
Kuabaikan rasa terkejut tak percaya andai benar itu Rushqi. Kupercepat ayun kaki menuju tempat inspection selanjutnya. Yaitu ke ruang kutub di soup room.
Area yang menyenangkan ini seperti obat panas dalam bagiku. Soup Room amat dingin oleh kuatnya air condition yang on tanpa pernah dimatikan. Masuk di soup room, ibarat mendapat penghapus dahaga setelah lelah berkelana di zona back end yang so hot.
Proses pertama yang kudatangi adalah di mixing room. Berfungsi sebagai tempat untuk proses pembuatan bumbu mie instant. Selain memberi centang dan tanda tangan, juga harus mengambil sampel untuk diserahkan kepada QC lab.
Seharusnya, QC kena ada setiap akan memulai membuat paduan bahan bumbu untuk soup . Namun, dengan mudahnya QC hanya mendapat sampel hasil bumbu saja tanpa perlu mengawasi. Tinggal tanda tangan dan centang saja lalu berbalik pergi.
Bukan salahku, memang seperti itu yang telah diajarkan oleh QC terdahulu padaku. Yang aku yakin, QC terdahulu pun akan memberi jawaban seperti ini juga, sama persis denganku. Sebab jika harus menunggu, bisa-bisa mereka tidak pernah membuat racik bumbu. Dan QC pun, untuk sekedar kentut saja juga semakin tidak sempat.
Dengan membawa sampel soup dari mixing, kugeser langkah menuju soup packing room di sebelah ruang mixing. Di sinilah hasil pembuatan bubuk soup dari mixing di kemas. Pengemasan soup oleh mesin yang masing-masing dijaga oleh seorang operator.
Berbagai spesifikasi kemasan soup harus kuawasi dan kukontrol dengan bagus. Menimbang kemasan soup, mengukur kemasan soup, memastikan antara kemasan dan isi soup pun harus sama.
"Mas Andi,,!" seruku pada seorang operator mesin packing soup lelaki yang sedang mengobrol berbisik dengan tetangganya.
"Apa, Ling... Darling..." Mas Andi nampak santai dan justru menanggapiku dengan konyol. Mendekatiku lambat lambat dan abai. Dia tidak sadar jika mesin dan produk yang sedang dijaganya, dari tadi sakit akut. Dan baru saja kumatikan buru-buru.
"Ini apa, mas Andi sayang...???" tanyaku menirukan lagaknya.
Kutunjuk rangkaian kemasan bumbu mi yang sudah kutarik panjang dari keranjang penampungnya. Mas Andi buru-buru mengambil dari tanganku dengan aura mulai tegang. Dan wajahnya pun kini pucat pasi.
"Duh, mati aku, Ling,,!" Mas Andi nampak panik. Lalu memandangku penuh maksud. Tentu saja kurasa jengkel sekali. Tidak ada ampun bagimu..
"Jangan mati cepat, mas. Ingat biyungmu di Jawa. Cukup semaput saja, jangan semangat,,!" sambutku sambil kukibas kertas padanya.
"Jangan sadis-sadis kalo bikin surat cintanya ya, darling," rayu mas Andi di sela rasa tegang pucatnya.
"Makanya jangan suka ghibah sama tetangga," tegurku ketus.
__ADS_1
"Ngantuk, Ling. Tiap hari mantengin mesin yang sama," keluh mas Andi padaku. Aku memandang maklum pada mas Andi. Kuakui kesungguhan ucapannya. Dalam hati kusyukuri job kerjaku. Berkelana ke mana-mana meski dengan raga yang lelah luar biasa setelahnya.
Namun seperti biasa, tetap kuterbitkan juga surat warning letter untuk operator dan prodak yang keterlaluan khilafnya. Tapi sekedar highlight saja. Dengan defect, found satu meter empty packet of soup. Itu sudah cukup membuat supervisor soup room akan menegur keras pada mas Andi.
Bisa jadi juga, mas Andi akan mendapat hukuman sedikit potong gaji bulan ini. Juga tidak banyak, berkisar antara lima ribu hingga tujuh ribu saja besar pemotongan.
Meski begitu, warning yang kuberikan sudah bagus. Sedang kenyataannya, paket kosong tanpa bumbu itu hampir saja tiga meter. Betapa lamanya mas Andi mengobrol. Lupa jika bubuk soup dalam panci mesinnya sudah harus diisi ulang kembali.
Tingkat ibaku pada operator di back end dengan operator di soup room, memang jauh berbeda. Orang back end itu cukup menderita beban kerjanya. Panas dan penuh resiko.
Mesin-mesin raksasa dan panjang dengan suhu membara, hanya segelintir operator saja yang menjaga, khususnya bagi leader. Hanya satu orang leader yang mengontrol banyak mesin. Mereka senantiasa berlarian ke sana kemari dengan tegang dan was-was.
Sudah begitu, supervisor back end cukup bengis. Tidak segan untuk memaki, mengumpat, atau juga main fisik jika ada kesalahan. Apalagi jika QC menerbitkan warning letter. Supervisor akan melengking membahana di back end. Bang Nurlahi memiliki sifat sepuluh sebelas dengan miss Yong.
Sedang warning yang sempat kuberikan di back end tadi, defect over weight hanya kutulis dua pcs saja. Dengan highlight begini, biasanya leader tidak akan mendapat sanksi apapun. Bang Nurlahi pun hanya akan memberi teguran saja pada leadernya.
Dan sering kulihat, supervisor di soup room sering duduk santai di ruangan berACnya. Hanya sesekali keluar, melihat-lihat, cek centang, sign, lalu masuk kembali ke ruangan. Sedikit mirip juga denganku, hu,,hu,,hu,,
Kamera pengintai di soup room juga ada. Namun, mereka seperti tidak masalah dan menganggap seolah tidak ada. Tetap santuy menjaga mesin jalan. Memang tidak semua, hanya segelintir, namun sama juga meresahkan.
Orang di soup packing room ini cukup kompak dan semua seperti teman. Ini adalah kondisi yang sangat menyenangkan. Tapi cara mereka terlalu abai dan terang-terangan, aku tidak suka. Santai sekali,, sedang aku, tegang sekali..
Jadi, aku paling tega dengan memberi sedikit kekacauan di sini. Jika mau, defect out spek product sangat banyak di sini. Tapi aku hanya perlu membuat minimal tiga warning letter tertulis saja tiap harinya. Sebagaimana yang miss Yong sering ultimatumkan pada kami, para QC di lapangan. Untuk kekurangan warningku yang satu lagi, itu gampang sekali...
🕸
Dari soup room, sebentar lagi datang break time pagiku. Namun, sebelumnya harus mengambil sampel minyak yang sedang dioperasikan tiap mesin di back end, untuk diserahkan kepada QC lab.
QC lab akan menguji kadar kalayakan AV(Anisidin Value)/kadar lemak dalam minyak. Apakah minyak itu masih layak dipakai untuk menggoreng, atau sudah saatnya dikeluarkan dan ditukar.
__ADS_1
Dan pengambilan sampel minyak ini dilakukan wajib dua jam sekali. Karena ini sangat penting dan berpengaruh langsung pada hasil penggorengan mi instant di tiap mesin produksi. Dan sebagai maskot pembawa kualitas dan nama baik prodak di perusahaan.
🕸
Pagi ini di kantin cukup ramai dan antrian juga panjang. Kuambil di antrian khusus dengan tambahan biaya untuk pelayanan.
Jarang kuambil antrian khusus, lebih suka antri ramai-ramai dengan anak production. Berasa memiliki banyak teman. Jujur saja, tugas kerja QC membuatku tidak memiliki banyak teman. Jujur saja, mungkin keberadaan QC sangat tidak disukai di manapun.
Kubawa baki makanku dengan cepat ke meja di kantin. Sangat lapar sekali kurasakan. Seperti tidak sabar untuk segera mengisi perut kecilku ini dengan penuh. Dan telah kubaca doa sebelum makan dengan hati lega bergembira.
Nasi goreng bertabur jagung manis dan wortel dengan siraman ayam suwir, nampak lezat menjanjikan. Kusuap hati-hati dengan tidak peduli lagi kiri kanan. Ah, jika begini, nikmat mana lagi yang bisa kudustakan..
"Ehemm..!"
Dehem dari arah depanku membuat terkejut jantungku. Mendongak kepalaku dan melempar senyum untuknya. Tapi..
Senyum manis melebar di bibirku telah marapat cepat dan terkunci. Lelaki di samping Denis, adalah lelaki yang telah kusangka namun sangat ingin kuhindari. Errushqi..
"Hai, Ling. Boleh gabung?" tanya Denis dengan sopan padaku.
"Iya,, silahkan, bang Denis. Bebas kok,," sambutku dengan ramah pada Denis.
"Duduk, Rush. Aku saja yang ambil kopi buatmu," ucap Denis. Mungkin merasa lebih senior satu hari dibanding Rushqi.
Rushqi yang sempat memandangiku, telah duduk setelah sempat mengangguk pada Denis. Tidak ada lagi yang sanggup kulakukan selain menunduk dan melanjutkan makanku. Lidahku seperti kelu untuk membuat percakapan apapun dengan Rush.
Sebenarnya sama juga dengan yang kurasa saat makan. Nasi goreng yang beberapa detik lalu kurasa sangat lezat, kini jadi hambar tanpa terasa sedikit saja sedapnya. Hanya terus kujejalkan ke dalam mulut dengan bantuan air putih sesekali agar lancar melewati tenggorokan dengan cepat.
😘🕸
__ADS_1