Noodle In Love

Noodle In Love
26. Ke Nagoya


__ADS_3

Masih ibarat baru bermimpi dengan rasa melayang jiwa raga, sebab tanpa tanda hilalnya, Rushqi berkata ingin menikahiku tiba-tiba. Dengan tetap heran tak percaya, meski sudah juga kutolak buru-buru, serasa halu saja jika Rushqi menginginkan diriku sebagai istri, sekaligus menemaninya dalam hidup.


Dengan canggung, kumenuju dapur dan mendekati ruang makan. Ada bu haji dan pak haji yang duduk di tempatnya semula kala dulu. Jarak satu kursi di samping kananku dengan saling berhadapan.


Rushqi tetap di tempatnya dengan menghadap tepat padaku. Posisi yang tidak berubah, dan seperti inilah sehari-hari.


"Selamat pagi, pak, bu.." Aku menarik kursi setelah bersalam sapa pada sepasang induk kostku di sebelah.


"Pagi, Ling. Ayo sarapan dulu. Ambil makan pagimu kenyang- kenyang, Ling," sambut bu haji Fatimah yang hangat. Bawaan sifatnya jauh beda dengan si Rush.


"Terimakasih, bu,," sambutku sambil tersenyum cerah pagi ini.


Kupandang Rushqi yang tidak terpengaruh datangku sama sekali, sibuk mengaduk cangkir berisi teh dengan gula yang pasti belum diaduk. Bu Yanti sering lupa melakukannya, entah itu teh manis atau juga kopi manis.


"Pa, ma, jika kalian ingin mengenalkan aku dengan calon kalian malam nanti, kenalkan saja secepatnya padaku."


Ucapan Rushqi yang tiba-tiba terdengar, membuatku mendongak cepat memandangnya. Mata dengan iris tajam itu juga sedang menatapku.


"Kamu sudah nyerah, Rush?" tanya pak haji dengan menoleh pada anak bungsunya.


"Bukan nyerah, pa. Tapi aku tak ada napsu nyari sendiri. Pasrah pada kalian sajalah, pa," keluh Rushqi sambil menghempas punggung di sandaran kursinya.


"Coba, Lingga belum punya calon suami. Siapa tahu kalian ini jodoh. Ternyata Lingga ada calon,,," keluh pak haji Harjo memandangku. Hanya senyum tanpa rasa yang kubalaskan pada pak haji di seberang.


Kurasa mereka tidak tahu menahu dengan niatan Rushqi yang langsung bicara pernikahan padaku subuh tadi. Sepasang haji ini pasti akan melarang sang anak berbuat nekat andai tahu niatan Rush yang memintaku agar memutus Putra demi untuk dinikahinya.


Heh,,Rushqi, kamu itu egois sekali. Sah, kamu memang kekanakan. Mementingkan kemauanmu sendiri di atas keinginan orang lain. Terlepas dari aku dan Putra yang sudah tidak ada hubungan tali kasih apapun.


"Iya, Lingga. Jujur saja, kami pengen si Rush nikahi kamu saja sebenarnya, suka jika punya menantu kayak kamu. Sampai ayahnya ini nelpon-nelpon Rushqi, maksa buat nganter kamu pergi dan pulang kerja. Biar kenal dekat. Ternyata kalian satu perusahaan. Eh, Lingga, apa Rushqi benar-benar melakukannya?" tanya bu haji Fatimah sambil tersenyum hangat padaku.


"Eh, iya, bu. Mas Rushqi selalu menawariku berangkat kerja bersama."


Aku mengiyakan apa adanya, meski tak sekalipun kusambut tawaran itu. Kecuali semalam sebab bis penjemput sedang mogok. Pantas sekali Rush tidak bosan menguntiku saat akan pergi kerja, rupanya diprovokasi oleh orang tuanya yang sangat perhatian. Huh, kupikir kemauan si Rush sendiri. Ternyata...


"Lingga, bagaimana jika sepulang kerja, kamu ikut kami ke Nagoya? Sekalian biar kenal sama gadis yang akan berkenalan dengan Rushqi. Nanti kamu kasihlah pendapat. Mau ya, Lingga??" Bu haji Fatimah berkata lembut mendayu merayuku.


"Tapi saya kemungkinan tidak bisa ikut, bu.." Aku ingin menolaknya dengan halus.


"Lha kenapa, Ling? Apa calonmu akan marah?" tanya bu haji menyimakku.


"Bukan itu, bu. Tapi sepulang kerja, biasanya saya akan mengantuk dan lelah. Rasanya ingin tidur saja, bu," sahutku menjelaskan.

__ADS_1


"Nanti kamu berangkat saja dengan Rushqi. Kami sudah tua, jadi kami akan ke nagoya selepas sarapan pagi ini dengan taksi. Jika kamu ikut, kamu kan bisa tidur di perjalanan, Ling," Bu haji sangat penuh harap pada ikut sertaku. Ah, luluh ibalah hatiku.


"Baiklah, bu. InsyaAllah, saya usahakan untuk ikut," jawabku menyanggupi. Meski rasanya tak habis pikir, kenapa aku harus terlibat dalam urusan keluarga mereka. Tapi kenapa juga kurasa segan untuk menolak tawaran mereka ini. Ah, entahlah..


"Lingga, apa di area kerja kalian, Rushqi ini adalah manager yang bengis?" tanya bu haji padaku. Tangannya sambil mengupas sebiji buah pisang.


Apa bu haji bilang tadi,, Rushqi adalah manager perusahaan?


"Maksud ibu, mas Rushqi bekerja sebagai apa?" tanyaku pada bu haji.


"Bukankah dia jadi manager, Ling?" tanya bu haji nampak ragu. Aku pun kebingungam kali ini.


"Ehem!"


"Enam bulan lagi, ma. Jika masa magangku enam bulan bagus dan lancar, maka akan benar-benar diangkat sebagai asisten manager. Nggak langsung jadi manager pula, ma. Nanti, kalau managernya sudah pensiun ke Singapore," ujar Rushqi setelah meneguk teh dalam cangkir.


Sebentar termangu kepalaku. Ternyata, mentereng juga posisi lelaki kekanakan itu.


"Lha sekarang kamu jadi apa, Rush?" tanya pak haji Harjo pada si bungsu.


"Supervisor, pa," jawab Rushqi nampak tak semangat. Dadaku mendadak berdetak lebih laju saat Rushqi memandangku. Apa dia akan bercerita tentang segala warningku?


"Supervisor? Kamu tinggalkan kursi manager batu baramu demi jadi supervisor di pabrik mie instant?" Pak haji Harjo nampak sangat terkejut, namun masih berbicara landai pada Rushqi.


"Eh, iya ma. Lupa aku. Kamu, Rushqi, semangatlah kamu. Lanjut saja perjuanganmu untuk mencapai lagi posisimu. Ingat jabatan hanyalah pelena manusia di dunia," ucap pak haji yang berubah penuh pesan pada si Rush.


Rushqi membungkam dengan menyandar punggung lagi di kursi. Tidak juga menyahut petuah mulia ayahnya. Hanya memandang kosong cangkir teh di meja. Sambil sesekali menyapu pandang padaku.


🕸


Perjalanan yang dikata tidak akan melebihi satu jam, dimulai setelah aku dan Rush selesai mandi dan makan. Meski sempat ragu dengan kepentinganku di acara pribadi keluarganya, berakhir duduk meluncur juga diriku. Dibawa Rushqi selaku sopir, melaju kencang membelah jalan raya.


Rushqi melewati pos jaga di perumahan dan melambaikan tangan pada pak security yang sedang mengangguk padanya. Security yang juga kukenal, namun dia tidak melihat adanya aku di dalam.


"Jika mengantuk, kamu tidur saja, Ling," ujar Rushqi tiba-tiba padaku. Kupikir dia sakit gigi hingga tak bisa bicara. Yang sempat kusesali ikut sertaku bersamanya.


"Iya, mas. Misal aku ketiduran, harap makhlum ya," sambutku akan tawaran baik Rush barusan. Merasa lega jika akhirnya Rush mengajakku berbicara.


"Aku tak menyangka kamu bersedia ikut. Thanks ya, Ling," ucap Rush dengan menolehku. Aku tertegun sejenak, Rush hampir tidak pernah bicara selandai begini sebelumnya.


"Sama-sama, mas. Sebab besok hari minggu. Lagian aku tidak pernah pergi santai ke Nagoya. Kerjaku selama satu semester terus saja repot seperti ini. Jadi aku belum sempat pergi gembira ke Nagoya," terangku pada Rush akan semangatku.

__ADS_1


"Benar kamu gembira? Apa calon suami kamu tidak pernah membawamu ke Nagoya?" tanya Rush tiba-tiba. Ini sungguh menciutkan melebarnya bibirku.


"Dia tingggal di appartement Panbill mall. Hanya orang tuanya saja yang tinggal di Nagoya city." terangku


Rush tidak lagi bertanya. Kami kembali ke mode saling bungkam dan diam. Perjalanan ini kurasa sangatlah menyenangkan. Apalagi besok hari libur dan aku tidak ada kerja lembur. Seluruh production off, tidak ada satu pun yang beroperasi.


Kecuali back end area yang harus total cuci mesin minggu ini. Sebab shut down di back end inilah semua production libur total besok Minggu.


"Malam ini kita nggak ke Masjid," gumam Rushqi dengan pelan. Tapi kudengar jelas ucapan lirihnya.


"Pengen bakso,,," timpalku juga lirih. Kurasa Rushqi pun sedang Menolehku. Mungkin kami sedang sama-sama ingat pada saat makan bakso bersama malam itu.


"Kamu sudah lapar?" tanya Rushqi menoleh lagi padaku.


"Hanya pengen, bukan lapar," jawabku dengan pandangan lurus ke depan.


"Di tempat makan ibu kosmu juga ada bakso. Makan saja di sana nanti. Tapi jika kamu ingin sekarang, kubawa juga ke warung bakso yang rasanya sangat enak."


Rushqi berkata dengan lembut dan hangat, tidak sekaku sinis seperti biasanya. Entah jin baik apa yang sedang merasuki Rush saat ini. Sepertinya telah mulai bertobat. Mungkin ingin belajar bersikap baik padaku demi melatih diri berlaku manis untuk calon istrinya.


"Bagaimana, Ling?" Rushqi mengulangi tawarannya. Cepat kugeleng wajahku.


"Tidak, mas. Jangan repotkan dirimu," ucapku merasa tidak enak hati.


"Ling, bagaimana jika malam ini menginap di Nagoya? Apa calon suami kamu akan marah?" Pertanyaan Rush mengejutkanku.


"Kita tidak pulang malam ini?" tanyaku dengan cepat.


"Iya, Ling. Kamu keberatan?" tanya Rush nampak canggung.


"Aku ingin langsung pulang saja. Tidak enak menginap di rumah orang," sahutku cepat menjelaskan keberatanku.


"Ha,,ha,,,ha.." Tapi tiba-tiba Rushqi justru tertawa.


"Apa bedanya menginap di rumah Muka Kuning sama rumah di Nagoya, Ling? Keduanya kan sama-sama rumah ibu kost kamu?" Rushqi masih sambil tertawa menanyaiku. Sebenarnya iya juga ya..


"Tapi di sana, aku tidak memiliki kamar pribadi yang sudah kusewa. Rasanya tidak nyaman," sahutku menyanggah rasionya.


"Kamu kan belum tahu tempatnya. Jika kamu nanti lihat, kamu pasti suka. Rasa seganmu itu akan hilang," terang Rushqi yang terkesan memaksaku.


Aku pun diam. Merasa bingung sendiri. Lebih baik akur saja, mencoba selalu berbaik sangka dengan Rush. Lelaki yang entah baik entah tidak, yang jelas keluarganya orang baik. Jika nanti tidak nyaman dan tetap dipaksa menginap, akan kucari taksi sendiri. Yang siap kapan pun untuk mengantarku pulang pergi.

__ADS_1


🕸🕸🕸🕸


__ADS_2