Noodle In Love

Noodle In Love
13. Oh, Denis..


__ADS_3

Senyum gembiraku dan Denis terkatup saat lirik lagu kekasih gelap milik ungu band berkumandang sayup dari tas yang kupangku. Kami saling pandang dengan raut yang sama, tentang siapa yang memanggil.


"Bang, aku pergi dulu ya. Taksi yang kupesan datang. Kurasa mas Rush akan pulang tak lama lagi. Sabarlah menunggunya," pamitku pada Denis yang nampak kebingungan.


"Kamu mau ngedate kah, Ling?" tanya Denis menyelidik. Aku pun menggeleng.


"Hanya ingin belanja sedikit ke Panbill mall. Nyari kelengkeng," sahutku sambil bersiap pergi dari teras. Tak ingin sopir taksi habis sabar menungguku.


"Kutemani," sahut Denis yang sudah berdiri cepat denganku.


"Mobilmu,,?" tanyaku sambil menunjuk mobilnya di halaman. Mendung tebal telah menggantung di angkasa.


"Nggak hilang," jawabnya cepat.


"Nggak digarasikan saja?" tanyaku sambil berjalan menuju taksi biru di sana.


"Biar saja, Ling. Biar nggak manja sangat," sahut Denis sambil berjalan cepat sepertiku.


🕸


Bukan kelengkeng saja yang kudampar di keranjang belanja. Ternyata Denis pun sangat gemar buah-buahan. Buah maskot negaranya, jeruk santang madu mini juga menyesak di keranjang. Denis tahu diri dan memaksa menjinjing keranjang belanja.


Selain jeruk mini, dua kantung anggur hijau sultana pun Denis sambar. Lelaki itu dengan santai membasuh anggur yang sudah berbandrol, di wastafel dan dimakannya sambil jalan.


Aku menolak saat diulurkan untukku setangkai. Aku tidak bisa makan sambil berdiri apalagi dengan berjalan sepertinya.


"Kenapa tidak mau? Aku paling tidak tahan dengan anggur hijau," tanya Denis sambil jalan menolehku. Mulutnya sedang diam dan kosong.


"Nggak boleh makan sambil jalan, bang,," jawabku sambil membelok lagi di stand buah dalam mall.


"Aku pun juga tidak boleh, Ling. Tapi yang ngelarangku sedang bersantai di rumah," sahut Denis.


"Siapa?" tanyaku. Kusangka ibunya yang melarang.


"Rushqi," sahutnya. Terkejut sedikit kurasakan.


"Mas Rusqi sudah sampai?" tanyaku. Denis nampak mengangguk.


"Kipikir ibu bang Denis yang melarang," sahutku kemudian.

__ADS_1


"Emakku tuh bilang juga padaku. Tapi dia pun doyan makan sambil jalan. Hanya Rushqi yang konsisten dengan larangannya. Sekarang kamu pun sama." Denis berhenti sejenak setelah berbicara.


Ternyata, Denis kembali menggerogoti jeruk dari kantong di keranjang. Menguliti dan memakannya lagi sambil jalan. Benar-benar abai pada orang di sekitar yang aneh memandangnya. Denis tidak peduli sama sekali.


"Bang Denis, jangan-jangan kamu sedang lapar kah?" tanyaku heran dengan Denis. Baru kali ini kulihat orang yang sangat doyan dengan barang yang belum di bawa ke kasir.


"Kubilang tidak lapar pun kamu tak kan percaya, Ling. Sebab jika kamu mengajakku makan pun, ayo aja aku. Tancap gas..!"


Denis begitu bersemangat menjawab. Rasanya geli sekali dan ingin juga tertawa. Tapi takut menyinggung perasaannya. Sifat lelaki ini masih sedikit saja yang terraba.


Belanja puas kami berakhir dengan berdiri antri menuju meja kasir. Dan akhirnya mendapat giliran juga setelah cukup sabar dengan berjalan putus-putus dan tersendat.


Semua barang telah kena scan dengan aman. Hanya tinggal kantung anggur yang belum. Pegawai kasir full make up yang cantik itu memandang bingung padaku.


"Maaf, mbak. Ini anggurnya yang satu kantung lagi sebagian jatuh ya? Tinggal lima biji saja,," tanya pegawai kasir terheran. Kulirik Denis yang tersenyum pada gadis kasir itu.


"Iya mbak, semua jatuh," sahut Denis dengan tegas.


"Lhoh, silahkan ditukar lagi saja ya, mas. Ini ku enter total dulu. Nanti masnya bawa anggur ke sini langsung saja. Tidak perlu antri lagi." Kasir cantik itu berkeputusan dengan bijak.


"Nggak papa, mbak. Kubayar kantung plastiknya saja," sahut Denis terus tersenyum. Mulutku pun kini tak sanggup lagi merapat.


"Nggak papa juga kok, mbak. Kubayar plastiknya saja. Sebab isinya sudah jatuh di sini," jelas Denis sambil menepuk-nepuk perut datarnya. Denis cengar-cengir menoleh padaku. Kutahan tawaku demi harga diri sesama perempuan. Mungkin kasir cantik itu mulai kesal pada kami.


"Maaf, ya mbak. Temanku ini lagi telat minum obat. Jadi anggur belum cash pun dibabat," ucapku nekat demi mencairkan ekspresi tegang sang kasir.


"Iya, mbak. Tidak masalah," ucap kasir sambil melirik Denis dengan wajah yang pias. Merasa digoda lelaki tampan yang konyol dan humoris.


Tapi Denis dengan santai kembali mengambil sisa lima biji anggur dan memakannya. Pegawai kasir benar-benar menscan plastik kosong saat ini. Beberapa orang di antrian sebelah dan juga di belakangku, terdengar tertawa serta ada juga yang mengumpat. Duh, Denis...


Saat kubuka dompet untuk menarik uangku, Denis telah meluncurkan sebuah kartu pada pegawai kasir cantik itu. Yang entah kartu model apa, aku pun tak paham. Yang jelas, bukanlah kartu kredit.


Anehnya, tak kurasa segan saat belanjaku dibayarkan oleh lelaki itu. Hanya diam pasrah memandang jari-jari Denis yang putih panjang itu sedang menari dan menekan angka angka di mesin EDC (Electronic Data Capture). Tapi tentu akan kuganti saat sampai di rumah nanti.


🕸


Taksi yang mengantar kami pulang baru saja berlalu dan terganti dengan motor menyandar. Membonceng kontainer box bertulis Delivery Pizza of Good Taste and Delicious. Aku dan Denis saling berpandangan. Dan kami pun saling menggelengkan kepala masing-masing.


"Aku enggak mesan, bang," ucapku menanggapi gelengan kepalanya.

__ADS_1


"Aku juga enggak," ucap Denis padaku.


"Ehem..!!!"


Kami menoleh ke pintu pagar bersamaan. Rush sedang berjalan keluar melewati gerbang dan memandang ke arah kami sekilas. Mendekati kurir pizza dan membayarnya.


Kami mendekati Rushqi yang berdiri memandang kami sambil menenteng dua kotak jumbo pizza.


"Kalian darimana?" sapa Rush duluan pada kami.


"Ke panbill. Mana oleh-olehmu?" sahut Denis sekaligus bertanya.


"Kamu tak nampak?" tanya Rush sambil menyodorkan kotak pizza pada Denis.


"Yang lain kek..." Denis melewati Rush dan masuk menuju teras. Meninggalkanku dan Rush yang kemudian menoleh saling pandang.


"Apa kabar, Ling,,," sapa Rush saat kulempar senyum kecil padanya.


"Baik, mas. Perjalanan lancar?" tanyaku beramah tamah dengan Rush.


"Alhamdulillah." Rush juga berjalan mengikutiku melewati pintu pagar yang telah ada Denis di teras. Sebab ada belanjaku yang dibawa Denis, aku pun ikut menuju teras bersama Rush.


Denis tengah mengupas jeruk sambil memandangiku dan Rushqi. Sekotak jeruk ada di atas meja bersama barang belanjaku.


"Mas ini uang gantinya ya. Kubawa dulu belanjaku ke kamar," ujarku sambil kuletak uang merah beberapa lembar di meja. Sekantung anggur dan kelengkeng telah kukeluarkan dan kuletak di sana.


Tapi dengab cepat, Denis menyambar uang itu dan memasukkan ke dalam bag belanja.


"Sudah, Ling. Nggak papa. Kita sudah couple, teman baik," ujar Denis dengan cepat.


"Cepat bawa belanjamu ke kamar, Ling. Habis itu kutunggu di dapur. Ayo kita makan pizza bareng-bareng," timpal Rush padaku. Arahan darinya inilah yang mengikis raguku.


" Iya , mas," responku pada Rush.


"Terimakasih, ya bang Denis. Permisi," Kakiku mengayun pergi setelah kulihat Denis mengangguk.


Dalam hati bersyukur mendapat teman baru yang baik. Berharap berterusan dengan niat baik yang tulus. Mengharap lindunganNya sebab dasar hati orang tidak akan mampu kuselami.


🕸🕸

__ADS_1


__ADS_2