
Hal terbalik yang justru seringkali terjadi. Sangat dihindari namun tak sengaja dijumpai. Begitu juga yang terjadi pagi ini.
Aku yang berangkat sangat pagi dan berharap tidak bertemu Rush di manapun, justru berhadangan di halaman depan pintu gerbang. Rush bersama kendaraannya sedang aku dengan sepatu kerja.
Tidak ada tegur sapa di antara Rush dan aku. Sebab kulewatinya tanpa menoleh dengan sangat buru-buru. Dan Rush benar-benar berhenti demi menungguku berlalu.
Kaki ini kuayun sangat cepat menuju halte bus yang berada di luar komplek perumahan. Meski jarak antara perumahan tidaklah jauh sangat, tapi juga tidak mungkin berjalan santai tiap saat.
Jarak perumahan terdekat yang sudah kupilih ini adalah yang terdekat dengan perusahaan. Jarak letaknya memang nanggung sekali. Sekitar satu lebih sedikit kilometer jauhnya. Itu jika dibuat jalan kaki adalah jauh,,, tapi jika naik bus, untuk duduk pun tidak sempat. Ah, memanglah nanggung,,, tapi mau pindah juga nanggung,, sudah cash bon enam bulan.. Nanggung…
Tin!! Tin!! Terkejutnya…!
Klakson dua kali terdengar di belakangku. Yakin sekali jika itu adalah Rush. Ah, bagaimana pun cepat jalanku, akan kalah juga kaki ini darinya.
Kumenoleh ke belakang. Rushqi nampak menyembul wajah di jendela kaca dan melambai ke arahku.
"Bagaimana jika kuantar, Ling?! Di mana tempat kerjamu?!" seru Rush dengan keras. Angin tidak berhenti berhembus kuat meski hari masih sangat pagi.
"Enggak, mas! Terimakasih! Itu bisnya sudah datang!" seruku pada Rush. Dan sebuah bis mini nampak mulai berhenti di halte. Kupandang Rush sekilas tanpa senyum. Lelaki itu tengah mengangguk padaku.
Rush masih belum bergerak saat bis mini yang mengangkutku meluncur meninggalkan halte. Hingga bis ini membelok, mobil lelaki itu belum nampak juga bergerak. Entah mau ke mana sebenarnya Rush pagi-pagi begini.
🕸
"Bang Faruuuuuqq!!!"" Suaraku melengking membahana di area back end, zona pencetakan mie dengan mesin yang panjang. Kupanggil bang Faruq, lider line back end yang berasal dari kota Medan.
"Ada apa kau panggil aku, Ling??!" tanya bang Faruq yang dengan cepat sudah berada di depanku.
"Bang, dough ini tebal sangat, satu mili di atas spek. Coba cek lagi,,!" ucapku sambil kuulur thickness miliknya. Alat pengukur ketebalan lembaran adonan sebelum teriris menjadi mie. Aku lupa membawa milikku, jadi kupinjam saja miliknya.
__ADS_1
"Kamu mau menimbang?" tanya bang Faruq dengan sinis padaku. Dan ini adalah sikap biasa di antara kami.
"Iyalah,, pasti semua mie over weight,,!" sambutku dengan keras. Kulirik wajah manis yang nampak lelah dan pasrah padaku. Aku tersenyum berlalu. Bang Faruq sudah tahu apa yang pasti akan kulakukan kemudian.
Sambil mengisi data dalam record, kuberjalan lambat melewati mesin panjang ini. Thickness yang out spek di setiap pengukuran, hanya kubuat satu saja yang tebal dan kulingkari. Sedang yang lain kutulis oke dan spek. Seperti biasa, palsu data..
Lembaran adonan memanjang yang sudah melewati mesin pisau menjadi mie yang panjang tak terputus. Masuk ke dalam mesin pemotongan dan pelipatan mie mentah. Mie itu melewati conveyor sprayer. Tempat menyembur air embun, agar mie jadi lembab sebelum dimasak.
Kemudian masuk ke dalam steamer, panci kukus memanjang untuk memasak mie mentah menjadi mie matang kukus.
Mie basah matang yang keluar dari steamer, ku ambil sepuluh sampel yang telah kusempatkan menimbang. Benar, semuanya over berat. Tapi seperti biasa, semua kubuat oke. Hanya dua mie yang kutulis over gram dan kulingkari sambil terus berjalan.
Mengiringi mie basah masuk ke dalam fryer raksasa dan panjang seperti lori dan kereta api. Mie basah sedang digoreng dengan minyak terbaik ratusan liter dalam fryer.
Mie itu tetap rapi dan tertata di tiap cetakan untuk masuk ke dalam penggorengan dan akan keluar menjadi mie instant yang kering. Lalu bergerak maju menuju masuk ke dalam conveyor di cooling. Di mana mie yang keluar dari fryer amat panas, masuk ke dalam mesin cooling untuk dikipas.
Suhu fryer yang tertera di skala mesin itu telah disetting sangat panas oleh Faruq, hampir di angka 175°Celcius. Sangat panas demi mensiasati mie yang kelebihan berat gram. Seperti biasa, suhu panas itu kutulis sesuai dengan spek, 150°Celcius.
Tidak berat, hanya sebuah notifikasi adanya prodak mie yang over wieght. Pertanda jika QC tidak tidur sepenuhnya di jam ini dan saat mesin mengeluarkan prodak ini.
Mengambil cek sampel dua belas pcs noodle cake, dijumpai dua pcs over weight. Begitulah kira-kira keterangan warning letter yang kubuat. Disertai tag nama supervisor, nomor mesin, waktu dan prodak. Juga nama QC pembuat, yaitu diriku.
"Sudah,,?" tanya bang Faruq saat kami berpapasan di fryer. Dia tersenyum masam padaku, kusambut juga dengan senyumku yang nyengir.
"Gass lah,,!" jawabku sambil berlalu.
"Eh, aku kembali setengah jam lagi. Jika ada defect, on hold..!" Suaraku lantang padanya. Faruq tidak berhenti atau menoleh. Tapi hanya mengacungkan jempol panjangnya padaku. Langkahku kembali berlalu.
Warning letter yang seharusnya kuserahkan langsung kepada supervisor, kujepit di file dada dan kuletak di mejanya. Entah kapan bang Nurlahi kembali ke meja kerjanya. Mungkin dia sedang berkeliling di lain mesin. Sudah tidak ada waktu lagi untuk high light langsung padanya. Yang jelas, bang Faruq sudah berhasil menghandlenya.
__ADS_1
🕸
Mbak Ita sedang asyik menulis di record data inspection sambil berdiri, tidak merasa dengan hadirku di depannya. Nampak terkejut saat kucolek bahunya dengan pelan.
"Apa, Ling?" tanya mbak Ita sambil menepuk dadanya. Aku tersenyum di balik face maskku.
"Pinjam pena, mbak. Punyaku jatuh, mati," kataku memelas sambil memegangi kardus mi.
"Nih, ambil saja selamanya," ucap mbak Ita sambil mengulur pena yang diambilnya dari laci.
"Makasih ya, mbak. Nanti kubelikan yang baru," janjiku pada mbak Ita. Dan aku yakin tidak akan pernah lupa.
"Sekodi,," kata mbak Ita bercanda lirih sambil terus menulis.
"Berkodi-kodi," jawabku bercanda.
"Thanks, mbak. Aku naik," kataku sambil lalu. Aku akan naik ke soup room di lantai dua.
Sangat terkejut rasanya, saat berbalik, telah ada Mr.Sung di belakangku. Bersama dua orang lelaki tegap dan tinggi. Mereka bertiga menatap lekat padaku.
"Selamat pagi, Mr.Sung," sapaku cepat pada manager pusat di perusahaan. Mr.Sung hanya mengangguk kecil padaku.
Cara pandang Mr.Sung memang seperti itu, tajam. Tapi dua orang lelaki yang bersama dia, aku seperti mengenalnya. Sayang sekali, atribut memasuki area production itu sangat lengkap mereka kenakan. Face mask dan head cover menyamarkan wajah mereka.
Meski penampilanku juga seperti mereka, tapi aku sudah memasang tag namaku, QC Velingga di dada. Mereka sudah dari tadi membaca namaku.
"Permisi," pamitku sambil bergeser cepat. Aku harus segera pergi ke soup room. Biar mbak Ita yang sedang jaga area packing, menerima kedatangan Mr.Sung di mejanya.
Kini kuberjalan cepat dengan kepalaku yang berat. Lamat-lamat sangat yakin, jika dua orang lelaki bersama manager tadi adalah Denis dan pengganti bang Andrew. Dan lelaki pengganti itu, aku menduga dia adalah Errushqi..!
__ADS_1
🕸🕸
Minta Vote doooong..🤣