Noodle In Love

Noodle In Love
52. Apa Inginmu?


__ADS_3

Rasa berat di kepalaku sebab bangun mendadak oleh bu Yanti barusan, hilang hanya sebab kudengar nama Rushqi. Terlebih setelah kubasuh lalu kutambal dengan tepukan bedak beberapa kali.


Tidak jadi pakai lips cream, enggan jika nanti diledek bu Yanti. Dia cukup jeli mendeteksi perbedeaan bibirku meski dengan warna transparant sekalipun. Apalagi ini sudah malam. Aku akan merasa malu dengan Rushqi.


"Assalamu'alaikum," sapaku canggung saat kubuka pintu dapur. Rush qi nampak menolehku.


"Wa'alaikumsalam," sahut Rushqi dan bu Yanti. Namun sosok bu Yanti tidak nampak yang mungkin sedang berada di wastafel.


Pintu dapur ini terhubung dengan teras kamarku. Orang di meja makan bisa melihat langsung ke arah pintu ini. Begitu juga sebaliknya.


"Kamu belum makan?" tanya Rushqi sambil memandang hangat padaku. Sedang kutarik kursi yang tepat di depannya, posisiku dari dulu kala.


"Belum, pak Rush,"


Ah, leganya hati ini. Wajah yang kurasa akan memandang marah padaku, sebab merasa telah kubohongi, justru bersikap baik kepadaku. Rushqi menatapku dengan aura yang cerah.


"Tapi kamu sudah tidur?" tanya Rushqi sambil mengambil minum di gelas.


"Iya, ngantuk sekali."


Aku juga sambil mengambil gelas berisi sari apel. Bu Yanti sudah menyiapkan khusus untukku sedari tadi. Bisa jadi bu Yanti pun rindu padaku. Wanita itu sedang mencuci perkakas di wastafel. Bukan di pelataran cuci perkakas besar di luar dapur, sebab ini sudah malam.


"Kamu tahu ini pukul berapa?" tanya Rushqi setelah meletak gelasnya.


"Sebelas kurang sedikit?" jawabku dengan ragu. Kurasa memang jam segitu.


"Sekarang sudah lebih sedikit." Rushqi telah menunduk pada isi di piringnya. Aku pun laju mengambil untuk isi dalam piringku.


"Nggak nyangka lho, Ling, kalo kamu itu satu asrama dengan calon istri mas Rus. Bahkan satu kamar. Kok ya kebetulan yaa,,?" ucap bu Yanti yang tiba-tiba sudah berdiri di samping kami.


"Bu Yanti sudah tahu?" tanyaku merespon sambil makan.

__ADS_1


"Tahu, Ling. Mas Rus yang bilang. Terus tak kasih ide ngantar makan buat kamu, juga buat calon istri. Lha aku masak apapun, mas Rush kayak nggak doyan kalo makan sendirian. Dia kalo makan sendirian nggak banyak gitu, paling cuma lima sendok."


Bu Yanti mengeluh sambil memandang Rushqi dan piringnya. Dia membicarakan Rushqi seperti anaknya sendiri. Lelaki yang di bahas cuek saja seolah tidak mendengar apapun.


"Padahal pak Rushqi baru nganter calon istrinya ke Nagoya. Apa tadi tidak makan di jalan?" tanyaku entah pada siapa. Kupandang pada bu Yanti juga kulirik ke arah Rushqi.


"Lapar lagi, Lingga. Aku kan lelaki," sahut Rushqi tanpa kusangka. Wajahnya sebentar diangkat untuk berbicara padaku yang lalu menunduk.


"Weleeeh, lha kemrin itu nggak suka makan, pas bukan lelaki gitu? Sarapan pun jarang, makan sepulang kerja juga sedikit, itupun kadang." Bu Yanti kembali mengeluh.


"Kan sudah kubawa bekal ke asrama Lingga, mbok," sahut Rushqi sambil mendongak.


"Iyo weslah, mas Rus. Yang penting sekarang doyan makan lagi. Sudah ada Lingga yang menemani makan di rumah sendiri."


Ucapan bu Yanti terkesan mengalah. Tidak ingin lagi mendebat sang tuan muda. Mungkin merasa tidak akan ada gunanya. Bu Yanti bergeser pergi dan keluar dari dapur di pintu. Pasti akan datang lagi setelah kami selesai makan untuk membereskan.


"Ling, tadi kenapa kamu tidak mau kujemput?" tanya Rushqi mengungkit.


"Kenapa kamu segan denganku?" tanya Rushqi seperti mendesak.


"Bukan segan, tapi enggan. Aku tidak mau merepotkanmu," sahutku menerangkan.


"Aku tidak masalah, Lingga," ucap Rushqi memandangku. Rautnya nampak sungguh-sungguh berbicara.


"Aku segan dengan Keke. Jangan terlalu berlebihan baik padaku," ucapku gamang pada Rushqi. Namun kusembunyikan wajah ini di piring. Tidak ingin Rushqi membaca mataku yang menunjuk isi hatiku sesungguhnya.


"Kamu tidak bisa mengatur dan melarang apa yang sedang kuinginkan, Lingga," sahut Rushqi dengan suara yang dalam dan tenang. Masih tidak berani kuangkat wajahku. Tiba-tiba kurasakan kikuk yang sangat. Tidak adanya bu Yanti, membuat suasana kurasa tegang dan dadaku kian berdegub.


"Apalagi ternyata kamu sudah tidak dengan Putra," sambung Rushqi yang masih tak ingin kupandang.


"Kamu sudah membuat Keke menyukaimu Kamu berhasil, kamu tidak akan menyakiti hati Keke kan? Jangan mempermainkannya," tanyaku dengan hati penuh debar. Rasa hatiku agak tergores dengan ucapanku sendiri. Namun, juga penasaran dengan apa yang akan dijawabkannya padaku.

__ADS_1


"Aku dan Keke belum ada ikatan apapun. Itu hanya wacana dari dua pihak orang tua dan kebetulan kami setuju. Yang bisa berakhir dengan ketidaksetujuan salah satu dari kami. Keke harus mandiri, dia harus berubah demi dirinya sendiri. Bukan sebab orang lain," ujar Rushqi dengan tenang dan tanpa rasa gundah.


Apa maksud ucapan Rushqi.. Maknanya dia akan membatalkan perjodohan? Apa dia masih ingin menikah denganku? Apa dia akan mengatakannya lagi?


"Apa kamu tidak merasa bersalah jika mempermainkan?" tanyaku, dengan pelan ku angkat wajah untuk melihat matanya. Ingin tahu kesungguhan lelaki itu dengan jawabannya.


"Kamu pikir aku ini lelaki jahat atau sejenis robot? Tentu saja aku merasa bersalah. Aku iba dengan Keke. Aku juga tidak bermaksud mempermainkannya," sahut Rushqi dengan tenang.


"Lalu, apa yang sedang kamu inginkan sekarang?" tanyaku lagi. Merasa tidak puas dengan jawaban Rushqi yang terasa setengah.


"Ada yang sedang sangat kuinginkan saat ini. Kamu ingin tahu?" tanya Rushqi yang sukses dengan makannya.


"Apa?" tanyaku tidak sabar.


"Temui aku di lotengnu habis ini. Apa kamu bisa, Ling?" tanya Rushqi menatap dalam mataku.


"Aku tidak mau bertemu denganmu di loteng lagi," sahutku lirih.


"Kenapa? Kamu takut?" tanya Rushqi sambil tersenyum.


"Iya, rawan sekali di loteng," sahutku kikuk pada Rushqi. Kurasa dia paham dengan maksud ucapanku. Rushqi telah tersenyum lebar memandangku.


"Ya sudah, simpan saja tanyamu itu. Tidak perlu tahu dulu apa yang sedang sangat kuinginkan," sahut Rushqi dengan menyandar punggung di kursi.


"Habiskan makanmu, istirahatlah saja. Sudah malam, Ling," tegas Rushqi dengan terus mengamati makanku.


Aku diam, tidak juga mengangguk. Sebenarnya penasaran dengan apa yang akan Rushqi katakan tentang inginnya. Apa dia akan kembali bilang ingin menikah denganku.. Jika sangat ingin tahu begini, jadi ingin bertemu di loteng lagi malam ini dengannya.


Tapi Rushqi tidak juga memaksaku kali ini. Lelaki kekanakan itu hampir tidak pernah memaksakan keinginannya padaku. Yang sebenarnya juga kuharap paksaannya. Apapun..


🕸🕸🕸

__ADS_1


__ADS_2