Noodle In Love

Noodle In Love
38. Teguran


__ADS_3

Perjalanan singkat ke tempat kerja berlalu dengan lengang. Tak ada niatanku untuk mamancing bincang jika Rushqi terus menunjuk wajah datar. Lebih baik lanjut bungkam daripada membuka mulut yang ternyata tidak mendapatkan sambutan.


"Terimakasih, mas," sapaku acuh saat tiba di latar parkir.


"Apron kerjamu mana?" tanya Rush tiba-tiba saat aku akan turun.


"Di locker," jawabku mengambang dan bingung. Kenapa juga dia menanya celemek kerjaku tiba-tiba. Tapi Rushqi diam dan abai tidak lagi memandangku.


Kutinggalkan Rush yang masih berkemas di mobil. Bukan aku tidak bermoral atau tidak sopan, tapi Rushqi nampak tidak suka dengan adanya aku bersamanya.


🕸


Minggu ini yang seharusnya masuk malam dan bertugas di back end, miss Yong memintaku standby masuk pagi. Akan ada auditor yang datang mengeksekusi back end prosedur area minggu ini. Miss Yong ingin akulah QC yang berjaga saat datang sang auditor di Back End.


Aku pun pasrah dengan hati bersuka cita . Pada dasarnya, aku tidak suka masuk malam dan terasa menyenangkan di shift pagi. Meski saat pagi seringkali auditor dari perusahaan sendiri atau dari instansi luar terkait yang tiba-tiba datang menyelidik proses pembuatan mie instant dengan segala prosedurnya.


Miss Yong telah berubah seratus delapan puluh derajat perilakunya. Tidak lagi galak dan sinis. Tapi kini berkondisi sangat miris dengan penyakit berat dan kronis yang bercokol di perut bawahnya. Ya, miss Yong divonis menderita sakit ginjal dengan kasus infeksi dan pembengkakan.


Miss Yong hanya sering duduk dan tidak lagi marah-marah yang melengking seperti dulu-dulu. Kami menganggap jika ini adalah berkah untuk kami di balik musibahnya. Meski ada rasa gembira yang rahasia, tapi kami juga merasa belasungkawa dan iba untuknya.


🕸


Setelah menyambang dari grinding room dan bergeser ke guargam, kupergi naik tangga menuju mixer. Mengisi banyak record data yang nyatanya tidak juga kulakukan satu pun.


Sebab, saat pencampuran bahan untuk menjadi adonan, mungkin aku sedang duduk sarapan di meja makan dengan santai dan tenang. Tidak mungkin mereka menunda mixing, sedang packing di depan sana harus mengemas product start pukul tujuh.


"Pagi Ling!" sapa lelaki di belakangku. Ternyata adalah Dimas, leader mixer yang biasanya menjadi lawan shiftku. Pemuda tampan, anak rekrut dari disnaker Sidoarjo.


"Iya, mas, pagiiii. Mari kita bekerja sama dengan baik," sambutku. Ini adalah kode saling memahami dengan pekerjaan kami yang sebagian memerlukan pemalsuan data secara kompak berjamaah.


"Sip, Ling. Jangan berkhianat padaku ya kamu, Ling," tukas Dimas sambil menaikkan sebelah alisnya padaku. Kemudian Dimas tersenyum-senyum menggodaku.

__ADS_1


"Nggak Janji. Masak aku lihat tepung berceceran jorok begini aku diam saja. Sedang kalian santai bangeeet. Lihat mas, mereka habis masuk-masuk tepung, pencet ON, masak kemudian nyantai-nyantai?" ucapku sambil menunjuk dua lelaki muda yang sedang duduk santai di kursi. Menunggui mesin mixer yang nampak diam, namun sangat dahsyat putaran dan guncangannya di dalam.


" Mereka hanya operator biasa, Ling. Sebaiknya tidak kamu usik," ucap Dimas yang mulai jengah padaku.


"Siapa juga yang mau usik operatormu. Aku hanya memberi komentar pada lantai yang kotor. Ya terserah mas Dimas, nanti bakal negurin siapa. Tegur pada lantai atau tegur ke operator."


Aku juga merasa jengah pada leader muda yang berwajah cute ini. Cepat kucabut lembaran reminder bertulis warning letter. Ingin kubuat defect pertamaku pagi ini di mixer.


"Ah, Ling, darling... Kupikir penampilanmu yang sempurna dengan jins seksi itu, akan membuatmu bebas warning hari ini. Ternyata sama," ucap Dimas setengah berbisik padaku. Meski tidak ada CCTV, bang Farhan, supervisor back end satu lagi itu suka muncul datang tiba-tiba.


"Mas, ini celanaku nggak patut banget, ya?" tanyaku dengan terus terang pada Dimas. Dia adalah imam jamaah Yasin di asrama. Baik untuk jamaah putra atau juga jamaah yasin putri. Dia adalah lelaki muda yang populer dan menjadi idola para muslimah di asrama.


"Enggak, Ling. Tapi lumayan juga. Jika kamu pakai celana kayak itu tiap hari, kurasa orang back end akan semangat kerja dan tidak merasa mengantuk. Tapi, kamu tidak akan menjumpai defect apapun di back end, Ling," ucap Dimas sambil senyum nyengir padaku. Kubalas dengan cibiran manyun di bibirku.


Orang back end yang seluruhnya lelaki, kecuali emak supervisor di grinding, semua seperti kawan baik yang seperjuangan denganku. Sebenarnya kami ini sudah sangat saling memahami. Hanya berkat lembar warning letter itulah, masih ingat akan sikap profesional kami dalam kerja.


"Ssstt,, fokus Ling, ada pak Farhan dan bos baru," bisik Dimas sambil secepat kilat berlalu dariku.


Baru kupaham siapa yang sebenarnya akan datang dan oleh Dimas disebut dengan bos baru. Pasti calon manager baru yang bernama Errushqi. Nampak dari jendela kaca di mixer, Farhan dan Rushqi tengah meniti tangga naik menuju pintu di ujung.


Ini tepat sekali, kusambut kedatangan Farhan yang sedang menemani Rushqi dengan dada yang tiba-tiba berdebar tanpa kendali. Aura calon manager kekanakan ini jadi jauh beda dari yang biasa kurasakan. Wajah tampan itu nampak berwibawa dan membuat segan yang memandang.


Rushqi mamandangku dengan pandangan tajam dan lurus. Seperti tidak mengenalku sama sekali. Seperti tidak pernah bersimpuh di depan kakiku malam itu. Ah, tiba-tiba merasa nelangsa dengan pandangannya yang angkuh padaku.


"Pagi mas, high light ruang mixer!" seruku pada Farhan sambil kudekati dua lelaki berwibawa itu.


"Kamu jumpa defect apa, Ling?" tanya Farhan terdengar penuh minat pada defectku.


Ah, biasanya hanya ditanggapi dengan acuh, namun membahas hal lain denganku. Supervisor lajang ini bahkan pernah mengajakku liburan ke pulau indah Bintan di seberang. Saat itu dia pikir, aku adalah QC baru yang polos.


"Lantai penuh tepung, mas. Sebaiknya lebih hati-hati saat menyeret dan menuang tepung ke tabung!" seruku langsung memberi solusi pada Farhan.

__ADS_1


Sama juga denganku. Biasanya pun bungkam setelah kulayangkan lembar warning untuknya. Ah, semuanya berubah seperti penjilat seketika. Demi apa coba, entahlah, aku pun tidak memiliki ambisi apapun di sini. Menggantikan posisi miss Yong misalnya. Ha,,ha,,ha... Big no! Tidak sama sekali!


"Farhan.! Apa kamu tidak bisa mengkritisi QC ini?!" tanya Rushqi dengan suara menggema di ruang mixer tiba-tiba. Dia berbicara cukup keras. Sangat terkejut rasanya. Apalaqi dengan menyebutku.


"Ada apa pak Rushqi?" sambut Farhan nampak tegang.


"Apa seperti itu penampilan QC? Kenapa kamu kasih izin QC masuk ke areamu tanpa memakai apron??" tanya Rushqi sambil memandangku dan Farhan bergantian dengan tatap intimidasi dan menekan.


Tentu sangat terkejut diriku akan ucapan manager baru tentangku. Meski itu sebenarnya prosedur, tapi tidak ada yang mengusik QC seorang pun selama ini. Bahkan sang manager lama, Mr. Sung pun tidak pernah mengurusi tim QC. Apalagi hanya masalah apron QC yang tidak kukenakan.


"Lingga," tegur Farhan memanggilku. Kupandang dengan wajah penuh simak untuknya.


"Di mana apron kamu? Kenapa tidak kamu pakai?" tanya Farhan dengan tegas padaku.


"Di locker mas. Rasanya sangat gerah, jadi tidak kupakai. Biasanya ini tidak masalah, mas," jawabku agak memprotes.


"Mulai sekarang, kamu harus pakai jika masuk ke Back End, Ling. Ambil dan pakailah apron kamu sekarang juga," ucap Farhan mengarahku.


"Mereka juga tidak mengenakan apron, mas. Lihatlah orang-orang mu itu. Mana apron? Mana face mask? Mana head cover? Meski ini di area Back End dan masih sangat pagi, tapi QC berhak dan bahkan wajib memberi peringatan keras padamu!" tegurku dengan setengah hati pada Farhan. Wajah tampan itu sudah kian tegang. Dia pasti membayangkan jika sebentar lagi akan kuterbitkan satu lembar warning lagi pagi ini. Padahal tidak minat lagi kubuat defect di area ini.


"Velingga, seharusnya kamu memberi contoh baik terlebih dulu sebagai QC yang patut ditiru pihak production. Baru kamu bebas mengeluarkan warning," tegur tegas manager baru padaku tiba-tiba.


Mata Rushqi sedang tajam memandangku, perlahan menyisir turun di kakiku. Seketika paham dengan isi otak di kepalanya. Safety shoes yang seharusnya kupakai, sedang tidak kukenakan. Aku tidak suka, sepatu yang sebagaian material berasal dari besi itu kurasa sangat berat di kakiku. Jadi lebih suka kupakai bahan kets yang ringan. Sebab, kerjaku habis untuk berjalan-jalan seharian.


"Keluarlah, kamu kembalilah dengan apron yang sudah kamu pakai di badanmu," ucap Rushqi dengan tajam memandangku. Rasanya langsung saja mati gaya.


"Iya, pak. Permisi," pamitku sambil sedikit mengangguk. Juga kesempatan baikku untuk segera berlalu darinya. Ah, terasa nervous saja kali ini di depannya. Serasa tak percaya jika aku telah serumah dengan manager perusahaan tempatku bernaung. Errushqi yang kekanakan adalah sang manager. Calon..


Aku telah memakai apron QC warna putih, sedang bercermin di ruang ganti. Tempat memakai seluruh atribut sebelum memasuki Back End area. Memakai head cover, face mask, gloves, dan apron. Lengkap,,, namun menyiksa.


Aku bahkan hanya memakai head cover, tidak memakai gloves dan face mask. Keduanya hanya masuk ke dalam kantung kemeja seragamku. Seragam hanyalah untuk baju atasan. Sedang bawahan memakai celana yang bebas, asal bukan Rok saja.

__ADS_1


Tapi hanya apron putih yang mirip baju pelapis milik dokter dan suster inilah yang disoroti Rush padaku. Perlengkapan lain yang tidak kupakai tidak ditegurnya. Juga safety shoes mahal dari perusahaan yang tidak kupakai di kakiku. Errushqi hanya memandang tanpa berminat menegur pelanggaran kakiku.


🕸🕸


__ADS_2