Noodle In Love

Noodle In Love
46. Putra..


__ADS_3

Pelempar salam sapa di teras belakangku, sangat kuhafal suara siapa. Suara yang sempat menjadi intonasi terseksi di dunia bagiku. Kini sangat tidak kuharap terdengar olehku.


"Wa'alaikumsalam!" Rushqi adalah orang yang melempar balasan salam dari lelaki di belakangku. Aku dan Keke hanya bungkam saling pandang.


"Maaf, apa mungkin saya datang di waktu yang tidak tepat?" tanya lelaki itu dengan gamang.


"Oh, Tidak, mas. Mari silahkan. Kebetulan kami hanya sedang makan malam bersama. Apa anda ingin dipesankan makanan dari kantin?" tanya Rushqi dengan ramah pada lelaki itu, yang tak bukan adalah Putra, mantanku yang tega.


"Tidak perlu, mas. Saya kebetulan sudah makan." Telingaku menegak mendengar percakapan mereka.


"Apa ingin menemui Lingga?" tanya Rushqi sambil memandangku. Mungkin Rushqi heran kenapa aku tidak juga menyambut Putra.


"Benar, mas. Saya ingin bertemu dengan Lingga," sambut Putra pada Rushqi.


"Untuk apa ingin bertemu denganku?!" tanyaku setelah cepat berdiri dan berbalik badan.


Putra menatapku lekat dan tanpa senyum di wajahnya. Matanya seperti akan menelanku bulat-bulat ke dalam lambungnya. Lelaki itu seperti kehabisan kata untuk berbicara denganku.


"Untuk apa ingin bertemu??" tanyaku lagi dengan sengit. Melihat lelaki ini, rasanya kembali sakit sekali hati ini.


"Aku ingin berbicara hal penting denganmu, Lingga," sahut Putra terdengar tetap tenang.


"Bukankah kamu bilang bahwa dirimu sudah mati?!" tanyaku on point dengan kasar. Hatiku sakit sekali.


"Aku minta maaf Lingga. Sebab itulah aku ingin bicara. Habiskan dulu makanmu. Setelah itu, ikutlah aku sebentar. Kita perlu berbicara," kata Putra dengan gayanya yang seperti dulu. Suka mengaturku.


"Aku tidak mau. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Waktu itu kamu meminta ke aku untuk menganggapmu sudah mati. Bukankah kamu juga menganggapku sudah mati?" tanyaku sinis pada Putra.

__ADS_1


"Sebaiknya kamu habiskan dulu makanan kamu, Ling." Putra memandang arah meja di belakangku.


"Memang akan aku habiskan, tanpa kamu suruh pun," sahutku sambil kuputar badan lagi dan duduk.


"Silahkan dilanjut saja makannya. Maaf, jika mengganggu," kata Putra. Kudengar menyeret kursi dan dibawanya ke ujung teras yang menjauh dari kami.


"Kenapa sikapmu seperti itu pada calon suami kamu??"


Kudongak wajahku. Rushqi baru saja bertanya padaku dengan kedua alis yang bertaut. Keke nampak melotot memandangku dan Rushqi.


"Siapa bilang dia calon suami Lingga?? Mereka sudah putus. Mereka bukanlah siapa-siapa lagi," ucap Keke menyela dengan lirih.


Rushqi memandang Keke sekilas, lalu kembali memandangku dengan tajam. Dadaku berdebar, bersiap mendengar kemungkinan cercanya padaku.


"Apa yang dikatakan Keke itu benar, Lingga? Putra bukan siapa-siapa kamu? Sejak kapan?" tanya Rushqi beruntun dengan suara penuh tekanan.


"Jadi sudah lama?" tanya Rushqi dengan tatapan matanya yang masih tajam padaku.


"Iya," sahutku pendek tanpa kupandang lagi wajah Rushqi. Jengah dengan tatapan tajam matanya.


Kutoleh Putra yang terus memandangku sambil duduk dengan diam. Tiba-tiba aku ingin berbicara dengan Putra. Segera kulanjut makanku dengan cepat. Ingin tahu apa alasan Putra kembali mencariku. Apa yang ingin dibicarakan lelaki tega itu denganku.


"Cepat sekali makanmu, Ling? Apa kamu akan pergi keluar dengan Putra?" tanya Keke mengusik laju makanku.


"Iya, Ke. Aku ingin tahu, apa tujuan Putra sebenarnya," sahutku sambil terus makan.


"Apa Putra masih spesial bagimu?" tanya Rushqi tiba-tiba padaku.

__ADS_1


"Kenapa?" tanyaku kembali pada Rushqi.


"Jika tidak spesial lagi, kalian bicara saja di sini," ucap Rushqi dengan nada yang datar.


"Aku setuju, Ling. Kalian kan bukan apa-apa lagi. Bicara saja di sini jika Putra mau. Aku pun bisa membelamu jika dirasa perlu," ucap Keke yang mungkin masih merasa ikut sakit hati saat ingat keterpurukanku kala itu.


"Baiklah, Ke,," ucapku setelah kupertimbangkan sejenak. Mengingat Keke adalah penyembuh luka dan penyemangatku kala itu, Keke juga sudah mengerti segala sebabnya. Kurasa tidak masalah jika Keke ikut terlibat denganku dan Putra.


Sebentar saja, nasi dalam kotak makan kami sudah habis. Kurasa apa yang Rushqi tadi bilang memang benar. Ini adalah masakan bu Yanti yang enak.


Rushqi memandangku yang baru saja meneguk air dari gelas kemasan. Keke juga baru meletak gelas minumnya di meja. Kami bertiga saling memandang sejenak.


"Kupanggil Putra gabung ke sini?" tanya Rushqi padaku. Aku pun mengangguk dengan cepat.


"Mas Putra! Kami sudah selesai makan, dan tidak keberatan jika anda bergabung dengan kami!" seru Rushqi pada Putra di ujung teras.


Putra langsung berdiri dengan cepat dan menghampiriku.


"Permisi.. Ayo ikut aku keluar sebentar, Ling," Putra sedikit membungkuk melihat di wajahku.


"Apa kamu ingin bicara denganku? Aku hanya ingin berbicara denganmu di sini. Duduk saja bersama-sama di sini," ucapku tegas pada Putra.


"Ini masalah pribadi kita, Ling. Ayolah sebentar saja." Putra membujukku dengan sedikit membungkuk.


"Kita sudah tidak memiliki masalah pribadi apapun. Kita mengobrol saja di sini," sahutku datar pada Putra.


Putra menghela nafas sambil meluruskan tubuh dan leher. Kemudian mengambil kursi lagi yang sempat ditarikkan oleh Rushqi untuknya. Putra akan duduk tepat di sebelahku.

__ADS_1


🕸🕸🕸


__ADS_2