
Sudah beberapa hari ini, aku dan Rushqi berangkat kerja bersama dan pulangnya pun dia menunggu. Kami jadi akur dan Rushqi tidak peduli jika saja timbul gossip pada kami. Namun, hingga hari ini terus aman dan tidak ada satu mulut pun yang datang mengusikku.
"Aku tidak ingin terus-terusan menumpang di mobilmu. Lama-lama akan ada yang melihat. Kamu tidak masalah, tidak akan ada yang berani mengejekmu. Tapi aku, kurasa aku tidak akan tahan."
Kuluahkan beban kepalaku yang mengganjal. Meski terlihat nyaman dan baik-baik saja, sebenarnya aku tertekan dan tegang. Terlebih jika kami sudah sampai di area perusahaan, bahkan hingga kutahan nafasku sampai kutinggalkan Rushqi yang masih berkemas di mobilnya.
"Bagaimana jika kamu berhenti kerja saja, Ling? Akan kuuruskan resignmu pada HRD," ucap Rushqi dengan fokus di kemudi. Kurasa kaget dengan ucapannya.
"Apa bisa, kontrak kerjaku satu tahun." Kupandang Rushqi dengan rasa tak percaya. Ini adalah impian lamaku yang berhasil kuredam aman dalam angan. Betapa kuingin pulang ke Jawa beberapa bulan lalu. Namun, miss Yong berhasil menjegalku. Jika ternyata bisa, tentu saja aku bersedia. Aku ingin pulang.
"Tentu saja bisa, Ling. Itu adalah hak kamu sebagai pekerja. Hanya saja beberapa kewajiban perusahaan padamu akan gugur dan bukan lagi menjadi hakmu," ujar Rushqi menjelaskan.
Lelaki itu seperti sudah sangat paham dengan segala masalah di perusahaan. Tentu saja jika yang menyangkut hak adalah uang, aku tidak terlalu peduli, asal tidak begitu merugikanku.
"Bantulah aku untuk keluar dari pekerjaanku," ucapku cepat dan sungguh-sungguh sambil kutoleh Errushqi.
Yang kutoleh berubah heran dengan respon sangat baikku pada saran dan tawarannya. Mungkin Rushqi bisa sedikit membaca apa yang sedang ada di kepalaku.
"Kenapa kamu nampak antusias untuk berhenti kerja? Kupikir kamu akan keberatan, Ling. Kamu terlihat suka dengan pekerjaanmu," tanya Rushqi terheran.
"Suka bagaimana? Aku belum pernah bekerja sebelumnya. Saat itu aku juga ingin berhenti kerja, tapi miss Yong menakutiku." Kuungkap kenyataan waktu itu pada Rushqi.
"Saat putus dengan Putra?" tanya Rushqi yang tepat tebakannya. Aku pun mengangguk. Kujelaskan tentang alibi miss Yong yang berhasil membuatku bekerja hingga hari ini.
"Jika begitu, kurasa miss Yong justru sangat berjasa bagiku. Jika miss Yong meluluskan resignmu waktu itu, kita tidak akan pernah bertemu."
__ADS_1
Rushqi nampak tersenyum-senyum dari samping. Lelaki itu membuang pandangan di jalanan. Lain yang dibahas, lain juga yang di kepalanya..
"Apa di Kalimantan tidak ada perempuan?" tanyaku tiba-tiba ingin tahu.
"Bumi mana yang tidak ada namanya perempuan? Spesiesmu itu sudah hampir dua kali lipat jumlah lelaki. Aku itu tidak ingin mendekati gadis yang orang tuaku tidak tahu," sahut Rushqi yang seperti menyindirku.
"Kamu pikir aku pun tidak? Orang tuaku itu taunya hanya Putra. Bukan lelaki lain," timpalku pada Rushqi. Lelaki itu nampak terkejut dan menolehku.
"Aku paham, Ling. Maaf, bukan maksudku menyinggung kamu. Tapi itu bukan masalah yang besar. Akan kukenalkan diriku pada ortumu secepatnya."
Rushqi bicara tegas dengan agak lama menolehku. Tidak kutanggapi, kurasa percakapan ini harus segera berakhir di sini.
Kami sudah hampir melewati gerbang pagar. Perasaanku berubah sangat tegang dalam duduk sandarku. Berharap tidak ada seorangpun pegawai perusahaan yang mengenalku, lalu meledekku saat sudah sampai dalam area produksi di back end.
🕸🕸
"Manggil aku?!" seruku bertanya dengan menyembulkan setengah badanku di pintu.
"Kemarilah sebentar, Lingga!" seru Dimas sambil melambai tangan padaku.
"Ada apa?" tanyaku setelah berdiri dekat di depannya.
Dimas bergeser mendekat di tabung mikser dan sedikit jauh dariku. Aku pun menyambar record data yang tadi sudah kuisi dan tergantung dekat tabung. Seperti ini adalah akting belaka saat kami sedang mengobrol di area.
"Apa belum sampai di telingamu tentang gosip terbaru?" tanya Dimas lirih dengan memandangku sekilas.
__ADS_1
Tertegun kupandang wajahnya, Dimas kembali pura-pura sibuk dengan banyak tombol di tabung mikser yang sebenarnya hanya dielus-elus oleh jari-jari tangannya. Dapat kuduga siapa sebenarnya yang sedang Dimas maksudkan.
"Apa tokoh gosipnya adalah aku?" tanyaku langsung dengan waswas. Dimas menatapku sekilas.
"Kamu sadar diri? Benarkah kamu jadi simpanan manager baru?" Meski to the point sebab hemat waktu, tapi Dimas bertanya dengan tersenyum menenangkan. Mungkin demi menjaga perasaan hatiku. Kuakui, Dimas adalah lelaki yang baik.
"Aku simpanan manager baru? Kenapa disebut simpanan? Apa manager baru kita sudah menikah, hingga aku dikata simpanan?" tanyaku tanpa mengelak, sambil kubalas Dimas dengan senyuman serupa. Agar mengalir lancar seluruh cerita gosipnya padaku.
"Bukan begitu, tapi kamu juga tinggal di rumah manager baru. Itu yang membuatmu digosipkan jadi simpanan. Juga banyak yang tahu jika pak manager sudah punya wanita lain, dan yang sering mereka lihat bukan kamu," jelas Dimas dengan lebih sering lagi memandangku.
Dimas pasti sedang merasa aman. Leader itu cukup peka dalam mendeteksi apakah di area mikser sedang aman atau tidak dari kedatangan orang luar yang mendadak suka muncul kapan saja.
"Mas, sebenarnya aku sewa kos di rumahnya pak manager. Aku hanya menumpang mobilnya saja pulang pergi. Aku bukan simpanan," kujelaskan lirih pada mas Dimas.
Ini adalah simalakama, tapi kurasa ini lebih baik. Ternyata sudah deras juga gosip berarus tapi tenang tentangku. Ah, untung Dimas cukup baik padaku.
Andai ada yang melapor jika aku tidak tinggal di asrama, rasanya sudah pasrah. Ini sama dengan resign baik-baik pada HRD di perusahaan. Aku lelah menjadi pekerja yang disiplin pada miss Yong.
Aku sangat-sangat ingin pulang. Ide Rushqi membuat semangat lamaku untuk pulang kampung kambuh lagi. Ayahku pasti akan merasa terkejut dan sangat bahagia. Terlebih kini sudah kupakai kerudung seperti yang pernah dimintanya padaku.
"Mas Dimas, thanks sudah ngabarin langsung padaku ya. Kudoakan semoga rezekinu lancar, pekerjaanmu bagus dan jodohmu yang baik cepat-cepat mendekat. Aamiin. Aku turun dulu," pamitku pada Dimas. Jika tidak ingat akan antrian panjang area yang harus kudatangi, ingin lebih lama lagi berbincang dengan Dimas.
"Jaga diri baik-baik, Lingga!" Sempat kudengar seruan Dimas di antara deru samar mikser dalam tabung. Rasanya terharu dengan pesan baiknya itu padaku. Yang mungkin sebentar lagi akan kutinggalkan area ini bersama orang-orang baik itu di sini Ah, ternyata sedih sekali..
🕸🕸🕸
__ADS_1