
Bincang bersama di loteng kamarku malam itu, adalah saat akhir Rush bersikap manis padaku. Yang setelahnya, sikap Rush abai dan diam dingin kepadaku. Ini sudah berlalu hingga satu minggu lebih lamanya.
Bukan hanya acuh tak acuh saat dalam rumah, namun berlaku juga sikap tidak ramah Rush padaku di meja makan dan juga saat kerja. Mata hitam pekat dengan bulu mata lentik dan lebat itu tidak lagi ingin memandangku. Hampir tidak pernah dan Rush seperti sengaja menghindari menatap wajahku.
Pagi ini sedang sarapan pagi sebelum berangkat kerja pukul tujuh. Rush yang biasanya tidak ada, kini juga ada di meja makan dan duduk abai di depanku. Mata tajam pekatnya tidak memandangku sekali pun. Meski aku juga tidak tahu apa saja salahku selain menolaknya malam itu. Tapi Rush sudah berubah jadi seperti menghindariku.
"Lho mas Rush, masuk pagi-pagi lagi?" tanya bu Yanti pada lelaki yang nampak rapi dengan kemeja lengan panjang navynya.
"Iya, mbok. Masuk pukul tujuh hingga beberapa hari ke depan." Rush sambil mengambil sarapannya.
"Lha kenapa tiba-tiba pagi lagi, mas?" tanya bu Yanti kian kepo, yang diam-diam aku pun begitu. Selalu ingin tahu tentang dia.
"Dapat training dari manager, mbok," sahut Rushqi tanpa memandang bu Yanti.
"Lhoh,,! Memang sudah mau diangkat?!" seru bu Yanti terkejut. Aku pun juga heran.
"Iya, mbok. Manager yang sekarang, sudah akan ke Singapore," jawab Rushqi sambil mengangguk.
"Waaah, mas Rushqi. Sukanya jadi manager di perusahaan orang. Sama orang tuanya diminta jadi direktur di perusahaan sendiri, di rumah makan, enggak mau."
Bu Yanti berbicara sambil meletak kopi mengebul asap. Tentu saja itu untuk Rushqi, kopi sangat panas. Bukan untuk aku.
__ADS_1
"Nanti pun kalau aku sudah merasa cukup belajar, akan kembali juga kok, mbok. Ini hanya buat pengalaman saja. Kalo nggak gini, juga nggak bakal ngerasa di warning belut cantik dari seberang," ucap Rush dengan santai.
"Belut cantik? Siapa itu, mas? Weleeeh, rupanya mas Rus ada yang dimaukan di tempat kerja ya. Ingat, sudah ada calon lho, mas,," bu Yanti tersenyum menimpali dari wastafel..
Apa yang dia bilang? Siapa maksud dia? Akukah, belut cantik dari seberang yang dikatanya itu? Tapi gadis QC bukan aku saja. Gadis melayu dari pulau di seberang juga ada beberapa. Rushqi pun juga tidak memandangku sedetik pun. Memanglah, aku dilarang kepedean. Tapi apa maksudnya menyebut belut,,
"Ling tumben kamu pakai celana jins... Kamu ini ngopo sih, Ling. Dari tadi hapean saja, itu lho makananmu keburu dingin," tegur bu Yanti sambil meletak kopi lagi. Kali ini tanpa ada kebul asapnya.
"Iya, bu. Terpaksaa.. Kehabisan celana. Orang laundry nggak datang-datang. Nggak ketat banget kan, bu?" tanyaku pada bu Yanti.
"Nggak kok, yang penting bukan celana leging, Ling," sahut bu Yanti menyemangatiku.
"Lha kenapa itu hapean terus. Dari tadi sarapannya ora habis-habis. Ora enak, Ling?" tanya bu Yanti. Mungkin risau jika masakannya tidak enak.
"Ya barengan sama mas Rus saja, Ling. Kan masuknya sama,," ujar bu Yanti menyarankan.
Kulempar pandang pada Rushqi di depanku. Lelaki itu tetap abai tidak menyambut saran bu Yanti. Kurasa lelaki itu berubah kejam padaku. Tidak ingin peduli lagi terhadapku.
"Pengen bareng juga aku, mbok. Tapi segan, yang bersangkutan kayaknya keberatan," ucapku menyindir dengan sengaja padanya.
Huh, bahkan sudah kusindir sebegitu pun, Rushqi abai dan tidak merespon ucapanku. Kesal, sebal sekali rasanya dengan Rushqi. Kekanakan sekali, kadang baik dan kadang pun tak peduli. Hingga kini pun, calon manager kekanakan itu sudah lama mengabaikan adanya diriku. Yah, nasiiib...
__ADS_1
Rushqi sudah pergi meninggalkan meja makan beberapa menit yang lalu. Tentu saja dengan diam dan tanpa berbasa basi padaku dan bu Yanti. Kini, aku pun bersiap berdiri dan pergi.
"Sabar ya, Ling. Mas Ruski memang jadi sangat pendiam akhir-akhir ini. Semenjak dijodohkan itu kayaknya. Mungkin dia sedang menjaga hati untuk calon istrinya seorang, Ling," sambut bu Yanti dengan senyum-senyum padaku.
"Eh, iya bu. Aku berangkat dulu. Assalamu'alaikum!" pamitku pada bu Yanti.
Kakiku bergegas keluar dapur untuk segera pergi kerja. Yang entah naik apa, aku pun rasa bingung. Hanya pergi ke halte di luar komplek sajalah tujuanku. Terkadang ada taksi kosong yang berlalu di sana.
Langkah kaki kuperlambat saat akaan melewati gerbang. Mobil pak haji Harjo sedang berhenti di tengah pagar. Tentu saja si Rushqilah yang sedang membawanya. Entah apa yang lelaki itu lakukan di dalam. Aku hanya ingin menyelip dan melewatinya dengan cepat. Jika begini, waktuku tidak akan banyak tersisa.
Tin..! Tin..!
Rushqi membunyikan klakson dengan keras saat kumenyelip hampir habis. Ingin tak peduli, namun namaku dipanggil nya.
"Lingga, cepat naik!" seru Rushqi dengan menolehkan wajahnya padaku dari kursi kemudi.
Ah, pucuk dicinta ulam pun tiba. Memang ini yang kuharap. Sebab dia memandangku, meyakinkan dengan seruan untuk menumpang mobil dengannya. Segera kumasukkan diriku dengan duduk bersebelahan. Rushqi bersiap melaju tanpa perlu lagi menolehku.
"Terimakasih, ya mas," sambutku lembut akan kejutan baiknya ini pagi-pagi.
"Hemm.." Rushqi hanya bersuara dehem pendek dan tidak juga mengangguk. Tidak masalah, yang penting telah sudi membawaku pergi kerja dengan segera. Paling tidak, melepasku dari masalah yang belum kudapat solusinya.
__ADS_1
🕸🕸🕸