Noodle In Love

Noodle In Love
39. Jemput Keke


__ADS_3

Tim auditor telah berlalu dariku semenitan yang lalu. Sangat lega jika seluruh prosedur yang telah sengaja kuterapkan, sukses kutunjukkan dengan gemilang. Juga belasan tanya yang dilempar auditor, telah kujawab seluruhnya dengan tepat dan logis. Tidak ada janggal dan sangkut tanya apapun dalam audit mereka kali ini.


Meski sangat lama, inspection kali ini telah kulakukan dengan jujur. Meski juga susah , tapi ibarat pengobat bagi rasa legaku dan rasa puasku. Hanya satu efek dari cek jujurku di Back End, tak bisa datang ke soup room tepat waktu. Bahkan mundur hingga satu jam dan belum juga kulakukan.


Tapi, Apron dan segala atribut yang kupakai ini sangatlah mengganggu dan membuatku tidak nyaman. Kini kurasa gerah yang luar biasa di tubuhku.Tanganku bahkan sudah mengembun air dari jemariku yang keringat sebab uap yang panas. Mesin pembuatan mie yang sedang berkebul dan berasap ini luar biasa panas terasa.


Rasanya ingin kuhempas apron dan glove di tanganku. Ini membuat turun mood dan juga kesusahan menulis. Mendadak berubah sangat kesal dengan manager baru yang menuntutku mengenakan baju apron. Panas ini membuatku berkeringat yang terasa mengalir ngalir di punggung dan di dada.


🕸


Tidak kusangka saat pulang, kendaraan milik pak haji Harjo sedang menunggu di luar gerbang perusahaan. Tidak ada lagi pekerja yang nampak berkeliaran. Sebab sepertinya, akulah pekerja terakhir yang menggesek kartu pekerjaku di mesin absensi kedatangan dan kepulangan itu.


Tin..! Tin..!


Jika sebelumnya tidak kusuka bunyi bising seperti ini. Sekarang justru berharap kudengar agar seseorang yang membunyikan klakson kembali membawa dan mengantarku pulang ke rumahnya.


Sepi ini sangat menguntungkan untukku. Tidak bisa dibayangkan, akan jadi ghibah sangat sedap jika kami kedapatan pulang pergi bersama.


"Terimakasih ya, emmm,, eh, anu, pak.."

__ADS_1


Kurasa bingung sendiri bagaimana menyebut Errushqi. Hanya kurasa saat ini dia sangat baik telah sudi menunggu dan membawaku.


Bibir tipis maroon itu tetap saja merapat tanpa membuka menyahutku. Mungkin dia rasa suka dan bangga disebut pak. Akan kupanggil pak saja sejak saat ini.


"Eh, pak, kita mau ke mana?" tanyaku heran saat jalan menuju perumahan cluster, tempat kamar sewaku terlewati. Rushqi terus fokus ke jalanan tanpa menoleh padaku.


"Pak Rushqi, kita mau ke mana?" tanyaku mengulangi.


Aku tidak takut atau resah, tapi ingin tahu ke mana dia membawaku. Mana tahu dia akan mengajakku makan malam di restaurant mewah atau bisa jadi ke bioskop.


Ah, anehnya aku yang justru merasa berharap. Bahkan tidak sekedar mengharap, tapi dadaku juga telah berdebar lebih kencang.


Tiba- tiba Rushqi mengerem mendadak dan berhenti di depan pagar salah satu perusahaan di area Muka Kuning. Letaknya tidak jauh dari perusahaan tempatku dan Rushqi. Eh,, kalau tidak salah, di perusahaan inilah Keke bekerja. Jadiii...


"Pak Rushqi, kamu ingin menjemput Keke?" tanyaku dengan perasaan tak menentu. Merasa diri adalah upik abu yang bertugas penggembira.


"Iya, dia bilang ingin bertemu kamu," ucap Rushqi singkat dan pelan namun sangat jelas. Jika di luar, dia seperti enggan untuk bicara denganku. Seperti akan turun harga dirinya jika sampai berdialog denganku.


"Apa kalian sudah sering bertemu?" tanyaku dengan sengaja. Mungkin Rushqi akan merasa kesal padaku.

__ADS_1


"Apa kamu merasa itu penting untuk kamu tahu?!" tanya Rushqi tajam menusuk. Ini sangat menyindirku, namun memberi efek seperti inginku, dia menyambut berbincang.


"Iya, kurasa penting. Jujur, aku ingin tahu dengan perkembangan hubungan kalian. Mengingat Keke temanku. Yang ternyata tempat kerja Keke tidak jauh. Kamu juga mengajakku ke sini. Apa salah jika ingin tahu dan langsung kutanyakan?" tanyaku menggebu.


Mungkin ini lucu sekali dan entah apa yang kuinginkan. Bisa jadi aku akan dianggap pengganggu. Tapi serasa tidak terima jika Rushqi mendiamkanku dan tidak menganggap keberadaanku.


"Jika ingin tahu, kamu lihat sendiri. Kamu nilailah sendiri," ucap Rushqi tanpa menolehku. Jawaban Rushqi membuatku sadar sesuatu.


"Mau ke mana?!" tanya Rush padaku saat akan kubuka pintu mobil.


"Ke belakang. Ini tempat Keke," sahutku menoleh sebentar.


"Tidak usah tukar duduk. Di situ saja. Hanya sebentar," ucap Rushqi padaku. Dengan cepat, tangannya sambil mengunci auto pintuku. Ah, dia ini, membuat berdebar kencang dadaku.


"Jika Keke merasa jeles dan marah padamu, tanggunglah sendiri," ucapku dengan nada kesal yang pura-pura.


Rushqi tidak menyahut seperti sikap favoritnya. Namun mata pekat tajam itu nampak berkilat memandangku. Kupalingkan wajah lurus ke jalanan. Aku tak ingin Rushqi mendapatiku sedang gugup dan berdebar. Akan malu jika dia tahu bahwa aku sedang salah tingkah sebab tatapannya padaku.


🕸🕸

__ADS_1


__ADS_2