
Tim audit benar-benar datang di hari ke empat kami standby di asrama. Tim audit dari staff asrama datang hendap dan senyap dini hari sekitar pukul dua. Memanggil satu persatu nama yang tertera sebagai penghuni rumah asramaku.
Entah kami yang terlalu lihai, atau schedule audit yang sangat mudah bocor dan terendus. Yang jelas, seluruh nama penghuni di rumah asrama yang berjumlah sepuluh orang itu ada semua malam ini. Yang aku tahu, beberapa teman serumah juga tinggal di luar asrama sepertiku.
Tapi, mereka tinggal bersama para lelakinya di luar. Kegiatan kumpul kebo di luar sangat banyak dilakukan oleh sebagian warga asrama. Bahkan pria warga asrama juga tak terhitung yang menyelipkan perempuan asrama saat malam. Mereka cukup kompak untuk menutupi dan saling bekerja sama.
"Ling, apa besok kamu akan langsung kembali ke rumah kosmu?" tanya Keke dari ranjang di seberang. Kami telah kembali ke kamar setelah tim audit keluar dan meninggalkan rumah kami untuk bergeser ke rumah selanjutnya.
"Nggak dulu, Ke. Kayaknya nyaman saja kembali ke sini. Rame. Lagian kamu dah selingkuh sama mas Rushqi. Jadi nggak ada lagi yang perlu kita takuti kan, Ke?" tanyaku pada Keke dengan kepala yang juga menolehnya.
Keke nampak tersenyum kecut padaku. Matanya agak memerah sebab terbangun mendadak dan terkejut. Mungkin mataku pun juga sama merah dengannya.
"Ah, Ling. Maafkan aku waktu itu, ya. Gara-gara kegilaanku, kamu jadi korban," sahut Keke dengan tatapan kosongnya padaku.
"Jangan bahas lagi, Ke. Yang penting kamu dah berubah. Lagian kalo nggak ada kamu, waktu itu aku dah jadi mayat hidup," timpalku pada Keke. Yang disusul dengan menguap lebar dari mulutku.
__ADS_1
πΈ
Aku masih merasa enggan untuk kembali ke rumah kosku. Begitu juga dengan Keke, dia belum ingin kembali ke Nagoya.
Hampir tiap pulang kerja, selalu ada Rushqi di teras mengapelinya. Keke tidak absen untuk mengajakku makan malam di luar. Tapi selalu berakhir dengan penolakan halusku yang meyakinkan.
"Ling, habis mandi keluar ke teras, ya! Kita makan bareng," ucap Keke yang menghadangku di teras.
"Enggak, Ke. Aku order di orang kantin saja!" sahutku setelah melepas sepatu dan meletaknya di rak teras.
Keke berkata sambil menunjuk meja yang memang ada tiga kotak kemasan makanan di atasnya. Kupandang sekilas si pembawa kotak makan yang juga sedang memandangku. Tak kusangka Rushqi tersenyum sambil samar mengangguk. Inilah kali pertama kami saling memandang. Biasanya lelaki itu hanya abai dengan fokusnya di ponsel. Tidak pernah nampak melihatku. Kini bahkan sambil melempar senyum padaku. Ah, Rushqi,, semakin tampan saja kamu!
"Oke, Ke. Aku akan keluar sebentar lagi."
Kutinggalkan teras menuju kamar untuk mandi sebentar. Pandangan dan senyum Rushqi seperti sedang merayu agar aku bersedia makan bersama di teras.
__ADS_1
Aku merasa seperti tidak bertemu dengan Rushqi sangat lama. Minggu ini lelaki itu tidak pernah turun ke lapangan di back end. Sibuk pada urusan teori dan serah terima jabatannya. Mr. Sung mempercepat mutasinya ke Singapore beberapa bulan lebih awal.
"Terimakasih, pak Rushqi sudah repot-repot membawakanku makanan. Kuharap besok jangan lagi dan ini cukup yang pertama dan terakhir," pintaku pada Rushqi dengan jelas. Kami bertiga duduk di teras dengan saling berhadapan.
"Aku tidak merasa repot. Ini semua mbok Yanti yang nyiapain, disuruh mama," ucap Rushqi sambil memandangku
"Akan terus begini selama kamu dan Keke masih di asrama," sambung Rushqi menerangkan, yang kemudian menunduk pada isi kotak makanan miliknya.
"Terimakasih. Maaf sudah merepotkan kamu," ujarku tidak enak hati pada Rushqi. Lelaki itu tidak menyahut, juga tidak mengangkat wajah untukku.
Aku dan Keke saling pandang. Keke nampak tersenyum kemudian.
"Tapi kurasa ini memang sangat bagus untuk kalian berdua. Kalian jadi sering bertemu," ujarku pada Rushqi yang bermaksud ingin tahu reaksinya. Keke terdiam memandang tegang padaku.
"Assalamu'alaikum!!" seru seorang lelaki dari arah belakangku. Namun, aku sangat hafal suara itu milik siapa. Seketika dadaku berdebar untuk menoleh lelaki di belakangku.
__ADS_1
πΈπΈπΈπ