
Kami cukup lama menikmati bakso beranak dan pedas di meja makan. Tidak ada percakapan lagi setelahnya. Masing-masing cukup sibuk dengan isi mangkuk yang membuat kian tak ingin berhenti makan. Hingga mangkuk ini bersih dan terdengar suara Rushqi.
"Kamu sanggup,,?" tanya dia sambil menunjuk sebungkus bakso lagi di meja.
Benar sangkaku jika Rush sangat suka bakso sepertiku. Makanan remeh temeh sangat lezat dan tidak membosankan.
"Gotong royong?" tanyaku tersenyum. Rush mengangguk yang juga lebar tersenyum.
Kini, Rushlah yang mengeksekusi bungkusan bakso ke dalam mangkuknya. Dan memindahkan sebagian ke dalam mangkukku.
"Kenapa tidak vegetarian seperti ayah kamu, mas?" tanyaku. Ingat prinsip pak Harjo yang seorang vegetarian, hanya makan sayuran dan segala olahan sayur. Bukan ikan dan daging, atau segala hewan lain.
"Ingin juga, tapi nantilah, kalo sudah tua," Rush tersenyum lebar padaku.
"Sudah, punyaku dikit saja. Aku tidak ingin perutku besar," tegurku saat Rush membagi lebih dari inginku.
"Kamu tinggal olahraga yang rajin. Perutmu tidak akan berlemak." Rushqi menyudahi pembagian. Sebab tanganku sudah sibuk ingin menarik menjauhkn mangkukku.
"Tapi habis ini kan tidur. Besok belum tentu ingat, apalagi sempat," ucapku pada fakta.
"Dan aku tidak terbiasa olahraga."Sambungku.
Ini memang benar. Semenjak bekerja di kota ini, dengan tumpukan kerja yang menguras tenaga, yang akan sangat lelah setelahnya, olah raga tidak prioritas lagi bagiku.
"Usahakan berolah raga. Sekarang kamu masih lajang, tidak terasa. Nanti jika kamu sudah punya anak, baru tubuhmu akan melar. Mudah menyimpan lemak. Sebab otot-otot dalam tubuh tidak dilatih jadi kencang," jelas Rush begitu terangnya. Kuakui teori dia itu memang benar.
"Iya, mas. Terimakasih pencerahannu. Sebenarnya ibumu juga menyediakan lapangan olah raga di depan kamar. Tidak kurang-kurang," ucapku tersenyum. Ingat pada sarana olah raga yang hampir tidak pernah kusentuh.
"Iya, itu memang khusus untukmu. Untuk anak kos. Kami tidak akan ikut menggunakannya. Dilantai dua sudah ada," ucap Rush.
"Iya, mas," sahutku mengangguk.
Memang ada juga tempat lapang di tengah teras lantai dua. Ibu kos sering kulihat berolahraga ringan-ringan di sana. Memutar youtube dari tablet dengan suara aerobik yang dispeaker. Suaranya membahana hingga ke kamarku.
"Tapi, apa vegetarian tertundamu itu tidak sama dengan olahraga yang juga tertunda?" usikku sengaja. Ingin tahu pendapatnya.
__ADS_1
"Sama juga sih, Ling. Daripada tidak, istilahnya detok saja. Tapi vegetarian hanya minoritas. Lain dengan olahraga, mayoritas masalah ada di situ," ujar Rush tanpa melihatku. Aku pun diam tidak lagi mendebat.
Obrolan kami seputar kebugaran terhenti. Rush mulai fokus dengan mangkuk, dan begitu juga denganku. Kami mulai menyendoki bakso keloter kedua di mangkuk ini dengan cepat. Meski kurasa lebih sedap di keloter pertama yang masih terasa hangat panas kuahnya.
🕸
Rush sedang menyiram tanaman saat kupulang kerja sore hari pukul tiga. Tidak pukul tujuh seperti biasanya. Sebab hari minggu, production hanya jalan mesin hingga delapan jam kerja saja. Lelaki itu menoleh dan nampak mendekat ke arahku.
"Assalamu'alaikum,," sapaku padanya yang kini berhenti di depanku.
"Wa'alaikumsalam. Kamu over time?" tanya Rush berkerut dahi padaku.
"Iya. Kami hanya dua orang.," jelasku setelah mengangguk. Tadi pagi tidak saling bertemu di meja makan, berangkatku pagi sekali. Semalam lah kami terakhir bersua.
"Istirahatlah." Rush menggerakkan dagu agar diriku berlalu.
"Permisi," pamitku pada Rush. Yang disambut anggukan kepala olehnya. Kutinggalkan dia dengan selang air yang mengucur di tangan.
"Lingga,,! Ada salad di meja makan untukmu,,!" seru Rush sebelum kakiku membelok ke samping rumahnya.
🕸
Meski tidak ingin makan, tidak sah rasanya jika sepulang kerja, sama sekali tidak menyapa dapur sebentar pun. Apalagi ada pesan dari anak induk kost jika ada salad untukku. Entah salad dari apa maksudnya.
"Ling,, sini Ling,,!" seruan bu Yanti menyambut saat baru kulewati pintu dapur. Kakiku pun mendekat dengan cepat.
"Ada apa, bu?" tanyaku sambil mengambil air minum di gelas dari poci. Rasanya dahaga sekali.
"Ini, dibelikan salad sama mas Rush. Uenak lho, Ling.." Bu Yanti mengangkat jempol kanannya padaku.
"Bu Yanti sudah makan?" tanyaku sambil duduk di kursi meja makan.
"Sudah, Ling. Mas Rush beli empat, semua dapat," Bu Yanti sambil pergi ke wastafel. Mencuci beberapa lonjor wortel di pancuran.
"Tapi hanya satu yang nggak sama. Kata dia, punya kamu yang ada topping stroberinya.." Bu Yanti sambil menolehku.
__ADS_1
Aku mengangguk saja. Meski dalam hati sedikit teruja, punyaku spesial dibedakan. Meski tidak tahu apa maksud Rush tidak menyamakan semuanya.
Salad buah ini rasanya lezat sekali. Ingin tahu di mana Rush membeli. Taburan kejunya melimpah dan rasanya puas sekali. Terlebih bu Yanti sempat menyimpankan sebentar di almari pendingin. Segernya jadi pas dan tidak dingin yang keterlaluan.
🕸
Sudah satu minggu ini dapat jatah masuk malam. Selama ini juga aku dan Rush tidak lagi bertemu. Sebab, lelaki itu diterbangkan perusahaan untuk ikut seminar di pulau Jawa di seberang. Di perusahaan mie instant yang sangat besar di kota Surabaya, Jawa Timur. Menemani Mr. Sung selama satu minggu di sana.
Dua orang saja QC yang masuk malam. Aku dan mbak Ita. Aku jaga back end, mbak Ita jaga packing. Soup room tidak buka saat malam.
Kerjaku bukannya jadi ringan, tapi dapat juga beban ganti. Miss Yong tidak mungkin membiarkan kami sedikit merasa longgar dan bersantai.
Beban pengganti itu adalah sambil membuat AV minyak dalam lab. Yang harus kulakukan dua jam sekali dan juga tepat waktu. Dan hasilnya harus kuserahkan segera pada bang Nurlahi. Supervisor back end yang juga jaga malam sepertiku.
"Bang Faruuuq,,,!" seruku lembut merayu leader back end. Faruq menolehku kemudian memandang baki dan centong minyak yang kubawa. Wajahnya nampak malas namun tersenyum. Kudekati tempatnya berdiri di dekat tangga mixer.
"Ambil sendiri, Ling. Kan tugasmu," tolak Faruq sambil pura-pura bermuka tegas.
"Kubuat AV tinggi," ancamku tanpa basa basi.
"Letak saja," ucap bang Faruq terdengar pasrah.
"Terimakasih, ya bang." Segera kuletak baki di tangga.
Mengambil minyak sangat panas dari tabung raksasa di tiap line telah teratasi. Faruq tidak kuasa menolak. Ancaman AV tinggi, adalah hal seram yang mengancam tenangnya. Bagaimanapun, menguras dan menukar minyak adalah kerja sangat berat untuknya. Jika pun QC asal menulis result dengan kadar lemak melewati batas, Faruq pun tak berdaya.
Juga sebaliknya. Jika orang back end akur dengan QC, segala out spek yang terdeteksi oleh QC, bisa dibincang bersama dengan mudah. Begitulah...
Kakiku berlalu menuju grinding untuk membuat record data awal mula malam ini. Ruang gelap gulita di grinding tiba-tiba ingin kukontrol sedikit benar. Kunyalakan seluruh lampu hingga terang benderang. Grinding tidak ada masuk malam. Orang-orangnya sudah pulang dari pukul lima petang.
Dua ekor tikus nampak terbirit lari melihatku. Ini adalah hal biasa bagiku. Merasa lega jika si tikus yang takut dan lari dariku. Membayangkan jika tikus tidak takut dan justru mendekat, akulah yang akan histeris takut bak orang kesurupan.
Seperti yang sudah kusangka. Mereka akan mengira jika QC hanya tidur selamanya. Padahal sekali waktu perlu membuka mata juga demi membuat sebuah high light untuk kelengahan mereka. Satu dari tiga surat warning letter yang wajib kuterbitkan malam ini.
Jahe, kunyit dan lengkuas yang banyak tercecer di lantai pencucian telah kupotret beberapa kali dengan kamera ponselku. Siap kucetak di printer di dalam QC ofice lab. Sebagai penyerta high light di satu warning letter yang kubuat untuk grinding room malam ini.
__ADS_1
🕸🕸🕸