
Tas ranselku telah penuh sesak dengan segala benda yang harus kubawa denganku untuk kembali sejenak ke asrama. Tidak ingin bertemu Rushqi di meja saat makan, kupergi sarapan ke dapur sangat cepat pagi-pagi.
Sukses tidak bertemu Rushqi dan kini meluncur laju menuju ke asrama meletak ransel sesakku. Taksi online yang menjemputku tiba tepat waktu di rumah kos pukul enam. Sedang aku dan Rushqi terbiasa makan bersama setengah jam sebelum berangkat kerja.
"Pagi bang,,!" sapaku pada security yang sedang menunduk menulis. Dia nampak terkejut saat mendongak memandangku.
"Hai Linggaaa!! Pulang kampung kau rupanya! Ada audit kah, kau?!" tanya bang Fildan Marpaung dengan lirih. Pemuda dari suku Batak, kota Medan.
"Iya, bang. Makasih ya bang. Ini sejenak saja pulkamnya, habis diaudit ya keluar lagi," jelasku. Bang Fildan mengangguk-angguk mengerti. Dia tahu jika aku tidak standby di asrama. Namun bertenggang rasa tinggi dengan memilih bungkam dan menutup matanya.
Habis basa basi sejenak dan berpamit, kumeluncur ke dalam komplek asrama di blok putri. Perasaan hati yang tidak nyaman kembali kurasakan. Teringat masa tidak menyenangkan beberapa bulan lalu. Lingkungan mengecewakan dan masa kelam saat diriku patah hati. Malas sekali kurasa kembali ke asrama ini.
Sayup kudengar putaran musik dari rumah asramaku yang beberapa langkah lagi tercapai. Meski pun pagi-pagi begini, musik rohani berlirik kristus selalu diputar dengan keras.
Pintu rumah asrama tidak tekunci, mereka sudah membukanya. Kusegera masuk dengan memasukkan lagi anak kunci ke dalam genggaman tanganku. Berpapasan dengan teman serumah seorang gadis Batak.
"Pulang??" sapanya padaku dengan kaku. Kami memang saling abai dan hampir tidak saling peduli.
"Iya, kak. Apa Keke sudah datang?" tanyaku memandangnya.
"Tahu tuh, tak perasan!" sahutnya cuek sambil berlalu ke pintu. Seperti inilah sikap teman-teman serumahku. Tidak saling mengurusi. Padahal kami sudah lama tidak berjumpa. Seluruh penghuni di rumah asramaku adalah sebagai staff di tempat kerja yang berbeda.
Bunyi musik yang diputar cukup keras hampir dari seluruh kamar di rumah asramaku menghentak di ruang dadaku. Segera kutuju arah kamarku sambil erat kugenggam anak kunci.
Kosong, Keke belum sampai. Bisa jadi dia akan datang selepas pulang kerja. Sebab rumahnya jauh, perjalanan dari Nagoya ke Muka Kuning memakan waktu hampir satu jam. Sedang aku, paling lama lima belas menit saja sudah sampai.
🕸
Bis pekerja yang membawaku sudah berlalu beberapa detik lalu. Terlihat mobil pak haji Harjo sedang menyandar di parkiran luar pagar komplek asrama. Bisa jadi Keke sedang mendapat kunjungan dari sang calon suami. Mengingat ini masih di jam kunjungan warga asrama. Di mana penghuni asrama boleh menerima tamu untuk bertemu di teras.
Benar, kulihat ada Rushqi sedang duduk di teras dan Keke di depannya. Kudekati teras dengan perasaan tidak menentu. Hatiku kembali berdebar saat kakiku kian dekat di teras.
"Assalamu'alaikum!" seru sapaku pada dua sejoli di teras. Keke yang duduk memunggungi segera berbalik menoleh.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam!" sambut mereka kemudian.
"Eh, Ling!" Keke berseru sambil mendekat menyambutku.
"Pukul berapa pulang, Ke?" tanyaku pada Keke yang sedang berdiri dan tersenyum padaku.
"Baru saja kami sampai. Tapi aku sudah sempat mandi. Kamu cepat mandi ya, Ling. Kita makan malam sama-sama di luar," ajak Keke dengan nada sungguh-sungguh. Ini sedang kuhindari saat ini, makan semeja dengan Rushqi.
"Sorry, Ke. Aku lelah banget hari ini. Ingin pesen makanan dari kantin saja," tolakku lembut pada Keke. Dia sama sekali tidak tahu sikap Rushqi padaku yang menimbulkan genderang perang di antara kami berdua.
"Yah, Ling. Moment kita sama-sama tuh langka, ayok dooong. Paling lama lima hari doang kita sama-sama gini," keluh Keke akan keberatanku. Wajahnya nampak kecewa dengan pura-pura berekspresi memelas.
"Sorry, Ke.. Lain kali saja yaa. Lagian kamu kan bisa ikut ke rumah calon suamimu, kita bisa makan bereng-bareng juga di sana," bujukku lembut pada gadis jangkung cantik di depanku ini.
"Mas Rushqi nggak mau membawaku menemui kamu di rumahnya. Ayolah, Liiiing. Nggak jalan banyak pun. Mas Rushqi akan bawa kita ke tempat makan terdekat." Keke mengguncang keras lenganku. Kurasa gadis Aceh ini mulai merasa kesal padaku.
"Nggak, Ke. Aku akan pesan lewat telpon aja sama orang kantin."
Tetap kutolak dengan kukuh. Andai hanya dengan Keke, tentu saja aku mau. Sebab Rushqilah aku keberatan. Janji tidak makan bareng dengannya, kan kuingat hingga kapanpun.
"Mari, pak Rushqi," sapaku saat melewati meja kursi di teras sebelum masuk rumah melewati pintu di sampingnya duduk.
"Heem," sambut Rushqi dengan dehemnya. Lelaki itu tidak melihatku. Sedang sibuk dengan ponsel yang di pegang. Laju kutinggalkan mereka di teras menuju ke dalam kamarku.
🕸
Keke pulang dari makan di luar saat baru kuterima paket ayam bakar dari pegawai kantin di asrama. Gadis cantik itu menemaniku makan di ruang televisi setelah bertukar baju di kamar.
"Cepat sekali kamu pulang, Ke?" tanyaku. Keke keluar dengan Rushqi hanya selama dengan waktu mandi sambung perawatan kulitku sekadarnya. Itu cepat sekali kurasa. Hanya tiga puluh menitan saja.
"Iya, Ling. Kami makan di kantin saja. Kebetulan sedang sepi," sahut Keke setelah agak lama merenungku. Terheran aku dengan ekspresi Keke yang terlihat tidak bersemangat.
"Kamu kenapa, Ke? Kayak mikir berat saja,," responku dengan wajah Keke yang nampak kosong memandang. Seperti yang tadi, mata itu sedang bingung menjawabku.
__ADS_1
"Keee... Kekeee...?" panggilku. Keke nampak tergagap menatap.
"Iya, Ling. Makanlah dulu. Habiskan dulu makanmu. Aku ingin cerita sesuatu ke kamu nanti, ya,," ucap Keke terdengar gamang sekali.
"Begitukah? Tunggu ya, Ke. Apa kamu mau ayam bakar ini? Nasinya banyak sekali," ucapku. Kuduga jika Keke tadi hanya makan sedikit dengan ekspresinya yang seperti itu.
"Iya, Ling. Aku kangen ingin makan yang sama denganmu. Nggak papa?" tanya Keke yang mungkin merasa segan untuk nebeng makan denganku.
"Ayook, ambillah sendok sana!" seruku bersemangat. Keke pun laju menuju dapur untuk mencuci tangan dan mengambil sendok.
Kami akan makan sama-sama seperti yang dulu sangat sering dilakukan. Nampaknya memang masih sama. Namun, dengan suasana hati kami yang berbeda.
🕸
Aku dan Keke baru saja menunaikan Isya berjamaah dengan Keke yang sebagai imamnya. Ini sempat menjadi kebiasaan kami saat dulu.
"Kamu ingin bicara apa, Ke?" tanyaku dengan duduk di tepi ranjangku. Tempat tidur kami berseberangan.
"Ling, aku takut banget," ucap Keke dengan lunglai.
"Kenapa, Ke?" tanyaku heran.
"Aku sudah membohongi mas Rushqi," ucap Keke dengan lirih.
"Bohong? Tentang apa, Ke?" tanyaku lembut ingin tahu.
"Tadi tiba-tiba mas Rushqi bertanya padaku. Dia bertanya terang-terangan, apa aku masih virgin apa tidak. Kayak gitu, Ling..." Keke menjelaskan dengan wajah sedih dan mata berkaca-kaca.
"Apa yang kamu katakan padanya, Ke?" tanyaku penasaran. Kurangkul Keke yang sudah menangis tidak tahan. Keke menangis tersedu.
"Aku sudah berkata bohong padanya, Ling. Aku takut tiba-tiba dia tidak bisa menerimaku apa adanya. Hik..."
"Sabar, Ke. Semangatlah, ingat jodoh kita bukan pada siapa yang kita inginkan. Tapi pasrah pada apa yang ditentukan olah yang diatas. Ingat itu, Ke," hiburku pada Keke semampuku.
__ADS_1
Keke menangis kian tersedu di pundakku. Aku sedang merasa simalakama yang sangat. Hadir juga rasa bersalahku, bahwa Rushqi sudah tahu jika Keke sempat menjadi perempuan lesbian. Maafkan aku, Ke.. Tapi bukan maksudku waktu itu..
🕸🕸🕸