu pak, sebab menghormati dan menghargaimu,,," jelasku gamblang pada Rushqi agar terbuka lebar mata hatinya.
Alis hitam yang lebat dan lurus itu sedang diangkat lebih tinggi. Ada senyum-senyum di bibirnya. Sambil menarik kecil rambut pendek lurusnya itu satu kali. Rushqi seperti sedang menyembunyikan perasaannya.
Yang menurutku, perasaan lelaki kekanakan itu sedang mengembang dan sedang teruja sekarang. Kusembunyikan senyum geliku pada sendok dan isi piringku di meja. Tidak ingin kepergok olehnya jika akupun sedang salah tingkah sendiri dengan ungkapan opiniku yang membuatnya nampak suka.
🕸🕸
__ADS_1