
Tidak ada lagi kata-kata Rush yang keluar untukku. Kami terus saja saling bisu hingga habis makanan di piring. Meski aku dulu yang mulai makan, namun hasil akhirnya adalah Rush yang selesai lebih cepat.
Dia tidak duluan pergi namun terus duduk diam yang kurasa sambil memperhatikanku. Mungkin menungguku selesai untuk bersama-sama kembali menerima tamu di depan.
Tidak ada komentar atau gerutu saat kusengaja berlama-lama dengan kunyahan dan telanku. Hingga selesai pun, Rush tidak juga bersuara.
Demi memperlama dan membuat Rush bersuara kesal, tidak juga selasai acara berlama-lama di dapur. Kubuat kopi meski tak ada niat kuat meminumnya saat ini. Tapi, dia tidak berkomentar dan terus duduk dengan tenang mengawasi.
Kopi yang biasa kubuat hangat, kini sangat panas sebab pure menggunakan air mendidih. Hingga duduk kembali di depannya sambil kuletak kopiku, Rush tetap saja mode bungkam.
Sambil berlagak menunggu kopiku menghangat, kumainkan ponselku di meja. Kuharap Rush merasa kesal dan menegurku. Sebab perasaanku mulai kesal sendiri dan sangat tidak enak. Segan dengan induk kos yang sekarang pasti sudah banyak tamu dan sibuk melayani. Sedang kedua anggota timnya justru bersantai ria di sini.
"Kenapa kamu berlama-lama di dapur?" tanyaku tidak tahan pada lelaki menyebalkan di depanku.
"Bukankah kamu yang sangat berlama-lama di sini?" tanyanya datar tanpa nada ekspresi.
"Kamu tidak paham, aku sedang menunggu dingin kopiku? Sedang kamu, apa yang kamu lakukan? Kamu hanya duduk diam, lebih baik kamu ke depan saja menyalam tamu," ucapku dengan sinis.
"Kamu pun alasan saja membuat kopimu panas," ucap Rush sambil berdiri.
Meski menggerutu, nada bicaranya dengan pelan dan tidak menyakitkan. Tapi ini bukan yang kuharap. Rush tidak terpancing untuk kesal padaku.
Terheran saat Rush menyambar kopiku dan menuangkan di gelas besar. Menambahkan isinya dengan air dingin di poci. Aku ingin tertawa dengan kelakuannya. Dia pasti akan menyuruhku menghabiskannya segera.
"Sudah hangat, minumlah," ujarnya menyodorkan gelas besar di tangannya.
"Ini tidak enak. Tidak manis, kelebihan air," ucapku menolaknya. Rush nampak tersadar dan mengacak sebentar rambutnya yang rapi.
"Kamu cicipi saja, jika tidak enak buang saja." Rush telah duduk dan semakin memajukan gelas di depanku.
Segera kusambar gelas itu untuk sekedar membuktikan ucapanku. Rasanya memang tidak enak, sangat kurang manis. Aku tidak suka.
"Kamu membuat kopiku terasa sangat tidak enak. Membuat sesuatu jadi mubadzir. Habiskan sendiri kopi ini." Kuletak gelas besar ini di meja kembali.
"Kamu sudah?" tanya Rush memandangku dengan ekspresi yang sabar. Aku menggeleng memandangnya. Kenapa dia tidak nampak kesal?
__ADS_1
Tak kusangka, supervisor kekanakan itu mengambil gelas kopi dan meneguknya cukup lama. Lalu diletaknya kembali. Tiba-tiba merasa kikuk dan segan.
Rush telah meminum hingga habis isi gelas. Hatiku yang semula tersumpal bongkahan gunung es, seketika mencair dan meleleh. Hanya sesederhana itu penyebab hatiku kembali menghangat padanya.
"Ayo kembali ke depan denganku, Ling. Baju dan penampilanmu sangat bagus. Apa tidak sayang hanya kamu pamerkan di dapur? Tidak ada orang di sini selain aku. Apa kamu cukup puas hanya dengan pujianku saja?"
Duh, sikap Rush padaku semakin susah kumengerti. Bicaranya barusan tidak bisa yakin kupahami. Entah tulus memuji penuh damai, atau kembali memancing sabarku dengan rasa bencinya. Hanya kesal padanya saja yang meraja hatiku.
"Aku malu memakai baju yang sama denganmu," ucapku. Merubah fakta perasaanku. Mencoba membuatnya sedikit tersinggung.
"Kenapa kamu merasa malu?" tanya Rush denga lembut. Aku sedikit kaget karenanya.
"Apa aku sangat memalukan? Aku tidak tampan? Aku jauh dari sempurna? Aku tidak pantas memakai baju yang sama denganmu? Yang mana alasan kamu, Ling?" tanyanya lagi dan banyak sekali padaku. Susah payah kututupi rasa bingung dan kagetku. Supervisor kekanakan itu cukup lihai merayuku.
"Aku tidak ada satu pun alasan," sahutku ketus dengan buru-buru berlalu.
Kutinggalkan dia di dapur dengan buru-buru berjalan melewati ruang induk menuju ke teras.
Namun sebelum melewati pintu, bahu ini ditepuk pelan dari belakang. Rushqi sudah hampir sejajar denganku, panjang sekali kakinya. Kupasrah saat kami harus berjalan bersama.
Terganti dengan bapak kyai penceramah terhormat yang telah di undang oleh sang tuan rumah sebagai pengisi inti acaranya. Telah berdiri berwibawa di atas panggung sebagai pembawa tausiah dan wasilah.
"Kamu ini makan lama banget sih, Rush. Untung ada Denis yang standby nyalamin tamu. Cepat ke depan sana!" seru bu haji pada anak lelakinya.
"Ling, apa kamu digangguin sama Rushqi?" tanya bu haji padaku sambil memegang pundakku.
"Enggak kok, bu," ucapku sebenarnya. Pria itu sejujurnya memang tidak menggangguku. Hanya mengusik yang membuatku selalu sakit hati. Tak mungkin jika kuadukan pada induknya saat ini.
"Ya sudah,,, Rushki, bawa Lingga ke depan. Gabung sama Denis dan mbokmu," ucap bu haji pada anak kelaki, namun memandangku dan tersenyum.
Tak ada bicara, kuikuti Rush ke depan sambil sesekali berhenti. Menirukan menyalam para tamu yang berpapasan dengan kami. Meski tidak mengenal, kusambut dengan senyum sangat manis pada seluruh tamu tuan rumah yang telah mengumpan senyum padaku.
"Kalian makan batu kah? Giliran kalian yang majang, aku mau ke kamar mandi. Rush, mana kunci kamarmu?" tanya Denis dengan wajah yang suntuk.
"Naik saja. Tidak pernah kukunci," sahut Rush yang kemudian karam dalam menyalam pada tamu yang datang.
__ADS_1
"Ling, kutinggal dulu. Perutku sakit, tak tahan lagi. Untung kalian datang tepat waktu." Denis berkata sebelum beranjak pergi menuju teras rumah induk.
Kini tinggal aku, bu Yanti dan Rushqi yang berdiri di depan gerbang menyambut tamu datang. Sedang bu haji dan pak haji memilih berdiri di samping meja prasmanan yang bisa berbicara agak lama dengan para tamu di sana.
Urutan kedatangan tamu dari pintu gerbang, langsung on the way menuju meja prasmanan. Mengambil makan dan membawanya menuju meja-meja yang tersedia banyak di depan panggung ceramah.
Mereka akan menjamu selera sambil mendengar tausiah secara live dari bapak kyai penceramah. Selain makanan berat di meja prasmanan, di meja-meja tamu juga tersaji kotak-kotak kecil salad buah serta minuman kemasan sebagai pencuci mulut yang segar.
Bu haji dan pak haji kembali bergabung bersama menyambut tamu di gerbang. Tamu yang datang sudah jarang dan bahkan telah berhenti sama sekali alirannya. Tinggal satu keluarga yang nampak akrab dengan sang tuan rumah.
"Sebentar lagi mau mantu ya, jeng?" tanya seorang wanita setengah baya pada bu haji sambil memandangku dan Rush.
"Iya, Jeng. Tolong doakan saja agar diberi kelancaran, ya.." Bu haji menyahutnya sambil memandangku dan Rush sejenak.
"Iyyaa, Insya Allah pasti lancar. Mereka sangat serasi sekali lho, jeng. Sangat menyenangkan dilihat," timpal ibu itu kembali.
Terpaksa kulempar senyum manis saat dia kembali menoleh dan tersenyum lebar padaku. Coba legowo dengan segala ekspresi di raut wajah kepo mereka.
Itu hanyalah sebagian komentar yang telah banyak kudengar malam ini. Banyak yang mengutarakan langsung isi hati dan pemikirannya bahwa aku dan Rush adalah calon pasangan yang serasi.
Yang anehnya, tidak ada rasa sakit hati atau penolakan keras dengan sangkaan mereka. Aku dan Rush sama-sama diam dan pasrah dengan dugaan mereka akan kami. Tidak peduli jika kamilah bahan ghibah di meja mereka.
Kedatangan tamu benar-benar berakhir hingga bu Fatimah mencolek pelan bahuku.
"Lingga,, Rushqi. Jangan pergi dulu. Itu ada rombongan dari orang pajak rekan ayahmu baru datang. Temani menyalam sebentar," ucap bu haji padaku dan Rush.
Di luar pagar, nampak beberapa orang lelaki baru turun dari mobil. Pak haji dan bu haji tersenyum lebar menyambut kedatangan mereka yang mendekat.
Ikut kusalami mereka seperti Rush yang berdiri paling dekat di pagar. Beberapa lelaki itu melewatiku setelah bersalaman dengan lancar. Hingga seseorang berdiri diam dengan masih menggenggam erat tanganku. Orang itu termenung-menung menatapku. Aku pun tak kalah terkejut dan tertegun memandangnya.
"Lingga,,,??" sebutnya lirih dengan kian lekat menatapku. Mulutku bungkam dan rasa bibirku pun sangat kaku.
"Kenapa kamu di sini?" tanyanya lagi sebab aku terus terdiam. Aku juga tak kelah heran darinya. Tidak menyangka jika kami akan mendadak bertemu malam ini. Ini sungguh kejutan hebat bagiku.
🕸🕸🕸
__ADS_1